Tulisan

[21] Usai, sih. Tapi masa iya cukup segini?

There will be on point where you have completed something and feeling there’s no other to do anymore. Faktanya, aku sedang di fase itu. Masih menuju complete, sih. Tapi dengan segala macam jerih payah, rasanya I have done this.

Ini buruk. Buruk banget ketika ujung-ujungnya semua aktivitas yang bikin candu nggak bisa nikmat lagi. Buruk kiranya kalau kita nggak punya semangat lagi. Terlalu munafik berfikir apa yang kita perjuangkan pantas untuk berhenti.

Youngsters seperti kita, punya banyak hal yang bisa digali. Waktu yang terlampau panjang untuk bisa dibagi-bagi. Kesempatan melimpah ruah yang siap untuk di-‘eksploitasi’. Pertanyaanya: Apa kita cukup kuat menahan diri supaya nggak bermalas-malasan?

Rasulullah pernah bersabda bahwa sekuat-kuatnya musuh untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Bagaimana kerasnya kita melawan rekor yang pernah kita cetak. Bagaimana supaya kita mampu mengelola rasa cepat puas yang hinggap di diri masing-masing.

Sebenarnya nggak ribet, ya. Cuma how we set our mind and visions gitu, lho yang bikin selalu puter ulang otak and deciding what our top-priority. Karena sesungguhnya, Allah pun juga sudah berkata bahwa kita adalah khulafaurrasyidin bagi bumi kita—termasuk diri sendiri. Masa, sudah digariskan Allah sedemikian nggak membuat kita tergerak untuk terus produktif berkarya?

Terkadang, kita lupa. Banyak orang yang sedang mendoakan kita. Berharap di tiap nafas kita, ada manfaat tercurah dan berkah penyelamat dunia maupun akhirat.

Seringnya, kita pura-pura nggak menyadari ada dua orang paling berarti yang senantiasa menunggu kepulangan kita ke rumah. Merindukan cerita-cerita panjang kita selayak kecil dulu. Tanpa peduli, apa yang telah kita raih. Tanpa ambil pusing, apakah sesuatu yang kita perjuangkan berhasil atau nggak.

Mereka ada.

Allah telah mengirimkan mereka sebagai harta tak ternilai yang seringnya kita abaikan.

Hanya ada satu kata yang mampu menggambarkan semua: Alhamdulillah. Dan satu kata pelengkap: Astaghfirullahaladzim. Syukur-syukur sekarang langsung ambil wudhu, shalat, berdoa, dan menanyai kabar mama papa 😀

Hayo, brummies yang merantau sudah telepon orangtua belom? 🙂

 

(.)Jakarta, 05 April 2016
(.)Alhamdulillah sempat di-upload juga.

#2: Mendung

Tahu esensi dari mendung?

Mentari sembunyi.
Hujan malu-malu membasahi.
Kejelasan berlari-lari.

Kutahu, ia cuaca.
Salah satu nikmat Tuhan untuk melepaskan angin sepoi pancaroba.

Tapi bagiku, mendung lebih dari itu.

Mendung adalah delegasi.
Bagi kagum yang diam-diam menghampiri.
Bagi semangat yang tanpa sadar memicu diri.
Bagi degup yang dipendam setengah mati.
Bagi rasa yang tersembunyi.

Mendung mengatakan semuanya.
Demi menjaga diri; sejuknya kasih harus dilawan dinginnya hujan.
Demi memantaskan diri; putihnya langit yang siap diwarnai berjuta rasa harus dilawan mentari iman.

Tapi mendung hanyalah transisi.
Darinya tersibak sinar, awal kita belajar.
Darinya tertetes hujan, penyubur kehidupan.

Mendung adalah menahan.
Pembatas rasa berlebihan.
Pengajar kesabaran.
Jika saja kita paham.

Jika saja.

Lantas aku malu.
Kalah jauh kuatku berbanding mendung.
Sendiri, kukerap mengeluh.
Namun mendung?
Sendiri pun ia tahu Tuhan menemaninya, menganugerahinya tugas mulia untuk umat manusia.

Mendung, masih mau menemaniku?

 

Jakarta, April 2016.

[20] Don’t Merely About Money

 

Tulisan ini semata-mata saya tujukan kepada adik-adik yang ingin melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedinasan.

Hadist rasul mengatakan bahwa, “Kalau ingin mendapatkan dunia, tuntutlah ilmu. Kalau ingin mendapatkan akhirat, tuntutlah ilmu. Kalau ingin mendapatkan keduanya, tuntutlah ilmu.” Nampak jelas sekali bukan jika hakikatnya seorang manusia wajib untuk menuntut ilmu? Well, saya yakin di agama lain pun begitu.

Masa-masa menuju akhir SMA adalah masa yang bener-bener menguras tenaga. Kenapa? Karena ada dua hal yang jadi beban, menekan, menuntut untuk diperjuangkan; Ujian Akhir Sekolah (and stuuuuffffsssss which is have exclusively one month to be done—even more) dan Ujian Menuju Perguran Tinggi selanjutnya (SBMPTN, USM-STIS, USM-STAN, Jalur mandiri—you named it lah).

Don’t worry, I have been there. We have been there.

Dulu, tujuan saklek saya cuma satu PTN, satu jurusan; ITS, Desain Interior. Bisa, nih brummies baca ulang perjuangan saya kalau belum tahu di sini. Jalur undangan—yang merely cuma pembagian voucher untuk siapapun yang paling beruntung nggak meluluskan keinginan saya waktu itu. Sorry to say that. Tapi memang, banyak—banyaaaaaak banget temen-temen saya yang bertalenta, pintar, berpotensi besar lolos undangan malah nggak lolos. Well, bisa aja sih, salah strategi. Tapi kejadian kayak gini happen in almost senior high school in Indonesia gitu, lho. Seems like SNMPTN bukan sesuatu yang wajib saya tuju. Nggak ada transparansi dari tahap seleksi yang buat saya sampai sekarang keukeuh di pendirian.

Kemudian SBMPTN. Ini, nih. Momok bagi seluruh lulusan SMA di Indonesia. Seleksi yang benar-benar bisa menunjukkan apa kita cukup qualified untuk masuk di satu tujuan yang kita mau. Sepengamatan saya, tiap tahun baik itu jurusan favorit ataupun nggak, punya peluang yang semakin kecil untuk bisa ditembus. But, if you have God, faith, and willing for doing the best efforts, shouldn’t we give it try and focus for breaking record?

Alhamdulillah. That’s what I had been done.

Brummies, rumus God+Faith+Willing Doing The Best itu bisa lho diterapkan di kehidupan sehari-hari. Termasuk di perguruan tinggi atau sekolah kedinasan yang kita jadikan cadangan.

Nah, akhirnya masuk nih ke pembahasan utama.

Nggak sedikit orang yang mau melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Kedinasan. Untuk Ujian Selesksi Masuk Sekolah Tinggi Ilmu Statistik tahun saya (tempat saya bernaung sekarang) saja, ada 32.000 lebih orang yang berminat sementara kuota hanya ada 500 kursi. 6:1; 1 orang harus menyisihkan 5 orang lain supaya bisa bertahan. Jumlahnya mungkin lebih sedikit daripada peminat STAN atau ITB atau ITS tapi itu tetep jadi patokan.

Terlalu banyaknya pilihan, ketatnya persaingan membuat calon mahasiswa harus pintar-pintar memilih media untuk meraih angan-angan. Saya dulu fokus ke PTN baru PTK. Tapi pada akhirnya memilih PTK karena segelintir pertimbangan, bisa nih di baca di sini kenapa.

“Kata orang, PTK itu enak. Belajarnya kudu bener soalnya nanti langsung kerja. Gratis. Dapat Tunjangan Ikatan Dinas dan jelas ada yang di-‘jaga’-in tiap bulan.” –Paradigma said.

PTK yang menjanjikan Tunjangan Ikatan Dinas memang benar-benar menggirurkan. Bisa bantu orangtua, punya penghasilan sendiri, curi start dari temen-temen lain yang masih fully ter-support-kan finansialnya oleh orangtua, being independentnya berhasil kerasalah. Tapi kalau gratis dan tunjangan yang digembor-gemborkan dan itu adalah dua goal kita selama kuliah, bukankah itu salah, ya?

I mean, PTK bukan tempat kita mencari uang gitu, lho. Bukan pula media pemuas keinginan konsumtif semata. PTK itu seperti tempat-tempat menuntut ilmu lainnya; tempat belajar ilmu dan arti kehidupan.

Kalau cuma pengen kuliah gratis dan dapat tunjangan, bukan PTK tempatnya. Bisa kok, kuliah di tempat lain dan mengajukan beasiswa untuk mengakomodir biaya supaya gratis. Kalau cuma karena pengen membanggakan orangtua, memangnya perguruan tinggi lain nggak bisa dibanggakan, ya? Apa embel-embel ‘kedinasan’ itu benar-benar nampak menjanjikan dan bergengsi di mata masyarakat?

Esensi belajar rasanya nggak tepat jika diiming-iming mendapat bla bla bla bla. Itu memang memotivasi, tapi belajar untuk ibadah bukankah lebih mulia daripada ‘sekedar’ belajar untuk dapat uang?

Belajar punya makna sendiri; mengerti, memahami, menghargai, berjanji untuk berdedikasi, lalu akhirnya mengabdi untuk Tuhan, masyarakat, dan sekitar. That’s what I’ve learnt so far.

Saya bukan menggurui. Di sini pun saya bukan memarah-marahi, menghakimi, atau membenarkan pun menyalahi, tidak. Saya cuma sedih. Betapa banyaknya orang-orang yang masuk Perguruan Tinggi Kedinasan—sampai rela mengorbankan passionnya—dengan tujuan utamanya ‘Karena dapat TID. Karena gratis, bisa bantu orangtua.’ Bisa membantu orangtua itu cita-cita mulia. Nggak bisa dipungkiri, alasan utama saya juga itu. Tapi kalau orientasinya lebih ke uang, itu disayangkan, sangat.

Di atas yang saya sebutkan semua, sesungguhnya banyak sekali amanah yang terpikul di pundak-pundak para calon Aparatur Sipil Negara yang menuntut ilmu di PTK.

  1. Pelunasan Hutang

Kuliah gratis uangnya dari siapa? Masyarakat bukan? Jelas sekali bahwa waktu yang diberikan untuk belajar harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena status gratis nyatanya merupakan ‘pinjaman’ untuk dibayar di masa depan?

  1. Penguasaan Ilmu

Malas bukan kebiasaan. Sekalipun susah, kalau dipelajari sedikit demi sedikit, fokus, dan istiqomah InshaAllah bisa dikuasai.

  1. Agent of Change

Ingat terus. Sebagai anak muda dan mahasiswa, Bapak Menteri Pendidikan kita sangat mencamkan ini. Yakin selepas lulus merasa cukup dengan embel-embel Pegawai Sipil Negara (PNS) tanpa contribute sama sekali? Ada kok PNS luar biasa yang sementara mengemban amanah sebagai pegawai, mereka tetap piawai membagi waktu menelurkan berbagai ide dan inovasi, lho. Googling deh kalau nggak percayaa.

  1. Pembentukan Diri

Belajar itu wajib tapi mengembangkan diri juga perlu. Itulah mengapa banyak Unit Kegiatan Mahasiswa yang memfasilitasi. Pengalaman berorganisasi dan perilaku sehar-hari sangat menentukan bagaimana ke depannya kita nanti.

Amanah, lho. Bukan beban. Amanah yang benar-benar harus diselesaikan. Yang kalau saya tuliskan secara teori cuma sedikit tapi prakteknya jelas bejibun.

Saya mungkin baru satu semester duduk di bangku perkuliahan. Saya mungkin sok tahu. Saya mungkin nggak memfilter sama sekali perkataan di sini. Saya masih sangat—sangaaaaat minim pengetahuan baik itu statistika—ilmu wajib PTK saya—ataupun tentang kehidupan. Saya bukan orang pintar. Saya masih bodoh dan perlu banyak belajar. Maaf-maaaaf sekali jika opini saya mengganggu pembaca sekalian.

Tapi saya peduli. Saya ingin semua mahasiswa yang belajar di PTK benar-benar dari hati, benar-benar mengabdi, benar-benar serius belajar mengerti memahami dan sama-sama peduli. Bukan orang-orang yang—naudzubillah—menjadi penerus orang tak amanah yang lebih mementingkan harta dan dunia ketimbang tugasnya sendiri.

Akhir kata, pilihlah jurusan atau pekerjaan yang benar-benar kamu banget. Benar-benar bikin kamu penasaran dan rela berjuang hingga berdarah-darah, hingga pencarian pengetahuan di pagi siang malam pun nggak jadi masalah. Or at least, cintai pekerjaan yang kita lakukan sekarang, deh 🙂

Ayo, masuk STIS!

 

N.B. Tulisan lama di awal tahun 2016.

#1: Butuh

Kita wajib malu.

Terlalu banyak memikirkan hal yang belum tentu kita rengkuh.

Jika sejatinya hanya Allah terminal terakhir kita berlabuh, mengapa harus mengeluh?

Kenapa tak kita tinggal saja kelabu demi esa yang satu?

Sepantasnya malu.

Seyogyanya sedih-sedu.

Tak sepatutnya terbandingkan antara Allah dan dunia pilu. Jelas tak perlu.

Karena hanya Ialah kembalimu.

Pelipur laramu.

Terkasihmu.

Penciptamu.

Pelenyapmu.

 

Jakarta, 22 Februari 2016

[19] Beauty of Being Naked

Beauty of Being ‘Naked’

Assalamualaikum ya akhi, ya ukhti!

It’s been a long time~ I’ve been coming back home~

Melihat postingan terakhir saya tanggal 20 Januari 2016 terus sekarang udah tanggal 18 Februari aja. Nyaris satu bulan, fiuh. By the way, rasanya kagok….. Mematut diri di depan layar laptop setelah nggak kebiasa menulis tiap hari lagi. Honestly, jemari kesendat-sendat mengikuti pikiran yang ribet memilih kata untuk disampaikan. Hahaha.

Tapi bukan itu maksud saya menulis postingan ini.

Sesungguhnya sih, saya juga nggak tahu mau ngomongin apa. Saya cuma kangen sama blog ini. Blog yang ternyata punya pembaca juga. Which is some of them are my friends. Malu. Bener-bener malu.

Menulis itu mudah. Tinggal mengetikkan apa saja yang terlintas dalam akal. Susahnya itu, bagaimana membuat apa yang telah kita jelentrekkan satu persatu jadi presentable dan valuable for public consumption.

Satu lagi, susahnya menulis; adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk rela being ‘naked’ in front of people. Naked dalam artian hasil buah pikiran kita yang bakal kebaca masyarakat. Being a writer is one of the embarrassing profession. Because what you write is what you think. What you think is your own perspection which is unique and presenting your soul precisely.

Kadang itu yang bikin saya nggak percaya diri tiap ada temen komen via dunia nyata. Knowing other realize who you really are tuh memang ngelegain tapi kalau belum siap juga ngeribetin (Astaga, maafkan bahasa saya yang bingungin, hihihihin).

But those are the beauty of writing! Itu something yang addicted. Membagikan apa yang kamu percaya dan apa yang kamu tahu jadi kesenangan tersendiri, loh. Apalagi setelah tahu feedback brummies (kalo ada :p) nunjukin kurva positive dan bikin semangat balik nulis lagi (seketika keinget UAS yang tinggal empat hari lagi……………).

Temen saya bilang:

Blogmu bagus, Rur! Apalagi yang seneng-seneng! Waktu kamu keterima desain ITS, terus dari SMP ke SMA, apiklah! Tapi kok yang baru-baru sedih-sedih kabeh, yo? Tak skip akhirnya yang sedih-sedih….

Saya cuma bisa:

Hahahahahaha……………. *hening sejenak* 🙂

One more beauty about writing: you can not deceive people mind. Yang kamu tulis, ya itu: kamu. Sekalipun apa yang kamu tulis nggak sesuai dengan situasi, itu konsekuensi. Kata-kata kamu yang bakal melekat di pikiran pembaca. Pemikiran kamu yang bikin orang aware, notice dan opening mind up.

Yuk, produktif dan istiqomah dalam menekuni kegiatan kita, brummies! 🙂

“Meski hari libur, hindari bermalas diri. Tetaplah produktif dalam berkarya dan beribadah. Lalu kapan istirahatnya? Percayalah, tempat istirahat terbaik adalah surga.”

-Ahmad Rifa’I Rifan dalam buku Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk.

 

Jakarta, 18 Februari 2016
Di sela-sela Ujian Akhir Semester Ganjil

[18] A while only, kok. Hopefully.

In the end of the day. Ketika akhirnya bisa punya waktu senggang, I feel clueless.

Entah mengapa seolah-olah tuntutan dari dosen, organisasi, komunitas, orangtua, itu do not make me feeling really alive. Kayak, that will be done soon but I’m taking breath for a while here. A while yang sebenernya sama sekali nggak produktif.

Kita mungkin bisa lelah. Bisa merengek pada Tuhan supaya teringankan segala beban, terbebaskan dari amanah, terselesaikan dari masalah, apapun untuk membuat nafas kita melega. Tapi kita juga perlu tahu bahwa Tuhan nggak sedang menunggu. Moreover, time. Cih, mana mau waktu menunggu?

Mengutip dari Kurniawan Gunadi, bahwa kita adalah makhluk-makhluk yang sedang menunggu. Menunggu apa hayo? Kematian. Kita sedang dalam perjalanan panjang menuju gerbang pengantar keabadian(Wuusss, bahasanku, ya).

Sesungguhnya, I never think about why we should meet up people and end up waving them—saying goodbye like it was the worst thing. Atau ketika, meeting the facts that we are all connected. Baik itu pergaulan, destiny, tujuan, atau bahkan unexpected thing. Maksudku, mikir kayak gitu nggak pernah bakal ada habisnya gitu. Selalu ada dua sisi. Sedih atau bahagia. Mau yang mana, tergantung kita. Apapun pilihannya, selalu berharap yang paling indah.

But always. I remember Allah has His path for me—even every single of us—in every second we taking breath and stepping something. He always does.

..Dan jangan lupa. Bukankah dari sekian banyak peristiwa yang telah kita lalui hanyalah ilusi dari ladang penanam pahala semata? Because life ‘is only’ a boat. Not even an Island we have to reach for the final arrival.

Just make sure every time we spend bermanfaat, yhaa. Hihihi.

Selamat rehat. Semangat berangkat, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 20 Januari 2016

[17] WHAT DOESNT KILL YOU MAKE YOU STRONGER

Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))
Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))

“Aduh, maaf banget ya. Nggak jadi bisa datang. Tak doakan semua bisa sukses, guys! See you on top!”

Mungkin kalimat di atas merupakan kalimat doa yang baik, ya. Saling berharap supaya teman-teman sukses dan jadi ahli di bidangnya masing-masing.

But. I. Hate. That. Really.

Menurutku, apa yang sudah tertera di atas sama sekali nggak mempererat tali persaudaraan. Cuma formalitas. Ungkapan yang seolah-olah harus diucapkan ketika sudah sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing. Kalimat pelarian diri dari silaturahmi yang hakiki.

But there is the time dimana kata-kata itu memang harus diucapkan. Ada saat ketika kondisi nggak memungkinkan akhirnya membuat kita terkurung di satu kota nan jauh dari rumah, mengikhlaskan kesempatan pulang, dan melewatkan waktu yang harusnya bisa diisi temu kangen dengan teman-teman sekolah.

Akhir minggu kemarin, saya bersama Raden dan Faizal membahas seru rencana ketemuan via chat WhatsApp. Dolen, bahasa Jawanya. Mereka temen baik saya banget waktu SMA. Dulu sering belajar dan main bareng. Mereka ini dua di antara orang-orang yang buat saya bersyukur banget. Because they are crazy, kind, warm-hearted, and most important—hard to find.

Faizal deket banget karena saya sering curhat sama dia. Ngobrol apa aja nyambung—apalagi bahas masalah cinta, gilak ini temen saya udah expert banget dah di bagian situ, hahaha—dari musik sampe bahasan nggak penting pun bisa aja jadi obrolan kami. Terus dulu satu les-les an sama dia juga. Pernah banget ngerasain jadi temen sepenanggungan, seperjuangan. Faizal sekarang di Universitas Brawijaya, jurusan hukum. Jurusan yang dia pingin.

Kalau Raden, nih. Hahaha. Bocah! Temen terunik yang saya punya. Kenapa terunik? Karena dia tuh naksir sahabat saya semenjak kelas satu SMA, terus dia dulu sering cerita-sharing sama saya juga. Dan yang paling saya inget tuh waktu dia minta dibimbing belajar Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik(TPA) dalam rangka seleksinya di Angkatan Kepolisian(AKPOL). Tiap Sabtu dulu sering banget nentorin anak satu ini, sekaligus cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon. Sampai akhirnya—duh, ini bagian-bagian mengharukan—tes dilaksanakan, dia diasingkan beberapa saat lalu si bocah ini ngabarin saya via telepon untuk ngasih tahu kalau nilai TOEFL Bahasa Inggrisnya tertinggi se-peserta Jawa Timur dan nilai TPA-nya tertinggi se-Indonesia!

Alhamdulillah. Alhamdulillah.

And yes, dia berhasil masuk AKPOL :’) #tearsofjoy!

Seneng banget nggak sih rasanya jadi part of bigger thing that is success and valuable for others? Itu yang saya rasain waktu berbagi. Itu yang buat saya sangat bersyukur :’)

Kami tuh sebenernya ngerencanain tanggal 27 besok buat jalan bareng. Around Surabaya aja. Acaranya sederhana, sih. Pengennya cuma ngemall buat nonton—which is mau nemenin Raden yang belum pernah nonton sama sekali :p—terus photobox dan makan bareng.

Tapi wacana hanyalah wacana.

Saya nggak bisa pulang karena nggak bisa ngelobby dosen dan terlalu takut untuk bolos satu mata kuliah inti yang emang nggak bisa dilobby.

“Ealah, Rur. Padahal aku wes bayangno kita nonton star-wars,” kata Faizal.

“Ealah, kampret. Aku habis ini kayaknya nggak ada libur panjang,” kata Raden.

Sedih, ya? Sedih banget. Temen deket saya aja kecewa apalagi yang di sini… yang nggak bisa pulang. Tapi lebih sedih lagi saya di sini terkungkung nggak bisa ketemu mama papa dan cuma bisa ngandelin telepon untuk pelepas kangen.

“Udahlah nggak usah pulang dulu. Kuliahnya kan lebih penting. Mbak kan juga masih semester satu. Papa sama mama ini telepon kamu aja udah cukup.

Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)
Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)

Itu kata papa tadi siang, waktu akhirnya menyarankan saya nggak pulang aja. Tahulah, saya mewekan. Jadi habis papa bilang gitu, sambungan saya putusin, terus air mata tuh kayaknya lancar banget produksinya sampe nafas sesek rasanya(Saya nggak cukup cuma telepon aja, Ma, Pa!)

Saya adalah mahasiswa perantauan. Rumah terletak jauh dari pandangan, sekitar 80 km. Baru kali ini banget ngerasain kangen yang sumpah demi apapun nggak bisa ditolong kalau rasanya nggak pulang. Baru sekarang tahu gimana rindunya saya sama mama, papa, temen… Rindu rumah.

Tapi dari sini, akhirnya saya belajar. Kalau keluarga, temen masa sekolah, itu dua harta yang sama sekali nggak bisa tergantikan, sesuatu yang membuat kita jadi orang paling kaya sedunia. Karena mereka adalah sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan uang dan cuma bisa eksis kalau kita telaten merawat dan menjaga silaturahmi.

“Saya lebih memilih menabung untuk pulang kampung. Karena saya tahu umur orangtua saya nggak selama menara Eiffel atau Tembok Cina yang kalian pamer-pamerin.”

Gilak, ya. Itu quotes yang bikin saya… “Okay, ini bener banget. Okay, itu bikin prinsip berubah. Okay, itu….(speecheless).” #BaperMaksimal.

Tapi perantauan melatih kita untuk mandiri dan bisa kuat sekalipun harta paling penting yang kita miliki lagi nggak ada di samping kita. Alhamdulillah, udah bisa mengikhlaskan kesempatan untuk nggak pulang. Yah, Allah SWT pasti punya rencana yang lebih indah. Yakin banget, deh 🙂

Semoga tahun depan jatah saya pulang kampungnya bener-bener eksklusif panjang dan nggak keganggu apa-apa. Hahahaamin, ya Allah:)

Selamat liburan! Selamat berkumpul dengan keluarga, Brummies tersayang!♥

Jakarta, 23 Desember 2015 | 12:23 AM