[11] Menyoal Beliau

[11] (2)

Berbahagialah kamu yang belum pernah membuat orangtuamu menitikkan air mata. Merapal berbagai doa dalam hati supaya anaknya berubah…baik.

Please, be happy for it. Truly.

Because when you do reverse, rasanya sakit. Ketusuk. Sel-sel dalam tubuh lemas seketika saking nggak percayanya kita telah melakukan kesalahan.

Membuat orang yang paling kita pedulikan menangis adalah hal super-mega-dobel-besar dosa. Allah jelas tahu.

Sekalipun cek-cok kecil, Allah Maha Tahu.

Mengecewakan merupakan kata-kata yang familiar buatku. Membangkang. Membentak. Apapun yang membuat beliau mengelus dada. Apapun yang membuatku sendiri merasa gagal menjadi anak kebanggaan.

It hurts even deeper when finally they always forgive you. Always accept you just like you are now. Just like you want to be considered. It hurts when they have nothing to revenge but just love us back. That’s the pain you’ve got to take. There is nothing you can do but regretting every mistake you have done.

But that is their best gift ever. Adanya mereka saja sudah jadi suatu hadiah terbesar untuk kita semua, kan, ya?

Karena orangtua sayang. Kita. Selalu. Seburuk apapun kelakuan. Sehina apapun kesalahan. Tetap saja.

Nggak ada orangtua sempurna di dunia ini. Adanya mereka yang selalu berusaha untuk memberikan kita yang terbaik, seburuk apapun keadaan. Segila apapun situasi. Mereka selalu ada. Mereka selalu mengingat kita. Mereka jelas-jelas mendoakan kita. Mengharapkan kita menjadi bintang-bintang gemerlap. Di sana. Langit tertinggi cita-cita. Dan nggak lupa, beserta hati mereka. 🙂

Brummies, sudah bilang sayang ke Mama Papa hari ini?

 

Jakarta, 26 Oktober 2015

Advertisements

Yang Nggak(Mungkin) Bisa Terlupa

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Sekolah menengah atas. Sebagian besar orang pasti pernah menempuhnya. Dengan alasan untuk mengentaskan pendidikan, mengikuti paradigma masyarakat, atau memang benar-benar ingin menuntut ilmu guna tujuan di masa depan. Beragam alasan tersebut bukan suatu masalah. Bukan suatu persolan ketika kita dipertemukan dengan anak-anak hebat nan unik nan aneh nan konyol tiada tara dalam suatu ikatan yang disebut keluarga.

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Kebanyakan dari kita memilih untuk menghabiskan masa SMA dengan bersenang-senang. Berbagi canda tawa dengan teman, memerjuangkan hak murid di hadapan guru killer, tersedu sekaligus kecewa bersama, hingga perihal sesuatu random yang bahkan sering membuat kita tergelak. Nggak jarang pelajaran terlantarkan lantas kawan pun jadi prioritas utama. Yang penting senang, senang, senang!

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Saat-saat paling nggak bisa terlupakan mungkin saat kita berargumen tentang suatu kasus. Dalam satu kali pernyataan terlempar, sahutan pasti akan terdengar sambung-menantang, dan penuh pemikiran kritis anak muda. Ah, ya, dan jangan lupakan ketika kita ditugasi untuk menjadi petugas upacara. Terik menyengat pun kita lewati berbalut humor geli. Pingkalan tawa nggak jarang terdengar walau pada akhirnya kita harus mengulang lantaran ketidakseriusan. Kita sering menertawakan banyak hal, ya?

Oh, tunggu. Yang tidak mungkin terlupakan juga adalah masa ketika penghabisan tahun ajaran. Usai ujian kenaikan kelas, kita berbondong bersama menuju tempat liburan yang telah disepakati. Menikmati pemandangan dalam kekaguman yang sama. Menyisiri arus air yang deras mengalirkan boat kita penuh adrenalin. Bertahan menggigil dingin di villa. Menghangat waktu mengelilingi api unggun pengakuan. Menitikkan air mata dalam pernyataan-pernyataan emosional. Ah, rasanya ketika itu kita benar-benar menghabiskan waktu dalam detik-detik  yang terasa cepat :’)

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Tapi satu yang selalu melekat dalam benakku adalah waktu kita sama-sama meneriakkan cita-cita masing-masing lalu bertekad untuk sanggup meraihnya apapun hambatannya. Aku sungguh merinding mendengar setiap mimpi besar yang kalian niatkan dan aku sangat bangga mendengar optimisme kita. Dari pemimpin yang ingin mengubah dunia sampai pencipta sesuatu, semua mewarnai berbagai asa kita. Semua berkolase membentuk setangkup imaji menyenangkan perihal masa depan kesuksesan kita.

Terkadang aku terpekur setiap kali mengingat semangat dan antusiasme yang tercurahkan ketika itu. Pada akhirnya, setiap kali melihat masing-masing dari kalian berpapasan denganku aku kembali terngiangi oleh angan-angan tersebut. Satu per-satu kita menjadi profesional di bidangnya lalu menjelma manusia dewasa yang sukses dan tahu kemana tujuan hidupnya. Kemudian kita akan mengadakan perkumpulan, menciptakan organisasi yang bergerak di bidang kepeduliaan terhadap lingkungan sekitar—oh, atau apa sajalah yang penting kita masih bisa saling berkomunikasi.

Hebat, ya, bagaimana masa depan yang belum pasti adanya mampu menyita penuh perhatian setiap insan di dunia?

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Yang kutakutkan adalah saat kita terpisah nanti. Kita memilih sekolah atau universitas berbeda yang merentangkan jarak tak terelakkan. Lalu, bagaimana jika akhirnya kita kehilangan topik pembicaraan yang dulu bukanlah persoalan? Dan, bagaimana jika kita terlarut dalam skripsi, tesis, pekerjaan, serta urusan duniawi lainnya hingga waktu luang selalu berlainan? Kemudian, bagaimana jika masing-masing kita mulai mengentas masa lajang, memiliki buah hati manis, fokus menaikkan posisi di pekerjaan sampai akhirnya nggak ada lagi rasa butuh untuk bertemu kawan lama?

Sial, aku benar-benar melankolis, juga pesimis. Ah, mengapa aku pusing sendiri?

Entahlah. Aku buta perihal apa yang akan terjadi di menit-menit setelah aku menuliskan ini bahkan hingga helaan nafas terakhir. Hal termanis dari cerita ini adalah mengenal kalian. Dan aku baru mengenal kebahagiaan bersama kalian, bahwa:

Nggak ada syarat untuk merasakan kebahagiaan. Jika kamu butuh syarat untuk bahagia, kamu nggak akan pernah merasakan kebahagiaan sedikitpun  🙂

Aku. Rindu. Kalian. Semua. Sungguh.
Langgeng, ya, kita, Rek! Grupnya diramein! 🙂

 

Undur diri.
Sidoarjo, 04 Maret 2014

Kolase Imaji Kita

sumber: weheartit.com
sumber: weheartit.com

Aku ingin menghabiskan waktu senja. Di suatu tempat terpencil entah dimana saja. Namun, aku ingin berada di sana dengan sebuah percakapan. Pembicaraan panjang tanpa jeda atau sela denganmu, hanya kita berdua.

Mungkin kita bisa memulainya dengan membicarakan perihal bagaimana kamu menghabiskan hari sebelum berdiri di sini. Lalu kita melanjutkannya dengan bertukar informasi yang sama-sama tidak kita ketahui. Kemudian kau akan duduk menghadapku, mengajakku bermain seperti kembali ke masa kecil dulu. Sampai akhirnya matahari benar-benar menghilang, merupa menjadi hangat di hati kita.

Mungkin menjalani hobi bisa jadi pilihan selanjutnya. Kau dan aku akan masuk ke dalam rumah, melangkahkan kaki menuju ruang santai, merebahkan tubuh bersisian dengan kepalaku menyandar dadamu. Karena kita sama-sama gila baca, maka aku akan meniti kata-kata romantis dari novel yang kupegang, sedang kau pastinya terlarut dalam dunia fantasi penulis luar negeri. Bersama, kita menghayati bacaan dengan sesekali membahas hal menarik apa yang kita dapatkan.

Kala jenuh menerjang, kita bisa berpetualang. Sekedar menghabiskan waktu mengikuti cerita dari layar lebar hingga pergi jauh dari rumah. Apapun kegiatannya, bagiku tak masalah. Kita akan berjalan berdampingan, tersesat tanpa diduga, dan terkesima saat sampai tempat tujuan. Di perjalanannya nanti, kita bisa mengobrol lagi. Membincangkan sejarah masing-masing, bercanda hal tak penting, membicarakan sesuatu konyol, atau hanya menghening dengan bertautnya jemari.

Malamnya, kita akan duduk berimpitan di bawah sinar rembulan. Merasakan angin menggelitik wajah sembari mendengar lagu dari earphone yang tersemat di masing-masing salah satu telinga kita. Aku akan menyenandungkan lagu dengan nada asal lantas kau mengacak rambutku entah karena apa. Mungkin aku akan cemberut sesaat kemudian bernyanyi lagi hingga akhirnya kau menimpali. Haha, jelasnya aku pasti terpingkal ketika ujung-ujungnya kau mengikutiku.

Di penghujung hari, kita akan sama-sama bersimpuh, menengadahkan tangan berbicara kepada empunya dunia. Kau akan memimpin jalannya doa sedang aku mengikutimu dari belakang. Mungkin kita akan terpekur lama, memanjatkan harapan yang akan terus hatiku ucapkan, bahwa: agar Tuhan memelihara kita, mempersiapkan masing-masing kita sembari menjaga setiap potong hati hingga akhirnya imajinasi ini menjadi nyata dan berlangsung selama yang Ia izinkan.

Kuharap selamanya.

I want a never-ending-conversation with you.
I don’t care what topic we will talk or whenever time make it happen
or wherever it will take place or even people around us.

You. And. Me. Together. Forever. Nothing else.

Is that too much?

Sidoarjo, 18 Februari 2014

Menulis itu (Nggak) Buang-buang Waktu!

Sumber: weheartit.com
Sumber: weheartit.com

Terkadang, kesendirian itu perlu. Apalagi untuk penulis amatir macam saya.

Kalau di beberapa postingan lalu saya pernah berucap untuk menjadikan blog ini menjadi semacam digital diary, kayaknya masih belum terealisasi, ya. Bukan maksud mau php atau apa, tapi sayanya sendiri yang nggak punya waktu untuk berbagi cerita di WP setiap hari. Alasannya bukan karena masalah dunia nyata–saya sekarang benar-benar berusaha se-organized mungkin soalnya–dan bukan juga karena malas. Cuma, waktu yang biasanya saya pakai untuk ngetik postingan di WP, beralih menjadi waktu untuk menulis draft novel pertama(Mari diaminkan, saudara-saudara!).

Yes, intinya saya nggak akan berhenti nulis. Untuk saya pribadi, nggak nulis satu hari aja tuh sudah berasa ada yang kurang. Mengingat saya menjabat jadi aktivis sekolah(baca: ketua ekskul jurnalistik) merangkap pelajar penuh pekerjaan rumah menangkap punya mama yang sedari dulu menuntut saya punya waktu luang buat kumpul keluarga merangkap yang lain lain lagi, makanya saya lebih memrioritaskan untuk menulis cerita daripada WP. Maafkan, ya, hiks.

Mengacu pada ilmu kura-kura peliharaan rumah, pelan-pelan yang pentung nyampe tujuan, membuat saya yakin kalau pengaturan waktu kayak gini terus saya pertahankan pasti nanti membuah baik juga. Tiap hari saya bakal bangun jam 3 buat nulis selama sat jam terus dilanjut ngerjain tugas, terus sekolah, ngurusin ekskul, nyampe rumah jam 4 sore. Setelah itu ngerjain tugas dirangkap belajar sampai jam setengah sembilan malam. Abis itu tidur dan mengulangi semuanya dari pagi. Buat mencapai keinginan terbesar untuk membahagiakan diri sendiri beserta orangtua, apa sih yang enggak?

Habits baru ini, baru saya terapkan awal Januari kemarin. Alhamdulillahnya sekarang, PR saya semua tuntas, tugas ekskul bisa saya delegasikan dengan baik, serta draft cerita sudah mencapai halaman 70 dari 200 halaman yang ditargetkan.  Satu hari seenggaknya satu halaman dapat, deh, begitu prinsip saya. Meskipun sebenernya dalam hati pengennya setiap hari nulis aja, haha.

Oke. Fokus ke urusan menulis.

Bagi saya, menulis paling produktif adalah ketika sendiri tanpa ada yang boleh menginterupsi. Nah, karena itu, saya nggak menampik kalau setiap hari saya butuh waktu berdua dengan lappir di dalam kamar dengan pintu tertutup. Gegara hal tersebut, mama kadang curiga apa yang saya lakukan dengan lappie hanyalah hiburan semata. Gegara keasyikan nulis, saya juga jadi lupa untuk bersosialisasi.

Ternyata, menekuni bidang yang saya sukai membuat saya hampir lupa diri. Yah, tapi mau bagaimana lagi? Sudah tahu passion dan minat saya memang di sini, saya jelas nggak bisa menahan diri untuk nggak melakukan aktivitas nulis sama sekali, kan?

Sederhana alasannya kalau ada yang menanyakan: mengapa menulis? Ya, karena setiap kali menulis saya nggak pernah peduli waktu. Setiap kali menulis saya merasa ringan dan nggak pernah terbebani. Setiap kali menulis, saya serasa punya dunia sendiri. Dan, alasan terakhirlah yang paling mengadiksi.

Mungkin, siapapun yang kenal saya bisa mikir bahwa menulis hanya akan membuang waktu, tenaga, dan fikiran. Mungkin mereka bisa berfikir bahwa menulis cuma kesenangan saya sesaat saja. Mungkin mereka juga bisa berfikir bahwa nggak akan ada masa depan bagi saya jika terus menekuni passion di bidang ini. Ya mereka bisa berfikir apapun yang mereka mau. Tapi saya tahu apa yang saya mau dan saya tahu tujuan apa yang akan saya capai. Itu yang terpenting, bukan?

Jika banyak orang bilang bahwa belajar nulis, sastra, dan hal-hal berkaitan adalah hal yang nggak penting, saya sama sekali nggak peduli. Saya nggak peduli berapa banyak waktu yang akan saya tempuh untuk bisa menjadi penulis terbaik yang saya bisa. Saya suka dan mencintai pekerjaan ini, kok.  Bukankah untuk menjadi master dalam bidang apapun yang kita inginkan langkah awalnya adalah mencintai bidang tersebut dulu?

Saya percaya pada pepatah, bahwa membiasakan diri untuk menguasai hal kecil akan menuntun kita untuk bisa menguasai hal yang lebih besar. Nah sekarang, saya sedang melakukannya. Saya sedang berproses menuju tujuan besar dan nggak siapapun bisa merubah keputusan saya atau bahkan menghentikan saya. Sekalipun orangtua.

Kalau via 9gag: harusnya orangtua saya bersyukur saya nggak teradiksi narkoba(Naudzubillah), melainkan pada kegiatan produktif semacam menulis. Sering saya keki sendiri menyadarinya. Tapi di sanalah tantangannya. Malah di situlah titik dimana saya bisa menunjukkan bakat dan keinginan sesungguhnya.Walaupun nantinya saya terpaksa mengikuti aturan orangtua untuk masuk dalam universitas dan jurusan yang beliau restui, saya nggak akan berhenti. Cita-cita dan passion saya akan tetap sama tapi saya akan menunggu. Menjadi orang lain ‘sesaat’ untuk bisa menjadi diri saya sendiri kemudian harinya.

Saya yakin bisa. Saya punya firasat bagus bahwa, kejutan-kejutan besar menanti jika saya benar-benar serius menekuni passion menulis. Nggak ada yang perlu ditakutkan di masa depan. Cukuplah saya memohon serta percaya pada garis tangan Tuhan yang jelas akan membawa nasib paling baik. I believe in Allah and I truly don’t have even a single doubt about that.

Bagaimana dengan kamu? Sudah menemukan passion dan tujuan yang mau dicapai? Masa depan itu milik kita, maka persiapkan untuk menyongsongnya mulai dari sekarang!

Undur diri,
See you next post!

sumber: Weheartit.com
sumber: Weheartit.com

Jurnalis Gagal Move On

Deteksi2k13

Inget nggak, tahun lalu saya pernah cerita tentang DetEksi Convention(DetCon)? Di Doakan Saya, Kawan 😀 dan Kalah itu Akhir yang Memenangkan? So, yeah… Tahun ini saya bersama tim jurnalis smanis berpartisipas lagi!(Emang siapa gitu anak muda Jawa Timur yang nggak excited buat ikut DetCon?)

Ada yang belum tahu DetCon itu apa?

Awalnya, DetEksi hanya halaman yang ditujukan untuk pemuda di koran Jawa Pos. Pencetusnya adalah Azrul Ananda. Dimulai dari acara tahunan untuk memperingati hari jadi halaman, diadakanlah DetEksi Party. Pada tahun 2002, DetEksi Mading Campionship diadakan untuk menyalurkan kreativitas seni anak muda dalam bentuk mading. Seiring dengan membeludaknya animo peserta, lima tahun berikutnya DetEksi Jawa Pos mengubah nama menjadi DetEksi Convention yang sudah berkembang menjadi konvensi multi kompetisi.

…..For the complete story, click this 😉

Oke, jadi ini cerita nggak fresh from the oven. Terjadi bulan lalu tepatnya tanggal 9-17 November. Lama bingit, ya, saya bagi-bagi ceritanya? Dalam event tersebut, saya menjadi wakil sekolah di Journalist Blog Competition(JBC)-nya. Sedangkan teman-teman yang lain mengikuti Mading On The Spot, Mading 3D, dan kakak kelas taking their opportunity di Excelso Wallpaper Design.

Total ada sekitar 13 jenis lomba yang dipertandingkan selama sepuluh hari and I could say that DetCon was really a mega huge event for teenagers in Jawa Timur. Sejak diadakan pertama kali, animo pesertanya udah banyak banget! Seiring bertambahnya tahun, inovasi yang dilakukan juga sukses menggaet peserta dan membuat acara menjadi lebih besar.

Apa kalian tahu? Meskipun ruang lingkup lomba terbatas hanya untuk siswa Jawa Timur, tapi bagi kami, untuk punya pengalaman di DetCon itu bener-bener berharga banget. Jadi, jangan heran kalau pesertanya bener-bener totalitas saat mengikuti lomba dan jangan kaget ketika mendapati ide-ide anak SMA bener-bener gemilang di sana. DetCon is really prestigious for us.

Nggak menutup kemungkinan, event ini akan berkembang menjadi national competition. Just wish and wait for that.

Balik lagi ke #DetCon2k13, tahun ini kompetisi yang saya ikuti mengharuskan saya dan Amel(lovely partner-evah!) untuk datang selama sepuluh hari penuh di venue. Tugasnya cari foto bagi fotografer dan berita bagi penulis. Bahannya adalah acara dalam DetCon. Jadi selama itu, saya getol wawancara sana-sini sedangkan Amel lari ke sana kemari membidik setiap momen yang ada.

Best Fotonya Amel (menurutku)!
Best Fotonya Amel (menurutku)!

Nah, sepuluh hari kemaren jelas nggak berjalan mulus begitu aja. Hambatannya banyak banget! Mulai dari keputus-asa-an karena sempet stuck nggak ada inspirasi buat liputan, ngerasa stres karena pressure peserta yang keliatannya pada ndewo semua, berat bin malu waktu nggeret tangga yang Amel pake buat ambil foto(di sana ada panggung acara yang nggak memungkinkan fotografer berbadan pendek bisa moto ketika banjir penonton–peace, Mel!), keterikatan deadline, Wifi yang hidup segan mati tak mau, kehilangan handphone juga uang, duh, kalau dijelentrekkan satu-satu nggak habis-habis, deh!

Well, sebenarnya malah di situ letak tantangannya. Di situlah letak kesenangannya. Hambatan bikin chemistry saya sama Amel ketemu dan ini membuat kami menjadi tim yang solid. Kami tuh, saling mengisi. Amel panikan ngimbangin saya yang penenang, saya yang terlalu serius diimbangi Amel yang santai bin super-fun, Amel yang sering nraktir mengimbangi saya yang dompetnya sering kempes, sort kind of thing like that. Geli banget kalau ngingat kami yang lagi marah atau nggojloki(nggoda) satu sama lain. Hahaha. Saya bersyukur banget pernah kerja sama cewek ini 😉

Sepuluh hari partner-an sama Amel juga bikin kami kenal banyak anak di DetCon. Saya nggak kenal seluruh peserta JBC2k13, tapi seenggaknya saya recognize wajah mereka satu-satu. Jujur, menurut saya waktu sepuluh hari buat main sama mereka itu kurang–banget. Banyak kebiasaan kecil lomba yang nempel di ingatan saya.

Dippo, Sultan, Bryan, Amel, gila semuaah!
Dippo, Sultan, Bryan, Amel, gila semuaah!

Sudah upload naskah?
Sudah upload foto?
Sudah dapat bahan berita?
Duh, narasumbernya, kok, lama see…
He, kamu nggak laper, ta? Makan bareng, yok!
Deteksijp di komputermu bisa dibuka, nggak?
Duh, wifinya lama he sudah mau jam empaaat!

10 hari sama mereka terus  ♥
10 hari sama mereka terus ♥

Sejenis itu dengan muka-muka lelah kami. Lucu pas ngingat masa-masa itu. Yang paling nggak bisa dilupain tuh waktu kami naik kursi dan nyanyi bareng Vierra, waktu nyanyi bareng HiVi! dan Maliq sampe suara habis, waktu minta tanda tangan ke seluruh peserta sama kru, waktu face to face sama Azrul Ananda, waktu ngecengin band yang lagi tampil tapi tampilan mereka dikacangin penonton, waktu perpisahan, oh-my-god. Kayaknya semua detik-detik saya di sana memorable, deh :’)

Satu hal lagi, saya paling nggak bisa melupakan oleh-oleh dari narasumber yang saya hubungi via telepon. Jadi, dia adalah salah satu peserta luar kota yang saya kepoin kenapa, kok, ikut lomba. Tepatnya peserta dari Tuban. Kalau nggak salah saya ngabisin waktu satu jam-an sendiri ngobrol dan mengulik banyak tentang hidupnya. Eh nggak taunya, malah keterusan dan kami ended up buat janji untuk ketemuan di hari terakhir.

Waktu hari terakhir pas pengumuman pemenang lomba(tapi nggak termasuk kompetisi saya), kami ketemu setelah dia diumumkan jadi juara. Yes, narasumber yang saya wawancarai berhasil memboyong piala untuk sekolahnya. Seneng banget waktu itu apalagi pas dia tersenyum serta ngacungin piala itu ke tempat saya berdiri. Ah, ikut bangga, sungguh.

Kami ketemunya setelah itu. Dia bawa partner lombanya dan kenalan secara resmi sama saya. Di detik-detik terakhir, dia ngasih saya bubuk kopi tubruk, bijinya, serta sketches note dan satu kalimat ini: “Makasih, ya, publikasi beritanya.”

Oleh-oleh dari temen Narasumber. Tuban asli!
Oleh-oleh dari temen Narasumber. Tuban asli!

Saya yang waktu itu cuma bercanda buat minta dibawain oleh-oleh sempet ngerasa nggak enak karena nggak mbawain dia apa-apa. Tapi akhirnya, ya, kami oke-oke aja. Eits, nggak usah mikir yang aneh-aneh, yaa, karena sampai sekarang kami berteman. Saya juga nggak mungkin pacaran–apalagi jarak jauh. But still, itu kenangan paling memorable, hihi.

Pada hari yang sama, sekolah saya mendapat dua piala–dua silver untuk lomba mading 3D dan Wallpaper Excelso. Saya histeris banget waktu itu. Sempet pesimis sampe Amel harus gantian nenangin saya. Bahkan, saya nangis waktu tim mading saya menang. Soalnya lihat usahanya mereka itu bener-bener mirisin hati. Truly touching menurutku sebagai saksi pendukung mereka.

Alhamdulillah Top Ten Silver Mading #DetCon2k13
Alhamdulillah Top Ten Silver Mading #DetCon2k13

By the way, cerita saya panjang banget, ya? Ayo kita skip ke hari pengumuman JBC.

Pengumuman JBC itu paling akhir di antara serangkaian lomba yang lain. Why? Simple, karena kerjaan wartawan memang harus meliput sampai hari terakhir. Maka dari itu, liputan acara selama sepuluh hari baru dijuri setelah event sepuluh harinya selesai. Di situ saya sama Amel bener-bener pasrah. Mau menang berarti bonus, mau kalah ya dijadikan pengalaman aja.

Kami punya prinsip:

Yang penting tuh melakukan yang terbaik. Nggak usah berusaha mati-matian hanya karena pengen ngalahin seseorang. Lebih baik berusaha-usaha-usaha sambil nyari kenalan yang banyak.

Itulah yang kami lakukan. Kami nggak pernah ambusius untuk menang tapi kami nyari kenalan sebanyak-banyaknya. Meskipun begitu kenyataan berkata lain.

Pertama kali Technical Meeting(TM) saya udah punya feeling kalau nama saya akan dipanggil. Bukannya sombong atau apa, tapi memang itu yang saya rasakan dalam hati. Entah mengapa saya bener-bener yakin bakal menaklukkan juara di tahun ini. Apalagi tahu kalau pemenang biasanya ditelepon untuk bisa dipastikan datang di hari sebelum pengumuman. Yes, I got that call and that’s what happened.

And the fifth place UBS Journalist Blog Competition 2k13 goes to…. SMA Negeri 1 Sidoarjo!”

With lovely partner, Kharmelia Nur Afali ♥
With lovely partner, Kharmelia Nur Afali ♥

Kami menang. Saya dan Amel berhasil. Bener-bener nggak percaya. Amel malah butuh sedikit jeda untuk sadar kalau nama kami memang dipanggil. Waktu saya sudah berdiri excited mau maju ke depan, si Amel malah plonga-plongo–shock dengan lampiran slide yang menunjukkan sekolah kami.

“Kita menang, Mel! Ya Allah, beneran ta ini?”
“Rur, aku nggak mimpi, kan? He Rur, bohong itu sumpah bohooong!”
“Meeel!”
“Ruuur!”
“Dek, jangan teriak-teriak, ya. Yang sopan.”

YIHAA KAMI MENANG, SUJUD SYUKUR ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAAAH!(Senengnya nyangkut sampe sekarang. Hihihi.)

Pengorbanan kami terbayar sudah. Telepon sampe malam buat minta kritik pembina dan orang-orang ndewo, pulang malem demi dapet liputan paling akurat dan foto paling oke, nggeret tangga ke sana kemari, nggak sekolah empat hari, mengesampingkan tugas demi mokusin DetCon…Subhanallah, Alhamdulillah. Allah memang nggak pernah tidur.

Ini goals yang terpampang di mading kamar :D
Ini goals yang terpampang di mading kamar 😀

Iya, itu goal saya. Meskipun nggak jadi bestwriter, saya tetep bangga sudah bisa mencoret satu goal di mading kamar :’) Alhamdulillah.

Alhamdulillah 5th Place Jurnalis #DetCon2K13
Alhamdulillah 5th Place Jurnalis #DetCon2K13

Kalau tahun lalu dapat rasa, tahun ini saya dapat juara! Lebih tepatnya, ada tiga piala dari ekskul saya bisa persembahkan untuk sekolah. Meningkat satu dan meningkat derajat dari tahun lalu. Sekali lagi, Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah 🙂

Totally, many experiences and memories I got from here and those were the most important above all. Terima kasih saya persembahkan untuk orangtua(yang udah merestui buat ikut), Mas Vian & Mbak Nilam(yang udah bantu banyak banget!), Mbak BebeCitra(yang udah ngasih kritik dan support positif), keluarga Ekspresi SMANISDA, keluarga 11 IPA 7, dan yang paling besar tali asihnya, Allah SWT. Semoga saya, kamu, kita, bisa terus berkarya dan membanggakan lagi!

Menang hanya berarti pengukuhan untuk memacu diri agar semakin semangat melakukan hal yang kita tekuni.

Dengan ini saya memproklamirkan diri bahwa saya adalah #JurnalisGagalMoveOn dari even DetCon2k13 yang telah memberi saya banyak sekali pelajaran berharga. Sekali lagi, terima kasih. Semoga saya bisa menjadi salah satu dari kalian ya Mas-Mbak, hihihi.

Undur diri,
See you next post!

Kenang-kenangan #DetCon2k13 :')
Kenang-kenangan #DetCon2k13 :’)

Kemana Saja, Woy?!

HIATUS RIPPostingan terakhir tercatat pada tanggal 10 September 2013 which is artinya sudah lebih dari dua bulan saya resmi hiatus dari WordPress(WP). Sampai kelihatan banget jaring-jaring laba-laba di sudut-sudut WP(Bukan dalam konteks kasat matanya, lho). Sampai rasanya, tulisan saya sudah karatan dan nggak sedinamis zaman yang lagi bergulir. Intinya, saya sukses besar menjadi manusia goa.

Sebenarnya, saya bisa ngecek WP setiap hari. Melihat komen yang masuk, diam-diam blog-walking ke blog teman dan mendapati diri iri mengetahui mereka bisa update secara teratur, buka-buka postingan zaman baheulak yang kalau sekarang saya baca sendiri langsung ngerasa nggak percaya(Beneran diriku dulu se-alay itu?), dan lain-lain. Tapi ada satu yang memang nggak bisa saya lakukan dimana aktivitas tersebut malah paling penting di antara yang lain.

Posting something.

Bener-bener keki, ya? Salahkan saya karena punya mindset untuk selalu menghasilkan paling maksimal di setiap hal yang kita tekuni–which is gara-gara itu, saya pun lantas berfikir untuk nggak usah posting dulu karena nggak bisa bagi waktu. Masalahnya, ya, satu itu, waktu. Tahu sendiri, kan, bahwa sesuatu yang maksimal nggak bisa dibarengi dengan waktu yang menuntut?

Blame me once again aja, deh. Karena detik ini saya sadar. Kalau nggak ada waktu yang menuntut, hasil maksimal dalam rentang waktu sekian nggak akan pernah ada. Lalu kata-kata Deadline juga nggak mungkin tercipta. Dan yang paling fatal, manusia akan semakin banyak yang berleha-leha.

Hmm. Jadi, sudah kelihatan akar permasalahannya, kan? Bukan karena kesibukan, bukan juga karena terhimpit keadaan. Hanya saja, saya yang terlalu keki berfikir bahwa bisa membagi waktu dengan sebegitu mudahnya lantas menyepelekan hal-hal kecil. I’m regretting my decision and I’m wrong to facing time in too simple treat. 

Ngghhh.

Oke, cukup sudah perenungan dan penyadarannya. Kembali ke masa kini.

Dua bulan bukan waktu yang singkat bagi saya dalam menjalani kehidupan kelas 11 SMA. I was through many journeys that made up myself like today. Dari kecebur kali, memimpin suatu ekstrakurikuler dengan penuh perjuangan, kemenangan manis untuk sekolah, nilai rapot yang tidak bisa memuaskan hati orang tua, dan banyak lagi, deh. Maunya, ketika menjalani semua itu saya sempat update di sini atau at least, nulis di diari tapi kenyataannya nggak. Saya terlampau sibuk sama pemikiran sendiri dan terus berfikir bahwa waktu adalah hal yang bisa diajak kompromi. Imbasnya baru sekarang.

Penyesalan memang nggak pernah datang di awal, ya. Bingungnya saya, mengapa kok kebodohan macam ini kerap terjadi seolah-olah saya nggak pernah jera, seakan-akan saya selalu siap menerima konsekuensinya, selayaknya memang begini jalannya.

Sadar selalu jatuh di lubang yang sama itu melelahkan. Sungguh. Semoga dengan begini, saya jadi sadar. Semoga dengan begini, setiap kali saya akan menunda sesuatu saya bisa baca postingan sendiri lantas bergegas menyelesaikan tugas yang ada. Semoga dengan begini, siapapun dari kalian yang membaca bisa mengaca diri dan tidak jatuh ke lubang yang sama seperti saya O:)

Sidoarjo, 24 Desember 2013

Alan Lakein

Tentang Teman

tentang teman(2)
Mungkin kata-kata di atas itu benar-benar naif dan kekanakan yang pernah terangkai. Karena nggak mungkin hidup tanpa teman. Nggak mungkin hidup tanpa bercerita. Teman beraarti luas bisa keluarga atau orang lain. Untuk urusan bercerita, sih, tergantung, ya. Ada orang yang bisa dengan mudahnya beradaptasi lantas bercerita ngalor-ngidul tentang apapun dalam hidupnya. Ada yang tarik-ulur. Ada juga pribadi penutup rapat perihal masalah pribadinya. Semua, toh sah-sah saja; tergantung pada manusianya. Namun sebenarnya seberapa penting arti teman?
Pintu dibuka. Decitnya menggelitik telingaku yang sedari tadi mendengar senyap. Oh, dia. Teman yang setelah sekian lama mendekam satu atap denganku.
Dari ekor mataku, dia hanya melirik sekilas. Menatapku menekuri layar laptop tanpa bertanya lagi. Belum sempat kutanya mengapa ia pulang selarut ini, temanku itu malah sudah terburu menghempaskan diri di atas kasur memejamkan mata.
Sekejap suasana menghening. Hanya terdengar bunyi jari-jariku yang mengetik tuts keyboard dalam kamar kami.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Oh, ini saatnya.

“AAAGH! Sebel sebel sebel! Tadi masa di kampus Si Dolores malu-maluin aku? Di depan kelas lagi! Dia kira aku siapa, coba? Asal marah-marah, nggak pake sebab. Dia lagi gila kali, ya? Lagi PMS? Mana tadi ada doi. Tugas besok juga belum kelar. Duh, kenapa hari ini sial banget, sih? Agh!” Serunya mencecar tanpa bisa dicegah. Sontak aku membalikkan tubuh menghadapnya. Dia masih telah duduk dengan kerucutan mulutnya juga dua manik yang berkilat marah.

Aku–yang bahkan bukan pelaku ceritanya–menghembuskan nafas besar. Dia memang seperti ini. Sering berperilaku begini. “Terus? Bukannya Dolores emang tukang marahin orang?” Jangan salah. Nama Dolores yang tersebutkan di sini bukan guru Hogwarts dalam novel Harry Potter, lho. Tapi merujuk pada salah satu dosen kami yang perangainya jauh lebih buruk ketimbang tokoh fiksi tersebut.

“Ya, iya. Tapi kan–” Lantas dia melanjutkan kalimat demi kelimat seperti memberondongkan peluru pada tawanan perang. Luncurannya sangat lancar, runtut, penuh emosi hingga menarik empati. Empatiku tentunya. Heran, mengapa aku tak pernah bosan, ya, mendengar keluhannya setiap hari?

“Nggak bisa gitu juga, lho. Dia kan udah terkenal–” Lantas aku membalas ceritanya dengan petuah-petuah yang anehnya selalu spontan terlontar kala ia berkeluh kesah. Diselingi dengan analogi konyol tentunya. Seperti: ‘Jika kamu jadi naga yang selalu marah, kamu pasti nggak akan sungkan memilih area untuk menyemburkan api, kan? Hayo?’ Ralat. Maksudku, analogi garing.

Lagi-lagi dia tertawa. Kuulangi, dia selaly tertawa mendapati analogiku yang sejujurnya tidak kumaksudkan untuk menghiburnya. Hey, aku sedang memberi filosofi, koplak!

“Ampun. Kapan, sih, selera humor kita naik satu level, aja? Dari dulu ngomongin naga, elang, monyet kayak kita udah kenal mereka lama banget, aja,” responnya lantas tertawa lagi. Mau tak mau aku pun tergelak. Dasar, sarkastik.

“Cukup. Sekarang ceritain harimu, dongs!” Tanyanya lantas melipir di pinggir kasur menatapku antusias. Sial, bagian inilah yang paling tidak kusukai.

Tapi anehnya, aku pun bercerita juga. “Ya… Ya… Mau bahas apa, coba? Alhamdulillah hari ini komikku dimuat jurnalis kampus. Terus mereka juga nawarin aku untuk kerja sama lebih lanjut. Terus–” Belum sempat kumenggenapi kisah, dia mendahului responnya. Respon gelak tawanya.

“Kamu tuh, ya. Komik aja dari dulu. Lebih personal, dong! Hiih! Gimana, sih? Gemes tauk!” Mau tak mau aku tersipu. Lantas yang terjadi kemudian adalah aku tak tahu harus berbuat apa. Maksudku, bercerita secara lisan sungguh bukan keahlianku. Hingga bukanlah suatu yang aneh apabila dia memang tidak tahu keseluruhan kisah hidupku. Memang begini lalu mau diapakan lagi?

“Em. Ya, pokoknya tadi ketemu dia di perpus. Aneh aja tahu dia baca. Terus aku pergi. Udah.” Benar bukan penilaianku terhadap diri sendiri?

Seolah tahu kelemahanku dia lantas menarik diri. “Ihiy! Pasti nggak kamu sapa, ya? Ah, gocik¹, ah! Besok disapa, lho!”

Aku melengos.

Sejurus kemudian, dia pamit untuk tidur dan berpesan padaku untuk melakukan hal serupa. Malam memang kian larut tapi dua cangkir kopi yang tak berapa lama baru kutandaskan tengah bekerja kuat-kuatnya sekarang. Tak salahlah, jika aku tidak mengindahkannya.

“Semoga besok aku sama doi bisa dimalu-maluin bareng, ya. Semoga kamu sama dia besok ketabrak atau apa kek. Pokoknya makin deket. Hahaha,” ucapnya yang langsung mengundang lemparan bantal sandaranku. Lantas ia tertidur sementara aku masih di hadapan laptop menulis kisah ini.

Jadi, apa kita butuh teman? Apa kita butuh tempat bercerita? Apa kita butuh wadah berkeluh kesah?

Menurutku, sih, semua pertanyaan terjawab ‘iya.’ Sekalipun kamu adalah orang paling tertutup di dunia yang enggan menceritakan penggalan jejak langkah.

*

Gocik¹ = Takut dalam bahasa jawa medok

Sidoarjo, 09 Agustus 2013
Terima kasih untuk setiap kawan yang mengetahui ‘tarik-ulur’ saya.
Hihihi