[21] Usai, sih. Tapi masa iya cukup segini?

There will be on point where you have completed something and feeling there’s no other to do anymore. Faktanya, aku sedang di fase itu. Masih menuju complete, sih. Tapi dengan segala macam jerih payah, rasanya I have done this.

Ini buruk. Buruk banget ketika ujung-ujungnya semua aktivitas yang bikin candu nggak bisa nikmat lagi. Buruk kiranya kalau kita nggak punya semangat lagi. Terlalu munafik berfikir apa yang kita perjuangkan pantas untuk berhenti.

Youngsters seperti kita, punya banyak hal yang bisa digali. Waktu yang terlampau panjang untuk bisa dibagi-bagi. Kesempatan melimpah ruah yang siap untuk di-‘eksploitasi’. Pertanyaanya: Apa kita cukup kuat menahan diri supaya nggak bermalas-malasan?

Rasulullah pernah bersabda bahwa sekuat-kuatnya musuh untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Bagaimana kerasnya kita melawan rekor yang pernah kita cetak. Bagaimana supaya kita mampu mengelola rasa cepat puas yang hinggap di diri masing-masing.

Sebenarnya nggak ribet, ya. Cuma how we set our mind and visions gitu, lho yang bikin selalu puter ulang otak and deciding what our top-priority. Karena sesungguhnya, Allah pun juga sudah berkata bahwa kita adalah khulafaurrasyidin bagi bumi kita—termasuk diri sendiri. Masa, sudah digariskan Allah sedemikian nggak membuat kita tergerak untuk terus produktif berkarya?

Terkadang, kita lupa. Banyak orang yang sedang mendoakan kita. Berharap di tiap nafas kita, ada manfaat tercurah dan berkah penyelamat dunia maupun akhirat.

Seringnya, kita pura-pura nggak menyadari ada dua orang paling berarti yang senantiasa menunggu kepulangan kita ke rumah. Merindukan cerita-cerita panjang kita selayak kecil dulu. Tanpa peduli, apa yang telah kita raih. Tanpa ambil pusing, apakah sesuatu yang kita perjuangkan berhasil atau nggak.

Mereka ada.

Allah telah mengirimkan mereka sebagai harta tak ternilai yang seringnya kita abaikan.

Hanya ada satu kata yang mampu menggambarkan semua: Alhamdulillah. Dan satu kata pelengkap: Astaghfirullahaladzim. Syukur-syukur sekarang langsung ambil wudhu, shalat, berdoa, dan menanyai kabar mama papa 😀

Hayo, brummies yang merantau sudah telepon orangtua belom? 🙂

 

(.)Jakarta, 05 April 2016
(.)Alhamdulillah sempat di-upload juga.

[19] Beauty of Being Naked

Beauty of Being ‘Naked’

Assalamualaikum ya akhi, ya ukhti!

It’s been a long time~ I’ve been coming back home~

Melihat postingan terakhir saya tanggal 20 Januari 2016 terus sekarang udah tanggal 18 Februari aja. Nyaris satu bulan, fiuh. By the way, rasanya kagok….. Mematut diri di depan layar laptop setelah nggak kebiasa menulis tiap hari lagi. Honestly, jemari kesendat-sendat mengikuti pikiran yang ribet memilih kata untuk disampaikan. Hahaha.

Tapi bukan itu maksud saya menulis postingan ini.

Sesungguhnya sih, saya juga nggak tahu mau ngomongin apa. Saya cuma kangen sama blog ini. Blog yang ternyata punya pembaca juga. Which is some of them are my friends. Malu. Bener-bener malu.

Menulis itu mudah. Tinggal mengetikkan apa saja yang terlintas dalam akal. Susahnya itu, bagaimana membuat apa yang telah kita jelentrekkan satu persatu jadi presentable dan valuable for public consumption.

Satu lagi, susahnya menulis; adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk rela being ‘naked’ in front of people. Naked dalam artian hasil buah pikiran kita yang bakal kebaca masyarakat. Being a writer is one of the embarrassing profession. Because what you write is what you think. What you think is your own perspection which is unique and presenting your soul precisely.

Kadang itu yang bikin saya nggak percaya diri tiap ada temen komen via dunia nyata. Knowing other realize who you really are tuh memang ngelegain tapi kalau belum siap juga ngeribetin (Astaga, maafkan bahasa saya yang bingungin, hihihihin).

But those are the beauty of writing! Itu something yang addicted. Membagikan apa yang kamu percaya dan apa yang kamu tahu jadi kesenangan tersendiri, loh. Apalagi setelah tahu feedback brummies (kalo ada :p) nunjukin kurva positive dan bikin semangat balik nulis lagi (seketika keinget UAS yang tinggal empat hari lagi……………).

Temen saya bilang:

Blogmu bagus, Rur! Apalagi yang seneng-seneng! Waktu kamu keterima desain ITS, terus dari SMP ke SMA, apiklah! Tapi kok yang baru-baru sedih-sedih kabeh, yo? Tak skip akhirnya yang sedih-sedih….

Saya cuma bisa:

Hahahahahaha……………. *hening sejenak* 🙂

One more beauty about writing: you can not deceive people mind. Yang kamu tulis, ya itu: kamu. Sekalipun apa yang kamu tulis nggak sesuai dengan situasi, itu konsekuensi. Kata-kata kamu yang bakal melekat di pikiran pembaca. Pemikiran kamu yang bikin orang aware, notice dan opening mind up.

Yuk, produktif dan istiqomah dalam menekuni kegiatan kita, brummies! 🙂

“Meski hari libur, hindari bermalas diri. Tetaplah produktif dalam berkarya dan beribadah. Lalu kapan istirahatnya? Percayalah, tempat istirahat terbaik adalah surga.”

-Ahmad Rifa’I Rifan dalam buku Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk.

 

Jakarta, 18 Februari 2016
Di sela-sela Ujian Akhir Semester Ganjil

[18] A while only, kok. Hopefully.

In the end of the day. Ketika akhirnya bisa punya waktu senggang, I feel clueless.

Entah mengapa seolah-olah tuntutan dari dosen, organisasi, komunitas, orangtua, itu do not make me feeling really alive. Kayak, that will be done soon but I’m taking breath for a while here. A while yang sebenernya sama sekali nggak produktif.

Kita mungkin bisa lelah. Bisa merengek pada Tuhan supaya teringankan segala beban, terbebaskan dari amanah, terselesaikan dari masalah, apapun untuk membuat nafas kita melega. Tapi kita juga perlu tahu bahwa Tuhan nggak sedang menunggu. Moreover, time. Cih, mana mau waktu menunggu?

Mengutip dari Kurniawan Gunadi, bahwa kita adalah makhluk-makhluk yang sedang menunggu. Menunggu apa hayo? Kematian. Kita sedang dalam perjalanan panjang menuju gerbang pengantar keabadian(Wuusss, bahasanku, ya).

Sesungguhnya, I never think about why we should meet up people and end up waving them—saying goodbye like it was the worst thing. Atau ketika, meeting the facts that we are all connected. Baik itu pergaulan, destiny, tujuan, atau bahkan unexpected thing. Maksudku, mikir kayak gitu nggak pernah bakal ada habisnya gitu. Selalu ada dua sisi. Sedih atau bahagia. Mau yang mana, tergantung kita. Apapun pilihannya, selalu berharap yang paling indah.

But always. I remember Allah has His path for me—even every single of us—in every second we taking breath and stepping something. He always does.

..Dan jangan lupa. Bukankah dari sekian banyak peristiwa yang telah kita lalui hanyalah ilusi dari ladang penanam pahala semata? Because life ‘is only’ a boat. Not even an Island we have to reach for the final arrival.

Just make sure every time we spend bermanfaat, yhaa. Hihihi.

Selamat rehat. Semangat berangkat, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 20 Januari 2016

[17] WHAT DOESNT KILL YOU MAKE YOU STRONGER

Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))
Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))

“Aduh, maaf banget ya. Nggak jadi bisa datang. Tak doakan semua bisa sukses, guys! See you on top!”

Mungkin kalimat di atas merupakan kalimat doa yang baik, ya. Saling berharap supaya teman-teman sukses dan jadi ahli di bidangnya masing-masing.

But. I. Hate. That. Really.

Menurutku, apa yang sudah tertera di atas sama sekali nggak mempererat tali persaudaraan. Cuma formalitas. Ungkapan yang seolah-olah harus diucapkan ketika sudah sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing. Kalimat pelarian diri dari silaturahmi yang hakiki.

But there is the time dimana kata-kata itu memang harus diucapkan. Ada saat ketika kondisi nggak memungkinkan akhirnya membuat kita terkurung di satu kota nan jauh dari rumah, mengikhlaskan kesempatan pulang, dan melewatkan waktu yang harusnya bisa diisi temu kangen dengan teman-teman sekolah.

Akhir minggu kemarin, saya bersama Raden dan Faizal membahas seru rencana ketemuan via chat WhatsApp. Dolen, bahasa Jawanya. Mereka temen baik saya banget waktu SMA. Dulu sering belajar dan main bareng. Mereka ini dua di antara orang-orang yang buat saya bersyukur banget. Because they are crazy, kind, warm-hearted, and most important—hard to find.

Faizal deket banget karena saya sering curhat sama dia. Ngobrol apa aja nyambung—apalagi bahas masalah cinta, gilak ini temen saya udah expert banget dah di bagian situ, hahaha—dari musik sampe bahasan nggak penting pun bisa aja jadi obrolan kami. Terus dulu satu les-les an sama dia juga. Pernah banget ngerasain jadi temen sepenanggungan, seperjuangan. Faizal sekarang di Universitas Brawijaya, jurusan hukum. Jurusan yang dia pingin.

Kalau Raden, nih. Hahaha. Bocah! Temen terunik yang saya punya. Kenapa terunik? Karena dia tuh naksir sahabat saya semenjak kelas satu SMA, terus dia dulu sering cerita-sharing sama saya juga. Dan yang paling saya inget tuh waktu dia minta dibimbing belajar Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik(TPA) dalam rangka seleksinya di Angkatan Kepolisian(AKPOL). Tiap Sabtu dulu sering banget nentorin anak satu ini, sekaligus cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon. Sampai akhirnya—duh, ini bagian-bagian mengharukan—tes dilaksanakan, dia diasingkan beberapa saat lalu si bocah ini ngabarin saya via telepon untuk ngasih tahu kalau nilai TOEFL Bahasa Inggrisnya tertinggi se-peserta Jawa Timur dan nilai TPA-nya tertinggi se-Indonesia!

Alhamdulillah. Alhamdulillah.

And yes, dia berhasil masuk AKPOL :’) #tearsofjoy!

Seneng banget nggak sih rasanya jadi part of bigger thing that is success and valuable for others? Itu yang saya rasain waktu berbagi. Itu yang buat saya sangat bersyukur :’)

Kami tuh sebenernya ngerencanain tanggal 27 besok buat jalan bareng. Around Surabaya aja. Acaranya sederhana, sih. Pengennya cuma ngemall buat nonton—which is mau nemenin Raden yang belum pernah nonton sama sekali :p—terus photobox dan makan bareng.

Tapi wacana hanyalah wacana.

Saya nggak bisa pulang karena nggak bisa ngelobby dosen dan terlalu takut untuk bolos satu mata kuliah inti yang emang nggak bisa dilobby.

“Ealah, Rur. Padahal aku wes bayangno kita nonton star-wars,” kata Faizal.

“Ealah, kampret. Aku habis ini kayaknya nggak ada libur panjang,” kata Raden.

Sedih, ya? Sedih banget. Temen deket saya aja kecewa apalagi yang di sini… yang nggak bisa pulang. Tapi lebih sedih lagi saya di sini terkungkung nggak bisa ketemu mama papa dan cuma bisa ngandelin telepon untuk pelepas kangen.

“Udahlah nggak usah pulang dulu. Kuliahnya kan lebih penting. Mbak kan juga masih semester satu. Papa sama mama ini telepon kamu aja udah cukup.

Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)
Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)

Itu kata papa tadi siang, waktu akhirnya menyarankan saya nggak pulang aja. Tahulah, saya mewekan. Jadi habis papa bilang gitu, sambungan saya putusin, terus air mata tuh kayaknya lancar banget produksinya sampe nafas sesek rasanya(Saya nggak cukup cuma telepon aja, Ma, Pa!)

Saya adalah mahasiswa perantauan. Rumah terletak jauh dari pandangan, sekitar 80 km. Baru kali ini banget ngerasain kangen yang sumpah demi apapun nggak bisa ditolong kalau rasanya nggak pulang. Baru sekarang tahu gimana rindunya saya sama mama, papa, temen… Rindu rumah.

Tapi dari sini, akhirnya saya belajar. Kalau keluarga, temen masa sekolah, itu dua harta yang sama sekali nggak bisa tergantikan, sesuatu yang membuat kita jadi orang paling kaya sedunia. Karena mereka adalah sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan uang dan cuma bisa eksis kalau kita telaten merawat dan menjaga silaturahmi.

“Saya lebih memilih menabung untuk pulang kampung. Karena saya tahu umur orangtua saya nggak selama menara Eiffel atau Tembok Cina yang kalian pamer-pamerin.”

Gilak, ya. Itu quotes yang bikin saya… “Okay, ini bener banget. Okay, itu bikin prinsip berubah. Okay, itu….(speecheless).” #BaperMaksimal.

Tapi perantauan melatih kita untuk mandiri dan bisa kuat sekalipun harta paling penting yang kita miliki lagi nggak ada di samping kita. Alhamdulillah, udah bisa mengikhlaskan kesempatan untuk nggak pulang. Yah, Allah SWT pasti punya rencana yang lebih indah. Yakin banget, deh 🙂

Semoga tahun depan jatah saya pulang kampungnya bener-bener eksklusif panjang dan nggak keganggu apa-apa. Hahahaamin, ya Allah:)

Selamat liburan! Selamat berkumpul dengan keluarga, Brummies tersayang!♥

Jakarta, 23 Desember 2015 | 12:23 AM

[16] Homesick Parah!

Ciye 🙂

“Assalamualaikum?”

“Waalaikumsalam. Ada apa, Non?”

“Ma, aku kangen…..”

Kemudian nangis. Sesenggukan. Bersama. Kemudian sadar ini imajinasi belaka karena nggak sampai hati ndengerin mama nangis.

Saya lagi sakit. Panas, pusing, batuk, pilek, capek-capek, linu segala macem (macam komplikasi aja, ya. Hahahaastaghfirullah.) dan timing sakitnya ini sama sekali nggak pas karena bener-bener di pertengahan UTS. Mau belajar nggak nyaman, mau mandi airnya dingin banget, mau makan buat nelan rasanya pahit, mau keluar beli makan rasanya mager terlalu takut kalau-kalau jatoh di jalan atau gimana, semua serba salaaaah. Saya sempet curhat ke salah satu kakak tingkat yang sudah saya anggap Mbak sendiri dan dia bilang gini:

“Kalau temen-temen di kosku lagi kayak kamu gitu berarti lagi homesick, Dek. LOL.”

JDYER. 😀

Deep down inside membenarkan 100%.

Cewek itu baperan, sungguh. Sekalipun nggak menampakkan kalau lagi sama temen, siapa tahu gimana dia kalo lagi sendirian di kos, malam-malam, bikin sajadah tempat sujudnya sampe basah? (Wait-wait, I am not telling about how I am di kos, ya. Itu cuma perumpamaan 🙂 ) Apalagi kalau case-nya adalah orangtua. That’s one of the weakest point we’ve all got. Cowok juga, sih. Tapi nggak sebaper ceweklah. Because they’re strong with logic and somehow I wannabe like them too, ugh (At least separuhnya aja deh, bisa nggak ya…).

The point is, homesick itu sama sekali nggak enak. Annoying. Uncomfortable. Bikin uring-uringan. Bikin galau. Bikin alay(Nggak, ini nggak kok haha) BUT dari homesick, finally you will realize how important your family are. Seunik, segila, seflat apapun keluarga kamu, they are still your one and onely lovely family you love the most whom you’ll never let go of.

Bagi siapapun kamu yang merantau, telepon orangtua kamu rutin tiap hari, ya. Dua-duanya! Jangan pilih kasih! Hahaha.

Yang lagi homesick….yaudah lah ya, lanjut aktivitas masing-masing. Yang penting pastiin tanggal pulang kampungnya kapan. Kata David Archuleta gini brummies, “Show me the good things come to those who wait…

Makanya, sabar! :p (Ngomong ke diri sendiri)

 

Jakarta, 12 Desember 2015
In the middle of belajar kalkulus, uhuk.

[14] Seragam dan Segenggam Harapan

Satu B kompak selalu, ya! :)
Satu B kompak selalu, ya! 🙂

Have you ever thought about the essential of wearing uniform? Selain untuk pemerataan status sosial murid atau mahasiswa, tentunya. Karena jauh daripada itu, menurutku esensinya lebih daripada itu.

Seragam mendefinisikan dimana kamu sedang belajar. Jalur keahlian apa yang kamu pilih. Tanggung jawab sebesar apa yang kamu pikul. Karena belajar atau menuntut ilmu nggak sesederhana yang dibayangkan. Tugas kita bukan cuma belajar, berorganisasi atau aktif dalam kepanitiaan. Lebih daripada itu. Kata guru saya waktu SMA dulu,

“Tugas kalian saya kasih nilai 60, 70, 80, 90, 100 sekarang terserah saya. Kalau saya mau, bisa saja kalian request mau nilai berapa. Bisa saja. Tapi bukan itu sesungguhnya tugas kalian. Tugas nyata kalian adanya di sana. Masa depan dan masyarakat. Bagaimana nilai-nilai benar-benar kalian aplikasikan atau bagaimana nilai-nilai tersebut sudah tidak ada artinya sama sekali.”

That’s it.

Universitas, Sekolah Tinggi, atau apapun instansi tempat kamu menuntut ilmu adalah media. Miniatur dari masyarakat sesungguhnya. cuma sepersekian persennya saja. Tapi kalau sudah terlatih di dalam media tersebut, inshaAllah siap menghadapi yang lebih berat.

Moreover when you know your education been paid completely or partly or one-fourth only by money citizen. Berasa punya utang, ya? Utang yang baik tentunya.

‘Sudah dibayarin, masa cuma belajar saja? Nggak aktif sama sekali? Lalu mau ‘membayar’-nya dengan apa? Bakti masa depannya akan seperti apa?’

Bagaimana hal tersebut malah membuat semangat semakin terpacu. Terlebih lagi, di sana… Di kampung halaman orangtua tercinta mendoakan dari jauh. Meletakkan harapan-harapan beliau di pundak kita.

How I miss mamski so much. Jadi pengen meluk mama #baper.

Ada satu hal lagi yang waktu itu disampaikan guru saya,

“Kalian harus ingat, anak-anak bukan saya yang beri kalian pertanggung jawaban nilai tapi Dia. Dia yang berada di atas kita semua, mengawasi segala gerak-gerik kita setiap saat. Allah SWT.”

Ini temen kos :D
Ini temen kos 😀

Semangat mengemban tugas, wahai para penuntut ilmu se-Indonesia Raya! Selamat mengenakan seragam dan menggenggam banyak harapan, calon statisti STIS! #MoveOnPDA! 🙂

 

Jakarta, 03 November 2015

[13] 31 Oktober 2015

tumblr_lulgxlFDbE1r5ssqlo1_500_large

Nggak kerasa banget sudah di penghujung bulan, ya. Nggak nyadar juga dua bulan lagi bakal berganti tahun(tapi tahun baru Islam sudah bergulir kok, haha). Uhuk. Gimana, nih progress di bulan kesepuluh? Apa target-target sudah terlaksana?

Here, I am the one who will answer: not yet. Mwahaha. Malu. Sungguh. Karena memang ada beberapa hal yang terus-menerus saya pending, skip, lupakan, abaikan, buang ke laut, umpetin di kolong tempat tidur—apapun—sampai tahu-tahu aja sudah numpuk. Tahu-tahu saja melihatnya bikin panas mata, bikin gemes hati, bikin sedih pikiran.

Kata Wahyu Aditya: Ilmu otak kadal banget, kamu! Thinking we have a lot of time and able to do everything on our own up to own mood?

Orang paling kaya di dunia adalah orang yang bisa membeli hal yang nggak bakal terbeli. Here, the context is time. Always. Makanya, cuma Allah semata yang paling kaya. Fortunately, time machine only exist on science-fiction movie, ya. Kalau ada beneran… Ya, bakal tetep saya pakai, sih. Mau mengenang betapa alaynya saya zaman dulu. Yang sekarang mungkin terbawa sedikit-sedikit. Atau banyak, ya? Ah, terserah. Nggak baik menilai diri sendiri #ngeles 😀

But, seriously.

Waktu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main.

Berulang kali saya mendengar nasehat itu. Gini, dulu zaman SMA pernah meremehkan ulangan biologi karena saya notabene sama sekali nggak suka biologi dan nggak(benar-benar optimal) memahami materinya. Tapi saya berpersepsi bahwa akan mengulang pelajaran di rumah. Seperti anak SMA pada umumnya, saya pending teruuuus sampai akhirnya haripun bergulir. Kemudian berhenti. Tepat di ulangannya itu.

Bisa ditebaklah, apa yang terjadi… Remidi! Hahaha(Menertawakan kegagalan sendiri adalah hal yang nggak baik. Jadi saya mohon. Ini hanya bacaan untuk 18 ke atas. Yang umurnya kurang, nggak papa sih lanjutin aja. Tanggung soalnya. Mwahaha).

Itu contoh sederhana aja sih. Dampak dari sama sekali nggak menghargai waktu. Just like bapak-bapak TNI pelatih Bela Negara kami kemarin bilang:

“Kalau mau orang lain menghargai kalian, hargailah orang lain terlebih dahulu. Enak sekali kalian minta respect tapi kalian sendiri nggak mau respect.”

That quotes have to implant towards managing time, too.

Aku, kamu, kita, semua adalah fighter yang berival kuat dengan waktu. Selalu. Setiap orang punya 24 jam yang sama tiap hari. Dimana bener-bener up-to-us mau menghabiskan seperti apa. Apa mau untuk memikirkan topik skripsi(kakak-kakak tingkat tahun terakhir di universitas atau sekolah tinggi manapun semangat, yoaaa), atau untuk belajar mati-matian atau malah hanya untuk menonton drama-drama (yang sebenernya sama sekali nggak ada efeknya buat kehidupan nyata kita kecuali daydreaming-_-) atau main uno atau chattingan sampai tiba-tiba nggak kerasa aja udah sampai malam berkutat di depan layar ponsel.

Apapun kegiatannya, nggak mau kan membuang satu hari berharga yang nggak akan terulang lagi?

Karena jalan menuju kemalasan selalu lebih menggoda. Hahaha. Yuk, kita perangi bersama! 😀

 

Jakarta, 31 Oktober 2015
P.S. Maaf gambarnya nggak ada korelasi sama sekali dengan tulisannya, ya. Hahaha.