Jurnalis Gagal Move On

Deteksi2k13

Inget nggak, tahun lalu saya pernah cerita tentang DetEksi Convention(DetCon)? Di Doakan Saya, Kawan 😀 dan Kalah itu Akhir yang Memenangkan? So, yeah… Tahun ini saya bersama tim jurnalis smanis berpartisipas lagi!(Emang siapa gitu anak muda Jawa Timur yang nggak excited buat ikut DetCon?)

Ada yang belum tahu DetCon itu apa?

Awalnya, DetEksi hanya halaman yang ditujukan untuk pemuda di koran Jawa Pos. Pencetusnya adalah Azrul Ananda. Dimulai dari acara tahunan untuk memperingati hari jadi halaman, diadakanlah DetEksi Party. Pada tahun 2002, DetEksi Mading Campionship diadakan untuk menyalurkan kreativitas seni anak muda dalam bentuk mading. Seiring dengan membeludaknya animo peserta, lima tahun berikutnya DetEksi Jawa Pos mengubah nama menjadi DetEksi Convention yang sudah berkembang menjadi konvensi multi kompetisi.

…..For the complete story, click this 😉

Oke, jadi ini cerita nggak fresh from the oven. Terjadi bulan lalu tepatnya tanggal 9-17 November. Lama bingit, ya, saya bagi-bagi ceritanya? Dalam event tersebut, saya menjadi wakil sekolah di Journalist Blog Competition(JBC)-nya. Sedangkan teman-teman yang lain mengikuti Mading On The Spot, Mading 3D, dan kakak kelas taking their opportunity di Excelso Wallpaper Design.

Total ada sekitar 13 jenis lomba yang dipertandingkan selama sepuluh hari and I could say that DetCon was really a mega huge event for teenagers in Jawa Timur. Sejak diadakan pertama kali, animo pesertanya udah banyak banget! Seiring bertambahnya tahun, inovasi yang dilakukan juga sukses menggaet peserta dan membuat acara menjadi lebih besar.

Apa kalian tahu? Meskipun ruang lingkup lomba terbatas hanya untuk siswa Jawa Timur, tapi bagi kami, untuk punya pengalaman di DetCon itu bener-bener berharga banget. Jadi, jangan heran kalau pesertanya bener-bener totalitas saat mengikuti lomba dan jangan kaget ketika mendapati ide-ide anak SMA bener-bener gemilang di sana. DetCon is really prestigious for us.

Nggak menutup kemungkinan, event ini akan berkembang menjadi national competition. Just wish and wait for that.

Balik lagi ke #DetCon2k13, tahun ini kompetisi yang saya ikuti mengharuskan saya dan Amel(lovely partner-evah!) untuk datang selama sepuluh hari penuh di venue. Tugasnya cari foto bagi fotografer dan berita bagi penulis. Bahannya adalah acara dalam DetCon. Jadi selama itu, saya getol wawancara sana-sini sedangkan Amel lari ke sana kemari membidik setiap momen yang ada.

Best Fotonya Amel (menurutku)!
Best Fotonya Amel (menurutku)!

Nah, sepuluh hari kemaren jelas nggak berjalan mulus begitu aja. Hambatannya banyak banget! Mulai dari keputus-asa-an karena sempet stuck nggak ada inspirasi buat liputan, ngerasa stres karena pressure peserta yang keliatannya pada ndewo semua, berat bin malu waktu nggeret tangga yang Amel pake buat ambil foto(di sana ada panggung acara yang nggak memungkinkan fotografer berbadan pendek bisa moto ketika banjir penonton–peace, Mel!), keterikatan deadline, Wifi yang hidup segan mati tak mau, kehilangan handphone juga uang, duh, kalau dijelentrekkan satu-satu nggak habis-habis, deh!

Well, sebenarnya malah di situ letak tantangannya. Di situlah letak kesenangannya. Hambatan bikin chemistry saya sama Amel ketemu dan ini membuat kami menjadi tim yang solid. Kami tuh, saling mengisi. Amel panikan ngimbangin saya yang penenang, saya yang terlalu serius diimbangi Amel yang santai bin super-fun, Amel yang sering nraktir mengimbangi saya yang dompetnya sering kempes, sort kind of thing like that. Geli banget kalau ngingat kami yang lagi marah atau nggojloki(nggoda) satu sama lain. Hahaha. Saya bersyukur banget pernah kerja sama cewek ini 😉

Sepuluh hari partner-an sama Amel juga bikin kami kenal banyak anak di DetCon. Saya nggak kenal seluruh peserta JBC2k13, tapi seenggaknya saya recognize wajah mereka satu-satu. Jujur, menurut saya waktu sepuluh hari buat main sama mereka itu kurang–banget. Banyak kebiasaan kecil lomba yang nempel di ingatan saya.

Dippo, Sultan, Bryan, Amel, gila semuaah!
Dippo, Sultan, Bryan, Amel, gila semuaah!

Sudah upload naskah?
Sudah upload foto?
Sudah dapat bahan berita?
Duh, narasumbernya, kok, lama see…
He, kamu nggak laper, ta? Makan bareng, yok!
Deteksijp di komputermu bisa dibuka, nggak?
Duh, wifinya lama he sudah mau jam empaaat!

10 hari sama mereka terus  ♥
10 hari sama mereka terus ♥

Sejenis itu dengan muka-muka lelah kami. Lucu pas ngingat masa-masa itu. Yang paling nggak bisa dilupain tuh waktu kami naik kursi dan nyanyi bareng Vierra, waktu nyanyi bareng HiVi! dan Maliq sampe suara habis, waktu minta tanda tangan ke seluruh peserta sama kru, waktu face to face sama Azrul Ananda, waktu ngecengin band yang lagi tampil tapi tampilan mereka dikacangin penonton, waktu perpisahan, oh-my-god. Kayaknya semua detik-detik saya di sana memorable, deh :’)

Satu hal lagi, saya paling nggak bisa melupakan oleh-oleh dari narasumber yang saya hubungi via telepon. Jadi, dia adalah salah satu peserta luar kota yang saya kepoin kenapa, kok, ikut lomba. Tepatnya peserta dari Tuban. Kalau nggak salah saya ngabisin waktu satu jam-an sendiri ngobrol dan mengulik banyak tentang hidupnya. Eh nggak taunya, malah keterusan dan kami ended up buat janji untuk ketemuan di hari terakhir.

Waktu hari terakhir pas pengumuman pemenang lomba(tapi nggak termasuk kompetisi saya), kami ketemu setelah dia diumumkan jadi juara. Yes, narasumber yang saya wawancarai berhasil memboyong piala untuk sekolahnya. Seneng banget waktu itu apalagi pas dia tersenyum serta ngacungin piala itu ke tempat saya berdiri. Ah, ikut bangga, sungguh.

Kami ketemunya setelah itu. Dia bawa partner lombanya dan kenalan secara resmi sama saya. Di detik-detik terakhir, dia ngasih saya bubuk kopi tubruk, bijinya, serta sketches note dan satu kalimat ini: “Makasih, ya, publikasi beritanya.”

Oleh-oleh dari temen Narasumber. Tuban asli!
Oleh-oleh dari temen Narasumber. Tuban asli!

Saya yang waktu itu cuma bercanda buat minta dibawain oleh-oleh sempet ngerasa nggak enak karena nggak mbawain dia apa-apa. Tapi akhirnya, ya, kami oke-oke aja. Eits, nggak usah mikir yang aneh-aneh, yaa, karena sampai sekarang kami berteman. Saya juga nggak mungkin pacaran–apalagi jarak jauh. But still, itu kenangan paling memorable, hihi.

Pada hari yang sama, sekolah saya mendapat dua piala–dua silver untuk lomba mading 3D dan Wallpaper Excelso. Saya histeris banget waktu itu. Sempet pesimis sampe Amel harus gantian nenangin saya. Bahkan, saya nangis waktu tim mading saya menang. Soalnya lihat usahanya mereka itu bener-bener mirisin hati. Truly touching menurutku sebagai saksi pendukung mereka.

Alhamdulillah Top Ten Silver Mading #DetCon2k13
Alhamdulillah Top Ten Silver Mading #DetCon2k13

By the way, cerita saya panjang banget, ya? Ayo kita skip ke hari pengumuman JBC.

Pengumuman JBC itu paling akhir di antara serangkaian lomba yang lain. Why? Simple, karena kerjaan wartawan memang harus meliput sampai hari terakhir. Maka dari itu, liputan acara selama sepuluh hari baru dijuri setelah event sepuluh harinya selesai. Di situ saya sama Amel bener-bener pasrah. Mau menang berarti bonus, mau kalah ya dijadikan pengalaman aja.

Kami punya prinsip:

Yang penting tuh melakukan yang terbaik. Nggak usah berusaha mati-matian hanya karena pengen ngalahin seseorang. Lebih baik berusaha-usaha-usaha sambil nyari kenalan yang banyak.

Itulah yang kami lakukan. Kami nggak pernah ambusius untuk menang tapi kami nyari kenalan sebanyak-banyaknya. Meskipun begitu kenyataan berkata lain.

Pertama kali Technical Meeting(TM) saya udah punya feeling kalau nama saya akan dipanggil. Bukannya sombong atau apa, tapi memang itu yang saya rasakan dalam hati. Entah mengapa saya bener-bener yakin bakal menaklukkan juara di tahun ini. Apalagi tahu kalau pemenang biasanya ditelepon untuk bisa dipastikan datang di hari sebelum pengumuman. Yes, I got that call and that’s what happened.

And the fifth place UBS Journalist Blog Competition 2k13 goes to…. SMA Negeri 1 Sidoarjo!”

With lovely partner, Kharmelia Nur Afali ♥
With lovely partner, Kharmelia Nur Afali ♥

Kami menang. Saya dan Amel berhasil. Bener-bener nggak percaya. Amel malah butuh sedikit jeda untuk sadar kalau nama kami memang dipanggil. Waktu saya sudah berdiri excited mau maju ke depan, si Amel malah plonga-plongo–shock dengan lampiran slide yang menunjukkan sekolah kami.

“Kita menang, Mel! Ya Allah, beneran ta ini?”
“Rur, aku nggak mimpi, kan? He Rur, bohong itu sumpah bohooong!”
“Meeel!”
“Ruuur!”
“Dek, jangan teriak-teriak, ya. Yang sopan.”

YIHAA KAMI MENANG, SUJUD SYUKUR ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAAAH!(Senengnya nyangkut sampe sekarang. Hihihi.)

Pengorbanan kami terbayar sudah. Telepon sampe malam buat minta kritik pembina dan orang-orang ndewo, pulang malem demi dapet liputan paling akurat dan foto paling oke, nggeret tangga ke sana kemari, nggak sekolah empat hari, mengesampingkan tugas demi mokusin DetCon…Subhanallah, Alhamdulillah. Allah memang nggak pernah tidur.

Ini goals yang terpampang di mading kamar :D
Ini goals yang terpampang di mading kamar 😀

Iya, itu goal saya. Meskipun nggak jadi bestwriter, saya tetep bangga sudah bisa mencoret satu goal di mading kamar :’) Alhamdulillah.

Alhamdulillah 5th Place Jurnalis #DetCon2K13
Alhamdulillah 5th Place Jurnalis #DetCon2K13

Kalau tahun lalu dapat rasa, tahun ini saya dapat juara! Lebih tepatnya, ada tiga piala dari ekskul saya bisa persembahkan untuk sekolah. Meningkat satu dan meningkat derajat dari tahun lalu. Sekali lagi, Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah 🙂

Totally, many experiences and memories I got from here and those were the most important above all. Terima kasih saya persembahkan untuk orangtua(yang udah merestui buat ikut), Mas Vian & Mbak Nilam(yang udah bantu banyak banget!), Mbak BebeCitra(yang udah ngasih kritik dan support positif), keluarga Ekspresi SMANISDA, keluarga 11 IPA 7, dan yang paling besar tali asihnya, Allah SWT. Semoga saya, kamu, kita, bisa terus berkarya dan membanggakan lagi!

Menang hanya berarti pengukuhan untuk memacu diri agar semakin semangat melakukan hal yang kita tekuni.

Dengan ini saya memproklamirkan diri bahwa saya adalah #JurnalisGagalMoveOn dari even DetCon2k13 yang telah memberi saya banyak sekali pelajaran berharga. Sekali lagi, terima kasih. Semoga saya bisa menjadi salah satu dari kalian ya Mas-Mbak, hihihi.

Undur diri,
See you next post!

Kenang-kenangan #DetCon2k13 :')
Kenang-kenangan #DetCon2k13 :’)
Advertisements

Komparasi Kala

komparasi kala

“Mesa, aku kepanasan! Beli es Bli Wayan ajayuk!”

Aku tersenyum. Meringis mendapati kekonyolan yang selalu Eka spontan lakukan. Meski di tengah-tengah acara resmi seperti ini dia tetap saja berbuat hal-hal yang tidak pada umumnya orang fikirkan.

“Sa, ayolah. Nanti kutraktir, deh!” Sekali lagi Eka merayuku. Mengguncang tubuhku dengan bahunya lantas berlagak menyeka dahinya yang sesungguhnya tidak terlalu berpeluh.

“Atau ayam betutu? Kita sudah lama nggak makan bareng, kan? Sekarang aja! Langsung cus ke warung Bli Wayan!” ajaknya lagi menampakkan mesemnya.

Melihatku bergeming, Eka pun kian gemas. “Kamu tentu nggak mau kita  jadi dendeng di sini, kan? Ayolah, mari kita pergi!” Dasar, Eka. Selalu saja punya alasan kuat untuk meruntuhkan benteng pertahananku. Tanpa menanggapi ucapannya, tau-tau tanganku sudah digenggamnya. Lantas kami menelusup keramaian bersama. Memulai hari dengan petualangan berbeda. Bersisian di samping sahabat yang selalu buat hariku membuncah bahagia.

Tapi itu dulu.

Kini aku berdiri di tempat sama yang kami pijak bertahun-tahun lalu. Berdiam diri mendapati semua kenangan remaja kami terlampau indah untuk bisa terlupa. Apa kira-kira Eka juga masih mengingatnya? Saat kami masih berstatus bocah ingusan penuh keingintahuan terhadap dunia?

Semoga saja.

BLAR BLOSH BLOSH

Api menyeruak. Abu tinggi mengepak. Ngaben mencapai puncak. Selamat jalan, Eka.

 

Sidoarjo, 09 Agustus 2013
Untuk CERMIN Bentang Pustaka dengan tema upacara 😀

Tentang Teman

tentang teman(2)
Mungkin kata-kata di atas itu benar-benar naif dan kekanakan yang pernah terangkai. Karena nggak mungkin hidup tanpa teman. Nggak mungkin hidup tanpa bercerita. Teman beraarti luas bisa keluarga atau orang lain. Untuk urusan bercerita, sih, tergantung, ya. Ada orang yang bisa dengan mudahnya beradaptasi lantas bercerita ngalor-ngidul tentang apapun dalam hidupnya. Ada yang tarik-ulur. Ada juga pribadi penutup rapat perihal masalah pribadinya. Semua, toh sah-sah saja; tergantung pada manusianya. Namun sebenarnya seberapa penting arti teman?
Pintu dibuka. Decitnya menggelitik telingaku yang sedari tadi mendengar senyap. Oh, dia. Teman yang setelah sekian lama mendekam satu atap denganku.
Dari ekor mataku, dia hanya melirik sekilas. Menatapku menekuri layar laptop tanpa bertanya lagi. Belum sempat kutanya mengapa ia pulang selarut ini, temanku itu malah sudah terburu menghempaskan diri di atas kasur memejamkan mata.
Sekejap suasana menghening. Hanya terdengar bunyi jari-jariku yang mengetik tuts keyboard dalam kamar kami.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Oh, ini saatnya.

“AAAGH! Sebel sebel sebel! Tadi masa di kampus Si Dolores malu-maluin aku? Di depan kelas lagi! Dia kira aku siapa, coba? Asal marah-marah, nggak pake sebab. Dia lagi gila kali, ya? Lagi PMS? Mana tadi ada doi. Tugas besok juga belum kelar. Duh, kenapa hari ini sial banget, sih? Agh!” Serunya mencecar tanpa bisa dicegah. Sontak aku membalikkan tubuh menghadapnya. Dia masih telah duduk dengan kerucutan mulutnya juga dua manik yang berkilat marah.

Aku–yang bahkan bukan pelaku ceritanya–menghembuskan nafas besar. Dia memang seperti ini. Sering berperilaku begini. “Terus? Bukannya Dolores emang tukang marahin orang?” Jangan salah. Nama Dolores yang tersebutkan di sini bukan guru Hogwarts dalam novel Harry Potter, lho. Tapi merujuk pada salah satu dosen kami yang perangainya jauh lebih buruk ketimbang tokoh fiksi tersebut.

“Ya, iya. Tapi kan–” Lantas dia melanjutkan kalimat demi kelimat seperti memberondongkan peluru pada tawanan perang. Luncurannya sangat lancar, runtut, penuh emosi hingga menarik empati. Empatiku tentunya. Heran, mengapa aku tak pernah bosan, ya, mendengar keluhannya setiap hari?

“Nggak bisa gitu juga, lho. Dia kan udah terkenal–” Lantas aku membalas ceritanya dengan petuah-petuah yang anehnya selalu spontan terlontar kala ia berkeluh kesah. Diselingi dengan analogi konyol tentunya. Seperti: ‘Jika kamu jadi naga yang selalu marah, kamu pasti nggak akan sungkan memilih area untuk menyemburkan api, kan? Hayo?’ Ralat. Maksudku, analogi garing.

Lagi-lagi dia tertawa. Kuulangi, dia selaly tertawa mendapati analogiku yang sejujurnya tidak kumaksudkan untuk menghiburnya. Hey, aku sedang memberi filosofi, koplak!

“Ampun. Kapan, sih, selera humor kita naik satu level, aja? Dari dulu ngomongin naga, elang, monyet kayak kita udah kenal mereka lama banget, aja,” responnya lantas tertawa lagi. Mau tak mau aku pun tergelak. Dasar, sarkastik.

“Cukup. Sekarang ceritain harimu, dongs!” Tanyanya lantas melipir di pinggir kasur menatapku antusias. Sial, bagian inilah yang paling tidak kusukai.

Tapi anehnya, aku pun bercerita juga. “Ya… Ya… Mau bahas apa, coba? Alhamdulillah hari ini komikku dimuat jurnalis kampus. Terus mereka juga nawarin aku untuk kerja sama lebih lanjut. Terus–” Belum sempat kumenggenapi kisah, dia mendahului responnya. Respon gelak tawanya.

“Kamu tuh, ya. Komik aja dari dulu. Lebih personal, dong! Hiih! Gimana, sih? Gemes tauk!” Mau tak mau aku tersipu. Lantas yang terjadi kemudian adalah aku tak tahu harus berbuat apa. Maksudku, bercerita secara lisan sungguh bukan keahlianku. Hingga bukanlah suatu yang aneh apabila dia memang tidak tahu keseluruhan kisah hidupku. Memang begini lalu mau diapakan lagi?

“Em. Ya, pokoknya tadi ketemu dia di perpus. Aneh aja tahu dia baca. Terus aku pergi. Udah.” Benar bukan penilaianku terhadap diri sendiri?

Seolah tahu kelemahanku dia lantas menarik diri. “Ihiy! Pasti nggak kamu sapa, ya? Ah, gocik¹, ah! Besok disapa, lho!”

Aku melengos.

Sejurus kemudian, dia pamit untuk tidur dan berpesan padaku untuk melakukan hal serupa. Malam memang kian larut tapi dua cangkir kopi yang tak berapa lama baru kutandaskan tengah bekerja kuat-kuatnya sekarang. Tak salahlah, jika aku tidak mengindahkannya.

“Semoga besok aku sama doi bisa dimalu-maluin bareng, ya. Semoga kamu sama dia besok ketabrak atau apa kek. Pokoknya makin deket. Hahaha,” ucapnya yang langsung mengundang lemparan bantal sandaranku. Lantas ia tertidur sementara aku masih di hadapan laptop menulis kisah ini.

Jadi, apa kita butuh teman? Apa kita butuh tempat bercerita? Apa kita butuh wadah berkeluh kesah?

Menurutku, sih, semua pertanyaan terjawab ‘iya.’ Sekalipun kamu adalah orang paling tertutup di dunia yang enggan menceritakan penggalan jejak langkah.

*

Gocik¹ = Takut dalam bahasa jawa medok

Sidoarjo, 09 Agustus 2013
Terima kasih untuk setiap kawan yang mengetahui ‘tarik-ulur’ saya.
Hihihi

#Untitled [1]

untitled

Sudah pukul sembilan pagi ternyata…

Sekarang Hari Senin. Kalau sekarang aku masih motoran santai dijalan pertanda apa, dong? Iya bener banget seratus. Telat. Simpel, kan?

Enaknya menggerayangi jalanan di jam ini adalah lengang! Bisa kebut-kebutan tanpa peduli lelaki berseragam yang biasanya menilang! Hyaha! Aku selalu jadi raja di saat-saat seperti ini.

Satria modifku selalu menemani. Bersama denganku memerangi pekerja yang rata-rata enggan untuk hidup dilihat dari laju kecepatannya. Ah, payah! Mereka tak pernah tahu caranya muda!

Perempatan di depanku mendadak padat. Seluruh pengendara berhenti merapat dengan kendaraan sejalur. Mobil-mobil di ambang garis zebracross sedang sepeda motor bersiap jauh di depan mobil. Tepatnya di tengah perempatan menunggu kendaraan lawan arah berderak.

Dalam keadaan meliukkan motor, mataku sigap menangkap satu celah kecil di sisi kiri untuk dilalui supaya bisa mendahului. Lampu merah tinggal beberapa detik lagi, kan? Oke, ayo tancap gas!

TIN TIN TIN

Muatamu mbok dekek endi, le?!” Damprat salah satu pengemudi mobil tepat saat motorku menengahi laju ke kanannya. Menyebabkan mobilnya berhenti hingga kendaraan di belakangnya berhenti mendadak. Mengudarakan klakson yang serupa nada dalam telingaku.

“Hahaha! YOLO!” Seruku tak peduli. Aku terus saja memutar pedal gas membelah jalanan. Tapi tidak bisa disebut membelah juga, sih. Karena masih banyak mobil dan trek mini yang menyiput di kanan kiri.

Tepat di tengah jalan ada celah kecil untukku menerabas. Meskipun kadang pintu-pintu mobil itu bersentuhan, tak ada yang tak mungkin untuk ditaklukkan, bukan?

Aku pun bermanuver.

Tak lagi melihat angka yang ditunjuk garis spedometer, kuputar saja gas motor asal melalui celah itu. Singkatnya–dengan klakson di sana-sini lagi tentunya–aku berhasil selamat dari kecepatan yang tidak bersahabat. Lambat.

Kemudian aku mengambil jalan pintas yang menyisiri taman ibu kota. Masih dengan kecepatan sama kukuasai jalanan sampai seorang perempuan tiba-tiba menyebrang tanpa melihat kanan-kiri.

CIIIT

Goblok!” Seruku kontan mendapati kesalahannya. Rem mendadak tadi tak urung buat tubuhku condong ke depan hampir terlempar. Tapi di luar dugaanku perempuan itu berlalu tanpa menoleh sekalipun. Saat itu juga kusesalkan kata yang baru saja kulontarkan. Apa dia gila?

Tapi dia tidak. Maksudku lihat kemeja kuning lemon dan rok panjangnya. Juga rambut sepanjang punggungnya serta buku-buku dalam dekapannya. Cewek ini kenapa?

“Kalau motoran yang bener, Mas. Selamat di jalan, selamat sampai tujuan,” serunya ketika sampai di trotoar sebrang lagi-lagi tanpa menelengkan kepalanya sedikitpun. Benar-benar, dia!

“Mbak, kuntilanak biasanya nggak lewat pagi-pagi!” Pekikku mengejek. Tanpa kuduga, perempuan itu membalik tubuhnya menghadapku tepat saat kalimatku usai. Matanya menatapku sengit. Mendadak aku tak berkutik. Wajahnya, wajahnya… Tak dapat kudeskripsikan. Maksudku–

“Hati-hati. Bakal ada kemalangan di depan sana,” ujarnya tajam lalu berjalan meneruskan langkah. Meninggalkanku yang masih bergeming di sini. Wajahnya… Mengapa wajahnya–?

Berusaha menepis kemungkinan yang tak mau kuumbar sendiri, kukendarai motorku lagi dengan kecepatan seperti tadi. Seratus meter di depan adalah pertigaan jalan besar. Tadi katanya apa? Akan ada kemalangan menimpaku? Hah, sudah kuntilanak, sok-sok meramal. Dia kira aku ap–

BRAKBRAKBRAK!

Sebuah trek tiba-tiba berhenti di mulut jalan tanpa membiarkanku menarik stang rem. Semua terjadi dalam kelebatan cepat. Yang kuingat hanyalah kenyataan bahwa aku terpental setelah sebelumnya menggebuk sisi trek. Sejurus berikutnya, pandanganku memburam. Wajah perempuan itu terlintas lagi di hadapanku. Wajah mama.

Selebihnya gelap.

Sidoarjo, 06 Agustus 2013
Bingung mau ngisi apa….Ini aja spontan tanpa editan.
Komen dan kritiknya ditunggu 🙂

#MMF: Uti Si Cilik, Cilik Si Uti

Photo-0327

Umurnya lima tahun, badannya gempal, pengrupa dora masa kini dan foto seseorang yang baru saja kau tatap adalah adikku. Nama lengkapnya Nadira Dwi Putri Anggraeni dan tanpa peduli aku menyingkat panggilannya serupa sebutan Nenek di keluarga Jawa. Sadis? Tidak. Menurutku ini ungkapan sayang malah.

Karena sebenarnya ada maksud di balik nama itu. Agak konyol, sih. Jadi ceritanya begini…

Semasa masih duduk di sekolah dasar(SD) aku memiliki satu kawan pintar yang sangat berprestasi di bidang matematika. Dia seorang perempuan jawa yang tinggal di utara Sumatra dengan ayah, ibu dan saudaranya. Perempuan ini berpostur tubuh ideal di balik hijab yang dikenakannya. Dan kau pasti akan sangat-sangat tidak tega menyakitinya ketika kau mulai mengenalnya. Karena sejauh ini ia adalah wanita berperangai paling halus dengan suara selirih angin yang pernah kukenal. Bahkan aku tidak pernah melihatnya marah.

Kami berteman sangat baik. Aku selalu terinspirasi olehnya yang sangat jago di hampir seluruh pelajaran waktu itu. Dia sangat memotivasiku untuk bisa mengerjakan tugasku sebaik ia, memperbaiki perangaiku seanggun ia, dan melatih diriku serajin ia.

Sampai kini aku harus mengakui bahwa dia sangat berhasil.

Ya, aku akhirnya lulus SD dengan nilai melampauinya dan menjadi terbaik satu sekolah. Sebuah pencapaian luar biasa bagiku karena sedari dulu aku sangat mendamba posisi membanggakan itu–yang mungkin tanpa kehadirannya akan menguap merupa debu cita. Aku sangat berterima-kasih padanya dan aku merasa punya utang budi. Lantaran ia, perubahan yang mengarah pada kebaikan itu terus berlanjut hingga sekarang.

Pandanganku mendadak buyar.

“Kak, mainan masak-masak, Kak… Cekali aja. Kakak, kan, cantik. Tapi jangan yang besa-besa gambarnya. Yang kecik aja. Yang inii! Iya yang inih ajah!” Sergah adikku menangkap basah layar laptop yang berubah merah muda. Menyaksikan loadingnya seraya terus merayuku untuk mengizinkannya bermain ‘masak-masak.’

“Iya-iya. Tapi harus janji, lho. Habis main langsung tidur. Oke?” Lantas ia mengangguk mantap dan kian memberingsutkan diri mendekat. Yes, modus berhasil. Kemudian kami memilih dan mulai bermain. Meski cuma satu periode games, adikku benar-benar menepati janjinya.

Ia menguap. “Good night, Kak,” ucapnya sembari mengecup pipiku. Kontan kuacak rambut pendeknya. Kuperhatikan ia berjalan melintasi ruang menuju kasur teritorinya. Ia rebahkan tubuh di kasur sembari menguap lagi, menyambar botol susu di sisi bantalnya, menyesap cairan putih di sana dengan kelopak mata yang mengerjap lelah.

Good night, Kak Uti.”


Sidoarjo, 03 Agustus 2013
Untuk kawan di Medan 🙂

Mereka Yang Berada Di Luar Lingkaran

stop bullying4

“Eh, ke sini, yuk! Main sama kita-kita.”

“Nggak deh. Maaf. Aku mau pulang. Mama udah jemput.”

Sekali lagi, aku menolak ajakannya. Entahlah. Bergumul dengan geng yang terbentuk di kelasku  tidak terlalu membuatku nyaman. Yang ada mungkin aku hanya bisa mengetuk-ngetukkan jemari dan kaki lantas mendengarkan candaan mereka yang hambar terdengar melalui telingaku.

Aku bukannya merasa mereka tidak menerimaku, sih. Hanya ingin menarik diri saja dari suasana yang tidak terlalu sesuai untukku.

Sebelum aku mengambil sepatu di rak depan kelas, tiba-tiba Reni–seseorang yang baru saja mengajakku bermain bersamanya–berseru, “Lup! Tunggu! Aku ngapain, nih di kerja kelompok?”

Sejenak, senyumku tersungging. Namun hal itu hanya berlangsung sesaat lantaran Hasan mendadak muncul dari balik punggung Reni. “Halah kasih aja dia semua yang ngerjain. Toh ya dia mau-mau aja,” Sahutnya cuek lalu masuk kelas. Ah, lupakan saja. Reni pasti menurut Hasan. Tanpa memedulikan mereka lagi buru-buru aku berbalik pulang.

Ingin rasanya aku meneriakkan bahwa penelantaran pekerjaan seperti itu tidak baik. Tidak sesuai dengan titelnya yang kerja kelompok. Bisa dibilang, aku kerap mengorbankan diri demi nilai yang didapat orang lain. Aku sering mengerjakan semuanya sendiri.

Sebentar, apa? Kau menyebut hal itu bully? Jujur, aku tidak terlalu mengganggap hal tersebut sebagai bully sih. Karena semua kukerjakan tanpa mengharap pamrih dan kehadiran mereka. Ya memang, hobiku mengerjakan sesuatu hingga tuntas.

Jadi, untuk sementara mereka bukan masalah bagiku.

***

“Kamu tuh, kenapa semua kerjaan kamu yang buat? Dari beli gabus, triplek mahal, alat bahan sampe ngeprin aja semua kamu. Temenmu yang kaya-kaya itu mana sih? Mereka makan nilai buta?” Seru kakak mendapati aku begadang di tengah pelbagai alat dan bahan di sekitarku.

Seketika aku terdiam. Berusaha menekuni hal yang tengah kukerjakan. Yah, lebih baik memang menyelesaikan hal ini lebih dahulu daripada meladeni omelan kakak.

“Kamu cuma bisa diam? Sampai kapan kamu bakal gini terus? Diperalatin? Dimanfaatin siang malam?” Ucapnya setengah berteriak. Aku membeku. Menghentikan tanganku tapi tak berani menatap mata kakak. “Buka mata kamu! Belajar dari kakak! Udah dapet bully, bikin masa depan mereka rusak, kita untung apa?” Lanjutnya lagi.

Kontan bulir-bulir mulai terproduksi merangkak menumpuk di pelupuk mata. Tapi aku bisa apa? “Kayak gini terus bukan cuma bikin badanmu remek, tapi juga hati!” Serunya lagi kemudian beranjak pergi membanting pintu kamar.

Ternyata kakak benar, bukan hanya badanku yang melemah tapi hatiku pun turut merupa remah.

***

Aku meneguhkan hati. Jujur, aku tidak ingin membenarkan keseluruhan kata-kata kakak. Memang sih, selama ini aku hanya sibuk pada duniaku sendiri hingga menghindari yang lain sampai selalu menurut perintah mereka. Mungkin sudah waktunya membuka diri.

Ketika berjalan di koridor sekolah, aku menangkap sesosok tubuh yang kukenal. Buru-buru kupercepat langkah beringsut mendekat kepada seseorang tersebut. “Hai.” Sapaku pada Winda, teman yang selalu bertanya PR kepadaku.

Entah ini benar atau tidak, aku merasa Winda menoleh dengan picingan pada sudut-sudut matanya. “Hai. Eh, hari ini ada PR MM, ya? Aku pinjem dong nanti.” Aku mengangguk lemah. Lalu hening beberapa saat. Tak ada candaannya seperti biasa. Tak ada perhatiannya seperti ia bersikap pada yang lain. Hanya diam. Membicarakan yang itu-itu saja.

Tiba di kelas, Winda berubah. Total.

Dia sungguh ceria bersama yang lain. Bertepuk hi-five, tertawa di sana-sini, menjahili yang lain. Sekelebat waktu, tercetus banyak pertanyaan dalam benakku. Yang mungkin jika kurincikan satu-satu bisa menghabiskan setengah buku. Aku menghela nafas besar. Memandanginya dari jauh di tempat duduk abadi paling depan milikku tanpa pernah memiliki satu-pun teman bangku.

***

Hari ini ada PR matematika yang kukerjakan hingga larut malam kemarin. Aku melangkah gontai menuju kelas. Merasa tidak ada yang perlu dikejar lantaran telah memenuhi kewajibanku sebagai siswa. Seperti dugaanku, ketika masuk kelas hampir seluruh siswa ribut dengan kertas penuh angka-angka.

Tepat bel berbunyi, tiba-tiba Hasan menghambur ke arahku. “Pinjem PR, ya.” Tanpa kuizinkan terlebih dahulu kertas sudah berpindah tangan dan aku kembali terduduk sendiri. Mungkin hanya beberapa yang minta bantuan cara kepadaku lalu kembali pergi. Selebihnya? Aku sendiri. Menyepi.

Mereka…Yang kufikir telah menjadi temanku ternyata hanya melakukan tiga hal padaku. Menolak membagi kebahagiaan denganku, mengandalkan aku dalam hampir semua pekerjaan rumah dan hanya berada di sampingku ketika butuh.

Lagi-lagi perih merayap menuju manikku. Sekuat tenaga kutahan agar tidak ada setetes air matapun keluar.

Mereka masalah bagiku. Bodoh. Mengapa baru sadar sekarang?

***

Hari sudah beranjak sore tatkala kuhampiri mama tengah duduk menekuni rajutannya di beranda. Melihat beliau selalu tersenyum meski tak ada siapapun yang mendampinginya kadang buatku hatiku teriris. Mama begitu kuat. Mengapa aku tak bisa sedikit saja menirunya? Bagaimanapun hal itu merupakan urusan nanti. Masih ada yang ingin kubicarakan kini.

“Ma, aku… Aku mau pindah sekolah,” pintaku saat duduk di sebelah mama.

Sejenak mama memandangku. Sedang jemarinya masih fasih mengait satu benang ke benang lain. Matanya menyipit. “Kalo kamu pindah sekolah tapi kelakuanmu tetep gitu ya sama aja. Bakal di-bully terus,” tutur kakak yang mendadak muncul berdiri di ambang pintu.

Mama masih terdiam. Aktivitasnya terhenti sekarang. Kedua bola mata kelabunya menatap kami bergantian. “Kalian kenapa sih?”

Aku tak mampu menjawab. Menurutku ini masalah pribadi. Tidak ada gunanya berbagi dengan yang lain. Beberapa detik menggantung dalam hening akhirnya kakakku beringsut ke arah kami lantas berucap, “Kuncinya cuma satu, berani. Berani ngomong, berani nolak, berani dapetin hakmu. Udah. Mereka bakal respek,” dan duduk di sisi mama yang lain. “Kalo kamu tiba-tiba frontal, ya, percuma. Bertahan sekurun waktu anget-anget tai ayam. Setelah itu? Ya bakal di-bully lagi.”

Mama mengangguk mengerti. Beliau tersenyum penuh arti. Entah mengapa melihat mama seperti itu saja sudah membuatku semangat lagi. Ah, ya. Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan.

***

“Pinjem dong,” aku tengah menulis kalimat terakhir tugas Bahasa Indonesia ketika tiba-tiba Hasan menyabet bukuku lantas berlalu pergi.

Aku kembali menghela nafas besar. Lalu buru-buru membulatkan tekad bahwa hal ini tidak sepatutnya terjadi. Harus berani, ucapku dalam hati.

Sejurus kemudian aku mendapati diri berdiri di belakang Hasan. Kertasku nampak terkulai lecek di meja Hasan. Dalam satu gerakan cepat aku mengambil secarik folio tersebut. Mendadak semua mata tertuju padaku. “Maaf tapi aku–” Aku nggak mau menjerumuskan kalian. “–aku nggak mau kalian melakukan hal ini lagi,” sambungku tertahan. Beberapa detik berlalu dengan diam lalu mereka kembali pada pekerjaannya masing-masing.

Tatkala jam terakhir tiba dan pelajaran seni rupa mengharuskan kami menggunakan pensil gambar, aku yang menghampiri mereka berniat untuk meminjam mendapat perlakuan yang tidak jauh berbeda seperti biasanya. Hanya saja jika biasanya mereka menatapku sesaat, kini mereka meminjamkan barang tanpa menganggapku ada.

Aku di-bully terang-terangan.

***

“Sudah siap?” Tanya mama melihatku keluar dari rumah mengunci pintu dengan tentengan koper besar.

Aku mengangguk. Melangkah menuju taksi yang sudah dipesan mama. Kakak nampak sudah anteng di tempat duduk samping kemudi. “Lebih dari siap, Ma.” Jawabku kemudian. Dua hari yang lalu saat mengurus surat kepindahan, guruku berucap bahwa semua temanku sudah diberi wejangan dan ‘tamparan.’ Yah, setidaknya aku tidak perlu menjelaskan hikmah kepergianku pada mereka.

Jujur, belum pernah aku merasa seringan ini.

***

10 tahun kemudian…

Make up-ku berantakan. Wajahku kusut. Pakaianku juga sudah mulai menyatu dengan bau tubuh. Ah, sudah jam berapa ini?

“Terima kasih sudah menjadi narasumber kami, Bu,” ucap Pak Wiranto sopan mengantarku ke tempat parkiran. Lelaki tersebut menjabat tanganku lantas berbasa-basi formal.

Aku baru saja membicarakan bully-ing di salah satu universitas ternama Jakarta. Agak aneh mendapati managerku menelepon mendadak bahwa mereka sangat antusias dan ingin melihatku selepas pulang dari Amerika untuk mewakili Indonesia pada ajang Anti-Bullying Internasional. Mengingat waktu yang tersisa hari ini hanya malam hari ternyata ada juga yang masih semangat berinteraksi denganku meski jam tidur sudah lewat.

“Ya, Pak. Saya sangat senang bisa bertemu dengan mereka semua,” sahutku sopan. Kami berjalan membicarakan banyak hal. Ya, meski harus kuakui kesemua topik tidak kurespon secara baik, sih. Mau bagaimana lagi? Sekarang pukul sebelas malam dan kini waktuku untuk pulang. Jadi tak salah kan bila keletihanku terlihat?

“Lupi?” Terdengar suara seseorang dari belakang. Kontan kumenolehkan wajah. Seketika aku terkesiap. Aku tidak mungkin salah mengenal.

Dia..Dia Hasan. Kawan yang dulu merebut pekerjaan rumahku. Mataku melebar. Dia nampak seperti seorang pegawai resmi pemerintah. Syukurlah kabarnya baik-baik saja. “Saya tinggal dulu, Bu. Masih ada yang harus dibereskan. Terima kasih sekali lagi,” tak sadar masih ada orang lain, ucapan Pak Wiranto hanya kurespon dengan anggukan saja. Lalu ia pergi. Sungguh aku masih terkejut dengan seseorang di hadapanku ini.

“Bukumu bagus. Projekmu apalagi. Saya kagum sama kamu,” ungkap Hasan tanpa malu. Sejenak aku menginngat. Dulu mereka tidak  pernah menyebut mereka dengan ‘saya’ di hadapanku.

Thanks,” jawabku sekenanya.

Hening menggantung beberapa saat. Sampai akhirnya Hasan kembali membuka pembicaraan, “Kamu benar, banyak dari kami keteteran waktu kamu hilang. Ada hikmahnya juga kamu ngilang,” candanya sarkasme tapi aku hanya tersenyum simpul. “Saya mau minta maaf.”

Kamu mau aku ngerespon apa, coba? Batinku dalam hati. Entah mengapa semua ini terasa membingungkan. Sepuluh tahun yang lalu memang sungguh pendobrakan langkah hidupku yang baru. Melibatkan mereka–tentunya.

Lalu Hasan berucap lagi, “Saya kagum sama kamu, Lup. Terima kasih telah menginspirasi saya, ya. Oh, bukan. Lebih tepatnya kami.”

“Ya. Sama-sama,” responku datar. Bahkan sekarang aku tidak terlalu mempermasalahkan kejadian tersebut. Kecanggungan sontak menari-nari di sekitar kami. Berniat menyudahi basa-basi ini, aku bertanya, “Ngopi, yuk?” Yang ditanggapinya dengan dua bola mata mengilat keheranan.

Tidak ada sesuatu yang terlambat untuk memulai hal baik, bukan?

Sidoarjo, 20 Juni 2013
Diikut sertakan giveaway ini.
SAY NO TO BULLY!

Sayangnya Tuhan

sayangnya tuhan

“Kalau mendapat musibah dari Tuhan sebaiknya jangan buru-buru marah, gusar atau berfikir Tuhan selalu tidak adil pada kita. Sebaiknya kita harus bersyukur. Karena Dia tengah mengingatkan kita. Menegur kita untuk mengintrospeksi diri. Menyadari kesalahan untuk kembali ke jalan yang benar.”

Saya mau cerita. Jadi hari ini bakalan dihelat demo eskul di sekolah dan saya turun tangan untuk mengurus beberapa bagian. Demo ekskul jurnalistik tepatnya. Nah, kemarin malam saya mengerjakannya sekitar tiga jam. Mata memanas, kepala pusing, hidung mbeler jadi satu semua, deh. Bener-bener gerah pengen cepet selesai. Ketika udah kelar dan melihat balik ke film saya, eh ternyata oh ternyata, kok, ya hasilnya tidak memuaskan alias cacat di akhir bagian. Ya, saya sebagai melankolis-perfeksionis nggak bisa terima dong. Agh.

Jadilah saya mengulang bagian yang rusak lantas menggabungkannya dengan yang lain. Saya bekerja tanpa henti dengan setekad semangat membara bahwa videonya harus sempurna untuk ditampilkan esok pagi.

Setelah kurang lebih 45 menit, kerjaan saya yang saat itu tinggal finishing untuk disave tiba-tiba macet mendadak dengan embel-embel ‘not responding and have to be closed.’ Kontan saya marah, dong. Astaghfirullah, ini tinggal sedikit lagi padahal. Haduh. Agh. Ya Allah! Hingga akhirnya tak ada jalan lain selain mengulang.

Well, mau nggak mau saya sadar. Bahwa urusan duniawi telah memperbudak saya. Melarutkan saya dalam kesibukan semu yang kalau salah-salah bisa menjerumuskan.

Saya pun terpekur. Tidak terlalu lama, sih. Karena saya mengerti benar masih ada kewajiban yang harus dibayar. Masih ada tuntutan yang tidak seharusnya saya lalaikan begitu saja.

Ketika menuliskan ini di buku harian, saya fikir mengistirahatkan otak akan me-refresh kembali kondisi tubuh saya. Jadilah kemarin langsung tidur dan bangun dengan kecemasan tingkat dewa.

Setelah sahur saya buru-buru melanjutkan pekerjaan kemarin. Yah, lebih tepatnya mengulang kembali, sih. Tapi tiba-tiba waktu buka aplikasinya, pertanda recovery projek yang lalu muncul. Saya klik-lah itu. Harap-harap cemas bahwa kerjaan kemarin masih ada.

Beberapa waktu menunggu loading saya pun bersyukur. Alhamdulillah ternyata memang masih ada. Tinggal dipoles sedikit dan di-render. Selesailah sudah. Bener-bener nggak terduga :’)

Yah, memang tak ada alasan untuk tidak mencintai Tuhan.

***
Sidoarjo, 18 Juli 2013