[14] Seragam dan Segenggam Harapan

Satu B kompak selalu, ya! :)
Satu B kompak selalu, ya! 🙂

Have you ever thought about the essential of wearing uniform? Selain untuk pemerataan status sosial murid atau mahasiswa, tentunya. Karena jauh daripada itu, menurutku esensinya lebih daripada itu.

Seragam mendefinisikan dimana kamu sedang belajar. Jalur keahlian apa yang kamu pilih. Tanggung jawab sebesar apa yang kamu pikul. Karena belajar atau menuntut ilmu nggak sesederhana yang dibayangkan. Tugas kita bukan cuma belajar, berorganisasi atau aktif dalam kepanitiaan. Lebih daripada itu. Kata guru saya waktu SMA dulu,

“Tugas kalian saya kasih nilai 60, 70, 80, 90, 100 sekarang terserah saya. Kalau saya mau, bisa saja kalian request mau nilai berapa. Bisa saja. Tapi bukan itu sesungguhnya tugas kalian. Tugas nyata kalian adanya di sana. Masa depan dan masyarakat. Bagaimana nilai-nilai benar-benar kalian aplikasikan atau bagaimana nilai-nilai tersebut sudah tidak ada artinya sama sekali.”

That’s it.

Universitas, Sekolah Tinggi, atau apapun instansi tempat kamu menuntut ilmu adalah media. Miniatur dari masyarakat sesungguhnya. cuma sepersekian persennya saja. Tapi kalau sudah terlatih di dalam media tersebut, inshaAllah siap menghadapi yang lebih berat.

Moreover when you know your education been paid completely or partly or one-fourth only by money citizen. Berasa punya utang, ya? Utang yang baik tentunya.

‘Sudah dibayarin, masa cuma belajar saja? Nggak aktif sama sekali? Lalu mau ‘membayar’-nya dengan apa? Bakti masa depannya akan seperti apa?’

Bagaimana hal tersebut malah membuat semangat semakin terpacu. Terlebih lagi, di sana… Di kampung halaman orangtua tercinta mendoakan dari jauh. Meletakkan harapan-harapan beliau di pundak kita.

How I miss mamski so much. Jadi pengen meluk mama #baper.

Ada satu hal lagi yang waktu itu disampaikan guru saya,

“Kalian harus ingat, anak-anak bukan saya yang beri kalian pertanggung jawaban nilai tapi Dia. Dia yang berada di atas kita semua, mengawasi segala gerak-gerik kita setiap saat. Allah SWT.”

Ini temen kos :D
Ini temen kos 😀

Semangat mengemban tugas, wahai para penuntut ilmu se-Indonesia Raya! Selamat mengenakan seragam dan menggenggam banyak harapan, calon statisti STIS! #MoveOnPDA! 🙂

 

Jakarta, 03 November 2015

[7] Sepenggal Kisah Menuju Kampus Kebanggaan

LOGO STIS

“Kesempatan nggak datang dua kali, lho.” Begitu orang banyak berkata.

Kalau saya pikir sih, iya emang nggak datang dua kali. But it will be there if we chase it. Bahkan tiga, empat, lima kali kalau perlu.

Selama berusaha meraih Interior ITS, di antara pengumuman SNMPTN dan prepare SBMPTN nggak salah(Nggak salah berarti benar, ya), saya tertarik sama satu sekolah kedinasan. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik namanya. STIS singkatannya.

Cara membacanya bukan se-tis, loh, ya. Namun dibaca perhuruf: es-te-i-es. Mengapa? Karena STAN sudah disebut se-tan! Ya, nggak lah ya. Entar saya tanyakan pada dosen dulu. Hahaha.

Awalnya tahu dari jarkoman temen. Sekolah yang menawarkan program pendidikan D-IV, nggak ada pembiayaan sama sekali alias gratis alias beasiswa, malah dapat uang saku setiap bulannya. Lihat ini saja mungkin pasti pada ngiler, ya. Nggak urung sayapun tergelitik untuk sekedar mencoba.

Dulu pokoknya cuma mau cari sekolah cadangan. Yang tesnya harus bisa saya lalui semua dan sekolahnya nggak menyengsarakan orangtua. Setara dengan pilihan saya pertama-lah. Karena STIS lebih menarik perhatian saya daripada STMKG, STAN, IPDN, atau yang lainnya, maka saya pun mendaftar. Sebelumnya sempet pengen daftar STSN. Kan keren gitu kerjanya jadi asisten mata-mata. Ala-ala James Bond, hahaha(pikiran labil anak muda). Tapi karena jadwal persiapan pendaftarannya bentrok dengan pengumpulan portofolio jadinya saya skip deh.

Tes STIS ada tiga tahap. Tulis, psikotes, dan wawancara. Tes tulisnya meliputi pelajaran Matematika(gilak, ini soalnya kemarin hebring bangetz), Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Umum. Singkat cerita, dimulailah perjuangan saya.

Saya bukan seseorang jenius yang bisa dengan mudah menguasai sesuatu hal. I’m sorry sir, but I’m not the genius one but I’m the hard worker woman. Maka jadilah saya belajar buku USM. Nggak tahu udah berapa paket, pokoknya saya kerjain terus dengan bahagia, hahaha. Saya cobain gitu soal-soalnya tiap malam. Paginya langsung ke guru pembelajaran terkait buat minta ajar dan klarifikasi apa jawaban saya sudah benar. Alhamdulillahnya, guru-guru saya welcome banget untuk mau bantu. Sekalipun beliau harus rela pulang agak telat karena mengajari saya. Terharunya tuh di sini. Di bawa sampai kini…..

Hari-H pun tiba. Di UBHARA(Universitas Bhayangkara) yang tes menuhin satu kampus, euy. Setelah saya dengar pengumuman, ternyata itu baru sepersekian persennya saja karena peminat STIS tahun ini saja ada 32.000+. Kaget? Pasti. Nge-down? Jangan ditanya. Namun apalah arti perjuangan saya sebulan kemarin belajar kalau malah pada hari-H-nya jadi ciut?

So I gotta do what woman gotta do.

Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum Alhamdulillah gitu lancer jaya. Lha, kok, Matematika… Matematika, Nak, cuma bisa separuh. Separuh. Iya, se-pa-ruh.  Hati rasanya sakit banget cuman bisa menaklukkan segelintir soal. Tapi saya bersyukur, seenggaknya bisa memberikan usaha dan strategi terbaik. Untungnya soal Bahasa Inggris dan Pengetahuan Umum memper gitu sama USM. Jadi agak PD buat ngisi banyak(Maklumlah ya, ini kalau salah dapat minus kan ya sayang kalau ngisi ngawur).

Kemudian seleksi tahap kedua itu tes psikotes. Saya lupa beli buku karangan siapa pokoknya bukunya tebel sangad. Isinya lengkap mulai dari gambar sampai tes pertanyaan. Karena selang waktu antara pengumuman tahap 1 dan tes tahap 2 berdekatan, jadilah saya tiap malam nge-date sama buku tebal itu. Seringnya saya latihan nggambar orang, pohon, sama tes wartegg. Soal-soal psikotes lainnya juga saya kerjain dengan semangat karena seruu! Oh iya. Saya juga les psikotes di guru kimia saya, nih. Bu Farida namanya.

Hari-H-pun tiba dan saya senang sekali soalnya soal-soal nggak jauh beda dari apa yang saya pelajarin! Alhamdulillah. Beruntungnya nggak ada tes kreppelin. Tes warteggnya juga sama banget dengan latihan saya. Sepulang tes seneng banget, deh. Karena sudah mengusahakan yang paling baik sekalipun nggak peduli gimana hasilnya nanti.

I don’t know why, from the very first time I registered for this school, I’ve got good feeling already. Seolah-olah tes demi tes adalah hal paling membahagiakan untuk dilalui. Seakan-akan pengumuman seleksi itu, bener-bener ZMF(Zero Mind Focus).

“Apapun yang diberi Allah, itu pasti yang terbaik buat kita.”

Jadilah jantung saya berdebar sangad waktu pengumuman tahap 1 dan 2. Tahap 1 dipangkas cuma jadi 2500/3000 orang nggak salah. Lalu tahap 2 dipangkas jadi 700 orang. Karena masih persiapan buat SBMPTN, jadinya agak terpecah dua perhatian saya. Tapi ketika tahap 3 diumumkan, beruntung sekali waktu itu sudah pengumuman SBMPTN. Atau lagi nunggu pengumumannya, ya? Lupa. Intinya, bisa bener-bener fokus, deh!

Tahap 3 wawancara itu…. Persiapannya, saya ikut tes psikotes di kantor Angkatan Laut bareng saudara saya yang ayahnya kerja di situ. Sebenarnya yang maksa ikut adalah papski tersayang, sih(Karena papa ngebet). Di sana kami dikasih tahu bagaimana karakter kami sesungguhnya dan apa yang sebaiknya dilakukan supaya bisa jadi lebih baik lagi. Tapi dokter–Pak Candra namanya pas–itu bilang sama saya, begini: “Kamu ini bisa sukses, lho. Tapi pintunya kebanyakan, ya? Pokoknya dipilih yang paling baik, ya. Yang bisa membuat kamu enjoy sama pekerjaan itu dan bisa membuat kamu merasa berarti.”

Saya belum keterima resmi dari STIS saja sudah diomongi begitu. Masih terlalu jauh, Pak. Batin saya waktu itu. Tapi saya tetap angguk-angguk kepala. Sambil terus mendengarkan beliau.

Hari-H tes wawancara. Saya dapat meja N nggak salah. Lupa siapa pengujinya tapi yang jelas beliau S-2 dan asyik banget buat diajak ngobrol. Awalnya saya agak skeptis soalnya saya dapat jadwal pertama wawancara tapi berkas saya dari tes psikotes sama ijazah dan sebagainya…Nggak ada, brummies! Hilang entah kemana.

Mau panik juga nggak bakal bantu. Mau nyari juga bukan kewenangan saya. Jadilah saya waktu itu cuma diwawancara mengenai kuisioner yang harus diisi paginya bersama dengan sederet pertanyaan lain yang ada di map si bapak.

Saya nggak terlalu ingat persis bagaimana pertanyaan yang diajukan. Pokoknya berkisar antara diri kita sendiri, alasan pengen masuk STIS, kalau sudah masuk mau ngapain, cita-cita, kesiapan kita dilempar ke luar pulau, seberapa aktif kita, dan bagaimana tanggapan kita terhadap perbedaan. Ini yang paling banyak pertanyaannya. Beruntungnya kalian yang dulu waktu SMA mengikuti berbagai organisasi, hoho. Dari perbedaan gender, agama, suku, ras, umur, dan bagaimana cara kita menyikapinya. Kemudian pancasila, pengamalan, serta makna per-silanya. Tata urutan perundang-undangan. Apalagi, ya? Lupa. Pertanyaan yang paling teringat itu ini:

“Bagaimana tanggapan anda terhadap PNS yang menjadi anggota partai politik?”

Saya sempat berfikir agak lama. “Kalau partai politik kan mengabdi pada rakyat juga, Pak nantinya di parlemen. Kalau menurut saya, sih, bagus-bagus saja.”

Jawaban saya zonk banget nggak sih, hahaha. Malu.

Terus bapaknya langsung berkenyit sangat dalam. “Loh, kalau parpol kan memperjuangkan parpolnya. Bukan rakyat. Katanya tadi kamu maunya bermanfaat bagi sesama, mengabdi untuk masyarakat?”

Saya ditohok gitu. Langsung saja deh saya klarifikasi pendapat saya. Alhamdulillah bapaknya ngingetin 🙂

Kemudian pertanyaan terakhir, “Kalau anda diterima di STIS, akan memilih kemana?”

Saya nggak perlu mikir buat jawab ini: “Kalau saya sih terserah Allah, Pak. Menunggu pengumumannya saja.”

Terus bapaknya langsung berkenyit sangat dalam lagi. “Ya nggak bisa gitu. Di sini pilihannya ada tiga: a) memilih STIS b) ragu-ragu c) memilih PTN/PTS lain. Kalau anda keterima dan mundur, sudah berapa puluh ribu orang yang mengantri STIS bakal menangis, Ruri? Di sini, saya kan sudah ngobrol panjang lebar dengan anda. Saya nggak mau gagal mendeteksi hati peserta. Kan saya juga harus laporan nantinya. Ayo, harus tegas menjawabnya. Bagaimana?”

Saya sempat nggak bisa berkata apa-apa gitu waktu si Bapak memepet saya. Dalam hati waktu itu saya masih gamang luar biasa. Tapi prinsip saya waktu wawancara dan melakukan tes lain itu pokoknya, “Jadi apa yang institusi mau. Berikan jawaban yang mereka inginkan ada pada setiap calon mahasiswanya.”

Maka saya pun menjawab, “Bismillah, STIS, Pak.”

“Yakin? Nggak bakal mundur? Ingat banyak orang mengantri untuk ini, lho.”

“Bismillah, siap, Pak.”

Dalam hati saya berpikir, kan kalau diterima…Kalau. Diterima. Kalau nggak ya saya bakal tetap di Interior saja, kan?

Akhir wawancara ditutup dengan bapaknya yang menulis lembar terakhir di berkas saya dan satu ucapan ini, “Bagaimana, Ruri? Mungkin ada yang mau anda tanyakan tentang STIS?” Hahaha. Giliran saya yang dipersilahkan nanya. Saya lupa tanya apa waktu itu.

Pengumuman tiba, pagi-pagi habis subuhan saya mengecek di web STIS. Hati saya berdesir…tapi nggak sedebar-debar ketika pengumuman SBMPTN, sih. Saya download hasil pengumumannya lalu…

Nomor peserta saya tertera sebagai mahasiswa satu dari 500 mahasiswa yang lolos.

Saya nangis. Sujud syukur. Benar-benar merasa Allah dekat sekali dengan saya. Memilihkan yang terbaik dari doa-doa saya.

Mama mulai menjarkom siapa saja yang dekat dengan kami. Dan semua bilang selamat. Semua bilang selamat jalan.

Pada akhirnya di sinilah saya mendamparkan diri. Di kota terpadat Indonesia, dengan beragam mimpi dan cita-cita. Di sekolah kebanggaan, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik.

Karena janji Allah selalu benar.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

P.S. Ada beberapa pertimbangan mengapa akhirnya saya memilih STIS. Terlepas dari beasiswa dan TID-nya. Nggak perlu saya ceritakan, ya. Malu. Message saya di  facebook saja kalau penasaran 🙂 Hihihi.

[5] Prime Time Pertama!

Have you ever felt underestimate? Terpinggirkan. Terkucilkan. Benar-benar dipandang sebelah mata.

Mungkin aku pernah. But, karena mengingat sesuatu buruk adalah hal yang sama sekali nggak berguna. Aku melupakannya. Menganggap semua itu cuma hiasan hari. Selayak hiasan dinding yang terbiasa dipandang setiap hari.

Tadi ceritanya habis funwalk(yang digelar untuk memeriahkan Dies Natalis STIS) ada gathering kelompok. Singkat cerita setelah sepakat kumpul jam 15.30 WIB, teman-teman kelompok MP2K kompakan kumpul di kos Rani.

Kalau kata kating(kakak tingkat), sih. Ini momen-momen yang harus diabadikan karena bakal jadi perpisahan kelompok. Tapi kami nggak mau menyebutnya seperti itu. Saya pribadi, nggak rela.

Kalau di STIS ada tiga macam kegiatan utama ospek. MP2K, Bela Negara, Inagurasi. Tiga hal tersebut, kami laluin sama-sama. Tiga hal tersebut merekatkan persahabatan. Saling mengingatkan. Saling bantu. Saling sadar bahwa bersama dengan delapan belas orang dalam kelompok, kami menjelma keluarga.

So, it doesn’t feel right to called gathering as farewell. Alih-alih sedih sedu, kami tadi malah cerita panjang lebar. Mengapa kok masuk STIS. Bagaimana track record dulu di SMA. Apa yang kamu harapkan ke depannya. Some deep matters. Kalau aku bilang the deepest one.

Terlalu deep sampai kami sama sekali nggak sempat foto bagus. Hahaha.

Karena kami dengan sadarnya saling berbagi cerita. Tanpa paksaan. Tanpa alibi karena bermain Truth Or Dare. Tanpa dorongan dari siapapun kecuali diri sendiri.

Yah, meskipun dengan segala banyolan yang bener-bener buat refreshing(karena ketawa kami keras banget. Saking kerasnya harus bener-bener diatur supaya nggak ngangguin temen-temen kos Rani) obrolan malam ini ‘berat’. Karena opening-up diri kamu di depan orang yang sebelumnya bukan apa-apa dari bagian hidupmu adalah hal yang nggak mudah. Bahkan susah, lho, menurut beberapa orang. Termasuk temanku sendiri…. Aku juga, sih. Yah, semuanya berarti lah.

Contoh banyolannya, nih:

Ketika lagi serius-serius ngobrol. Dapet satu titik cerita yang bisa dikembangkan ngalor-ngetan-ngidol-ngulon……

‘He foto sek. Foto sek’
CKRIEK
Seketika tertawa terpingkal-pingkal. Karena sumpah, ponsel Rani yang segenggam tangan aja lebih kecil daripada itu, punya kamera dengan suara jelek abis. Bahasa Jawanya, ngroak.

Terus waktu W nerima telepon dari pacarnya….

‘Halo?’
Lalu saya dengan gamblangnya nambahin, ‘W, rokok-e, Wik. Pateni disek!(W, rokoknya, W. Matikan dulu!)’
Yang mana disambut baik oleh teman-teman dengan ditambahi, ‘Celananya dipakai dulu, sayang….’
Terus ditambahin lagi… Lalu W-pun laporan, ‘Beneran dipateni, lho.(Beneran dimatikan(hape-nya), lho.’ Dan kami tertawa terpingkal-pingkal lagi. Dirty jokes kisaran ringan yang selalu berhasil buat korbannya kena akibatnya. Apakah dimarahin mama di rumah, atau sekedar dimatiin hape oleh penelepon yang mana ujungnya esok hari langsung putus. (Eits, tapi buat W nggak lah ya 🙂 )

Iya, dirty. Jokes jaman SMA malah. Tapi tetep aja, lucu. Karena bisa aja Terus gimana dong? :’)

Itu sela-sela kami bisa membebaskan tawa. Selebihnya kami bercerita. Satu yang paling nggak bisa aku lupa itu waktu Mas A cerita. Bagaimana dia dan sesuatu di dalam tubuhnya bertahan. Jadi seseorang berbeda sejak bangku Sekolah Dasar sampai sekarang.

‘Ketika orang berada di atas, rata-rata orang tersebut nggak mau melihat ke bawah.’

Mas A berasal dari SMA yang kata dia nggak terlalu dianggap jika dibandingkan dengan sekolah favorit di daerahnya. Mas A bilang, penyakit dan jadi seseorang berbeda membuat dia bisa mengerti bagaimana rasanya di ‘bawah’. Dan bagaimana rasanya menjadi orang tersisihkan. Bagaimana fight buat apa yang dia mau. Bagaimana usaha dia melawan sakitnya ketika hanya tinggal daftar ulang saja, Mas A harus menanggung kambuhnya penyakit dan dihadapkan pada dua pilihan: Melanjut di Universitas ia belajar sebelumnya atau melanjutkan STIS.

‘Kalau mau menyerah, rasanya berat ketika melihat sudah berapa banyak hal yang kita lalui. Kita korbankan. Tapi restu orangtua itu, paling perlu. Meyakinkan orangtua itu, sangat penting.’

Kemudian cerita-cerita lain. Dianggap sombong karena berhasil menjadi salah satu dari siswa sekolah yang nggak favorit untuk bisa tembus STIS, raungan mahasiswi yang nampak bebas di luar namun terkekang di dalam sampai yang terlalu dibebaskan hingga merasa nggak diperhatikan, homesick—bedanya ketika benar-benar berjuang hidup mandiri di tanah rantau, bagaimana culture antar teman di sini bikin betah lantaran korsa, aksi nekad meninggalkan seleksi universitas bergengsi lainnya demi STIS.

Demi STIS.

Dalam hati aku benar-benar bersyukur. Mendapat kesempatan untuk bisa lulus tiga tahap seleksi, mengenal medan pertempuran bersama teman-teman hebat yang punya kisah-kisah berbeda. Kisah hidup yang membuat kita bisa mengaca diri. Kisah hidup yang menyadarkan kita bahwa di dunia ini, Tuhan punya puluhan miliar skenario indah untuk diwujudkan pada tiap insan manusianya.

How far we have been going? How far we wanna reach our dreams? How big our passion?

How grateful am I for everything I’ve got…..

Kampus kebanggan. Teman seperjuangan. Baru saja sebulan lebih. Mengisahkan puluhan cerita sudah.

Bagaimana aku bisa nggak menyayangi kalian? 🙂

 

P.S. dan obrolan malam kali ini benar-benar serius, ya. Hahaha. Namanya aku samarin, ya. Biar penasaran 🙂 Sekian.