[20] Don’t Merely About Money

 

Tulisan ini semata-mata saya tujukan kepada adik-adik yang ingin melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedinasan.

Hadist rasul mengatakan bahwa, “Kalau ingin mendapatkan dunia, tuntutlah ilmu. Kalau ingin mendapatkan akhirat, tuntutlah ilmu. Kalau ingin mendapatkan keduanya, tuntutlah ilmu.” Nampak jelas sekali bukan jika hakikatnya seorang manusia wajib untuk menuntut ilmu? Well, saya yakin di agama lain pun begitu.

Masa-masa menuju akhir SMA adalah masa yang bener-bener menguras tenaga. Kenapa? Karena ada dua hal yang jadi beban, menekan, menuntut untuk diperjuangkan; Ujian Akhir Sekolah (and stuuuuffffsssss which is have exclusively one month to be done—even more) dan Ujian Menuju Perguran Tinggi selanjutnya (SBMPTN, USM-STIS, USM-STAN, Jalur mandiri—you named it lah).

Don’t worry, I have been there. We have been there.

Dulu, tujuan saklek saya cuma satu PTN, satu jurusan; ITS, Desain Interior. Bisa, nih brummies baca ulang perjuangan saya kalau belum tahu di sini. Jalur undangan—yang merely cuma pembagian voucher untuk siapapun yang paling beruntung nggak meluluskan keinginan saya waktu itu. Sorry to say that. Tapi memang, banyak—banyaaaaaak banget temen-temen saya yang bertalenta, pintar, berpotensi besar lolos undangan malah nggak lolos. Well, bisa aja sih, salah strategi. Tapi kejadian kayak gini happen in almost senior high school in Indonesia gitu, lho. Seems like SNMPTN bukan sesuatu yang wajib saya tuju. Nggak ada transparansi dari tahap seleksi yang buat saya sampai sekarang keukeuh di pendirian.

Kemudian SBMPTN. Ini, nih. Momok bagi seluruh lulusan SMA di Indonesia. Seleksi yang benar-benar bisa menunjukkan apa kita cukup qualified untuk masuk di satu tujuan yang kita mau. Sepengamatan saya, tiap tahun baik itu jurusan favorit ataupun nggak, punya peluang yang semakin kecil untuk bisa ditembus. But, if you have God, faith, and willing for doing the best efforts, shouldn’t we give it try and focus for breaking record?

Alhamdulillah. That’s what I had been done.

Brummies, rumus God+Faith+Willing Doing The Best itu bisa lho diterapkan di kehidupan sehari-hari. Termasuk di perguruan tinggi atau sekolah kedinasan yang kita jadikan cadangan.

Nah, akhirnya masuk nih ke pembahasan utama.

Nggak sedikit orang yang mau melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Kedinasan. Untuk Ujian Selesksi Masuk Sekolah Tinggi Ilmu Statistik tahun saya (tempat saya bernaung sekarang) saja, ada 32.000 lebih orang yang berminat sementara kuota hanya ada 500 kursi. 6:1; 1 orang harus menyisihkan 5 orang lain supaya bisa bertahan. Jumlahnya mungkin lebih sedikit daripada peminat STAN atau ITB atau ITS tapi itu tetep jadi patokan.

Terlalu banyaknya pilihan, ketatnya persaingan membuat calon mahasiswa harus pintar-pintar memilih media untuk meraih angan-angan. Saya dulu fokus ke PTN baru PTK. Tapi pada akhirnya memilih PTK karena segelintir pertimbangan, bisa nih di baca di sini kenapa.

“Kata orang, PTK itu enak. Belajarnya kudu bener soalnya nanti langsung kerja. Gratis. Dapat Tunjangan Ikatan Dinas dan jelas ada yang di-‘jaga’-in tiap bulan.” –Paradigma said.

PTK yang menjanjikan Tunjangan Ikatan Dinas memang benar-benar menggirurkan. Bisa bantu orangtua, punya penghasilan sendiri, curi start dari temen-temen lain yang masih fully ter-support-kan finansialnya oleh orangtua, being independentnya berhasil kerasalah. Tapi kalau gratis dan tunjangan yang digembor-gemborkan dan itu adalah dua goal kita selama kuliah, bukankah itu salah, ya?

I mean, PTK bukan tempat kita mencari uang gitu, lho. Bukan pula media pemuas keinginan konsumtif semata. PTK itu seperti tempat-tempat menuntut ilmu lainnya; tempat belajar ilmu dan arti kehidupan.

Kalau cuma pengen kuliah gratis dan dapat tunjangan, bukan PTK tempatnya. Bisa kok, kuliah di tempat lain dan mengajukan beasiswa untuk mengakomodir biaya supaya gratis. Kalau cuma karena pengen membanggakan orangtua, memangnya perguruan tinggi lain nggak bisa dibanggakan, ya? Apa embel-embel ‘kedinasan’ itu benar-benar nampak menjanjikan dan bergengsi di mata masyarakat?

Esensi belajar rasanya nggak tepat jika diiming-iming mendapat bla bla bla bla. Itu memang memotivasi, tapi belajar untuk ibadah bukankah lebih mulia daripada ‘sekedar’ belajar untuk dapat uang?

Belajar punya makna sendiri; mengerti, memahami, menghargai, berjanji untuk berdedikasi, lalu akhirnya mengabdi untuk Tuhan, masyarakat, dan sekitar. That’s what I’ve learnt so far.

Saya bukan menggurui. Di sini pun saya bukan memarah-marahi, menghakimi, atau membenarkan pun menyalahi, tidak. Saya cuma sedih. Betapa banyaknya orang-orang yang masuk Perguruan Tinggi Kedinasan—sampai rela mengorbankan passionnya—dengan tujuan utamanya ‘Karena dapat TID. Karena gratis, bisa bantu orangtua.’ Bisa membantu orangtua itu cita-cita mulia. Nggak bisa dipungkiri, alasan utama saya juga itu. Tapi kalau orientasinya lebih ke uang, itu disayangkan, sangat.

Di atas yang saya sebutkan semua, sesungguhnya banyak sekali amanah yang terpikul di pundak-pundak para calon Aparatur Sipil Negara yang menuntut ilmu di PTK.

  1. Pelunasan Hutang

Kuliah gratis uangnya dari siapa? Masyarakat bukan? Jelas sekali bahwa waktu yang diberikan untuk belajar harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena status gratis nyatanya merupakan ‘pinjaman’ untuk dibayar di masa depan?

  1. Penguasaan Ilmu

Malas bukan kebiasaan. Sekalipun susah, kalau dipelajari sedikit demi sedikit, fokus, dan istiqomah InshaAllah bisa dikuasai.

  1. Agent of Change

Ingat terus. Sebagai anak muda dan mahasiswa, Bapak Menteri Pendidikan kita sangat mencamkan ini. Yakin selepas lulus merasa cukup dengan embel-embel Pegawai Sipil Negara (PNS) tanpa contribute sama sekali? Ada kok PNS luar biasa yang sementara mengemban amanah sebagai pegawai, mereka tetap piawai membagi waktu menelurkan berbagai ide dan inovasi, lho. Googling deh kalau nggak percayaa.

  1. Pembentukan Diri

Belajar itu wajib tapi mengembangkan diri juga perlu. Itulah mengapa banyak Unit Kegiatan Mahasiswa yang memfasilitasi. Pengalaman berorganisasi dan perilaku sehar-hari sangat menentukan bagaimana ke depannya kita nanti.

Amanah, lho. Bukan beban. Amanah yang benar-benar harus diselesaikan. Yang kalau saya tuliskan secara teori cuma sedikit tapi prakteknya jelas bejibun.

Saya mungkin baru satu semester duduk di bangku perkuliahan. Saya mungkin sok tahu. Saya mungkin nggak memfilter sama sekali perkataan di sini. Saya masih sangat—sangaaaaat minim pengetahuan baik itu statistika—ilmu wajib PTK saya—ataupun tentang kehidupan. Saya bukan orang pintar. Saya masih bodoh dan perlu banyak belajar. Maaf-maaaaf sekali jika opini saya mengganggu pembaca sekalian.

Tapi saya peduli. Saya ingin semua mahasiswa yang belajar di PTK benar-benar dari hati, benar-benar mengabdi, benar-benar serius belajar mengerti memahami dan sama-sama peduli. Bukan orang-orang yang—naudzubillah—menjadi penerus orang tak amanah yang lebih mementingkan harta dan dunia ketimbang tugasnya sendiri.

Akhir kata, pilihlah jurusan atau pekerjaan yang benar-benar kamu banget. Benar-benar bikin kamu penasaran dan rela berjuang hingga berdarah-darah, hingga pencarian pengetahuan di pagi siang malam pun nggak jadi masalah. Or at least, cintai pekerjaan yang kita lakukan sekarang, deh 🙂

Ayo, masuk STIS!

 

N.B. Tulisan lama di awal tahun 2016.

Advertisements

Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?

Sembunyi. Delapan huruf ini merupakan jalan keluar bagi kita yang mungkin tengah terjepit di suatu kondisi tegang. Banyak jenis sembunyi di dunia ini. Apakah itu sembunyi dari masalah, sembunyi dari realita, sembunyi karena tak rela dan yang paling mengenaskan adalah.. Sembunyi dari diri sendiri. Mengapa manusia terkadang melakukan hal tersebut? Banyak faktor. Kendati memang, ada kalanya di satu titik ketika kita benar-benar tidak tahu-menahu akan problematika di hadapan mata, jalan satu-satunya yang dapat kita lakukan hanyalah sembunyi dan berdiam diri.

Continue reading “Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?”

Mari Menebak!

Keycko Perdana - Muhammad Reza Ar-Razi - Ibrahim Abirawa
Keycko Perdana – Muhammad Reza Ar-Razi – Ibrahim Abirawa

Sebut dia lelaki. Makhluk adam paling gengsi di dunia ini. Makhluk Tuhan penuh misteri.  Makhluk hidup yang paling tak terprediksi. Makhluk yang terlahir sebagai pemimpin. Serta makhluk yang selalu bersahabat dekat dengan keringat dan sinar mentari.

Tak disangka, uraian di atas sungguh mengena akan sosok yang kini tengah berpose pada foto di atas.

Continue reading “Mari Menebak!”

Rumah Baruku Berbagi Kebahagiaan {X3-SMANISDA}

Assalamualaikum 🙂

hallo kawan wordpie 😀 saya kembaliii ! wuhuuuuuuuuuuuuy ! setelah sekian lama menunggu kesempatan senggang kayak gini…. akhirnya dataaaaaang !

abis ngechat panjang lebar nih sama kak sianak desa dan obrolan pun sampe kemanamana. sampai pada akhirnya post ini terbentuk. semuanya terinspirasi dari kakak yang kini tengah berdomisili di aceh itu. *kak jangan GR 😛 *

jadiii, saya InsyaAllah bakal sungguh-sungguh berkomitmen bakal ngurusin blog ini lagi. Sekedar pemanasan, saya lagi ngelanjutin cerbung fanfiction saya yang Cody punya. dan ikut beberapa kompetisi nulis. sekarang nih mau cerita gimana SMA saya sekarang :mrgreen:

SMANISDA X-3 :*

x-3 SMANISDA 2012/2013 | WE ARE FAMILY
x-3 SMANISDA 2012/2013 | WE ARE FAMILY

Continue reading “Rumah Baruku Berbagi Kebahagiaan {X3-SMANISDA}”

Graduate♥

Assalamualaikuum 🙂

Hollaa !

saya kembali membawa posting kedua untuk minggu ini ~(‘o’~)(~’o’)~ *dancingdancing* sepertinya saya bakal update blog ini dua kali seminggu. yeah, that was no a big deal tough.

Alhamdulillah.. Alhamdulillah saya sudah lulus dari SMPN 1 Sidoarjo. sebuah sekolah menengah pertama di Jawa Timur yang tepatnya berada di Kabupaten Sidoarjo dan spesialnya lagi, sekolah saya ini sudah akan menjadi SBI ! mwihihi. SO PROUD.

Here it is the SKHUS-Surat Keterangan Hasil Ujian Sementara 😀 *sebelnya, ada kesalahan pengetikan nama yang kedengeran anhe kalo diucapin-__- coba carii :D*

SKHUS SMP - Ruri Alifia Ramadhani
SKHUS SMP – Ruri Alifia Ramadhani

Continue reading “Graduate♥”

First for Forever

cody love story - first for forever

 

  • nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii
  • Main cast : Cody Simpson, You[as Ratri]
  • Title : Cody Simpson Love Story-First For Forever
  • Rating : T
  • Genre : Romance
  • Disclaimer : presents for @ratripspt ! first-full english #cls! i’m sorry if i made mistake in it. this #cls i used to be my work at english lesson in narrative text. then you can used this story as your example of narrative text if you search category story like that for your HW.  soo, maybe you can think why this #cls felt like a.. kid story? just like that. haha! i’m still studying 🙂 feel free to comment, criticize  and bashing 😀 enjoy 🙂

 

A long time ago, there was a 16thgirl lived in a distant village. She wasn’t an ordinary girl. She was a prophecies.  She could properchy everything, such as weather, fortunate, unfortunate even the remarkably was.. She could see the death way of a person by only did eye-contact. That part made her avoided stranger, neighbor even her friend of the same age. Nobody wanted to be friend with her. Her parents protected her from out-life too. So, this girl-named Ratri-always felt lonely to facing her days. But, she should keep on that way if wanted to living peacefully. In the night, Ratri always looked a thousand stars in the sky to propeching what would happen tomorrow. Or just watch their beautiful lights and shape. If there was not rain or heavy wind, she usually took a walk to lake in her village-forest to watching stars clearly.

Continue reading “First for Forever”