Bertemankan Kehilangan

Bertemankan Kehilangan
Bertemankan Kehilangan

Apa poin utama perkenalan?
Jika nantinya semua harus mengucap salam perpisahan?

Apa makna dari pertemuan?
Kalau akhirnya kita pergi berlainan arah?

Apa arti sahabat?
Ketika bahkan komunikasi saja tidak terbangun kokoh?

Mengapa harus memiliki teman?
Saat di penghujung waktu, satu-per-satu dari mereka menghilang?

Kata orang bahagia itu sederhana.
Cukup berbagi dengan sekitar saja mampu mengukirkan senyum ceria.
Namun baru-baru ini, aku sadar. Dan aku tertampar.
Bahwa ‘sekitar’ punya makna beda.
Bahwa tidak semua ‘sekitar’ mau dibagi dengan kita.
Kalaupun tak mau, kebanyakan dari mereka akan memasang topeng
berusaha sebisa mungkin menyenangkan hati kita.
Saat bosan menjejak, barulah mereka pergi, mengeluarkan sejuta alasan.

Ah, maaf.
Mungkin bukan kita yang merasakan ini.
Hanya aku.

Bukan maksudku untuk berpesimistik-ria.
Bukan juga inginku memikirkan kemungkinan terburuk itu.
Tapi logikaku berjalan sigap.
Ia memberitahuku untuk berhenti mengabari orang-orang
yang bahkan tak mau mengetahui kabarku.
Ia mengetukku untuk berfikir bahwa tidak semua manusia
mau mendengar ceritaku.
Dan yang paling menyesakkan adalah sadar ketika
ketidak-hadiranku bukanlah keganjilan bagi mereka.

Ah, mungkin aku memang orang pesimis.
Namun aku sudah terlalu letih.

Aku bosan selalu menjadi yang pertama
dan aku tak mau lagi mendatangi seseorang
yang tak mau didatangi olehku.
Aku benci disebut ketika butuh saja
dan aku benci kepura-puraan.
Aku muak merasakan sakitnya terabaikan
dan demi apapun aku tak mau mengalaminyaa
walau untuk sekali lagi.

Juga, aku tak suka dengan ketidak-pastian.
Aku tak mau membiarkan imajinasiku menari-nari bahagia
sementara realita mengarah pada keterbalikan.

Terakhir, aku telah sering kali ditinggalkan.
Seolah aku memang hidup sendirian,
bertemankan kehilangan setiap saat
kusangat membutuhkan bahu sandaran.
Pada momen itu, aku harus berterima kasih pada Tuhan
yang telah menyediakan sujudnya untukku berurai air mata.

Derai tawa, canda aneka rupa, kebersamaan yang terasa tak terbatas
mungkin hanyalah kebahagiaan sesaat.
Karena pada ujungnya, mereka yang biasa kita bagi cerita mau tak mau
pergi, menghilang mengikuti jalan pilihan.
Begitu juga denganku.
Akan ada skenario panjang Tuhan,
akan ada berutas-utas petualangan, dan
akan ada begitu banyak orang yang akhirnya menghilang.

Aku… takut kehilangan lagi.
Karenanya, kini aku menutup diri.
Kubuang jauh-jauh makna teman sejati
dan kurasa,
aku harus mulai membiasakan diri untuk selalu sendiri.

Sidoarjo, 09 Maret 2014

Advertisements

Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?

Sembunyi. Delapan huruf ini merupakan jalan keluar bagi kita yang mungkin tengah terjepit di suatu kondisi tegang. Banyak jenis sembunyi di dunia ini. Apakah itu sembunyi dari masalah, sembunyi dari realita, sembunyi karena tak rela dan yang paling mengenaskan adalah.. Sembunyi dari diri sendiri. Mengapa manusia terkadang melakukan hal tersebut? Banyak faktor. Kendati memang, ada kalanya di satu titik ketika kita benar-benar tidak tahu-menahu akan problematika di hadapan mata, jalan satu-satunya yang dapat kita lakukan hanyalah sembunyi dan berdiam diri.

Continue reading “Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?”