Kemana Saja, Woy?!

HIATUS RIPPostingan terakhir tercatat pada tanggal 10 September 2013 which is artinya sudah lebih dari dua bulan saya resmi hiatus dari WordPress(WP). Sampai kelihatan banget jaring-jaring laba-laba di sudut-sudut WP(Bukan dalam konteks kasat matanya, lho). Sampai rasanya, tulisan saya sudah karatan dan nggak sedinamis zaman yang lagi bergulir. Intinya, saya sukses besar menjadi manusia goa.

Sebenarnya, saya bisa ngecek WP setiap hari. Melihat komen yang masuk, diam-diam blog-walking ke blog teman dan mendapati diri iri mengetahui mereka bisa update secara teratur, buka-buka postingan zaman baheulak yang kalau sekarang saya baca sendiri langsung ngerasa nggak percaya(Beneran diriku dulu se-alay itu?), dan lain-lain. Tapi ada satu yang memang nggak bisa saya lakukan dimana aktivitas tersebut malah paling penting di antara yang lain.

Posting something.

Bener-bener keki, ya? Salahkan saya karena punya mindset untuk selalu menghasilkan paling maksimal di setiap hal yang kita tekuni–which is gara-gara itu, saya pun lantas berfikir untuk nggak usah posting dulu karena nggak bisa bagi waktu. Masalahnya, ya, satu itu, waktu. Tahu sendiri, kan, bahwa sesuatu yang maksimal nggak bisa dibarengi dengan waktu yang menuntut?

Blame me once again aja, deh. Karena detik ini saya sadar. Kalau nggak ada waktu yang menuntut, hasil maksimal dalam rentang waktu sekian nggak akan pernah ada. Lalu kata-kata Deadline juga nggak mungkin tercipta. Dan yang paling fatal, manusia akan semakin banyak yang berleha-leha.

Hmm. Jadi, sudah kelihatan akar permasalahannya, kan? Bukan karena kesibukan, bukan juga karena terhimpit keadaan. Hanya saja, saya yang terlalu keki berfikir bahwa bisa membagi waktu dengan sebegitu mudahnya lantas menyepelekan hal-hal kecil. I’m regretting my decision and I’m wrong to facing time in too simple treat. 

Ngghhh.

Oke, cukup sudah perenungan dan penyadarannya. Kembali ke masa kini.

Dua bulan bukan waktu yang singkat bagi saya dalam menjalani kehidupan kelas 11 SMA. I was through many journeys that made up myself like today. Dari kecebur kali, memimpin suatu ekstrakurikuler dengan penuh perjuangan, kemenangan manis untuk sekolah, nilai rapot yang tidak bisa memuaskan hati orang tua, dan banyak lagi, deh. Maunya, ketika menjalani semua itu saya sempat update di sini atau at least, nulis di diari tapi kenyataannya nggak. Saya terlampau sibuk sama pemikiran sendiri dan terus berfikir bahwa waktu adalah hal yang bisa diajak kompromi. Imbasnya baru sekarang.

Penyesalan memang nggak pernah datang di awal, ya. Bingungnya saya, mengapa kok kebodohan macam ini kerap terjadi seolah-olah saya nggak pernah jera, seakan-akan saya selalu siap menerima konsekuensinya, selayaknya memang begini jalannya.

Sadar selalu jatuh di lubang yang sama itu melelahkan. Sungguh. Semoga dengan begini, saya jadi sadar. Semoga dengan begini, setiap kali saya akan menunda sesuatu saya bisa baca postingan sendiri lantas bergegas menyelesaikan tugas yang ada. Semoga dengan begini, siapapun dari kalian yang membaca bisa mengaca diri dan tidak jatuh ke lubang yang sama seperti saya O:)

Sidoarjo, 24 Desember 2013

Alan Lakein

Sayangnya Tuhan

sayangnya tuhan

“Kalau mendapat musibah dari Tuhan sebaiknya jangan buru-buru marah, gusar atau berfikir Tuhan selalu tidak adil pada kita. Sebaiknya kita harus bersyukur. Karena Dia tengah mengingatkan kita. Menegur kita untuk mengintrospeksi diri. Menyadari kesalahan untuk kembali ke jalan yang benar.”

Saya mau cerita. Jadi hari ini bakalan dihelat demo eskul di sekolah dan saya turun tangan untuk mengurus beberapa bagian. Demo ekskul jurnalistik tepatnya. Nah, kemarin malam saya mengerjakannya sekitar tiga jam. Mata memanas, kepala pusing, hidung mbeler jadi satu semua, deh. Bener-bener gerah pengen cepet selesai. Ketika udah kelar dan melihat balik ke film saya, eh ternyata oh ternyata, kok, ya hasilnya tidak memuaskan alias cacat di akhir bagian. Ya, saya sebagai melankolis-perfeksionis nggak bisa terima dong. Agh.

Jadilah saya mengulang bagian yang rusak lantas menggabungkannya dengan yang lain. Saya bekerja tanpa henti dengan setekad semangat membara bahwa videonya harus sempurna untuk ditampilkan esok pagi.

Setelah kurang lebih 45 menit, kerjaan saya yang saat itu tinggal finishing untuk disave tiba-tiba macet mendadak dengan embel-embel ‘not responding and have to be closed.’ Kontan saya marah, dong. Astaghfirullah, ini tinggal sedikit lagi padahal. Haduh. Agh. Ya Allah! Hingga akhirnya tak ada jalan lain selain mengulang.

Well, mau nggak mau saya sadar. Bahwa urusan duniawi telah memperbudak saya. Melarutkan saya dalam kesibukan semu yang kalau salah-salah bisa menjerumuskan.

Saya pun terpekur. Tidak terlalu lama, sih. Karena saya mengerti benar masih ada kewajiban yang harus dibayar. Masih ada tuntutan yang tidak seharusnya saya lalaikan begitu saja.

Ketika menuliskan ini di buku harian, saya fikir mengistirahatkan otak akan me-refresh kembali kondisi tubuh saya. Jadilah kemarin langsung tidur dan bangun dengan kecemasan tingkat dewa.

Setelah sahur saya buru-buru melanjutkan pekerjaan kemarin. Yah, lebih tepatnya mengulang kembali, sih. Tapi tiba-tiba waktu buka aplikasinya, pertanda recovery projek yang lalu muncul. Saya klik-lah itu. Harap-harap cemas bahwa kerjaan kemarin masih ada.

Beberapa waktu menunggu loading saya pun bersyukur. Alhamdulillah ternyata memang masih ada. Tinggal dipoles sedikit dan di-render. Selesailah sudah. Bener-bener nggak terduga :’)

Yah, memang tak ada alasan untuk tidak mencintai Tuhan.

***
Sidoarjo, 18 Juli 2013

Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?

Sembunyi. Delapan huruf ini merupakan jalan keluar bagi kita yang mungkin tengah terjepit di suatu kondisi tegang. Banyak jenis sembunyi di dunia ini. Apakah itu sembunyi dari masalah, sembunyi dari realita, sembunyi karena tak rela dan yang paling mengenaskan adalah.. Sembunyi dari diri sendiri. Mengapa manusia terkadang melakukan hal tersebut? Banyak faktor. Kendati memang, ada kalanya di satu titik ketika kita benar-benar tidak tahu-menahu akan problematika di hadapan mata, jalan satu-satunya yang dapat kita lakukan hanyalah sembunyi dan berdiam diri.

Continue reading “Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?”