#2: Mendung

Tahu esensi dari mendung?

Mentari sembunyi.
Hujan malu-malu membasahi.
Kejelasan berlari-lari.

Kutahu, ia cuaca.
Salah satu nikmat Tuhan untuk melepaskan angin sepoi pancaroba.

Tapi bagiku, mendung lebih dari itu.

Mendung adalah delegasi.
Bagi kagum yang diam-diam menghampiri.
Bagi semangat yang tanpa sadar memicu diri.
Bagi degup yang dipendam setengah mati.
Bagi rasa yang tersembunyi.

Mendung mengatakan semuanya.
Demi menjaga diri; sejuknya kasih harus dilawan dinginnya hujan.
Demi memantaskan diri; putihnya langit yang siap diwarnai berjuta rasa harus dilawan mentari iman.

Tapi mendung hanyalah transisi.
Darinya tersibak sinar, awal kita belajar.
Darinya tertetes hujan, penyubur kehidupan.

Mendung adalah menahan.
Pembatas rasa berlebihan.
Pengajar kesabaran.
Jika saja kita paham.

Jika saja.

Lantas aku malu.
Kalah jauh kuatku berbanding mendung.
Sendiri, kukerap mengeluh.
Namun mendung?
Sendiri pun ia tahu Tuhan menemaninya, menganugerahinya tugas mulia untuk umat manusia.

Mendung, masih mau menemaniku?

 

Jakarta, April 2016.

Hanya Tuhan yang Tahu Ini Cinta

Hanya Tuhan yang Tahu Apa Ini Cinta - Puisi
Hanya Tuhan yang Tahu Apa Ini Cinta – Puisi

Ada satu hal penggelitik benakku.
Seputar detak jantung,
milikku yang akhir-akhir ini
kerap berpacu tiap kamu hadir
dari sudut pintu.

Ada abstrakisme pengikat.
Berkaitan dengan waktu,
yang kuharap bisa berjalan lebih lama
saat kita mulai seru membahas
isu-isu.

Ada medan penarik.
Sehubungan dengan manik,
milikmu yang kuingin tidak
kembali menatapku saat
aku diam-diam memperhatikanmu.

Ada kelegaan.
Tatkala melihatmu kerap
mendekap Tuhanmu,
bersujud, meniti doa,
merajut asa, memohon ampun.
Demi apapun aku jauh lebih bahagia
melihatmu terus melakukan itu.

Kamu tahu?
Hadirmu pelengkap, membuatku
merasa genap. Tidak ada lagi
risau, tidak ada lagi gelisah.
Leluconmu, tidak semua mampu
menggelakkan humorku. Tapi
kini wajahmu tak jarang
menyusup mimpiku.
Tawamu, tawamu mungkin
merupakan melodi
penstimulan kekehanku.
Heran, bagaimana suaramu
bisa seindah itu?
Di antara semuanya,
senyummu itu, adalah satu
yang paling kutunggu.
Yah, mungkin kamu tidak
akan pernah tahu.

Satu hal tidak kutahu,
mengapa hanya kamu yang
tiba-tiba bisa membuatku merasa
begitu?
Ada apa denganmu?
Denganku?
Dengan kita?

Orang bilang ini mungkin saatnya,
kujatuh hati.  Tapi aku tidak jatuh.
Aku terbang, melayang menuju
langit ke-tujuh
dengan senyum terkembang
lantaran kamu
dan memori pemberianmu
yang berputar bagai
lantunan lagu favoritku.

Apapun sebutannya, aku tidak peduli.
Sesungguhnya, jika waktu bisa kuputar
aku ingin menjauhimu lebih dulu.
Agar aku tidak perlu lagi
mencuri pandang untuk dapat
menangkap semburat bahagiamu.
Andai rasa ini bisa kusentuh,
kan kuatur ia supaya jumlahnya
tidak menyesaki dada dan
rona merah pipiku.

Sayangnya, aku hanya bisa membiarkannya.
Hidup, mengendap, entah di bagian dasar
hatiku yang mana.
Tapi, dengan begini,
aku sudah cukup bahagia.

Aku tidak tahu dimana rasa ini
akan berlabuh.
Bisa saja bertahan,
tapi tidak ada kemungkinan
baginya untuk tidak terkandaskan
oleh derik jam yang tidak pernah menjeda.
Bisa saja menyerpih, yang akan mengutuh
saat tidak ada lagi hati yang luruh,
saat kamu datang dan
kembali berjuang.

Aku tidak tahu.
Aku tidak akan pernah tahu.
Karena sesungguhnya,
hanya Tuhan yang tahu
apa ini benar-benar cinta.

Continue reading “Hanya Tuhan yang Tahu Ini Cinta”

Bertemankan Kehilangan

Bertemankan Kehilangan
Bertemankan Kehilangan

Apa poin utama perkenalan?
Jika nantinya semua harus mengucap salam perpisahan?

Apa makna dari pertemuan?
Kalau akhirnya kita pergi berlainan arah?

Apa arti sahabat?
Ketika bahkan komunikasi saja tidak terbangun kokoh?

Mengapa harus memiliki teman?
Saat di penghujung waktu, satu-per-satu dari mereka menghilang?

Kata orang bahagia itu sederhana.
Cukup berbagi dengan sekitar saja mampu mengukirkan senyum ceria.
Namun baru-baru ini, aku sadar. Dan aku tertampar.
Bahwa ‘sekitar’ punya makna beda.
Bahwa tidak semua ‘sekitar’ mau dibagi dengan kita.
Kalaupun tak mau, kebanyakan dari mereka akan memasang topeng
berusaha sebisa mungkin menyenangkan hati kita.
Saat bosan menjejak, barulah mereka pergi, mengeluarkan sejuta alasan.

Ah, maaf.
Mungkin bukan kita yang merasakan ini.
Hanya aku.

Bukan maksudku untuk berpesimistik-ria.
Bukan juga inginku memikirkan kemungkinan terburuk itu.
Tapi logikaku berjalan sigap.
Ia memberitahuku untuk berhenti mengabari orang-orang
yang bahkan tak mau mengetahui kabarku.
Ia mengetukku untuk berfikir bahwa tidak semua manusia
mau mendengar ceritaku.
Dan yang paling menyesakkan adalah sadar ketika
ketidak-hadiranku bukanlah keganjilan bagi mereka.

Ah, mungkin aku memang orang pesimis.
Namun aku sudah terlalu letih.

Aku bosan selalu menjadi yang pertama
dan aku tak mau lagi mendatangi seseorang
yang tak mau didatangi olehku.
Aku benci disebut ketika butuh saja
dan aku benci kepura-puraan.
Aku muak merasakan sakitnya terabaikan
dan demi apapun aku tak mau mengalaminyaa
walau untuk sekali lagi.

Juga, aku tak suka dengan ketidak-pastian.
Aku tak mau membiarkan imajinasiku menari-nari bahagia
sementara realita mengarah pada keterbalikan.

Terakhir, aku telah sering kali ditinggalkan.
Seolah aku memang hidup sendirian,
bertemankan kehilangan setiap saat
kusangat membutuhkan bahu sandaran.
Pada momen itu, aku harus berterima kasih pada Tuhan
yang telah menyediakan sujudnya untukku berurai air mata.

Derai tawa, canda aneka rupa, kebersamaan yang terasa tak terbatas
mungkin hanyalah kebahagiaan sesaat.
Karena pada ujungnya, mereka yang biasa kita bagi cerita mau tak mau
pergi, menghilang mengikuti jalan pilihan.
Begitu juga denganku.
Akan ada skenario panjang Tuhan,
akan ada berutas-utas petualangan, dan
akan ada begitu banyak orang yang akhirnya menghilang.

Aku… takut kehilangan lagi.
Karenanya, kini aku menutup diri.
Kubuang jauh-jauh makna teman sejati
dan kurasa,
aku harus mulai membiasakan diri untuk selalu sendiri.

Sidoarjo, 09 Maret 2014

Aku Takut Ini Cinta

Aku Takut Ini Cinta

*

Aku takut mengenalmu
Karena ketika kutahu bagaimana kamu,
kenyamanan akan terus menaungiku
hingga kuterlalu rikuh berdiri tanpamu.
Itu sebabnya, aku berpura-pura tidak peduli, dulu.

Aku takut untuk tahu apa lagu favoritmu.
Karena jika selera kita sama, refleks akan kuperdalam
rasa senangku pada lagu tersebut. Atau kalaupun beda,
kau akan mendapati playlistku memutar lagu itu berkali-kali
sampai aku tak sadar bahwa seleramu mecandu.
Itu sebabnya, kularang kau membuka telepon genggamku.

Aku takut memiliki nomor ponselmu.
Karena saat kudapat, aku sudah pasti akan menimangnya,
membaca deretan angka itu berulang kali sembari
membayangkan kau meneleponku atau mengirimiku pesan.
Yang mana kusadar, kau hanya akan melakukan itu dalam
keterpojokan keadaan. Bukan karena kau ingin mendengar suaraku
atau  barangkali ingin tahu kabarku.

Aku takut memandang senyummu kelewat lama.
Karena bisa saja cekung menawanmu melekat,
membekas dalam ingat, lantas membayangi benak
hingga akhirnya kusadar bahwa senyum itu tak kau
beri untukku dan bukanlah aku alasan di balik senyummu.
Itu sebabnya aku mengalihkan pandang darimu.

Aku takut berjalan di sisimu.
Karena pastinya, konversasi kita terus terngiang,
berputar dalam sintaksis kepala tanpa maksud
kupelihara. Hangat berada di sekitarmu juga jadi alasan
akan bagaimana meluapnya inginku untuk bisa lebih lama
merasa dunia berdua denganmu.
Itu sebabnya, kubiarkanmu berjalan tanpaku.

Aku takut menyukaimu.
Karena saat kubilang suka, tak akan tanggung-
tanggung kueja tiap mozaik hidupmu
sampai kuterlampau egois menuntutmu membalas rasaku.
Itu sebabnya, aku mundur, tak mau memaksakan kehendakku.

Aku takut berhubungan khusus denganmu.
Karena aku tak mau main-main menyikapi semua ini.
Lagipula, kita hanya sebatas remaja labil. Jelaslah tak ada
yang bisa diekspektasi dari sini.
Itu sebabnya, aku menolak tawaran manismu.
Ah, apa perlu kusebutkan lagi seberapa ragu aku ketika itu?

Aku menolak tahu bagaimana kabarmu.
Karena hal ini hanya akan membanjiri batinku,
menggigitku dalam tanya: “Oh, masih peduli, ya?”
Mencecokiku dalam ragu bahwa tahu keadaanmu hanya
akan bangkitkan harapku.
Itu sebabnya, aku tak pernah mengontakmu atau sekedar
menjawab singkat tanya basa-basimu.

Aku takut membuang waktu.
Karena saat kita bersama, tak bisa dipastikan akan ada
berapa puluh jam terlewat bagi kita bertukar kabar.
Otomatis, anganku bakal terlupa, begitu juga kamu
mengentengkan mimpi besarmu. Dengan sendirinya,
kita akan terbunuh waktu lalu menyesal saat tak ada
lagi apapun di antara kita.
Itu sebabnya aku memilih pergi, belajar untuk rela
bahwa kau harus fokus mengejar cita-citamu.

Aku takut ini cinta.
Karena jika benar demikian, aku tak bisa rela melepaskanmu,
tak akan mampu melupakanmu, tak kuasa jalani hariku tanpamu.
Sekalipun bisa mengusahakannya, aku tidak akan mau.
Itu sebabnya kini kau tak lagi melihatku sesering dulu.

Sidoarjo, 21 Januari 2013 | 20:00 WIB

Selubung Merah Jambu

selubung merah jambu

Tuhan bersama semesta selalu punya cerita.

Mereka mencipta titik pertemuan kita.

Menjebak pada ketidaksengajaan

dalam dimensi tak terduga dunia.

Aku berdiri selangkah darimu,

mengulum senyum, tersipu menyapamu.

Begitu juga denganmu,

Kikuk bertemu orang baru.

 

Lucu, ya, pemuda seperti kita?

 

Waktu bergulir tanpa terasa

Entah bagaimana, sosokmu jarang alfa memayungi rembulan muda.

Menjelajah bait-bait mimpi,

dan terus berada di sana.

Tiba-tiba saja, kelebatanmu selalu ada

Membangun setiap inci diri dalam sintaksis kepala

 

Tidak jelas kapan, aku khatam tentangmu, segalanya

Dari tinggi posturmu, tegak gesturmu,

gelegar tawamu, dialeg konyolmu,

manik yang berbinar sendu,

bibirmu yang menyudut malu

Bahkan sepatu hingga segala perlengkapanmu

Hey! Sejak kapan pula kau mencadu dalam bait puisiku?

 

Lucu, ya, perempuan sepertiku?

 

Tapi kau tak kalah, kita setara

Asal kau tahu

Aku senang menangkap lirikan sekilas kala dua pasang mata kita beradu

Tawaku turut menyembul tiap kau bertingkah lugu

Lesung pipiku tak ketinggalan,

Ia membentuk kala kau melontar untaian kata manis bernada rayu

Dan

Aku tak bisa tak senang mengetahui bahwa ternyata,

kau menyediakan ruang tersendiri untukku

 

Benar, kan? Kau dan aku sama-sama lucu.

Bersama-sama merupa pemuda yang terjebak lagu cinta

Saling cumbu tanpa memberitahu

 

Ah, kukira sebutan ‘kita’ tak lagi pantas

Lebih tepat diganti menjadi,

Aku dan kamu yang terselubung kabut merah jambu

Sidoarjo, 08 Desember 2013