Aku Takut Ini Cinta

Aku Takut Ini Cinta

*

Aku takut mengenalmu
Karena ketika kutahu bagaimana kamu,
kenyamanan akan terus menaungiku
hingga kuterlalu rikuh berdiri tanpamu.
Itu sebabnya, aku berpura-pura tidak peduli, dulu.

Aku takut untuk tahu apa lagu favoritmu.
Karena jika selera kita sama, refleks akan kuperdalam
rasa senangku pada lagu tersebut. Atau kalaupun beda,
kau akan mendapati playlistku memutar lagu itu berkali-kali
sampai aku tak sadar bahwa seleramu mecandu.
Itu sebabnya, kularang kau membuka telepon genggamku.

Aku takut memiliki nomor ponselmu.
Karena saat kudapat, aku sudah pasti akan menimangnya,
membaca deretan angka itu berulang kali sembari
membayangkan kau meneleponku atau mengirimiku pesan.
Yang mana kusadar, kau hanya akan melakukan itu dalam
keterpojokan keadaan. Bukan karena kau ingin mendengar suaraku
atau  barangkali ingin tahu kabarku.

Aku takut memandang senyummu kelewat lama.
Karena bisa saja cekung menawanmu melekat,
membekas dalam ingat, lantas membayangi benak
hingga akhirnya kusadar bahwa senyum itu tak kau
beri untukku dan bukanlah aku alasan di balik senyummu.
Itu sebabnya aku mengalihkan pandang darimu.

Aku takut berjalan di sisimu.
Karena pastinya, konversasi kita terus terngiang,
berputar dalam sintaksis kepala tanpa maksud
kupelihara. Hangat berada di sekitarmu juga jadi alasan
akan bagaimana meluapnya inginku untuk bisa lebih lama
merasa dunia berdua denganmu.
Itu sebabnya, kubiarkanmu berjalan tanpaku.

Aku takut menyukaimu.
Karena saat kubilang suka, tak akan tanggung-
tanggung kueja tiap mozaik hidupmu
sampai kuterlampau egois menuntutmu membalas rasaku.
Itu sebabnya, aku mundur, tak mau memaksakan kehendakku.

Aku takut berhubungan khusus denganmu.
Karena aku tak mau main-main menyikapi semua ini.
Lagipula, kita hanya sebatas remaja labil. Jelaslah tak ada
yang bisa diekspektasi dari sini.
Itu sebabnya, aku menolak tawaran manismu.
Ah, apa perlu kusebutkan lagi seberapa ragu aku ketika itu?

Aku menolak tahu bagaimana kabarmu.
Karena hal ini hanya akan membanjiri batinku,
menggigitku dalam tanya: “Oh, masih peduli, ya?”
Mencecokiku dalam ragu bahwa tahu keadaanmu hanya
akan bangkitkan harapku.
Itu sebabnya, aku tak pernah mengontakmu atau sekedar
menjawab singkat tanya basa-basimu.

Aku takut membuang waktu.
Karena saat kita bersama, tak bisa dipastikan akan ada
berapa puluh jam terlewat bagi kita bertukar kabar.
Otomatis, anganku bakal terlupa, begitu juga kamu
mengentengkan mimpi besarmu. Dengan sendirinya,
kita akan terbunuh waktu lalu menyesal saat tak ada
lagi apapun di antara kita.
Itu sebabnya aku memilih pergi, belajar untuk rela
bahwa kau harus fokus mengejar cita-citamu.

Aku takut ini cinta.
Karena jika benar demikian, aku tak bisa rela melepaskanmu,
tak akan mampu melupakanmu, tak kuasa jalani hariku tanpamu.
Sekalipun bisa mengusahakannya, aku tidak akan mau.
Itu sebabnya kini kau tak lagi melihatku sesering dulu.

Sidoarjo, 21 Januari 2013 | 20:00 WIB