[3] Sebelum Merantau

Merantau.

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika memikirkannya?

Mungkin ada yang kepikiran film Indonesia yang dibintangin Iko Uwais atau teman senasib yang sekarang sudah pergi jauh menggapai mimpi atau pacar atau bahkan pengalaman sendiri. Hikz. Calon pengalaman sendiri.

Hmm. Berat nggak sih, living alone without every single precious one who always been there for you before?

Seems like it is. Tapi nggak ada yang nggak mungkin.

Mungkin omelan mama yang mengis hari-hari merupa panggilan dalam menit-menit panjang kala pagi juga sebelum tidur. Kemudian kecupan pagi papa hanya terbataskan ucapan sayang melalui telepon. Lalu iseng setengah mati-nya adik yang bakal berujung dengan prank voice note-nya.

The point is, pasti kangen. Ya, kan? Ngaku deh. Ngaku!

Homesick jelas melanda. Namun niat untuk menuntut ilmu jauh-jauh jelas mendominasi pikiran, bukan? Ketika jarak memang harus memisahkan kita dari yang paling tersayang demi masa depan, letting go is the best way. Letting go is the only answer. Yah, meskipun ada mewek-mewek sampai mata sembap dan bengkak…yah. Yaudahlah, ya. Badai pasti berlalu.

Hari ini nanti, jadi momen keberangkatanku menuju kampus perjuangan. Kampus yang–bismillah–jadi empat tahun peraduan ilmuku. Berdoa banget supaya meskipun nanti bakal galau kangen mama-papa-adik-besties, new adventures yang sudah disiapkan Allah jadi pelipur lara. Apalagi kalau akhirnya punya keluarga kedua di sana…

…orang yang siap sedia kapanpun dibutuhkan. Bantu cari kain baju. Ribet nyiapin acara wisudaan. Orang pertama yang shock setengah mati begitu tahu kita kepeleset. Pemberi petuah membosankan yang eventually kalau dimanutin bakal bikin life better. Teman tertawa sampai perut sakit. Penyedia fasilitas dan keinginan-keinginan kecil kita. Teman curhat. Sahabat terdekat, melebihi sahabat. Orang yang kamu cinta melebihi apapun.

Keluarga.

Semoga, yah.

P.S. Just remember, for whom we dedicate our dreams and hard efforts? Tell me if you had done it 🙂

Jakarta, 29 Agustus 2015

[2] Tentang yang Rela Kamu Ajak Bicara Tanpa Kenal Kala

5cf541b859c40d13d77c154032a50ae0

I am able speaking to everyone. No matter how old they are, how they dressed, how their traits. So far, I can tell you that I can speak to them. Definitely, to you too.

Nggak cuma aku saja. Kamu pun bisa bicara dengan siapapun, kan? Asal ada bibir yang nggak hanya mengatup dan dua telinga yang harus siap mendengar sahutan apapun. Juga pikiran yang kudu spontan berfikir sebelum membiarkan bibir mengatakan apapun.

Speaking is kind of media. Komunikasi. Jembatan supaya tiap insan bisa saling mengerti satu sama lain, ya kan?

The thing is. Siapa yang mau kamu ajak bicara? Siapa yang bersedia menghabiskan waktu dengan saling mengisi canda sampai perut sakit karena tawa?

Aku yakin, pasti cuma segelintir…

Sekalipun kamu famous, hitz, or every words that hyped now, you still need those men. Nama cheesy-nya, besties.

Kepanjangannya adalah seseorang yang udah kamu anggap.kayak saudara sendiri dan bisa kamu ajak bicara sampai waktu yang nggak terkira.

Mereka mungkin bukan orang yang pertama kali ngucapin selamat ulangtahun ke kamu. Tapi mereka langsung ke rumah begitu punya waktu luang untuk main. Mereka bukan orang yang suka ngomplain ini-itu. Tapi mereka sering ngomel panjang-lebar. Tanpa pernah malu ngasih tahu kesalahan kamu. Mungkin mereka nggak bisa basa-basi. Tapi begitu tahu batang hidung kamu, topik pembicaraan nggak akan ada habisnya. Mungkin mereka bukan seseorang yang sigap menghapus air mata kamu. Tapi mereka tahu gimana mengembalikan senyum di wajahmu, even only by their words! Mungkin mereka bukan seorang motivator atau pendongeng. Tapi tiap bertingkah, mereka selalu nggak sabar berbagi cerita ke kamu. Terlepas appropiate atau nggak konteks ceritanya.

Someone who always stand for you. No matter how rough the situation gotten.

Like one of my besties said, “Wajarlah nangis pas sobat merantau. Mereka kan belahan jiwa.”

Belahan jiwa yang memandang langit yang sama. Kakinya berpijak di bumi dengan koordinat berbeda dengan kita but still, the distance making us learning to be strong in surviving a precious relationship. Jarak bikin kita jadi kangen dan sadar betapa beruntungnya kita memiliki satu-sama-lain.

Karena yang seperti itu, jarang ada.

Yang jarang itu, hanya sahabat.

Teruntuk kamu semua sahabatku, nggak sabar dengar cerita kalian besok dan besoknya dan besoknya dan besoknya dan besoknya lagi!

P.S. Emm, yaaa. Salah satu bestiesku bakal merantau kembali dan aku mendapati diri nangis mingsek-mingsek sambil ngetik di layar ponsel seolah-olah lagi sms mama pas disuruh motivator ssc untuk menyatakan betapa besar cinta kita pada mereka. Huwik. Alay aku, ah.

P.S.S. LDR-an kita semua, yah. Penting line wajib aktif! :p

Jakarta, 28 Agustus 2015

Kemana Saja, Woy?!

HIATUS RIPPostingan terakhir tercatat pada tanggal 10 September 2013 which is artinya sudah lebih dari dua bulan saya resmi hiatus dari WordPress(WP). Sampai kelihatan banget jaring-jaring laba-laba di sudut-sudut WP(Bukan dalam konteks kasat matanya, lho). Sampai rasanya, tulisan saya sudah karatan dan nggak sedinamis zaman yang lagi bergulir. Intinya, saya sukses besar menjadi manusia goa.

Sebenarnya, saya bisa ngecek WP setiap hari. Melihat komen yang masuk, diam-diam blog-walking ke blog teman dan mendapati diri iri mengetahui mereka bisa update secara teratur, buka-buka postingan zaman baheulak yang kalau sekarang saya baca sendiri langsung ngerasa nggak percaya(Beneran diriku dulu se-alay itu?), dan lain-lain. Tapi ada satu yang memang nggak bisa saya lakukan dimana aktivitas tersebut malah paling penting di antara yang lain.

Posting something.

Bener-bener keki, ya? Salahkan saya karena punya mindset untuk selalu menghasilkan paling maksimal di setiap hal yang kita tekuni–which is gara-gara itu, saya pun lantas berfikir untuk nggak usah posting dulu karena nggak bisa bagi waktu. Masalahnya, ya, satu itu, waktu. Tahu sendiri, kan, bahwa sesuatu yang maksimal nggak bisa dibarengi dengan waktu yang menuntut?

Blame me once again aja, deh. Karena detik ini saya sadar. Kalau nggak ada waktu yang menuntut, hasil maksimal dalam rentang waktu sekian nggak akan pernah ada. Lalu kata-kata Deadline juga nggak mungkin tercipta. Dan yang paling fatal, manusia akan semakin banyak yang berleha-leha.

Hmm. Jadi, sudah kelihatan akar permasalahannya, kan? Bukan karena kesibukan, bukan juga karena terhimpit keadaan. Hanya saja, saya yang terlalu keki berfikir bahwa bisa membagi waktu dengan sebegitu mudahnya lantas menyepelekan hal-hal kecil. I’m regretting my decision and I’m wrong to facing time in too simple treat. 

Ngghhh.

Oke, cukup sudah perenungan dan penyadarannya. Kembali ke masa kini.

Dua bulan bukan waktu yang singkat bagi saya dalam menjalani kehidupan kelas 11 SMA. I was through many journeys that made up myself like today. Dari kecebur kali, memimpin suatu ekstrakurikuler dengan penuh perjuangan, kemenangan manis untuk sekolah, nilai rapot yang tidak bisa memuaskan hati orang tua, dan banyak lagi, deh. Maunya, ketika menjalani semua itu saya sempat update di sini atau at least, nulis di diari tapi kenyataannya nggak. Saya terlampau sibuk sama pemikiran sendiri dan terus berfikir bahwa waktu adalah hal yang bisa diajak kompromi. Imbasnya baru sekarang.

Penyesalan memang nggak pernah datang di awal, ya. Bingungnya saya, mengapa kok kebodohan macam ini kerap terjadi seolah-olah saya nggak pernah jera, seakan-akan saya selalu siap menerima konsekuensinya, selayaknya memang begini jalannya.

Sadar selalu jatuh di lubang yang sama itu melelahkan. Sungguh. Semoga dengan begini, saya jadi sadar. Semoga dengan begini, setiap kali saya akan menunda sesuatu saya bisa baca postingan sendiri lantas bergegas menyelesaikan tugas yang ada. Semoga dengan begini, siapapun dari kalian yang membaca bisa mengaca diri dan tidak jatuh ke lubang yang sama seperti saya O:)

Sidoarjo, 24 Desember 2013

Alan Lakein

Ritual Atau Hanya Sekedar Kata?

eid-scraps24_large

LEBARAN adalah momen paling mendukung untuk saling bermaafan. Pada keluarga, handai-taulan hingga teman di pelosok desa. Semua kaum muslim–bahkan beberapa golongan lain–turut meramaikan. Dari linimasa twitter, facebook yang penuh dengan ‘Minal Aidzin Wal Faidzin,’ kemudian getaran handphone yang tak kunjung berhenti, lalu broadcast di chatting area sampai paling kuno sekalipun yaitukartu ucapan.

Sangat identik sekali, ya, bahwa lebaran sama dengan ritual maaf-memaafkan. Tidak peduli tulus dari hati atau hanya sebatas simbolisasi. Sing penting njaluk sepuro disek! Begitu orang Surabaya acap menyebutnya. Tapi apa memang harus sedemikian rupa?

Harusnya tidak perlu ada kata maaf karena kita sendirilah pihak yang mesti mengikhlaskan. Harusnya ada peningkatan kesadaran. Yang lebih penting lagi, harusnya kita belajar bahwa tempat untuk ‘mengulang semua dari awal’ bukan hanya pada lebaran saja.

Bukan maksud menggurui, sih. Tapi percuma, dong, menempatkan ritual semacam ini jika akhirnya hanya sebagai formalitas. Mendapati diri tertawa geli saat momen itu berlalu digantikan dengan perlakuan buruk yang dulu. Lalu dimana letak hikmah Ramadhan kalau begitu? Jadi bias, kan?

Ramadhan adalah waktu untuk memperbaiki diri. Lebaran merupakan tempat kita lahir kembali. Jika semua dilakukan dari hati, maaf bukan hanya sekedar kata lagi. Tapi jauh lebih berarti karena semua sudah mengerti juga sadar diri.

Semoga kita semua bisa diberi kesehatan untuk merayakan Ramadhan tahun depan, ya!

SELAMAT IDUL FITRI 1434 H!
Mari saling memaafkan dan berkarya lebih banyak lagi!

Sidoarjo, 07 Agustus 2013

Dialog Tengah Malam

large (5)

“Kau ternyata jauh lebih memilih kepuasan duniawi, ya.”

“Mengapa kau masih saja berkelakar tentang itu?”

“Aku tidak berkelakar.”

“Ya, kau berkelakar. Amat panjang setiap kalinya dan itu sungguh membuatku pusing.”

“Aku tengah memperingatkanmu, bodoh!”

“Tidak perlu repot-repot. Toh, ya, aku baik-baik saja.”

“Bukan itu maksudnya!”

“Yang kutahu adalah kau harus selalu berusaha untuk mencapai sesuatu. Berusaha sampai titik darah penghabisan. Berusaha sampai kau mungkin tak punya kekuatan lagi untuk mengusahakannya.”

“Hanya itu?”

“Dan kepercayaan, tentunya. Tanpa percaya kau bisa melakukannya percuma saja.”

“Kau ateis, hah?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Kau tidak pernah membaca buku, ya?”

“Jangan mulai lagi.”

“Kesuksesan tidak hanya dari usaha dan kepercayaan seperti itu saja. Merupakan sesuatu yang sangat luar biasa jika begitu saja kau mampu mencapai kesuksesan. Kau melupakan sesuatu. Kau melupakan Tuhanmu. Zat yang mengizinkanmu bernafas sampai detik ini.”

“Sungguh, aku sudah lelah mendengarkan semua ini.”

“Kapan kau sadar, hah? Tidakkah sekelebatan pemikiran terlintas dalam benakmu perihal sebab-akibat? Ketika kau terlalu ambisi hingga melelahkan dirimu sendiri apalagi menghalalkan segala cara yang ada, kau akan terlalu berorientasi pada dirimu sendiri lantas kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Kau harus–”

“–Pasrah, begitu? Kau kira aku seorang pengemis restu yang phobia hari baru, begitu?”

“Tawakkal. Kau harus bertawakkal. Merehatkan diri sejenak. Bersujud dan berdoa. ”

“Mengapa kau tak mencoba sendiri?”

“Sudah.”

“Cih, dan kini… Apa yang kau dapatkan?”

“Tidak ada sesuatu yang instan. Sesuatu yang berharga butuh waktu dan proses yang berharga pula. Dan Proses butuh kesabaran. Itu yang kudapatkan.”

Sidoarjo, 04 Agustus 2013
Latihan bikin dialog yang padat :mrgreen:

Realita Berkata…

large (4)

Percakapan Nyata Antara Saya dan Beberapa Orang Lain Yang Tak Perlu Disebutkan Namanya

X : Nanti rencana mau kuliah mana?

Y : Hm… Pengennya, sih, UI fakultas sastra.

X : Oh, sastra… Sastra Inggris? Jepang?

Y : Nggak. Sastra Indonesia.

X : Hah? Ngapain belajar sastra Indonesia?

Z : Iya, nggak tau itu, Nya, anakku. Padahal dia rangking 1 di kelasnya.

X : Smanis rangking satu? Wah, nggak mungkin main-main, tuh. Tapi… Sastra? Yang bener aja? Paling juga upluk-upluk kerjanya di Indonesia.

Y : Oh, gitu, ya?

X : Iyalah. Mending kamu belajar sastra luar negri terus bawa budaya Indonesia ke luar. Sastra Indonesia, lho… Ngapain terus?

Y : Ya, pengen aja. Suka nulis soalnya.

X : Jadikan hobi saja. Kuliah masuk ITB belajar teknik. Duh, mending jangan Sastra Indonesia, deh. Jangan!

Z : Tuh, non. Dengerin apa kata tante.

X : Apalagi rangking satu-nya smanis. Masuk sastra Indonesia, ya… Susuk!

*

Selepasnya saya hanya menelan ludah terpekur beberapa saat mengingat selintas percakapan tadi. Ah, saya masih tak habis fikir. Nyatanya, masih banyak orang meremehkan salah satu atau dua profesi di dunia ini dengan alasan tak logis. Mengapa, ya, selalu ada beberapa hal yang dikesampingkan dan selalu dinilai tidak lebih berharga ketimbang yang lain? Toh, jika semua dilakukan dengan tekun serta profesional hasilnya hanya satu, jelas; kesuksesan di depan mata.

Sidoarjo, 1 Agustus 2013
Yey, minggu depan lebaran!

Sekolah Oh Sekolah

“MIPA kok jelek. Mau jadi apa?”

“Apa? Kamu mau jadi anak Bahasa? Bakal kerja macam apa?”

“IPS? Buangan anak IPA, ya?”

“Sekolah di situ? Kok mau? Fasilitasnya nggak lengkap. Guru-gurunya makan gaji buta semua.”

“UNAS-nya bagus? Ah, tradisi. Pasti dapet bocoran.”

“Gimana masa depan kamu kalau rapor sekolahmu aja segini?”

“Papa maunya semua nilai kamu SEMBILAN. SEMUA.”

“Sekolah swasta? Sekolah pinggiran? Hati-hati jadi pengedar narkoba…”

“Gimana ulanganku bisa dapet bagus kalo guruku aja killer?”

“Buat apa belajar fisika kalo aku nanti jadi penghitung uang, hah?”

“Buat apa belajar alga—hewan yang nggak pernah kita lihat—reproduksi jamur, ngapalin nama latin hewan…ASTAGA AKU KERJA NANTI NGGAK MUNGKIN DITANYAIN HAL KAYAK SEMACAM INI.”

“Sebenarnya aku sekolah buat apa sih?” Continue reading “Sekolah Oh Sekolah”