COPLICE: Oracle – Prolog

COPLICE: Oracle - prolog
COPLICE: Oracle – prolog

PROLOG

Washington DC, 3 Januari 1995

Januari bukan waktu yang tepat untuk bepergian.

Meskipun cuaca Washington DC membuat banyak bangunan berlomba-lomba mendekorasi dengan warna-warni tahun baru, puncak musim dingin tak dapat dielakkan. Salju menumpuk membentuk bukit, angin musim dingin menghilir dari segala arah, belum jika badai tahunan datang. Kau tahu bukan sekarang global warming benar-benar mendunia?

Sekalipun masuk kerja di antara libur panjang dua minggu yang biasa diambil pekerja kelas atas.

Seperti di salah satu bangunan seluas 14 hektar di kawasan Langley. Nampak ada seorang pria yang berdiri menerawang langit putih di rooftop bangunan tingkat lima itu. Meski dinding coklat muda bangunan terbungkus salju, lelaki seperempat baya bertubuh kekar tersebut tak goyah. Kuat bertahan meski suhu hampir menyentuh titik 10°C.

Sekitar sepuluh menit berpijak tak berkutik menerawang salju yang masih setia turun, terdengar pintu penghubung rooftop dan lantai lima berdecit pelan. “Mr. Richard? Kau mencariku?”

“Harris? Apa itu kau? Sahut lelaki di mulut pagar dengan aksen British kentalnya.

Ya, Pak.”

Atasan Harris hanya diam. Bergeming di tempat membelakangi Harris. Kepalanya menunduk  pada daratan hijau bertudung beludru putih di bawah sana. Memerhatikan seorang balita laki-laki yang asyik membentuk benteng dengan lautan kristal lembut di sekitarnya. “Bukankah itu anakmu?” Tanyanya tiga puluh detik kemudian. Kontan, kening lelaki di samping Richard mengerut.

Benar.

Dari yang mana?

“Maaf?”

“Ayolah, Harris. Kau dan aku sama-sama tahu.” Sahutnya penuh tanya. Sejenak, hening penuh tanya menggantung. Kian mencekam seiring dengan tangan kanan Richard yang diam-diam terselundup ke dalam mantel tebalnya. “Dapatkah kau memberitahuku apa yang terjadi antara kau dan Medaline?”

Apa?” Mata Harris membelalak. Pompa jantungnya terasa lebih cepat mendengar nama Medaline tersebutkan. Ia menelan ludah.  Bergeming terperangkap dalam hal yang tak bisa ia hindari–lagi. Kini, Harris terjebak dalam dua hal; dua manik safir Richard yang menajam dan rahasia kelamnya terdahulu. Cepat atau lambat semua memang akan terkuak, batinnya. “Bukankah yang paling penting sekarang adalah masa depan anak-anak kita?”

DOR!

“Tidak ada masa depan bagimu atau anak-anakmu,” ujar Richard membiarkan tubuh kekar Harris tersungkur jatuh ke belakang. Satu tembakan jarak dekat itu tepat mengenai jantung bagian bawah. Sukses meneteskan darah pekat yang kontras dengan altar putih tanah. “Kau tahu? Kukira menguakkan kebenaran darimu butuh waktu lama. Ternyata perkiraanku salah. Kau sangat lemah. Tak pantas menjadi agen negara.”

“K-Kau a-am-amat beng-is, Richard,” respon Harris bergetar. Ia mengerang tak kuat. Menahan panas dari peluru pistol semi-otomatis yang membakar habis jantung dari detik ke detiknya.

That’s me! Tanpa kebengisan, Hitler juga tidak akan bisa menyukseskan NAZI, Harris! Kau tahu itu!”

Sebisa mungkin lelaki yang mulai tak berdaya itu mencoba bertahan. Ia memberingsutkan diri untuk duduk. Seraya menelusupkan dua jari ke dalam lubang menganga pengeluar darahnya. Tapi ternyata peluru dari FN57 telah tertancap dalam sampai menembus tulang belakang. Agaknya kini, panas menyakitkan dari perikardiumnya merembet hingga ke punggung. “Kau amat buruk. Kau tak pantas untuk Anggi, Richard. Kau bahkan tak pantas menjadi direktur—“

DOR! DOR! DOR!

“Dan kau tak pernah pantas menjabat sersan, Harris,” hardik Richard geram. Harris tiada. Nyawanya melayang pada detik saat tiga peluru tersematkan di tiga titik vital tubuhnya; dahi, puting dan lutut kanan.

“Tapi kau adalah suami terburuk, Richard,” suara alto terdengar dari balik punggung Richard.

Sontak, direktur itu menoleh seraya memawaskan diri. Namun semua terlambat. Waktu seolah berjalan pelan saat wanita tersebut menghantam selangkangan, leher dan dadanya sebelum ia sempat melakukan pertahanan diri apapun. Dengan satu gerakan cepat, wanita itu menguasai pistol dari tangan Richard dan memanfaatkan sepersekian detik ambruknya.

DOR!

Richard pun turut tersungkur dengan peluru yang tertanam tepat pada jantung. “Medaline?” Ucapnya tak percaya melihat siapa wanita itu. Sosok tinggi atletis bersiluet putih yang tengah mengamati tubuh tak berdaya di sampingnya.

Merah terbiaskan wajahnya. Jemari kosongnya bergetar. Ia tak mungkin lagi bisa diselamatkan. “Namaku bukan lagi, Medaline,” ucap wanita itu beranjak berdiri. “Aku Anggi. Anggi Sasmita Watson. Remember that, Richard Chote.”

Bergegas, ia ayunkan tubuh meloncat bebas menuju atap pintu utama. Hal tersebut ia lakukan bersamaan dengan terdengarnya sirine polisi dari jalan timur. Sialan kau, Richard!

Targetnya kini berubah. Bukan lagi politisi atau publik figur yang terjebak kesalahan, melainkan jiwa tanpa dosa di atas usapan malaikat saljunya. Dalam waktu kurang dari enam puluh detik, wanita itu harus mampu keluar dari kantor pusat CIA. Aku harus cepat menyelamatkannya dari sini.

Ia lanjutkan aksinya dengan salto dan mendarat cantik tepat di hadapan anak lelaki itu. Hening sejenak saat kedua mata mereka bertemu. Hazel beradu malam. Sampai akhirnya wanita berwajah eksotis tersebut melepas tali pinggang putihnya seraya berbicara pelan, “Allan, naik ke punggungku. Sekarang.”

Tepat saat Allan sudah bertengger memeluk erat punggung wanita itu, tanpa membuang waktu ia berlari cepat sekali. Sampai di persimpangan jalan, ia keluarkan ponsel dan menelepon nomor kontak yang baru saja ia hubungi tadi malam. Dengan nafas memburu, ia berkata “Yamada? Washi tobu junbi ga dekite[1],” lalu membanting nokia itu dan berlari ke arah yang berlawanan. Melarikan buah kesayangannya menuju tempat yang jauh, jauh, jauh lebih aman daripada Washington.

…Tapak api baru saja termantik.


[1] Elang siap untuk terbang

A Niall Horan Love Story – Tiada [Ramai Sequel] (1)

– nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii

– Main cast : Niall Horan, You as Rasya

– Title : A Niall Horan Love Story – Tiada (Ramai Sequel)

– Length : 2 shoots

– Rating : T

– Genre : Romance, sad

– Disclaimer : hai.__. lama saya menghilang. ini saya ikutin ke hajatan pertamanya Kak Sulung dan kalian bisa baca sequel pertamanya di sini. di sequel ini ada hubungannya diit sih, tapi kalo kalian baca ini bakal nyambung kok. saya nggak sempat ngatur cover, dan lain halnya deh. astaghfir. bikin ini cuma satu kekuatannya ! the power of kepepet ! maaf kalo jelek T.T

HAPPY READING!

Continue reading “A Niall Horan Love Story – Tiada [Ramai Sequel] (1)”

A Niall Horan Love Story – Tiada [Ramai Sequel] (2)

– nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii

– Main cast : Niall Horan, You as Rasya

– Title : A Niall Horan Love Story – Tiada (Ramai Sequel)

– Rating : T

– Genre : Romance, sad

– Disclaimer : hai.__. lama saya menghilang. ini saya ikutin ke hajatan pertamanya Kak Sulung dan kalian bisa baca sequel pertamanya di sini. di sequel ini ada hubungannya diit sih, tapi kalo kalian baca ini bakal nyambung kok. saya nggak sempat ngatur cover, dan lain halnya deh. astaghfir. bikin ini cuma satu kekuatannya ! the power of kepepet ! maaf kalo jelek T.T

HAPPY READING!

Continue reading “A Niall Horan Love Story – Tiada [Ramai Sequel] (2)”

CORRUPTED FILE AT MICROSOFT WORD MADE ME STRESSED !

hai.__. postingan pertama minggu ini. cuma mau ngasi tau.. nggak sih mau berkeluh kesah. aduh saya nggak sopan banget gitu yah, belum bales komen, belum berkunjung ke blog sobat, belum ngelike, belum… AAAAAAAA, SAYA STRES !

*okeeh, to the point ajaa. otak saya bebeeeel garagara ini-__-*

berawal dari keinginan saya yang rencananya ikut GA-nya Kak Sulung yang kategori ke-2 yaitu fiksi, dimana ketentuan panjangnya bebas tapi setting nya harus kuat dan diperlengkap dengan unsur-unsur intrinsik yang mendukung.. Akhirnya saya mantep lah buat ikut GA-nya.

Continue reading “CORRUPTED FILE AT MICROSOFT WORD MADE ME STRESSED !”

#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai

#15HariNgeblogFF2 - Ramai
#15HariNgeblogFF2 – Ramai

Jalan Malioboro. Sekitar setengah jam aku berdiri di pinggir trotoar. Sudah tiga-puluh menit kumenunggu abangku di sini. Tadi pagi ia berjanji padaku tuk menjemputku selepas kuliah. Tapi sekarang, ia bahkan me-reject panggilanku yang-sepertinya sudah berpuluh jumlahnya. Abangku.. Teganya kau membiarkan adikmu sendiri menunggu di sini? Terpanggang pijarnya mentari yang kini memaksimalkan sinarnya?

Aku kembali menekan tuts-tuts telefon genggamku. Ini telefon ke-25-ku pada abangku itu. Tombol call kupencet. Buru-buru kuangkat ponselku mendekat telinga. Tepat saat ponsel tertempel, aku merasa tas berkait menabrak punggungku dan..

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai”