[21] Usai, sih. Tapi masa iya cukup segini?

There will be on point where you have completed something and feeling there’s no other to do anymore. Faktanya, aku sedang di fase itu. Masih menuju complete, sih. Tapi dengan segala macam jerih payah, rasanya I have done this.

Ini buruk. Buruk banget ketika ujung-ujungnya semua aktivitas yang bikin candu nggak bisa nikmat lagi. Buruk kiranya kalau kita nggak punya semangat lagi. Terlalu munafik berfikir apa yang kita perjuangkan pantas untuk berhenti.

Youngsters seperti kita, punya banyak hal yang bisa digali. Waktu yang terlampau panjang untuk bisa dibagi-bagi. Kesempatan melimpah ruah yang siap untuk di-‘eksploitasi’. Pertanyaanya: Apa kita cukup kuat menahan diri supaya nggak bermalas-malasan?

Rasulullah pernah bersabda bahwa sekuat-kuatnya musuh untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Bagaimana kerasnya kita melawan rekor yang pernah kita cetak. Bagaimana supaya kita mampu mengelola rasa cepat puas yang hinggap di diri masing-masing.

Sebenarnya nggak ribet, ya. Cuma how we set our mind and visions gitu, lho yang bikin selalu puter ulang otak and deciding what our top-priority. Karena sesungguhnya, Allah pun juga sudah berkata bahwa kita adalah khulafaurrasyidin bagi bumi kita—termasuk diri sendiri. Masa, sudah digariskan Allah sedemikian nggak membuat kita tergerak untuk terus produktif berkarya?

Terkadang, kita lupa. Banyak orang yang sedang mendoakan kita. Berharap di tiap nafas kita, ada manfaat tercurah dan berkah penyelamat dunia maupun akhirat.

Seringnya, kita pura-pura nggak menyadari ada dua orang paling berarti yang senantiasa menunggu kepulangan kita ke rumah. Merindukan cerita-cerita panjang kita selayak kecil dulu. Tanpa peduli, apa yang telah kita raih. Tanpa ambil pusing, apakah sesuatu yang kita perjuangkan berhasil atau nggak.

Mereka ada.

Allah telah mengirimkan mereka sebagai harta tak ternilai yang seringnya kita abaikan.

Hanya ada satu kata yang mampu menggambarkan semua: Alhamdulillah. Dan satu kata pelengkap: Astaghfirullahaladzim. Syukur-syukur sekarang langsung ambil wudhu, shalat, berdoa, dan menanyai kabar mama papa 😀

Hayo, brummies yang merantau sudah telepon orangtua belom? 🙂

 

(.)Jakarta, 05 April 2016
(.)Alhamdulillah sempat di-upload juga.

#2: Mendung

Tahu esensi dari mendung?

Mentari sembunyi.
Hujan malu-malu membasahi.
Kejelasan berlari-lari.

Kutahu, ia cuaca.
Salah satu nikmat Tuhan untuk melepaskan angin sepoi pancaroba.

Tapi bagiku, mendung lebih dari itu.

Mendung adalah delegasi.
Bagi kagum yang diam-diam menghampiri.
Bagi semangat yang tanpa sadar memicu diri.
Bagi degup yang dipendam setengah mati.
Bagi rasa yang tersembunyi.

Mendung mengatakan semuanya.
Demi menjaga diri; sejuknya kasih harus dilawan dinginnya hujan.
Demi memantaskan diri; putihnya langit yang siap diwarnai berjuta rasa harus dilawan mentari iman.

Tapi mendung hanyalah transisi.
Darinya tersibak sinar, awal kita belajar.
Darinya tertetes hujan, penyubur kehidupan.

Mendung adalah menahan.
Pembatas rasa berlebihan.
Pengajar kesabaran.
Jika saja kita paham.

Jika saja.

Lantas aku malu.
Kalah jauh kuatku berbanding mendung.
Sendiri, kukerap mengeluh.
Namun mendung?
Sendiri pun ia tahu Tuhan menemaninya, menganugerahinya tugas mulia untuk umat manusia.

Mendung, masih mau menemaniku?

 

Jakarta, April 2016.

#1: Butuh

Kita wajib malu.

Terlalu banyak memikirkan hal yang belum tentu kita rengkuh.

Jika sejatinya hanya Allah terminal terakhir kita berlabuh, mengapa harus mengeluh?

Kenapa tak kita tinggal saja kelabu demi esa yang satu?

Sepantasnya malu.

Seyogyanya sedih-sedu.

Tak sepatutnya terbandingkan antara Allah dan dunia pilu. Jelas tak perlu.

Karena hanya Ialah kembalimu.

Pelipur laramu.

Terkasihmu.

Penciptamu.

Pelenyapmu.

 

Jakarta, 22 Februari 2016

[17] WHAT DOESNT KILL YOU MAKE YOU STRONGER

Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))
Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))

“Aduh, maaf banget ya. Nggak jadi bisa datang. Tak doakan semua bisa sukses, guys! See you on top!”

Mungkin kalimat di atas merupakan kalimat doa yang baik, ya. Saling berharap supaya teman-teman sukses dan jadi ahli di bidangnya masing-masing.

But. I. Hate. That. Really.

Menurutku, apa yang sudah tertera di atas sama sekali nggak mempererat tali persaudaraan. Cuma formalitas. Ungkapan yang seolah-olah harus diucapkan ketika sudah sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing. Kalimat pelarian diri dari silaturahmi yang hakiki.

But there is the time dimana kata-kata itu memang harus diucapkan. Ada saat ketika kondisi nggak memungkinkan akhirnya membuat kita terkurung di satu kota nan jauh dari rumah, mengikhlaskan kesempatan pulang, dan melewatkan waktu yang harusnya bisa diisi temu kangen dengan teman-teman sekolah.

Akhir minggu kemarin, saya bersama Raden dan Faizal membahas seru rencana ketemuan via chat WhatsApp. Dolen, bahasa Jawanya. Mereka temen baik saya banget waktu SMA. Dulu sering belajar dan main bareng. Mereka ini dua di antara orang-orang yang buat saya bersyukur banget. Because they are crazy, kind, warm-hearted, and most important—hard to find.

Faizal deket banget karena saya sering curhat sama dia. Ngobrol apa aja nyambung—apalagi bahas masalah cinta, gilak ini temen saya udah expert banget dah di bagian situ, hahaha—dari musik sampe bahasan nggak penting pun bisa aja jadi obrolan kami. Terus dulu satu les-les an sama dia juga. Pernah banget ngerasain jadi temen sepenanggungan, seperjuangan. Faizal sekarang di Universitas Brawijaya, jurusan hukum. Jurusan yang dia pingin.

Kalau Raden, nih. Hahaha. Bocah! Temen terunik yang saya punya. Kenapa terunik? Karena dia tuh naksir sahabat saya semenjak kelas satu SMA, terus dia dulu sering cerita-sharing sama saya juga. Dan yang paling saya inget tuh waktu dia minta dibimbing belajar Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik(TPA) dalam rangka seleksinya di Angkatan Kepolisian(AKPOL). Tiap Sabtu dulu sering banget nentorin anak satu ini, sekaligus cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon. Sampai akhirnya—duh, ini bagian-bagian mengharukan—tes dilaksanakan, dia diasingkan beberapa saat lalu si bocah ini ngabarin saya via telepon untuk ngasih tahu kalau nilai TOEFL Bahasa Inggrisnya tertinggi se-peserta Jawa Timur dan nilai TPA-nya tertinggi se-Indonesia!

Alhamdulillah. Alhamdulillah.

And yes, dia berhasil masuk AKPOL :’) #tearsofjoy!

Seneng banget nggak sih rasanya jadi part of bigger thing that is success and valuable for others? Itu yang saya rasain waktu berbagi. Itu yang buat saya sangat bersyukur :’)

Kami tuh sebenernya ngerencanain tanggal 27 besok buat jalan bareng. Around Surabaya aja. Acaranya sederhana, sih. Pengennya cuma ngemall buat nonton—which is mau nemenin Raden yang belum pernah nonton sama sekali :p—terus photobox dan makan bareng.

Tapi wacana hanyalah wacana.

Saya nggak bisa pulang karena nggak bisa ngelobby dosen dan terlalu takut untuk bolos satu mata kuliah inti yang emang nggak bisa dilobby.

“Ealah, Rur. Padahal aku wes bayangno kita nonton star-wars,” kata Faizal.

“Ealah, kampret. Aku habis ini kayaknya nggak ada libur panjang,” kata Raden.

Sedih, ya? Sedih banget. Temen deket saya aja kecewa apalagi yang di sini… yang nggak bisa pulang. Tapi lebih sedih lagi saya di sini terkungkung nggak bisa ketemu mama papa dan cuma bisa ngandelin telepon untuk pelepas kangen.

“Udahlah nggak usah pulang dulu. Kuliahnya kan lebih penting. Mbak kan juga masih semester satu. Papa sama mama ini telepon kamu aja udah cukup.

Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)
Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)

Itu kata papa tadi siang, waktu akhirnya menyarankan saya nggak pulang aja. Tahulah, saya mewekan. Jadi habis papa bilang gitu, sambungan saya putusin, terus air mata tuh kayaknya lancar banget produksinya sampe nafas sesek rasanya(Saya nggak cukup cuma telepon aja, Ma, Pa!)

Saya adalah mahasiswa perantauan. Rumah terletak jauh dari pandangan, sekitar 80 km. Baru kali ini banget ngerasain kangen yang sumpah demi apapun nggak bisa ditolong kalau rasanya nggak pulang. Baru sekarang tahu gimana rindunya saya sama mama, papa, temen… Rindu rumah.

Tapi dari sini, akhirnya saya belajar. Kalau keluarga, temen masa sekolah, itu dua harta yang sama sekali nggak bisa tergantikan, sesuatu yang membuat kita jadi orang paling kaya sedunia. Karena mereka adalah sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan uang dan cuma bisa eksis kalau kita telaten merawat dan menjaga silaturahmi.

“Saya lebih memilih menabung untuk pulang kampung. Karena saya tahu umur orangtua saya nggak selama menara Eiffel atau Tembok Cina yang kalian pamer-pamerin.”

Gilak, ya. Itu quotes yang bikin saya… “Okay, ini bener banget. Okay, itu bikin prinsip berubah. Okay, itu….(speecheless).” #BaperMaksimal.

Tapi perantauan melatih kita untuk mandiri dan bisa kuat sekalipun harta paling penting yang kita miliki lagi nggak ada di samping kita. Alhamdulillah, udah bisa mengikhlaskan kesempatan untuk nggak pulang. Yah, Allah SWT pasti punya rencana yang lebih indah. Yakin banget, deh 🙂

Semoga tahun depan jatah saya pulang kampungnya bener-bener eksklusif panjang dan nggak keganggu apa-apa. Hahahaamin, ya Allah:)

Selamat liburan! Selamat berkumpul dengan keluarga, Brummies tersayang!♥

Jakarta, 23 Desember 2015 | 12:23 AM

Jurnalis Gagal Move On

Deteksi2k13

Inget nggak, tahun lalu saya pernah cerita tentang DetEksi Convention(DetCon)? Di Doakan Saya, Kawan 😀 dan Kalah itu Akhir yang Memenangkan? So, yeah… Tahun ini saya bersama tim jurnalis smanis berpartisipas lagi!(Emang siapa gitu anak muda Jawa Timur yang nggak excited buat ikut DetCon?)

Ada yang belum tahu DetCon itu apa?

Awalnya, DetEksi hanya halaman yang ditujukan untuk pemuda di koran Jawa Pos. Pencetusnya adalah Azrul Ananda. Dimulai dari acara tahunan untuk memperingati hari jadi halaman, diadakanlah DetEksi Party. Pada tahun 2002, DetEksi Mading Campionship diadakan untuk menyalurkan kreativitas seni anak muda dalam bentuk mading. Seiring dengan membeludaknya animo peserta, lima tahun berikutnya DetEksi Jawa Pos mengubah nama menjadi DetEksi Convention yang sudah berkembang menjadi konvensi multi kompetisi.

…..For the complete story, click this 😉

Oke, jadi ini cerita nggak fresh from the oven. Terjadi bulan lalu tepatnya tanggal 9-17 November. Lama bingit, ya, saya bagi-bagi ceritanya? Dalam event tersebut, saya menjadi wakil sekolah di Journalist Blog Competition(JBC)-nya. Sedangkan teman-teman yang lain mengikuti Mading On The Spot, Mading 3D, dan kakak kelas taking their opportunity di Excelso Wallpaper Design.

Total ada sekitar 13 jenis lomba yang dipertandingkan selama sepuluh hari and I could say that DetCon was really a mega huge event for teenagers in Jawa Timur. Sejak diadakan pertama kali, animo pesertanya udah banyak banget! Seiring bertambahnya tahun, inovasi yang dilakukan juga sukses menggaet peserta dan membuat acara menjadi lebih besar.

Apa kalian tahu? Meskipun ruang lingkup lomba terbatas hanya untuk siswa Jawa Timur, tapi bagi kami, untuk punya pengalaman di DetCon itu bener-bener berharga banget. Jadi, jangan heran kalau pesertanya bener-bener totalitas saat mengikuti lomba dan jangan kaget ketika mendapati ide-ide anak SMA bener-bener gemilang di sana. DetCon is really prestigious for us.

Nggak menutup kemungkinan, event ini akan berkembang menjadi national competition. Just wish and wait for that.

Balik lagi ke #DetCon2k13, tahun ini kompetisi yang saya ikuti mengharuskan saya dan Amel(lovely partner-evah!) untuk datang selama sepuluh hari penuh di venue. Tugasnya cari foto bagi fotografer dan berita bagi penulis. Bahannya adalah acara dalam DetCon. Jadi selama itu, saya getol wawancara sana-sini sedangkan Amel lari ke sana kemari membidik setiap momen yang ada.

Best Fotonya Amel (menurutku)!
Best Fotonya Amel (menurutku)!

Nah, sepuluh hari kemaren jelas nggak berjalan mulus begitu aja. Hambatannya banyak banget! Mulai dari keputus-asa-an karena sempet stuck nggak ada inspirasi buat liputan, ngerasa stres karena pressure peserta yang keliatannya pada ndewo semua, berat bin malu waktu nggeret tangga yang Amel pake buat ambil foto(di sana ada panggung acara yang nggak memungkinkan fotografer berbadan pendek bisa moto ketika banjir penonton–peace, Mel!), keterikatan deadline, Wifi yang hidup segan mati tak mau, kehilangan handphone juga uang, duh, kalau dijelentrekkan satu-satu nggak habis-habis, deh!

Well, sebenarnya malah di situ letak tantangannya. Di situlah letak kesenangannya. Hambatan bikin chemistry saya sama Amel ketemu dan ini membuat kami menjadi tim yang solid. Kami tuh, saling mengisi. Amel panikan ngimbangin saya yang penenang, saya yang terlalu serius diimbangi Amel yang santai bin super-fun, Amel yang sering nraktir mengimbangi saya yang dompetnya sering kempes, sort kind of thing like that. Geli banget kalau ngingat kami yang lagi marah atau nggojloki(nggoda) satu sama lain. Hahaha. Saya bersyukur banget pernah kerja sama cewek ini 😉

Sepuluh hari partner-an sama Amel juga bikin kami kenal banyak anak di DetCon. Saya nggak kenal seluruh peserta JBC2k13, tapi seenggaknya saya recognize wajah mereka satu-satu. Jujur, menurut saya waktu sepuluh hari buat main sama mereka itu kurang–banget. Banyak kebiasaan kecil lomba yang nempel di ingatan saya.

Dippo, Sultan, Bryan, Amel, gila semuaah!
Dippo, Sultan, Bryan, Amel, gila semuaah!

Sudah upload naskah?
Sudah upload foto?
Sudah dapat bahan berita?
Duh, narasumbernya, kok, lama see…
He, kamu nggak laper, ta? Makan bareng, yok!
Deteksijp di komputermu bisa dibuka, nggak?
Duh, wifinya lama he sudah mau jam empaaat!

10 hari sama mereka terus  ♥
10 hari sama mereka terus ♥

Sejenis itu dengan muka-muka lelah kami. Lucu pas ngingat masa-masa itu. Yang paling nggak bisa dilupain tuh waktu kami naik kursi dan nyanyi bareng Vierra, waktu nyanyi bareng HiVi! dan Maliq sampe suara habis, waktu minta tanda tangan ke seluruh peserta sama kru, waktu face to face sama Azrul Ananda, waktu ngecengin band yang lagi tampil tapi tampilan mereka dikacangin penonton, waktu perpisahan, oh-my-god. Kayaknya semua detik-detik saya di sana memorable, deh :’)

Satu hal lagi, saya paling nggak bisa melupakan oleh-oleh dari narasumber yang saya hubungi via telepon. Jadi, dia adalah salah satu peserta luar kota yang saya kepoin kenapa, kok, ikut lomba. Tepatnya peserta dari Tuban. Kalau nggak salah saya ngabisin waktu satu jam-an sendiri ngobrol dan mengulik banyak tentang hidupnya. Eh nggak taunya, malah keterusan dan kami ended up buat janji untuk ketemuan di hari terakhir.

Waktu hari terakhir pas pengumuman pemenang lomba(tapi nggak termasuk kompetisi saya), kami ketemu setelah dia diumumkan jadi juara. Yes, narasumber yang saya wawancarai berhasil memboyong piala untuk sekolahnya. Seneng banget waktu itu apalagi pas dia tersenyum serta ngacungin piala itu ke tempat saya berdiri. Ah, ikut bangga, sungguh.

Kami ketemunya setelah itu. Dia bawa partner lombanya dan kenalan secara resmi sama saya. Di detik-detik terakhir, dia ngasih saya bubuk kopi tubruk, bijinya, serta sketches note dan satu kalimat ini: “Makasih, ya, publikasi beritanya.”

Oleh-oleh dari temen Narasumber. Tuban asli!
Oleh-oleh dari temen Narasumber. Tuban asli!

Saya yang waktu itu cuma bercanda buat minta dibawain oleh-oleh sempet ngerasa nggak enak karena nggak mbawain dia apa-apa. Tapi akhirnya, ya, kami oke-oke aja. Eits, nggak usah mikir yang aneh-aneh, yaa, karena sampai sekarang kami berteman. Saya juga nggak mungkin pacaran–apalagi jarak jauh. But still, itu kenangan paling memorable, hihi.

Pada hari yang sama, sekolah saya mendapat dua piala–dua silver untuk lomba mading 3D dan Wallpaper Excelso. Saya histeris banget waktu itu. Sempet pesimis sampe Amel harus gantian nenangin saya. Bahkan, saya nangis waktu tim mading saya menang. Soalnya lihat usahanya mereka itu bener-bener mirisin hati. Truly touching menurutku sebagai saksi pendukung mereka.

Alhamdulillah Top Ten Silver Mading #DetCon2k13
Alhamdulillah Top Ten Silver Mading #DetCon2k13

By the way, cerita saya panjang banget, ya? Ayo kita skip ke hari pengumuman JBC.

Pengumuman JBC itu paling akhir di antara serangkaian lomba yang lain. Why? Simple, karena kerjaan wartawan memang harus meliput sampai hari terakhir. Maka dari itu, liputan acara selama sepuluh hari baru dijuri setelah event sepuluh harinya selesai. Di situ saya sama Amel bener-bener pasrah. Mau menang berarti bonus, mau kalah ya dijadikan pengalaman aja.

Kami punya prinsip:

Yang penting tuh melakukan yang terbaik. Nggak usah berusaha mati-matian hanya karena pengen ngalahin seseorang. Lebih baik berusaha-usaha-usaha sambil nyari kenalan yang banyak.

Itulah yang kami lakukan. Kami nggak pernah ambusius untuk menang tapi kami nyari kenalan sebanyak-banyaknya. Meskipun begitu kenyataan berkata lain.

Pertama kali Technical Meeting(TM) saya udah punya feeling kalau nama saya akan dipanggil. Bukannya sombong atau apa, tapi memang itu yang saya rasakan dalam hati. Entah mengapa saya bener-bener yakin bakal menaklukkan juara di tahun ini. Apalagi tahu kalau pemenang biasanya ditelepon untuk bisa dipastikan datang di hari sebelum pengumuman. Yes, I got that call and that’s what happened.

And the fifth place UBS Journalist Blog Competition 2k13 goes to…. SMA Negeri 1 Sidoarjo!”

With lovely partner, Kharmelia Nur Afali ♥
With lovely partner, Kharmelia Nur Afali ♥

Kami menang. Saya dan Amel berhasil. Bener-bener nggak percaya. Amel malah butuh sedikit jeda untuk sadar kalau nama kami memang dipanggil. Waktu saya sudah berdiri excited mau maju ke depan, si Amel malah plonga-plongo–shock dengan lampiran slide yang menunjukkan sekolah kami.

“Kita menang, Mel! Ya Allah, beneran ta ini?”
“Rur, aku nggak mimpi, kan? He Rur, bohong itu sumpah bohooong!”
“Meeel!”
“Ruuur!”
“Dek, jangan teriak-teriak, ya. Yang sopan.”

YIHAA KAMI MENANG, SUJUD SYUKUR ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAAAH!(Senengnya nyangkut sampe sekarang. Hihihi.)

Pengorbanan kami terbayar sudah. Telepon sampe malam buat minta kritik pembina dan orang-orang ndewo, pulang malem demi dapet liputan paling akurat dan foto paling oke, nggeret tangga ke sana kemari, nggak sekolah empat hari, mengesampingkan tugas demi mokusin DetCon…Subhanallah, Alhamdulillah. Allah memang nggak pernah tidur.

Ini goals yang terpampang di mading kamar :D
Ini goals yang terpampang di mading kamar 😀

Iya, itu goal saya. Meskipun nggak jadi bestwriter, saya tetep bangga sudah bisa mencoret satu goal di mading kamar :’) Alhamdulillah.

Alhamdulillah 5th Place Jurnalis #DetCon2K13
Alhamdulillah 5th Place Jurnalis #DetCon2K13

Kalau tahun lalu dapat rasa, tahun ini saya dapat juara! Lebih tepatnya, ada tiga piala dari ekskul saya bisa persembahkan untuk sekolah. Meningkat satu dan meningkat derajat dari tahun lalu. Sekali lagi, Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah 🙂

Totally, many experiences and memories I got from here and those were the most important above all. Terima kasih saya persembahkan untuk orangtua(yang udah merestui buat ikut), Mas Vian & Mbak Nilam(yang udah bantu banyak banget!), Mbak BebeCitra(yang udah ngasih kritik dan support positif), keluarga Ekspresi SMANISDA, keluarga 11 IPA 7, dan yang paling besar tali asihnya, Allah SWT. Semoga saya, kamu, kita, bisa terus berkarya dan membanggakan lagi!

Menang hanya berarti pengukuhan untuk memacu diri agar semakin semangat melakukan hal yang kita tekuni.

Dengan ini saya memproklamirkan diri bahwa saya adalah #JurnalisGagalMoveOn dari even DetCon2k13 yang telah memberi saya banyak sekali pelajaran berharga. Sekali lagi, terima kasih. Semoga saya bisa menjadi salah satu dari kalian ya Mas-Mbak, hihihi.

Undur diri,
See you next post!

Kenang-kenangan #DetCon2k13 :')
Kenang-kenangan #DetCon2k13 :’)

Tentang Teman

tentang teman(2)
Mungkin kata-kata di atas itu benar-benar naif dan kekanakan yang pernah terangkai. Karena nggak mungkin hidup tanpa teman. Nggak mungkin hidup tanpa bercerita. Teman beraarti luas bisa keluarga atau orang lain. Untuk urusan bercerita, sih, tergantung, ya. Ada orang yang bisa dengan mudahnya beradaptasi lantas bercerita ngalor-ngidul tentang apapun dalam hidupnya. Ada yang tarik-ulur. Ada juga pribadi penutup rapat perihal masalah pribadinya. Semua, toh sah-sah saja; tergantung pada manusianya. Namun sebenarnya seberapa penting arti teman?
Pintu dibuka. Decitnya menggelitik telingaku yang sedari tadi mendengar senyap. Oh, dia. Teman yang setelah sekian lama mendekam satu atap denganku.
Dari ekor mataku, dia hanya melirik sekilas. Menatapku menekuri layar laptop tanpa bertanya lagi. Belum sempat kutanya mengapa ia pulang selarut ini, temanku itu malah sudah terburu menghempaskan diri di atas kasur memejamkan mata.
Sekejap suasana menghening. Hanya terdengar bunyi jari-jariku yang mengetik tuts keyboard dalam kamar kami.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Oh, ini saatnya.

“AAAGH! Sebel sebel sebel! Tadi masa di kampus Si Dolores malu-maluin aku? Di depan kelas lagi! Dia kira aku siapa, coba? Asal marah-marah, nggak pake sebab. Dia lagi gila kali, ya? Lagi PMS? Mana tadi ada doi. Tugas besok juga belum kelar. Duh, kenapa hari ini sial banget, sih? Agh!” Serunya mencecar tanpa bisa dicegah. Sontak aku membalikkan tubuh menghadapnya. Dia masih telah duduk dengan kerucutan mulutnya juga dua manik yang berkilat marah.

Aku–yang bahkan bukan pelaku ceritanya–menghembuskan nafas besar. Dia memang seperti ini. Sering berperilaku begini. “Terus? Bukannya Dolores emang tukang marahin orang?” Jangan salah. Nama Dolores yang tersebutkan di sini bukan guru Hogwarts dalam novel Harry Potter, lho. Tapi merujuk pada salah satu dosen kami yang perangainya jauh lebih buruk ketimbang tokoh fiksi tersebut.

“Ya, iya. Tapi kan–” Lantas dia melanjutkan kalimat demi kelimat seperti memberondongkan peluru pada tawanan perang. Luncurannya sangat lancar, runtut, penuh emosi hingga menarik empati. Empatiku tentunya. Heran, mengapa aku tak pernah bosan, ya, mendengar keluhannya setiap hari?

“Nggak bisa gitu juga, lho. Dia kan udah terkenal–” Lantas aku membalas ceritanya dengan petuah-petuah yang anehnya selalu spontan terlontar kala ia berkeluh kesah. Diselingi dengan analogi konyol tentunya. Seperti: ‘Jika kamu jadi naga yang selalu marah, kamu pasti nggak akan sungkan memilih area untuk menyemburkan api, kan? Hayo?’ Ralat. Maksudku, analogi garing.

Lagi-lagi dia tertawa. Kuulangi, dia selaly tertawa mendapati analogiku yang sejujurnya tidak kumaksudkan untuk menghiburnya. Hey, aku sedang memberi filosofi, koplak!

“Ampun. Kapan, sih, selera humor kita naik satu level, aja? Dari dulu ngomongin naga, elang, monyet kayak kita udah kenal mereka lama banget, aja,” responnya lantas tertawa lagi. Mau tak mau aku pun tergelak. Dasar, sarkastik.

“Cukup. Sekarang ceritain harimu, dongs!” Tanyanya lantas melipir di pinggir kasur menatapku antusias. Sial, bagian inilah yang paling tidak kusukai.

Tapi anehnya, aku pun bercerita juga. “Ya… Ya… Mau bahas apa, coba? Alhamdulillah hari ini komikku dimuat jurnalis kampus. Terus mereka juga nawarin aku untuk kerja sama lebih lanjut. Terus–” Belum sempat kumenggenapi kisah, dia mendahului responnya. Respon gelak tawanya.

“Kamu tuh, ya. Komik aja dari dulu. Lebih personal, dong! Hiih! Gimana, sih? Gemes tauk!” Mau tak mau aku tersipu. Lantas yang terjadi kemudian adalah aku tak tahu harus berbuat apa. Maksudku, bercerita secara lisan sungguh bukan keahlianku. Hingga bukanlah suatu yang aneh apabila dia memang tidak tahu keseluruhan kisah hidupku. Memang begini lalu mau diapakan lagi?

“Em. Ya, pokoknya tadi ketemu dia di perpus. Aneh aja tahu dia baca. Terus aku pergi. Udah.” Benar bukan penilaianku terhadap diri sendiri?

Seolah tahu kelemahanku dia lantas menarik diri. “Ihiy! Pasti nggak kamu sapa, ya? Ah, gocik¹, ah! Besok disapa, lho!”

Aku melengos.

Sejurus kemudian, dia pamit untuk tidur dan berpesan padaku untuk melakukan hal serupa. Malam memang kian larut tapi dua cangkir kopi yang tak berapa lama baru kutandaskan tengah bekerja kuat-kuatnya sekarang. Tak salahlah, jika aku tidak mengindahkannya.

“Semoga besok aku sama doi bisa dimalu-maluin bareng, ya. Semoga kamu sama dia besok ketabrak atau apa kek. Pokoknya makin deket. Hahaha,” ucapnya yang langsung mengundang lemparan bantal sandaranku. Lantas ia tertidur sementara aku masih di hadapan laptop menulis kisah ini.

Jadi, apa kita butuh teman? Apa kita butuh tempat bercerita? Apa kita butuh wadah berkeluh kesah?

Menurutku, sih, semua pertanyaan terjawab ‘iya.’ Sekalipun kamu adalah orang paling tertutup di dunia yang enggan menceritakan penggalan jejak langkah.

*

Gocik¹ = Takut dalam bahasa jawa medok

Sidoarjo, 09 Agustus 2013
Terima kasih untuk setiap kawan yang mengetahui ‘tarik-ulur’ saya.
Hihihi

Ritual Atau Hanya Sekedar Kata?

eid-scraps24_large

LEBARAN adalah momen paling mendukung untuk saling bermaafan. Pada keluarga, handai-taulan hingga teman di pelosok desa. Semua kaum muslim–bahkan beberapa golongan lain–turut meramaikan. Dari linimasa twitter, facebook yang penuh dengan ‘Minal Aidzin Wal Faidzin,’ kemudian getaran handphone yang tak kunjung berhenti, lalu broadcast di chatting area sampai paling kuno sekalipun yaitukartu ucapan.

Sangat identik sekali, ya, bahwa lebaran sama dengan ritual maaf-memaafkan. Tidak peduli tulus dari hati atau hanya sebatas simbolisasi. Sing penting njaluk sepuro disek! Begitu orang Surabaya acap menyebutnya. Tapi apa memang harus sedemikian rupa?

Harusnya tidak perlu ada kata maaf karena kita sendirilah pihak yang mesti mengikhlaskan. Harusnya ada peningkatan kesadaran. Yang lebih penting lagi, harusnya kita belajar bahwa tempat untuk ‘mengulang semua dari awal’ bukan hanya pada lebaran saja.

Bukan maksud menggurui, sih. Tapi percuma, dong, menempatkan ritual semacam ini jika akhirnya hanya sebagai formalitas. Mendapati diri tertawa geli saat momen itu berlalu digantikan dengan perlakuan buruk yang dulu. Lalu dimana letak hikmah Ramadhan kalau begitu? Jadi bias, kan?

Ramadhan adalah waktu untuk memperbaiki diri. Lebaran merupakan tempat kita lahir kembali. Jika semua dilakukan dari hati, maaf bukan hanya sekedar kata lagi. Tapi jauh lebih berarti karena semua sudah mengerti juga sadar diri.

Semoga kita semua bisa diberi kesehatan untuk merayakan Ramadhan tahun depan, ya!

SELAMAT IDUL FITRI 1434 H!
Mari saling memaafkan dan berkarya lebih banyak lagi!

Sidoarjo, 07 Agustus 2013

Dialog Tengah Malam

large (5)

“Kau ternyata jauh lebih memilih kepuasan duniawi, ya.”

“Mengapa kau masih saja berkelakar tentang itu?”

“Aku tidak berkelakar.”

“Ya, kau berkelakar. Amat panjang setiap kalinya dan itu sungguh membuatku pusing.”

“Aku tengah memperingatkanmu, bodoh!”

“Tidak perlu repot-repot. Toh, ya, aku baik-baik saja.”

“Bukan itu maksudnya!”

“Yang kutahu adalah kau harus selalu berusaha untuk mencapai sesuatu. Berusaha sampai titik darah penghabisan. Berusaha sampai kau mungkin tak punya kekuatan lagi untuk mengusahakannya.”

“Hanya itu?”

“Dan kepercayaan, tentunya. Tanpa percaya kau bisa melakukannya percuma saja.”

“Kau ateis, hah?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Kau tidak pernah membaca buku, ya?”

“Jangan mulai lagi.”

“Kesuksesan tidak hanya dari usaha dan kepercayaan seperti itu saja. Merupakan sesuatu yang sangat luar biasa jika begitu saja kau mampu mencapai kesuksesan. Kau melupakan sesuatu. Kau melupakan Tuhanmu. Zat yang mengizinkanmu bernafas sampai detik ini.”

“Sungguh, aku sudah lelah mendengarkan semua ini.”

“Kapan kau sadar, hah? Tidakkah sekelebatan pemikiran terlintas dalam benakmu perihal sebab-akibat? Ketika kau terlalu ambisi hingga melelahkan dirimu sendiri apalagi menghalalkan segala cara yang ada, kau akan terlalu berorientasi pada dirimu sendiri lantas kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Kau harus–”

“–Pasrah, begitu? Kau kira aku seorang pengemis restu yang phobia hari baru, begitu?”

“Tawakkal. Kau harus bertawakkal. Merehatkan diri sejenak. Bersujud dan berdoa. ”

“Mengapa kau tak mencoba sendiri?”

“Sudah.”

“Cih, dan kini… Apa yang kau dapatkan?”

“Tidak ada sesuatu yang instan. Sesuatu yang berharga butuh waktu dan proses yang berharga pula. Dan Proses butuh kesabaran. Itu yang kudapatkan.”

Sidoarjo, 04 Agustus 2013
Latihan bikin dialog yang padat :mrgreen:

Realita Berkata…

large (4)

Percakapan Nyata Antara Saya dan Beberapa Orang Lain Yang Tak Perlu Disebutkan Namanya

X : Nanti rencana mau kuliah mana?

Y : Hm… Pengennya, sih, UI fakultas sastra.

X : Oh, sastra… Sastra Inggris? Jepang?

Y : Nggak. Sastra Indonesia.

X : Hah? Ngapain belajar sastra Indonesia?

Z : Iya, nggak tau itu, Nya, anakku. Padahal dia rangking 1 di kelasnya.

X : Smanis rangking satu? Wah, nggak mungkin main-main, tuh. Tapi… Sastra? Yang bener aja? Paling juga upluk-upluk kerjanya di Indonesia.

Y : Oh, gitu, ya?

X : Iyalah. Mending kamu belajar sastra luar negri terus bawa budaya Indonesia ke luar. Sastra Indonesia, lho… Ngapain terus?

Y : Ya, pengen aja. Suka nulis soalnya.

X : Jadikan hobi saja. Kuliah masuk ITB belajar teknik. Duh, mending jangan Sastra Indonesia, deh. Jangan!

Z : Tuh, non. Dengerin apa kata tante.

X : Apalagi rangking satu-nya smanis. Masuk sastra Indonesia, ya… Susuk!

*

Selepasnya saya hanya menelan ludah terpekur beberapa saat mengingat selintas percakapan tadi. Ah, saya masih tak habis fikir. Nyatanya, masih banyak orang meremehkan salah satu atau dua profesi di dunia ini dengan alasan tak logis. Mengapa, ya, selalu ada beberapa hal yang dikesampingkan dan selalu dinilai tidak lebih berharga ketimbang yang lain? Toh, jika semua dilakukan dengan tekun serta profesional hasilnya hanya satu, jelas; kesuksesan di depan mata.

Sidoarjo, 1 Agustus 2013
Yey, minggu depan lebaran!

Merapikan Kenangan

BOifeciCcAALHoN

Percakapan antara dua orang asing yang tak sengaja bertemu dalam imaji. Meski fiksi, pantas untuk direnungi.

“Kau pernah punya buku harian?”

“Ya, tentu.”

“Masih kau isi hingga sekarang?”

“Em, tidak juga. Kadang kuisi kadang tidak.”

“Pernah kau berfikir bahwa buku harian adalah satu-satunya hal yang mampu kau wariskan untuk generasi setelahmu?”

“Jujur… Tak pernah. Memang apa harganya sebuah buku harian?”

“Oh, jadi zaman sekarang semua diukur dari uang, ya?”

“Aku bicara realita.”

“Aku bicara hidup!”

“Sama saja.”

“Tidak, jika kamu berpola-fikir beda dengan kebanyakan orang.”

Out-of-the-box?”

“Sejenis itu.”

“Oke, jadi apa hubungannya dengan buku harian?”

“Hubungan? Menurutku lebih dari itu! Mereka satu ke-satuan. Tak bisa dipisahkan. Kau tak bisa menulis di buku harian tanpa hidup yang kau lalui. Dan hidup tak akan berarti banyak tanpa adanya buku harian.”

“Cih, bagaimana bisa?”

“Yang kau lakukan ketika menuliskan hidupmu adalah menyusuri ingatanmu beberapa jam lalu. Kadang membosankan tapi tak jarang mengasyikkan mengingat hal-hal yang terjadi seharian dalam hidupmu. Dari situ kau akan menyadari betapa banyak hal yang bisa kau dapatkan dalam sehari. Betapa hebatnya dirimu berubah setiap waktunya. Betapa kacaunya ingatanmu tanpa terekam dalam bentuk nyata di masa depan. Menulis sama dengan belajar, merekam dan bercerita di saat yang sama. Kau tentu ingin mengulas riwayat hidupmu kala senja datang, bukan?”

“Tentu. Tapi, bukannya cukup hanya melalui kamera?”

“Kamera? Terlalu instan dan kurang personal. Tak cukup mengeskpresikan tumpah-ruah perasaan kita.”

“Benar juga. Tapi aku… Aku tak terbiasa menulis.”

“Maka dari itu, biasakanlah! Barang satu kata-pun tak apa. Karena jelasnya, buku harian adalah satu dari sekian hal yang bisa kau wariskan untuk generasimu.”

“Jadi, aku harus menulis?”

“Ya. Menulislah. Menulislah untuk merapikan kenangan dan menulislah untuk keabadian.”

*

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” -Pramoedya Ananta Toer
Sidoarjo, 31 Juli 2013. 

Sayangnya Tuhan

sayangnya tuhan

“Kalau mendapat musibah dari Tuhan sebaiknya jangan buru-buru marah, gusar atau berfikir Tuhan selalu tidak adil pada kita. Sebaiknya kita harus bersyukur. Karena Dia tengah mengingatkan kita. Menegur kita untuk mengintrospeksi diri. Menyadari kesalahan untuk kembali ke jalan yang benar.”

Saya mau cerita. Jadi hari ini bakalan dihelat demo eskul di sekolah dan saya turun tangan untuk mengurus beberapa bagian. Demo ekskul jurnalistik tepatnya. Nah, kemarin malam saya mengerjakannya sekitar tiga jam. Mata memanas, kepala pusing, hidung mbeler jadi satu semua, deh. Bener-bener gerah pengen cepet selesai. Ketika udah kelar dan melihat balik ke film saya, eh ternyata oh ternyata, kok, ya hasilnya tidak memuaskan alias cacat di akhir bagian. Ya, saya sebagai melankolis-perfeksionis nggak bisa terima dong. Agh.

Jadilah saya mengulang bagian yang rusak lantas menggabungkannya dengan yang lain. Saya bekerja tanpa henti dengan setekad semangat membara bahwa videonya harus sempurna untuk ditampilkan esok pagi.

Setelah kurang lebih 45 menit, kerjaan saya yang saat itu tinggal finishing untuk disave tiba-tiba macet mendadak dengan embel-embel ‘not responding and have to be closed.’ Kontan saya marah, dong. Astaghfirullah, ini tinggal sedikit lagi padahal. Haduh. Agh. Ya Allah! Hingga akhirnya tak ada jalan lain selain mengulang.

Well, mau nggak mau saya sadar. Bahwa urusan duniawi telah memperbudak saya. Melarutkan saya dalam kesibukan semu yang kalau salah-salah bisa menjerumuskan.

Saya pun terpekur. Tidak terlalu lama, sih. Karena saya mengerti benar masih ada kewajiban yang harus dibayar. Masih ada tuntutan yang tidak seharusnya saya lalaikan begitu saja.

Ketika menuliskan ini di buku harian, saya fikir mengistirahatkan otak akan me-refresh kembali kondisi tubuh saya. Jadilah kemarin langsung tidur dan bangun dengan kecemasan tingkat dewa.

Setelah sahur saya buru-buru melanjutkan pekerjaan kemarin. Yah, lebih tepatnya mengulang kembali, sih. Tapi tiba-tiba waktu buka aplikasinya, pertanda recovery projek yang lalu muncul. Saya klik-lah itu. Harap-harap cemas bahwa kerjaan kemarin masih ada.

Beberapa waktu menunggu loading saya pun bersyukur. Alhamdulillah ternyata memang masih ada. Tinggal dipoles sedikit dan di-render. Selesailah sudah. Bener-bener nggak terduga :’)

Yah, memang tak ada alasan untuk tidak mencintai Tuhan.

***
Sidoarjo, 18 Juli 2013

Sekolah Oh Sekolah

“MIPA kok jelek. Mau jadi apa?”

“Apa? Kamu mau jadi anak Bahasa? Bakal kerja macam apa?”

“IPS? Buangan anak IPA, ya?”

“Sekolah di situ? Kok mau? Fasilitasnya nggak lengkap. Guru-gurunya makan gaji buta semua.”

“UNAS-nya bagus? Ah, tradisi. Pasti dapet bocoran.”

“Gimana masa depan kamu kalau rapor sekolahmu aja segini?”

“Papa maunya semua nilai kamu SEMBILAN. SEMUA.”

“Sekolah swasta? Sekolah pinggiran? Hati-hati jadi pengedar narkoba…”

“Gimana ulanganku bisa dapet bagus kalo guruku aja killer?”

“Buat apa belajar fisika kalo aku nanti jadi penghitung uang, hah?”

“Buat apa belajar alga—hewan yang nggak pernah kita lihat—reproduksi jamur, ngapalin nama latin hewan…ASTAGA AKU KERJA NANTI NGGAK MUNGKIN DITANYAIN HAL KAYAK SEMACAM INI.”

“Sebenarnya aku sekolah buat apa sih?” Continue reading “Sekolah Oh Sekolah”