Everything Has Changed

“Lagi ngapain?” Tanya seseorang dari balik punggungku. Aku yang sudah tahu empunya suara bariton itu mengabaikannya. Berfikir bahwa tidak ada gunanya meladeni dia yang kerap bertanya padahal jelas-jelas tahu apa yang tengah kutekuni.

Dalam satu gerakan cepat, ia hempaskan diri duduk di samping kananku tanpa lebih dulu membersihkan tempatnya. Kini matanya tengah mengamati sesuatu di pangkuanku. Sejenak ia terpekur. Diam membisu  menatap jemariku menari. Memoles ruang gelap di beberapa titik. “Dia lagi?” Serunya tak percaya. Kurespon pernyataannya dengan sesimpul senyum.

Kenapa sih harus itu-itu aja yang jadi objekmu? Kekurangan inspirasi? Coba lihat sekitarmu. Dari sini aja aku bisa menangkap indahnya senja kota,” Tanyanya gusar.

Aku tak menjawab juga tak peduli. Sesuatu dalam hati bahkan menuntut agar dia pergi. Mungkin karena jenuh menunggu, akhirnya lelaki di sampingku ini menarik dirinya menjauh lantas merebahkan diri memandang langit biru.

“Padahal, ya, di luar sana aku lihat seniman selalu mengeksplor dirinya dengan segala macam benda yang ada di sekitarnya. Nggak kayak kamu. Mimpi jadi seniman kok malah stuck di satu objek aja,” sambarnya lagi. Jantungku berdesir. Bisa kurasakan tanganku memegang  pensil gambar kian kuat. Ingin rasanya menyumpal mulutnya dengan kertas saat ini juga. Kamu nggak tahu apa-apa, batinku.

“Kalo kurang inspirasi–”

“Justru kamu inspirasiku,” potongku gerah seraya menghentakkan pensil di ubin tempatku duduk. Kutatap matanya lekat-lekat. Tak menunggu responnya, aku berucap, “Kamu nggak mau aku gambar ini lagi? Oke, akan kujalani,” tambahku menaikkan volume suara seraya meletakkan tumpukan kertas di pangkuannya. Lembar-lembar kertas berilustrasikan objek sama dalam beragam gaya. Dia.

Tapi matanya tak berpaling.

Apa, sih maunya? Selama ini aku selalu berusaha menjadi teman terbaik untuknya. Aku juga mendengar nasehatnya dan melakoninya. Sekarang, ketika semua sudah tak bisa kutahan lagi apa aku masih harus berdiri–membiarkan rasa yang terus menggerogoti diri perlahan buatku mati?

Secepat mungkin kupungut barang-barang yang tercecer di sekitarku. Kemudian beranjak berdiri tapi mendadak tangannya mencengkram pergelangan tanganku. “Jangan. Tolong jangan pergi,” pintanya pelan. Mata kami saling berserobok beberapa saat. Tapi aku tak bisa menikmati detik ini.

Aku malah mendapati hatiku terkikis semakin perih mengetahui bahwa aku bukan bersama orang yang seharusnya.

Mungkin dulu aku sahabatnya, seseorang paling dekat baginya, tempat menampung masalahnya. Namun ketika kini ia tiba-tiba telah memiliki wanita di balik bayangnya yang tak peduli waktu akan selalu ada untuknya, apa aku masih bisa berada di posisi ini?

“Everything has changed,” ucapku singkat kemudian pergi menyusuri tangga gedung dan tak pernah menoleh lagi.

***
Sidoarjo, 16-07-2013
Lagu ini selalu saya putar ketika playlist WMP(Windows Media Player) terbuka. Such an endless song for me :mrgreen:
Anyway, ini flashfiction…gagal. Cuma dibuat dalam waktu satu jam. Ha! Swt, ya. Penting kan nulis 😆

Jatuh Cinta Sendiri

“mencegah rasa kasih itu tumbuh nyatanya sakit lantaran bagian paling tulus dari diri kita tak bisa dipaksa berpura” -Ruri Alifia R

“Perasaan suka itu anugerah. Alhamdulillah kan kalau masih bisa ngerasain itu. Nggak ada yang salah kalau kita ‘suka’ seseorang. Jalani aja. Lagain rasanya nggak kita minta kan? Itu tumbuh sendiri tanpa kita sadari sebelumnya.” -Nabila Khoiru Nisa @yelyeahlalak

Sebut saja dia lelaki. Hah, memang nyatanya ialah lawan jenis yang nanti kan mendampingiku hingga penghujung senja. Kau bisa menganggapku tertarik padanya di ceritaku kali ini. Betapa tidak, tak mungkin kan ku rela meluangkan waktu tuk mengetikkan kata demi kata dari interpretasi hati kalau nyatanya ia bukan orang spesial di hidupku? Ya, singkatnya begitu.

Continue reading “Jatuh Cinta Sendiri”

#15HariNgeblogFF2 – 10th – Aku Kembali

#15HariNgeblogFF2 - 10th - Aku Kembali
#15HariNgeblogFF2 – 10th – Aku Kembali

Bagaimana kondisimu sekarang? Sehatkah? Bahagiakah?
Apa kau masih mengingatku? Kekasihmu yang dua tahun lalu meninggalkanmu?
Apa kau masih sering bertandang kemari? Ke bangunan tua di jantung kota pahlawan ini?
Shandy.. Banyak sekali yang ingin kupertanyakan padamu.

Shan, aku kembali. Aku telah berada di sini. Di depan gedung bangunan zaman penjajahan Belanda, tempat kita bertemu tuk pertama kali. Kau tahu? Aku telah menunggu hari ini sejak lama. Sejak aku meninggalkanmu. Sejak kita berpisah.

Kiranya sudah 2 tahun-kah? Ya, selama tujuh ratus tiga puluh hari itu aku merindumu. Selama seratus empat minggu itu aku mencemaskanmu. Selama dua puluh empat bulan itu aku tak tahu kabarmu. Selama itu pula, hatiku seolah terkikis pelan hari demi harinya.

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 10th – Aku Kembali”

#15HariNgeblogFF2 – 9th – Genggaman Tangan

#15HariNgeblogFF2 - Genggaman Tangan
#15HariNgeblogFF2 – Genggaman Tangan

“Masih kuat?” Tanya masku selepas kami menuruni dua-ratus anak tangga tuk mencapai Air Terjun Tawangmangu. Tak terelakkan, sebagian besar tenagaku terkucur habis bermain siapa-yang-cepat-duluan-sampai dengan menuruni beratus anak tangga di tempat ini. Tapi pemandangan di hadapanku..Astaga, indah sekali. Nafasku yang sebelumnya memburu tiba-tiba melancar melihat pesona alam di hadapanku yang magisnya sanggup mendamaikan hati ini.

Air terjun setinggi delapan puluh meter itu luar biasa. Aku baru pertama kali melihat sumber mata air setinggi ini. Batu-batu besar yang tertata artistik di bagian bawahnya melengkapi keindahan ini. Tumbuh-tumbuhan di sisi-sisi air tersebut nampak segar. Udara di kawasan ini-pun terasa sejuk. Benar-benar tempat yang tepat untukku me-charge-diri kembali.

“Sit? Nggak usah sampe speechless gitu dong, ngomong aja kalau capek. Pake ngeles sambil liat air pula. Pancene!” Ujar abangku setengah berteriak seraya mengacaukan rambutku. Akh, dia merusak momen imaji damaiku barusan. Mengapa ia tak ikut menikmati pemandangan ini saja?

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 9th – Genggaman Tangan”

#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai

#15HariNgeblogFF2 - Ramai
#15HariNgeblogFF2 – Ramai

Jalan Malioboro. Sekitar setengah jam aku berdiri di pinggir trotoar. Sudah tiga-puluh menit kumenunggu abangku di sini. Tadi pagi ia berjanji padaku tuk menjemputku selepas kuliah. Tapi sekarang, ia bahkan me-reject panggilanku yang-sepertinya sudah berpuluh jumlahnya. Abangku.. Teganya kau membiarkan adikmu sendiri menunggu di sini? Terpanggang pijarnya mentari yang kini memaksimalkan sinarnya?

Aku kembali menekan tuts-tuts telefon genggamku. Ini telefon ke-25-ku pada abangku itu. Tombol call kupencet. Buru-buru kuangkat ponselku mendekat telinga. Tepat saat ponsel tertempel, aku merasa tas berkait menabrak punggungku dan..

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai”

#15HaringeblogFF2 – 7th – Biru, jatuh hati

#15HariNgeblogFF2 - Biru, jatuh hati
#15HariNgeblogFF2 – Biru, jatuh hati

“Biru! Ayok ke laut!” Teriak Sabah di ujung sana memanggilku. Hooam. Ini masih jam berapa? Jam 4 pagi, bukan? Aku masih-sangat mengantuk. Tapi hidup tanpa lelah menuntut. Apa yang bisa dilakukan oleh nelayan muda sepertiku selain meluat mencari ikan tuk menyambung hidup?

“Biru! Lama sekali! Ayo, cepat! Sabah sudah  di perahu, tuh!” Ucap Akhsan membuyarkan lamunanku. Hoaam. Aku menanggapinya dengan uapan manusia yang-masih-baru sadar dari tidurnya lalu dipaksa tuk berjalan ke perahu demi melaut.

“Bisa cepet dikit ngg-Lho, ngapain dia di sini?” Perintah Akhsan yang menyuruhku mempercepat langkah, tiba-tiba terganti oleh pertanyaan lain yang mau-tidak-mau membuatku menolehkan kepala ke arah yang ditunjuknya. Dan aku mendapati seorang gadis tengah mempersiapkan alat-alat lukisnya di bibir pantai. Gadis berambut hitam yang sering kami lihat setiap pagi. Bukan, yang sering kuperhatikan setiap subuh seperti ini. Bukan kali pertamanya gadis itu melukis di sini. “Bir, dia bukannya nggak bisa ngomong, ya?”

Continue reading “#15HaringeblogFF2 – 7th – Biru, jatuh hati”