Tentang Teman

tentang teman(2)
Mungkin kata-kata di atas itu benar-benar naif dan kekanakan yang pernah terangkai. Karena nggak mungkin hidup tanpa teman. Nggak mungkin hidup tanpa bercerita. Teman beraarti luas bisa keluarga atau orang lain. Untuk urusan bercerita, sih, tergantung, ya. Ada orang yang bisa dengan mudahnya beradaptasi lantas bercerita ngalor-ngidul tentang apapun dalam hidupnya. Ada yang tarik-ulur. Ada juga pribadi penutup rapat perihal masalah pribadinya. Semua, toh sah-sah saja; tergantung pada manusianya. Namun sebenarnya seberapa penting arti teman?
Pintu dibuka. Decitnya menggelitik telingaku yang sedari tadi mendengar senyap. Oh, dia. Teman yang setelah sekian lama mendekam satu atap denganku.
Dari ekor mataku, dia hanya melirik sekilas. Menatapku menekuri layar laptop tanpa bertanya lagi. Belum sempat kutanya mengapa ia pulang selarut ini, temanku itu malah sudah terburu menghempaskan diri di atas kasur memejamkan mata.
Sekejap suasana menghening. Hanya terdengar bunyi jari-jariku yang mengetik tuts keyboard dalam kamar kami.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Oh, ini saatnya.

“AAAGH! Sebel sebel sebel! Tadi masa di kampus Si Dolores malu-maluin aku? Di depan kelas lagi! Dia kira aku siapa, coba? Asal marah-marah, nggak pake sebab. Dia lagi gila kali, ya? Lagi PMS? Mana tadi ada doi. Tugas besok juga belum kelar. Duh, kenapa hari ini sial banget, sih? Agh!” Serunya mencecar tanpa bisa dicegah. Sontak aku membalikkan tubuh menghadapnya. Dia masih telah duduk dengan kerucutan mulutnya juga dua manik yang berkilat marah.

Aku–yang bahkan bukan pelaku ceritanya–menghembuskan nafas besar. Dia memang seperti ini. Sering berperilaku begini. “Terus? Bukannya Dolores emang tukang marahin orang?” Jangan salah. Nama Dolores yang tersebutkan di sini bukan guru Hogwarts dalam novel Harry Potter, lho. Tapi merujuk pada salah satu dosen kami yang perangainya jauh lebih buruk ketimbang tokoh fiksi tersebut.

“Ya, iya. Tapi kan–” Lantas dia melanjutkan kalimat demi kelimat seperti memberondongkan peluru pada tawanan perang. Luncurannya sangat lancar, runtut, penuh emosi hingga menarik empati. Empatiku tentunya. Heran, mengapa aku tak pernah bosan, ya, mendengar keluhannya setiap hari?

“Nggak bisa gitu juga, lho. Dia kan udah terkenal–” Lantas aku membalas ceritanya dengan petuah-petuah yang anehnya selalu spontan terlontar kala ia berkeluh kesah. Diselingi dengan analogi konyol tentunya. Seperti: ‘Jika kamu jadi naga yang selalu marah, kamu pasti nggak akan sungkan memilih area untuk menyemburkan api, kan? Hayo?’ Ralat. Maksudku, analogi garing.

Lagi-lagi dia tertawa. Kuulangi, dia selaly tertawa mendapati analogiku yang sejujurnya tidak kumaksudkan untuk menghiburnya. Hey, aku sedang memberi filosofi, koplak!

“Ampun. Kapan, sih, selera humor kita naik satu level, aja? Dari dulu ngomongin naga, elang, monyet kayak kita udah kenal mereka lama banget, aja,” responnya lantas tertawa lagi. Mau tak mau aku pun tergelak. Dasar, sarkastik.

“Cukup. Sekarang ceritain harimu, dongs!” Tanyanya lantas melipir di pinggir kasur menatapku antusias. Sial, bagian inilah yang paling tidak kusukai.

Tapi anehnya, aku pun bercerita juga. “Ya… Ya… Mau bahas apa, coba? Alhamdulillah hari ini komikku dimuat jurnalis kampus. Terus mereka juga nawarin aku untuk kerja sama lebih lanjut. Terus–” Belum sempat kumenggenapi kisah, dia mendahului responnya. Respon gelak tawanya.

“Kamu tuh, ya. Komik aja dari dulu. Lebih personal, dong! Hiih! Gimana, sih? Gemes tauk!” Mau tak mau aku tersipu. Lantas yang terjadi kemudian adalah aku tak tahu harus berbuat apa. Maksudku, bercerita secara lisan sungguh bukan keahlianku. Hingga bukanlah suatu yang aneh apabila dia memang tidak tahu keseluruhan kisah hidupku. Memang begini lalu mau diapakan lagi?

“Em. Ya, pokoknya tadi ketemu dia di perpus. Aneh aja tahu dia baca. Terus aku pergi. Udah.” Benar bukan penilaianku terhadap diri sendiri?

Seolah tahu kelemahanku dia lantas menarik diri. “Ihiy! Pasti nggak kamu sapa, ya? Ah, gocik¹, ah! Besok disapa, lho!”

Aku melengos.

Sejurus kemudian, dia pamit untuk tidur dan berpesan padaku untuk melakukan hal serupa. Malam memang kian larut tapi dua cangkir kopi yang tak berapa lama baru kutandaskan tengah bekerja kuat-kuatnya sekarang. Tak salahlah, jika aku tidak mengindahkannya.

“Semoga besok aku sama doi bisa dimalu-maluin bareng, ya. Semoga kamu sama dia besok ketabrak atau apa kek. Pokoknya makin deket. Hahaha,” ucapnya yang langsung mengundang lemparan bantal sandaranku. Lantas ia tertidur sementara aku masih di hadapan laptop menulis kisah ini.

Jadi, apa kita butuh teman? Apa kita butuh tempat bercerita? Apa kita butuh wadah berkeluh kesah?

Menurutku, sih, semua pertanyaan terjawab ‘iya.’ Sekalipun kamu adalah orang paling tertutup di dunia yang enggan menceritakan penggalan jejak langkah.

*

Gocik¹ = Takut dalam bahasa jawa medok

Sidoarjo, 09 Agustus 2013
Terima kasih untuk setiap kawan yang mengetahui ‘tarik-ulur’ saya.
Hihihi

Realita Berkata…

large (4)

Percakapan Nyata Antara Saya dan Beberapa Orang Lain Yang Tak Perlu Disebutkan Namanya

X : Nanti rencana mau kuliah mana?

Y : Hm… Pengennya, sih, UI fakultas sastra.

X : Oh, sastra… Sastra Inggris? Jepang?

Y : Nggak. Sastra Indonesia.

X : Hah? Ngapain belajar sastra Indonesia?

Z : Iya, nggak tau itu, Nya, anakku. Padahal dia rangking 1 di kelasnya.

X : Smanis rangking satu? Wah, nggak mungkin main-main, tuh. Tapi… Sastra? Yang bener aja? Paling juga upluk-upluk kerjanya di Indonesia.

Y : Oh, gitu, ya?

X : Iyalah. Mending kamu belajar sastra luar negri terus bawa budaya Indonesia ke luar. Sastra Indonesia, lho… Ngapain terus?

Y : Ya, pengen aja. Suka nulis soalnya.

X : Jadikan hobi saja. Kuliah masuk ITB belajar teknik. Duh, mending jangan Sastra Indonesia, deh. Jangan!

Z : Tuh, non. Dengerin apa kata tante.

X : Apalagi rangking satu-nya smanis. Masuk sastra Indonesia, ya… Susuk!

*

Selepasnya saya hanya menelan ludah terpekur beberapa saat mengingat selintas percakapan tadi. Ah, saya masih tak habis fikir. Nyatanya, masih banyak orang meremehkan salah satu atau dua profesi di dunia ini dengan alasan tak logis. Mengapa, ya, selalu ada beberapa hal yang dikesampingkan dan selalu dinilai tidak lebih berharga ketimbang yang lain? Toh, jika semua dilakukan dengan tekun serta profesional hasilnya hanya satu, jelas; kesuksesan di depan mata.

Sidoarjo, 1 Agustus 2013
Yey, minggu depan lebaran!

Sekolah Oh Sekolah

“MIPA kok jelek. Mau jadi apa?”

“Apa? Kamu mau jadi anak Bahasa? Bakal kerja macam apa?”

“IPS? Buangan anak IPA, ya?”

“Sekolah di situ? Kok mau? Fasilitasnya nggak lengkap. Guru-gurunya makan gaji buta semua.”

“UNAS-nya bagus? Ah, tradisi. Pasti dapet bocoran.”

“Gimana masa depan kamu kalau rapor sekolahmu aja segini?”

“Papa maunya semua nilai kamu SEMBILAN. SEMUA.”

“Sekolah swasta? Sekolah pinggiran? Hati-hati jadi pengedar narkoba…”

“Gimana ulanganku bisa dapet bagus kalo guruku aja killer?”

“Buat apa belajar fisika kalo aku nanti jadi penghitung uang, hah?”

“Buat apa belajar alga—hewan yang nggak pernah kita lihat—reproduksi jamur, ngapalin nama latin hewan…ASTAGA AKU KERJA NANTI NGGAK MUNGKIN DITANYAIN HAL KAYAK SEMACAM INI.”

“Sebenarnya aku sekolah buat apa sih?” Continue reading “Sekolah Oh Sekolah”

Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?

Sembunyi. Delapan huruf ini merupakan jalan keluar bagi kita yang mungkin tengah terjepit di suatu kondisi tegang. Banyak jenis sembunyi di dunia ini. Apakah itu sembunyi dari masalah, sembunyi dari realita, sembunyi karena tak rela dan yang paling mengenaskan adalah.. Sembunyi dari diri sendiri. Mengapa manusia terkadang melakukan hal tersebut? Banyak faktor. Kendati memang, ada kalanya di satu titik ketika kita benar-benar tidak tahu-menahu akan problematika di hadapan mata, jalan satu-satunya yang dapat kita lakukan hanyalah sembunyi dan berdiam diri.

Continue reading “Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?”

Kalah itu Akhir Yang Memenangkan :)

 

Jurnalis Blog Competition 2k12 – Best Writer Daily
Jurnalis Blog Competition 2k12 – Best Photo daily – Fachrizal Abbiyuansyah

Jelas nggak korannya ? :))
Tak beruntungnya, cuma bisa mempersembahkan dua kemenangan kecil itu buat sekolah. Kalah sama tim mading dan Wallpaper sekolah saya yang dapet medali perunggu sama perak.
Jujur, sangat-sangat-sangat-sedih-sekali.
Mengapa?
Continue reading “Kalah itu Akhir Yang Memenangkan :)”

Remaja Tanpa SIM

Remaja Tanpa SIM
Remaja Tanpa SIM
sumber foto

 *Postingan curhatannya panjang nih-__-v*


Saya nggak mau naik sepeda motor lagi.

Udah jelas banget nggak sih kalimat di atas? Iya bener. Saya trauma.

Seorang remaja tanpa SIM hanyalah seorang ‘remaja’ tanpa SIM. Ya, itullah saya. Remaja. Garis bawahi saja kata itu. Wakil dari kata-kata labil, punya penasaran tinggi, agresif dan ngawur. Hmm.

Hari ini, kengawuran saya diuji. Apakah saya bisa tetep mempertahankan kengawuran saya atau tidak. Yuups, bener sekali. Sekitar jam setengah 5-an tadi, saya jatuh. Jatuh dari sepeda motor dan ngguling(?) gimana ya mendeskripsikannya…

Jadi, gini..

Continue reading “Remaja Tanpa SIM”

Rumah Baruku Berbagi Kebahagiaan {X3-SMANISDA}

Assalamualaikum 🙂

hallo kawan wordpie 😀 saya kembaliii ! wuhuuuuuuuuuuuuy ! setelah sekian lama menunggu kesempatan senggang kayak gini…. akhirnya dataaaaaang !

abis ngechat panjang lebar nih sama kak sianak desa dan obrolan pun sampe kemanamana. sampai pada akhirnya post ini terbentuk. semuanya terinspirasi dari kakak yang kini tengah berdomisili di aceh itu. *kak jangan GR 😛 *

jadiii, saya InsyaAllah bakal sungguh-sungguh berkomitmen bakal ngurusin blog ini lagi. Sekedar pemanasan, saya lagi ngelanjutin cerbung fanfiction saya yang Cody punya. dan ikut beberapa kompetisi nulis. sekarang nih mau cerita gimana SMA saya sekarang :mrgreen:

SMANISDA X-3 :*

x-3 SMANISDA 2012/2013 | WE ARE FAMILY
x-3 SMANISDA 2012/2013 | WE ARE FAMILY

Continue reading “Rumah Baruku Berbagi Kebahagiaan {X3-SMANISDA}”

Jatuh Cinta Sendiri

“mencegah rasa kasih itu tumbuh nyatanya sakit lantaran bagian paling tulus dari diri kita tak bisa dipaksa berpura” -Ruri Alifia R

“Perasaan suka itu anugerah. Alhamdulillah kan kalau masih bisa ngerasain itu. Nggak ada yang salah kalau kita ‘suka’ seseorang. Jalani aja. Lagain rasanya nggak kita minta kan? Itu tumbuh sendiri tanpa kita sadari sebelumnya.” -Nabila Khoiru Nisa @yelyeahlalak

Sebut saja dia lelaki. Hah, memang nyatanya ialah lawan jenis yang nanti kan mendampingiku hingga penghujung senja. Kau bisa menganggapku tertarik padanya di ceritaku kali ini. Betapa tidak, tak mungkin kan ku rela meluangkan waktu tuk mengetikkan kata demi kata dari interpretasi hati kalau nyatanya ia bukan orang spesial di hidupku? Ya, singkatnya begitu.

Continue reading “Jatuh Cinta Sendiri”

Graduate♥

Assalamualaikuum 🙂

Hollaa !

saya kembali membawa posting kedua untuk minggu ini ~(‘o’~)(~’o’)~ *dancingdancing* sepertinya saya bakal update blog ini dua kali seminggu. yeah, that was no a big deal tough.

Alhamdulillah.. Alhamdulillah saya sudah lulus dari SMPN 1 Sidoarjo. sebuah sekolah menengah pertama di Jawa Timur yang tepatnya berada di Kabupaten Sidoarjo dan spesialnya lagi, sekolah saya ini sudah akan menjadi SBI ! mwihihi. SO PROUD.

Here it is the SKHUS-Surat Keterangan Hasil Ujian Sementara 😀 *sebelnya, ada kesalahan pengetikan nama yang kedengeran anhe kalo diucapin-__- coba carii :D*

Continue reading “Graduate♥”