[21] Usai, sih. Tapi masa iya cukup segini?

There will be on point where you have completed something and feeling there’s no other to do anymore. Faktanya, aku sedang di fase itu. Masih menuju complete, sih. Tapi dengan segala macam jerih payah, rasanya I have done this.

Ini buruk. Buruk banget ketika ujung-ujungnya semua aktivitas yang bikin candu nggak bisa nikmat lagi. Buruk kiranya kalau kita nggak punya semangat lagi. Terlalu munafik berfikir apa yang kita perjuangkan pantas untuk berhenti.

Youngsters seperti kita, punya banyak hal yang bisa digali. Waktu yang terlampau panjang untuk bisa dibagi-bagi. Kesempatan melimpah ruah yang siap untuk di-‘eksploitasi’. Pertanyaanya: Apa kita cukup kuat menahan diri supaya nggak bermalas-malasan?

Rasulullah pernah bersabda bahwa sekuat-kuatnya musuh untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Bagaimana kerasnya kita melawan rekor yang pernah kita cetak. Bagaimana supaya kita mampu mengelola rasa cepat puas yang hinggap di diri masing-masing.

Sebenarnya nggak ribet, ya. Cuma how we set our mind and visions gitu, lho yang bikin selalu puter ulang otak and deciding what our top-priority. Karena sesungguhnya, Allah pun juga sudah berkata bahwa kita adalah khulafaurrasyidin bagi bumi kita—termasuk diri sendiri. Masa, sudah digariskan Allah sedemikian nggak membuat kita tergerak untuk terus produktif berkarya?

Terkadang, kita lupa. Banyak orang yang sedang mendoakan kita. Berharap di tiap nafas kita, ada manfaat tercurah dan berkah penyelamat dunia maupun akhirat.

Seringnya, kita pura-pura nggak menyadari ada dua orang paling berarti yang senantiasa menunggu kepulangan kita ke rumah. Merindukan cerita-cerita panjang kita selayak kecil dulu. Tanpa peduli, apa yang telah kita raih. Tanpa ambil pusing, apakah sesuatu yang kita perjuangkan berhasil atau nggak.

Mereka ada.

Allah telah mengirimkan mereka sebagai harta tak ternilai yang seringnya kita abaikan.

Hanya ada satu kata yang mampu menggambarkan semua: Alhamdulillah. Dan satu kata pelengkap: Astaghfirullahaladzim. Syukur-syukur sekarang langsung ambil wudhu, shalat, berdoa, dan menanyai kabar mama papa 😀

Hayo, brummies yang merantau sudah telepon orangtua belom? 🙂

 

(.)Jakarta, 05 April 2016
(.)Alhamdulillah sempat di-upload juga.

[19] Beauty of Being Naked

Beauty of Being ‘Naked’

Assalamualaikum ya akhi, ya ukhti!

It’s been a long time~ I’ve been coming back home~

Melihat postingan terakhir saya tanggal 20 Januari 2016 terus sekarang udah tanggal 18 Februari aja. Nyaris satu bulan, fiuh. By the way, rasanya kagok….. Mematut diri di depan layar laptop setelah nggak kebiasa menulis tiap hari lagi. Honestly, jemari kesendat-sendat mengikuti pikiran yang ribet memilih kata untuk disampaikan. Hahaha.

Tapi bukan itu maksud saya menulis postingan ini.

Sesungguhnya sih, saya juga nggak tahu mau ngomongin apa. Saya cuma kangen sama blog ini. Blog yang ternyata punya pembaca juga. Which is some of them are my friends. Malu. Bener-bener malu.

Menulis itu mudah. Tinggal mengetikkan apa saja yang terlintas dalam akal. Susahnya itu, bagaimana membuat apa yang telah kita jelentrekkan satu persatu jadi presentable dan valuable for public consumption.

Satu lagi, susahnya menulis; adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk rela being ‘naked’ in front of people. Naked dalam artian hasil buah pikiran kita yang bakal kebaca masyarakat. Being a writer is one of the embarrassing profession. Because what you write is what you think. What you think is your own perspection which is unique and presenting your soul precisely.

Kadang itu yang bikin saya nggak percaya diri tiap ada temen komen via dunia nyata. Knowing other realize who you really are tuh memang ngelegain tapi kalau belum siap juga ngeribetin (Astaga, maafkan bahasa saya yang bingungin, hihihihin).

But those are the beauty of writing! Itu something yang addicted. Membagikan apa yang kamu percaya dan apa yang kamu tahu jadi kesenangan tersendiri, loh. Apalagi setelah tahu feedback brummies (kalo ada :p) nunjukin kurva positive dan bikin semangat balik nulis lagi (seketika keinget UAS yang tinggal empat hari lagi……………).

Temen saya bilang:

Blogmu bagus, Rur! Apalagi yang seneng-seneng! Waktu kamu keterima desain ITS, terus dari SMP ke SMA, apiklah! Tapi kok yang baru-baru sedih-sedih kabeh, yo? Tak skip akhirnya yang sedih-sedih….

Saya cuma bisa:

Hahahahahaha……………. *hening sejenak* 🙂

One more beauty about writing: you can not deceive people mind. Yang kamu tulis, ya itu: kamu. Sekalipun apa yang kamu tulis nggak sesuai dengan situasi, itu konsekuensi. Kata-kata kamu yang bakal melekat di pikiran pembaca. Pemikiran kamu yang bikin orang aware, notice dan opening mind up.

Yuk, produktif dan istiqomah dalam menekuni kegiatan kita, brummies! 🙂

“Meski hari libur, hindari bermalas diri. Tetaplah produktif dalam berkarya dan beribadah. Lalu kapan istirahatnya? Percayalah, tempat istirahat terbaik adalah surga.”

-Ahmad Rifa’I Rifan dalam buku Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk.

 

Jakarta, 18 Februari 2016
Di sela-sela Ujian Akhir Semester Ganjil

[18] A while only, kok. Hopefully.

In the end of the day. Ketika akhirnya bisa punya waktu senggang, I feel clueless.

Entah mengapa seolah-olah tuntutan dari dosen, organisasi, komunitas, orangtua, itu do not make me feeling really alive. Kayak, that will be done soon but I’m taking breath for a while here. A while yang sebenernya sama sekali nggak produktif.

Kita mungkin bisa lelah. Bisa merengek pada Tuhan supaya teringankan segala beban, terbebaskan dari amanah, terselesaikan dari masalah, apapun untuk membuat nafas kita melega. Tapi kita juga perlu tahu bahwa Tuhan nggak sedang menunggu. Moreover, time. Cih, mana mau waktu menunggu?

Mengutip dari Kurniawan Gunadi, bahwa kita adalah makhluk-makhluk yang sedang menunggu. Menunggu apa hayo? Kematian. Kita sedang dalam perjalanan panjang menuju gerbang pengantar keabadian(Wuusss, bahasanku, ya).

Sesungguhnya, I never think about why we should meet up people and end up waving them—saying goodbye like it was the worst thing. Atau ketika, meeting the facts that we are all connected. Baik itu pergaulan, destiny, tujuan, atau bahkan unexpected thing. Maksudku, mikir kayak gitu nggak pernah bakal ada habisnya gitu. Selalu ada dua sisi. Sedih atau bahagia. Mau yang mana, tergantung kita. Apapun pilihannya, selalu berharap yang paling indah.

But always. I remember Allah has His path for me—even every single of us—in every second we taking breath and stepping something. He always does.

..Dan jangan lupa. Bukankah dari sekian banyak peristiwa yang telah kita lalui hanyalah ilusi dari ladang penanam pahala semata? Because life ‘is only’ a boat. Not even an Island we have to reach for the final arrival.

Just make sure every time we spend bermanfaat, yhaa. Hihihi.

Selamat rehat. Semangat berangkat, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 20 Januari 2016

[17] WHAT DOESNT KILL YOU MAKE YOU STRONGER

Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))
Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))

“Aduh, maaf banget ya. Nggak jadi bisa datang. Tak doakan semua bisa sukses, guys! See you on top!”

Mungkin kalimat di atas merupakan kalimat doa yang baik, ya. Saling berharap supaya teman-teman sukses dan jadi ahli di bidangnya masing-masing.

But. I. Hate. That. Really.

Menurutku, apa yang sudah tertera di atas sama sekali nggak mempererat tali persaudaraan. Cuma formalitas. Ungkapan yang seolah-olah harus diucapkan ketika sudah sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing. Kalimat pelarian diri dari silaturahmi yang hakiki.

But there is the time dimana kata-kata itu memang harus diucapkan. Ada saat ketika kondisi nggak memungkinkan akhirnya membuat kita terkurung di satu kota nan jauh dari rumah, mengikhlaskan kesempatan pulang, dan melewatkan waktu yang harusnya bisa diisi temu kangen dengan teman-teman sekolah.

Akhir minggu kemarin, saya bersama Raden dan Faizal membahas seru rencana ketemuan via chat WhatsApp. Dolen, bahasa Jawanya. Mereka temen baik saya banget waktu SMA. Dulu sering belajar dan main bareng. Mereka ini dua di antara orang-orang yang buat saya bersyukur banget. Because they are crazy, kind, warm-hearted, and most important—hard to find.

Faizal deket banget karena saya sering curhat sama dia. Ngobrol apa aja nyambung—apalagi bahas masalah cinta, gilak ini temen saya udah expert banget dah di bagian situ, hahaha—dari musik sampe bahasan nggak penting pun bisa aja jadi obrolan kami. Terus dulu satu les-les an sama dia juga. Pernah banget ngerasain jadi temen sepenanggungan, seperjuangan. Faizal sekarang di Universitas Brawijaya, jurusan hukum. Jurusan yang dia pingin.

Kalau Raden, nih. Hahaha. Bocah! Temen terunik yang saya punya. Kenapa terunik? Karena dia tuh naksir sahabat saya semenjak kelas satu SMA, terus dia dulu sering cerita-sharing sama saya juga. Dan yang paling saya inget tuh waktu dia minta dibimbing belajar Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik(TPA) dalam rangka seleksinya di Angkatan Kepolisian(AKPOL). Tiap Sabtu dulu sering banget nentorin anak satu ini, sekaligus cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon. Sampai akhirnya—duh, ini bagian-bagian mengharukan—tes dilaksanakan, dia diasingkan beberapa saat lalu si bocah ini ngabarin saya via telepon untuk ngasih tahu kalau nilai TOEFL Bahasa Inggrisnya tertinggi se-peserta Jawa Timur dan nilai TPA-nya tertinggi se-Indonesia!

Alhamdulillah. Alhamdulillah.

And yes, dia berhasil masuk AKPOL :’) #tearsofjoy!

Seneng banget nggak sih rasanya jadi part of bigger thing that is success and valuable for others? Itu yang saya rasain waktu berbagi. Itu yang buat saya sangat bersyukur :’)

Kami tuh sebenernya ngerencanain tanggal 27 besok buat jalan bareng. Around Surabaya aja. Acaranya sederhana, sih. Pengennya cuma ngemall buat nonton—which is mau nemenin Raden yang belum pernah nonton sama sekali :p—terus photobox dan makan bareng.

Tapi wacana hanyalah wacana.

Saya nggak bisa pulang karena nggak bisa ngelobby dosen dan terlalu takut untuk bolos satu mata kuliah inti yang emang nggak bisa dilobby.

“Ealah, Rur. Padahal aku wes bayangno kita nonton star-wars,” kata Faizal.

“Ealah, kampret. Aku habis ini kayaknya nggak ada libur panjang,” kata Raden.

Sedih, ya? Sedih banget. Temen deket saya aja kecewa apalagi yang di sini… yang nggak bisa pulang. Tapi lebih sedih lagi saya di sini terkungkung nggak bisa ketemu mama papa dan cuma bisa ngandelin telepon untuk pelepas kangen.

“Udahlah nggak usah pulang dulu. Kuliahnya kan lebih penting. Mbak kan juga masih semester satu. Papa sama mama ini telepon kamu aja udah cukup.

Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)
Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)

Itu kata papa tadi siang, waktu akhirnya menyarankan saya nggak pulang aja. Tahulah, saya mewekan. Jadi habis papa bilang gitu, sambungan saya putusin, terus air mata tuh kayaknya lancar banget produksinya sampe nafas sesek rasanya(Saya nggak cukup cuma telepon aja, Ma, Pa!)

Saya adalah mahasiswa perantauan. Rumah terletak jauh dari pandangan, sekitar 80 km. Baru kali ini banget ngerasain kangen yang sumpah demi apapun nggak bisa ditolong kalau rasanya nggak pulang. Baru sekarang tahu gimana rindunya saya sama mama, papa, temen… Rindu rumah.

Tapi dari sini, akhirnya saya belajar. Kalau keluarga, temen masa sekolah, itu dua harta yang sama sekali nggak bisa tergantikan, sesuatu yang membuat kita jadi orang paling kaya sedunia. Karena mereka adalah sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan uang dan cuma bisa eksis kalau kita telaten merawat dan menjaga silaturahmi.

“Saya lebih memilih menabung untuk pulang kampung. Karena saya tahu umur orangtua saya nggak selama menara Eiffel atau Tembok Cina yang kalian pamer-pamerin.”

Gilak, ya. Itu quotes yang bikin saya… “Okay, ini bener banget. Okay, itu bikin prinsip berubah. Okay, itu….(speecheless).” #BaperMaksimal.

Tapi perantauan melatih kita untuk mandiri dan bisa kuat sekalipun harta paling penting yang kita miliki lagi nggak ada di samping kita. Alhamdulillah, udah bisa mengikhlaskan kesempatan untuk nggak pulang. Yah, Allah SWT pasti punya rencana yang lebih indah. Yakin banget, deh 🙂

Semoga tahun depan jatah saya pulang kampungnya bener-bener eksklusif panjang dan nggak keganggu apa-apa. Hahahaamin, ya Allah:)

Selamat liburan! Selamat berkumpul dengan keluarga, Brummies tersayang!♥

Jakarta, 23 Desember 2015 | 12:23 AM

[16] Homesick Parah!

Ciye 🙂

“Assalamualaikum?”

“Waalaikumsalam. Ada apa, Non?”

“Ma, aku kangen…..”

Kemudian nangis. Sesenggukan. Bersama. Kemudian sadar ini imajinasi belaka karena nggak sampai hati ndengerin mama nangis.

Saya lagi sakit. Panas, pusing, batuk, pilek, capek-capek, linu segala macem (macam komplikasi aja, ya. Hahahaastaghfirullah.) dan timing sakitnya ini sama sekali nggak pas karena bener-bener di pertengahan UTS. Mau belajar nggak nyaman, mau mandi airnya dingin banget, mau makan buat nelan rasanya pahit, mau keluar beli makan rasanya mager terlalu takut kalau-kalau jatoh di jalan atau gimana, semua serba salaaaah. Saya sempet curhat ke salah satu kakak tingkat yang sudah saya anggap Mbak sendiri dan dia bilang gini:

“Kalau temen-temen di kosku lagi kayak kamu gitu berarti lagi homesick, Dek. LOL.”

JDYER. 😀

Deep down inside membenarkan 100%.

Cewek itu baperan, sungguh. Sekalipun nggak menampakkan kalau lagi sama temen, siapa tahu gimana dia kalo lagi sendirian di kos, malam-malam, bikin sajadah tempat sujudnya sampe basah? (Wait-wait, I am not telling about how I am di kos, ya. Itu cuma perumpamaan 🙂 ) Apalagi kalau case-nya adalah orangtua. That’s one of the weakest point we’ve all got. Cowok juga, sih. Tapi nggak sebaper ceweklah. Because they’re strong with logic and somehow I wannabe like them too, ugh (At least separuhnya aja deh, bisa nggak ya…).

The point is, homesick itu sama sekali nggak enak. Annoying. Uncomfortable. Bikin uring-uringan. Bikin galau. Bikin alay(Nggak, ini nggak kok haha) BUT dari homesick, finally you will realize how important your family are. Seunik, segila, seflat apapun keluarga kamu, they are still your one and onely lovely family you love the most whom you’ll never let go of.

Bagi siapapun kamu yang merantau, telepon orangtua kamu rutin tiap hari, ya. Dua-duanya! Jangan pilih kasih! Hahaha.

Yang lagi homesick….yaudah lah ya, lanjut aktivitas masing-masing. Yang penting pastiin tanggal pulang kampungnya kapan. Kata David Archuleta gini brummies, “Show me the good things come to those who wait…

Makanya, sabar! :p (Ngomong ke diri sendiri)

 

Jakarta, 12 Desember 2015
In the middle of belajar kalkulus, uhuk.

[14] Seragam dan Segenggam Harapan

Satu B kompak selalu, ya! :)
Satu B kompak selalu, ya! 🙂

Have you ever thought about the essential of wearing uniform? Selain untuk pemerataan status sosial murid atau mahasiswa, tentunya. Karena jauh daripada itu, menurutku esensinya lebih daripada itu.

Seragam mendefinisikan dimana kamu sedang belajar. Jalur keahlian apa yang kamu pilih. Tanggung jawab sebesar apa yang kamu pikul. Karena belajar atau menuntut ilmu nggak sesederhana yang dibayangkan. Tugas kita bukan cuma belajar, berorganisasi atau aktif dalam kepanitiaan. Lebih daripada itu. Kata guru saya waktu SMA dulu,

“Tugas kalian saya kasih nilai 60, 70, 80, 90, 100 sekarang terserah saya. Kalau saya mau, bisa saja kalian request mau nilai berapa. Bisa saja. Tapi bukan itu sesungguhnya tugas kalian. Tugas nyata kalian adanya di sana. Masa depan dan masyarakat. Bagaimana nilai-nilai benar-benar kalian aplikasikan atau bagaimana nilai-nilai tersebut sudah tidak ada artinya sama sekali.”

That’s it.

Universitas, Sekolah Tinggi, atau apapun instansi tempat kamu menuntut ilmu adalah media. Miniatur dari masyarakat sesungguhnya. cuma sepersekian persennya saja. Tapi kalau sudah terlatih di dalam media tersebut, inshaAllah siap menghadapi yang lebih berat.

Moreover when you know your education been paid completely or partly or one-fourth only by money citizen. Berasa punya utang, ya? Utang yang baik tentunya.

‘Sudah dibayarin, masa cuma belajar saja? Nggak aktif sama sekali? Lalu mau ‘membayar’-nya dengan apa? Bakti masa depannya akan seperti apa?’

Bagaimana hal tersebut malah membuat semangat semakin terpacu. Terlebih lagi, di sana… Di kampung halaman orangtua tercinta mendoakan dari jauh. Meletakkan harapan-harapan beliau di pundak kita.

How I miss mamski so much. Jadi pengen meluk mama #baper.

Ada satu hal lagi yang waktu itu disampaikan guru saya,

“Kalian harus ingat, anak-anak bukan saya yang beri kalian pertanggung jawaban nilai tapi Dia. Dia yang berada di atas kita semua, mengawasi segala gerak-gerik kita setiap saat. Allah SWT.”

Ini temen kos :D
Ini temen kos 😀

Semangat mengemban tugas, wahai para penuntut ilmu se-Indonesia Raya! Selamat mengenakan seragam dan menggenggam banyak harapan, calon statisti STIS! #MoveOnPDA! 🙂

 

Jakarta, 03 November 2015

[13] 31 Oktober 2015

tumblr_lulgxlFDbE1r5ssqlo1_500_large

Nggak kerasa banget sudah di penghujung bulan, ya. Nggak nyadar juga dua bulan lagi bakal berganti tahun(tapi tahun baru Islam sudah bergulir kok, haha). Uhuk. Gimana, nih progress di bulan kesepuluh? Apa target-target sudah terlaksana?

Here, I am the one who will answer: not yet. Mwahaha. Malu. Sungguh. Karena memang ada beberapa hal yang terus-menerus saya pending, skip, lupakan, abaikan, buang ke laut, umpetin di kolong tempat tidur—apapun—sampai tahu-tahu aja sudah numpuk. Tahu-tahu saja melihatnya bikin panas mata, bikin gemes hati, bikin sedih pikiran.

Kata Wahyu Aditya: Ilmu otak kadal banget, kamu! Thinking we have a lot of time and able to do everything on our own up to own mood?

Orang paling kaya di dunia adalah orang yang bisa membeli hal yang nggak bakal terbeli. Here, the context is time. Always. Makanya, cuma Allah semata yang paling kaya. Fortunately, time machine only exist on science-fiction movie, ya. Kalau ada beneran… Ya, bakal tetep saya pakai, sih. Mau mengenang betapa alaynya saya zaman dulu. Yang sekarang mungkin terbawa sedikit-sedikit. Atau banyak, ya? Ah, terserah. Nggak baik menilai diri sendiri #ngeles 😀

But, seriously.

Waktu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main.

Berulang kali saya mendengar nasehat itu. Gini, dulu zaman SMA pernah meremehkan ulangan biologi karena saya notabene sama sekali nggak suka biologi dan nggak(benar-benar optimal) memahami materinya. Tapi saya berpersepsi bahwa akan mengulang pelajaran di rumah. Seperti anak SMA pada umumnya, saya pending teruuuus sampai akhirnya haripun bergulir. Kemudian berhenti. Tepat di ulangannya itu.

Bisa ditebaklah, apa yang terjadi… Remidi! Hahaha(Menertawakan kegagalan sendiri adalah hal yang nggak baik. Jadi saya mohon. Ini hanya bacaan untuk 18 ke atas. Yang umurnya kurang, nggak papa sih lanjutin aja. Tanggung soalnya. Mwahaha).

Itu contoh sederhana aja sih. Dampak dari sama sekali nggak menghargai waktu. Just like bapak-bapak TNI pelatih Bela Negara kami kemarin bilang:

“Kalau mau orang lain menghargai kalian, hargailah orang lain terlebih dahulu. Enak sekali kalian minta respect tapi kalian sendiri nggak mau respect.”

That quotes have to implant towards managing time, too.

Aku, kamu, kita, semua adalah fighter yang berival kuat dengan waktu. Selalu. Setiap orang punya 24 jam yang sama tiap hari. Dimana bener-bener up-to-us mau menghabiskan seperti apa. Apa mau untuk memikirkan topik skripsi(kakak-kakak tingkat tahun terakhir di universitas atau sekolah tinggi manapun semangat, yoaaa), atau untuk belajar mati-matian atau malah hanya untuk menonton drama-drama (yang sebenernya sama sekali nggak ada efeknya buat kehidupan nyata kita kecuali daydreaming-_-) atau main uno atau chattingan sampai tiba-tiba nggak kerasa aja udah sampai malam berkutat di depan layar ponsel.

Apapun kegiatannya, nggak mau kan membuang satu hari berharga yang nggak akan terulang lagi?

Karena jalan menuju kemalasan selalu lebih menggoda. Hahaha. Yuk, kita perangi bersama! 😀

 

Jakarta, 31 Oktober 2015
P.S. Maaf gambarnya nggak ada korelasi sama sekali dengan tulisannya, ya. Hahaha.

[12] Cruel Like A Deadly Fuel

tumblr_ly4jocsFxY1qd4q01o1_500_large

Mengawal rindu bukan perkara gampang. Berharap Mama nan jauh dari mata untuk bisa mewujud nyata kadang hanya sebatas angan. Dan papa. Lalu sahabat karib yang kini tengah sama-sama berjuang menuntut ilmu. Hmm. Jarak itu sadis, ya.

Fact that we wanna their hugs or hearing their laughs or simply just seeing their smile itu yang bikin makin nyiksa. Iya nggak, sih?

Terlepas dari seberapa aktif kita, sejauh mana kita didamparkan, setekun apapun kita belajar, se-yolo apapun diri kita, dalam 24 jam sehari pasti ada waktu dimana kita hanya sendiri. Entah itu berdiam diri atau memang karena waktunya tidur dan mandi. Nggak mungkin kan dua hal itu dilakukan bersama? (Eh, tapi kalau buat tidur boleh-boleh aja asal sama sesama jenis, ya. Haha.)

Kadang waktu benar-benar nggak ada yang menemani, kita pasti akan selintas terpikirkan orang-orang masa lalu. Yang masih eksis, dan mendukung hingga sekarang. Berharap bisa menceritakan apapun keluh-kesan usai seharian beraktivitas—secara langsung, face to face.

Because nothing can replace real things. Real people. Real talk. Real sympathy. Real love. Real care. Real stuffs.

Sekalipun sajadah kamu basah oleh air mata. Nggak akan ada yang tiba-tiba bisa membawa orang-orang yang kita rindukan di hadapanmu. Kecuali Allah semata, sih. Haha.

Eventough distance is cruel like deadly fuel, I learn something from it. That we should be patient. Menyerahkan segala sesuatunya pada Yang Maha Tahu dan senantiasa berdoa supaya orang-orang paling kamu sayang bisa terjaga lantas bisa kembali kita tegur sapa cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon nggak peduli senja tiba-tiba menjingga nila esok paginya.

Berat, sih. Tapi bisa kok. Harus bisa, ya.

Selamat berindu-ria, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 29 Oktober 2015

[11] Menyoal Beliau

[11] (2)

Berbahagialah kamu yang belum pernah membuat orangtuamu menitikkan air mata. Merapal berbagai doa dalam hati supaya anaknya berubah…baik.

Please, be happy for it. Truly.

Because when you do reverse, rasanya sakit. Ketusuk. Sel-sel dalam tubuh lemas seketika saking nggak percayanya kita telah melakukan kesalahan.

Membuat orang yang paling kita pedulikan menangis adalah hal super-mega-dobel-besar dosa. Allah jelas tahu.

Sekalipun cek-cok kecil, Allah Maha Tahu.

Mengecewakan merupakan kata-kata yang familiar buatku. Membangkang. Membentak. Apapun yang membuat beliau mengelus dada. Apapun yang membuatku sendiri merasa gagal menjadi anak kebanggaan.

It hurts even deeper when finally they always forgive you. Always accept you just like you are now. Just like you want to be considered. It hurts when they have nothing to revenge but just love us back. That’s the pain you’ve got to take. There is nothing you can do but regretting every mistake you have done.

But that is their best gift ever. Adanya mereka saja sudah jadi suatu hadiah terbesar untuk kita semua, kan, ya?

Karena orangtua sayang. Kita. Selalu. Seburuk apapun kelakuan. Sehina apapun kesalahan. Tetap saja.

Nggak ada orangtua sempurna di dunia ini. Adanya mereka yang selalu berusaha untuk memberikan kita yang terbaik, seburuk apapun keadaan. Segila apapun situasi. Mereka selalu ada. Mereka selalu mengingat kita. Mereka jelas-jelas mendoakan kita. Mengharapkan kita menjadi bintang-bintang gemerlap. Di sana. Langit tertinggi cita-cita. Dan nggak lupa, beserta hati mereka. 🙂

Brummies, sudah bilang sayang ke Mama Papa hari ini?

 

Jakarta, 26 Oktober 2015

[1] Habis Di-Stek

Oak-tree-in-field-007

For most people, it’s kind of weird to starting everything from the scratch again. Bahkan–the deepest one. Tapi aku sih, engga.

Delapan-belas tahun hidupku, aku sudah melampaui banyak hal. Tapi, tetap. Aku nggak puas dan selalu merasa ingin pindah ke sesuatu yang baru. It’s scary sometimes. Not knowing gimana medan yang bakal dituju. Namun, setelah berkali-kali ganti haluan arah hidup, jadi terbiasa. Karena sesungguhnya, perbedaan yang didapat itu jadi kecantikan tersendiri setiap kali mencoba hal baru 🙂

Anyway, senang sekali akhirnya bisa mantap menentukan pilihan. Sebelumnya niat banget mau pindah blog. Sudah tertuntaskan. Tapi akhirnya mikir ulang, minta pendapat dari kawan dekat, merenung lagi… Akhirnya tetap di sini. Words of Thousand Stories. Bersama kenangan semasa putih abu-abu. Blog yang sedikit-banyak membangun diri saya dan menemani saya sepanjang kelas 10 dan 11(karena kelas 12 sama sekali nggak kesentuh. Hahaha). Cuma, namanya saya ganti. Format bahasanya juga. The thing is, jadi benar-benar yang dimau hati #eea.

Jadi, brummies! Kupersembahkan blog baruku ini untuk siapapun yang mau membaca dan menilik pengalaman-pengalamanku selanjutnya(drum gedebuk konstan)…….

BRUMWORDS

Maaf, ya. Nggak ada acara syukuran gitu. Tapi, yep! Ini ranting baru, habis disetek! Lembaran baru! Woohoooo!

Can not hardly waiting what life will take me in time ahead!

Yang Nggak(Mungkin) Bisa Terlupa

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Sekolah menengah atas. Sebagian besar orang pasti pernah menempuhnya. Dengan alasan untuk mengentaskan pendidikan, mengikuti paradigma masyarakat, atau memang benar-benar ingin menuntut ilmu guna tujuan di masa depan. Beragam alasan tersebut bukan suatu masalah. Bukan suatu persolan ketika kita dipertemukan dengan anak-anak hebat nan unik nan aneh nan konyol tiada tara dalam suatu ikatan yang disebut keluarga.

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Kebanyakan dari kita memilih untuk menghabiskan masa SMA dengan bersenang-senang. Berbagi canda tawa dengan teman, memerjuangkan hak murid di hadapan guru killer, tersedu sekaligus kecewa bersama, hingga perihal sesuatu random yang bahkan sering membuat kita tergelak. Nggak jarang pelajaran terlantarkan lantas kawan pun jadi prioritas utama. Yang penting senang, senang, senang!

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Saat-saat paling nggak bisa terlupakan mungkin saat kita berargumen tentang suatu kasus. Dalam satu kali pernyataan terlempar, sahutan pasti akan terdengar sambung-menantang, dan penuh pemikiran kritis anak muda. Ah, ya, dan jangan lupakan ketika kita ditugasi untuk menjadi petugas upacara. Terik menyengat pun kita lewati berbalut humor geli. Pingkalan tawa nggak jarang terdengar walau pada akhirnya kita harus mengulang lantaran ketidakseriusan. Kita sering menertawakan banyak hal, ya?

Oh, tunggu. Yang tidak mungkin terlupakan juga adalah masa ketika penghabisan tahun ajaran. Usai ujian kenaikan kelas, kita berbondong bersama menuju tempat liburan yang telah disepakati. Menikmati pemandangan dalam kekaguman yang sama. Menyisiri arus air yang deras mengalirkan boat kita penuh adrenalin. Bertahan menggigil dingin di villa. Menghangat waktu mengelilingi api unggun pengakuan. Menitikkan air mata dalam pernyataan-pernyataan emosional. Ah, rasanya ketika itu kita benar-benar menghabiskan waktu dalam detik-detik  yang terasa cepat :’)

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Tapi satu yang selalu melekat dalam benakku adalah waktu kita sama-sama meneriakkan cita-cita masing-masing lalu bertekad untuk sanggup meraihnya apapun hambatannya. Aku sungguh merinding mendengar setiap mimpi besar yang kalian niatkan dan aku sangat bangga mendengar optimisme kita. Dari pemimpin yang ingin mengubah dunia sampai pencipta sesuatu, semua mewarnai berbagai asa kita. Semua berkolase membentuk setangkup imaji menyenangkan perihal masa depan kesuksesan kita.

Terkadang aku terpekur setiap kali mengingat semangat dan antusiasme yang tercurahkan ketika itu. Pada akhirnya, setiap kali melihat masing-masing dari kalian berpapasan denganku aku kembali terngiangi oleh angan-angan tersebut. Satu per-satu kita menjadi profesional di bidangnya lalu menjelma manusia dewasa yang sukses dan tahu kemana tujuan hidupnya. Kemudian kita akan mengadakan perkumpulan, menciptakan organisasi yang bergerak di bidang kepeduliaan terhadap lingkungan sekitar—oh, atau apa sajalah yang penting kita masih bisa saling berkomunikasi.

Hebat, ya, bagaimana masa depan yang belum pasti adanya mampu menyita penuh perhatian setiap insan di dunia?

X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013
X3 SMAN 1 Sidoarjo 2012-2013

Yang kutakutkan adalah saat kita terpisah nanti. Kita memilih sekolah atau universitas berbeda yang merentangkan jarak tak terelakkan. Lalu, bagaimana jika akhirnya kita kehilangan topik pembicaraan yang dulu bukanlah persoalan? Dan, bagaimana jika kita terlarut dalam skripsi, tesis, pekerjaan, serta urusan duniawi lainnya hingga waktu luang selalu berlainan? Kemudian, bagaimana jika masing-masing kita mulai mengentas masa lajang, memiliki buah hati manis, fokus menaikkan posisi di pekerjaan sampai akhirnya nggak ada lagi rasa butuh untuk bertemu kawan lama?

Sial, aku benar-benar melankolis, juga pesimis. Ah, mengapa aku pusing sendiri?

Entahlah. Aku buta perihal apa yang akan terjadi di menit-menit setelah aku menuliskan ini bahkan hingga helaan nafas terakhir. Hal termanis dari cerita ini adalah mengenal kalian. Dan aku baru mengenal kebahagiaan bersama kalian, bahwa:

Nggak ada syarat untuk merasakan kebahagiaan. Jika kamu butuh syarat untuk bahagia, kamu nggak akan pernah merasakan kebahagiaan sedikitpun  🙂

Aku. Rindu. Kalian. Semua. Sungguh.
Langgeng, ya, kita, Rek! Grupnya diramein! 🙂

 

Undur diri.
Sidoarjo, 04 Maret 2014

Kolase Imaji Kita

sumber: weheartit.com
sumber: weheartit.com

Aku ingin menghabiskan waktu senja. Di suatu tempat terpencil entah dimana saja. Namun, aku ingin berada di sana dengan sebuah percakapan. Pembicaraan panjang tanpa jeda atau sela denganmu, hanya kita berdua.

Mungkin kita bisa memulainya dengan membicarakan perihal bagaimana kamu menghabiskan hari sebelum berdiri di sini. Lalu kita melanjutkannya dengan bertukar informasi yang sama-sama tidak kita ketahui. Kemudian kau akan duduk menghadapku, mengajakku bermain seperti kembali ke masa kecil dulu. Sampai akhirnya matahari benar-benar menghilang, merupa menjadi hangat di hati kita.

Mungkin menjalani hobi bisa jadi pilihan selanjutnya. Kau dan aku akan masuk ke dalam rumah, melangkahkan kaki menuju ruang santai, merebahkan tubuh bersisian dengan kepalaku menyandar dadamu. Karena kita sama-sama gila baca, maka aku akan meniti kata-kata romantis dari novel yang kupegang, sedang kau pastinya terlarut dalam dunia fantasi penulis luar negeri. Bersama, kita menghayati bacaan dengan sesekali membahas hal menarik apa yang kita dapatkan.

Kala jenuh menerjang, kita bisa berpetualang. Sekedar menghabiskan waktu mengikuti cerita dari layar lebar hingga pergi jauh dari rumah. Apapun kegiatannya, bagiku tak masalah. Kita akan berjalan berdampingan, tersesat tanpa diduga, dan terkesima saat sampai tempat tujuan. Di perjalanannya nanti, kita bisa mengobrol lagi. Membincangkan sejarah masing-masing, bercanda hal tak penting, membicarakan sesuatu konyol, atau hanya menghening dengan bertautnya jemari.

Malamnya, kita akan duduk berimpitan di bawah sinar rembulan. Merasakan angin menggelitik wajah sembari mendengar lagu dari earphone yang tersemat di masing-masing salah satu telinga kita. Aku akan menyenandungkan lagu dengan nada asal lantas kau mengacak rambutku entah karena apa. Mungkin aku akan cemberut sesaat kemudian bernyanyi lagi hingga akhirnya kau menimpali. Haha, jelasnya aku pasti terpingkal ketika ujung-ujungnya kau mengikutiku.

Di penghujung hari, kita akan sama-sama bersimpuh, menengadahkan tangan berbicara kepada empunya dunia. Kau akan memimpin jalannya doa sedang aku mengikutimu dari belakang. Mungkin kita akan terpekur lama, memanjatkan harapan yang akan terus hatiku ucapkan, bahwa: agar Tuhan memelihara kita, mempersiapkan masing-masing kita sembari menjaga setiap potong hati hingga akhirnya imajinasi ini menjadi nyata dan berlangsung selama yang Ia izinkan.

Kuharap selamanya.

I want a never-ending-conversation with you.
I don’t care what topic we will talk or whenever time make it happen
or wherever it will take place or even people around us.

You. And. Me. Together. Forever. Nothing else.

Is that too much?

Sidoarjo, 18 Februari 2014

Menulis itu (Nggak) Buang-buang Waktu!

Sumber: weheartit.com
Sumber: weheartit.com

Terkadang, kesendirian itu perlu. Apalagi untuk penulis amatir macam saya.

Kalau di beberapa postingan lalu saya pernah berucap untuk menjadikan blog ini menjadi semacam digital diary, kayaknya masih belum terealisasi, ya. Bukan maksud mau php atau apa, tapi sayanya sendiri yang nggak punya waktu untuk berbagi cerita di WP setiap hari. Alasannya bukan karena masalah dunia nyata–saya sekarang benar-benar berusaha se-organized mungkin soalnya–dan bukan juga karena malas. Cuma, waktu yang biasanya saya pakai untuk ngetik postingan di WP, beralih menjadi waktu untuk menulis draft novel pertama(Mari diaminkan, saudara-saudara!).

Yes, intinya saya nggak akan berhenti nulis. Untuk saya pribadi, nggak nulis satu hari aja tuh sudah berasa ada yang kurang. Mengingat saya menjabat jadi aktivis sekolah(baca: ketua ekskul jurnalistik) merangkap pelajar penuh pekerjaan rumah menangkap punya mama yang sedari dulu menuntut saya punya waktu luang buat kumpul keluarga merangkap yang lain lain lagi, makanya saya lebih memrioritaskan untuk menulis cerita daripada WP. Maafkan, ya, hiks.

Mengacu pada ilmu kura-kura peliharaan rumah, pelan-pelan yang pentung nyampe tujuan, membuat saya yakin kalau pengaturan waktu kayak gini terus saya pertahankan pasti nanti membuah baik juga. Tiap hari saya bakal bangun jam 3 buat nulis selama sat jam terus dilanjut ngerjain tugas, terus sekolah, ngurusin ekskul, nyampe rumah jam 4 sore. Setelah itu ngerjain tugas dirangkap belajar sampai jam setengah sembilan malam. Abis itu tidur dan mengulangi semuanya dari pagi. Buat mencapai keinginan terbesar untuk membahagiakan diri sendiri beserta orangtua, apa sih yang enggak?

Habits baru ini, baru saya terapkan awal Januari kemarin. Alhamdulillahnya sekarang, PR saya semua tuntas, tugas ekskul bisa saya delegasikan dengan baik, serta draft cerita sudah mencapai halaman 70 dari 200 halaman yang ditargetkan.  Satu hari seenggaknya satu halaman dapat, deh, begitu prinsip saya. Meskipun sebenernya dalam hati pengennya setiap hari nulis aja, haha.

Oke. Fokus ke urusan menulis.

Bagi saya, menulis paling produktif adalah ketika sendiri tanpa ada yang boleh menginterupsi. Nah, karena itu, saya nggak menampik kalau setiap hari saya butuh waktu berdua dengan lappir di dalam kamar dengan pintu tertutup. Gegara hal tersebut, mama kadang curiga apa yang saya lakukan dengan lappie hanyalah hiburan semata. Gegara keasyikan nulis, saya juga jadi lupa untuk bersosialisasi.

Ternyata, menekuni bidang yang saya sukai membuat saya hampir lupa diri. Yah, tapi mau bagaimana lagi? Sudah tahu passion dan minat saya memang di sini, saya jelas nggak bisa menahan diri untuk nggak melakukan aktivitas nulis sama sekali, kan?

Sederhana alasannya kalau ada yang menanyakan: mengapa menulis? Ya, karena setiap kali menulis saya nggak pernah peduli waktu. Setiap kali menulis saya merasa ringan dan nggak pernah terbebani. Setiap kali menulis, saya serasa punya dunia sendiri. Dan, alasan terakhirlah yang paling mengadiksi.

Mungkin, siapapun yang kenal saya bisa mikir bahwa menulis hanya akan membuang waktu, tenaga, dan fikiran. Mungkin mereka bisa berfikir bahwa menulis cuma kesenangan saya sesaat saja. Mungkin mereka juga bisa berfikir bahwa nggak akan ada masa depan bagi saya jika terus menekuni passion di bidang ini. Ya mereka bisa berfikir apapun yang mereka mau. Tapi saya tahu apa yang saya mau dan saya tahu tujuan apa yang akan saya capai. Itu yang terpenting, bukan?

Jika banyak orang bilang bahwa belajar nulis, sastra, dan hal-hal berkaitan adalah hal yang nggak penting, saya sama sekali nggak peduli. Saya nggak peduli berapa banyak waktu yang akan saya tempuh untuk bisa menjadi penulis terbaik yang saya bisa. Saya suka dan mencintai pekerjaan ini, kok.  Bukankah untuk menjadi master dalam bidang apapun yang kita inginkan langkah awalnya adalah mencintai bidang tersebut dulu?

Saya percaya pada pepatah, bahwa membiasakan diri untuk menguasai hal kecil akan menuntun kita untuk bisa menguasai hal yang lebih besar. Nah sekarang, saya sedang melakukannya. Saya sedang berproses menuju tujuan besar dan nggak siapapun bisa merubah keputusan saya atau bahkan menghentikan saya. Sekalipun orangtua.

Kalau via 9gag: harusnya orangtua saya bersyukur saya nggak teradiksi narkoba(Naudzubillah), melainkan pada kegiatan produktif semacam menulis. Sering saya keki sendiri menyadarinya. Tapi di sanalah tantangannya. Malah di situlah titik dimana saya bisa menunjukkan bakat dan keinginan sesungguhnya.Walaupun nantinya saya terpaksa mengikuti aturan orangtua untuk masuk dalam universitas dan jurusan yang beliau restui, saya nggak akan berhenti. Cita-cita dan passion saya akan tetap sama tapi saya akan menunggu. Menjadi orang lain ‘sesaat’ untuk bisa menjadi diri saya sendiri kemudian harinya.

Saya yakin bisa. Saya punya firasat bagus bahwa, kejutan-kejutan besar menanti jika saya benar-benar serius menekuni passion menulis. Nggak ada yang perlu ditakutkan di masa depan. Cukuplah saya memohon serta percaya pada garis tangan Tuhan yang jelas akan membawa nasib paling baik. I believe in Allah and I truly don’t have even a single doubt about that.

Bagaimana dengan kamu? Sudah menemukan passion dan tujuan yang mau dicapai? Masa depan itu milik kita, maka persiapkan untuk menyongsongnya mulai dari sekarang!

Undur diri,
See you next post!

sumber: Weheartit.com
sumber: Weheartit.com

Dari Pasir Putih, Kelud, Sampai ‘Nggembel’ di BNS

Heyho!

Selamat Tahun Baru 2014!

Ya, ya. Saya tahu kok kalo ngucapinnya telat. Tapi masa bodo, deh. Hahaha.

Kenapa tahun barunya saya kasi warna merah? Supaya kita semangat untuk kembali mengarungi 365 hari ke depan(eh, sekarang sudah dikurangi lima, sih)! Merah = Berani = Semangat berkobar! Uyeah!

Gimana liburan kamu-kamu semua, nih? Mengesankan? Di rumah aja? Visitting new place? Atau spending time with family kayak saya? Tepatnya tanggal 30 Desember sampai 1 Januari kemarin, saya sama keluarga berkelana menjelajah pariwisata anti-mainstream di daerah Trenggalek, Nganjuk, sama Malang(etapi yang ini mainstream banget).

Ada lima destinasi wisata yang kami nikmatin. Pertama ke Trenggalek tepatnya Pantai Prigi. Di sana… mengecewakan. Mengejar sunset tapi pemandangannya nggak terlalu oke karena dimana-mana ada sampah. Karena alasan tersebut, papa pun memutuskan untuk langsung cabut ke Pantai Pasir Putih yang terletak nggak jauh dari sana.

Tebak apa yang kami dapat? Pantai menawan hati :3 Ini nih, sedikit foto human interest dengan si Uti sebagai modelnya:

Si Uti di pantai pasir putih :3
Si Uti di pantai pasir putih :3
Senyumnya cantik nggak, sih? :3
“Yee, prok-prok-prook! Pantainya bagus :3”
“Somehow, you need to be like water. Taking adventure whenever it flows…”
“Senyumku limited edition :3”
Rencananya mau nangkep cantiknya si Uti tapi... Gagal T.T
Rencananya mau nangkep cantiknya si Uti tapi… Gagal T.T
“ADUOH! ADUOH! ROKKU BENERAN BASAH!”
“Kenalan sama kakiku dulu, ya, Ombak :3”
“Mama, kebelet pipis aduh duh duh.”
“Inilah pemandangan Pantai Pasir Putih yang belum terekspos dunia!”

Nah, di sana ada dermaga juga yang kondisinya sudah–err–nggak layak untuk disebut dermaga lagi. Tapi malah dari situ keliatan banget ancient-nya. Ini saya kasih dokumentasinya yang lagi-lagi ada si Uti sebagai modelnya.

Ini dermaga--semi--ancientnya!
Ini dermaga–semi–ancientnya!
“Aku di bawah dermaga!”
Ini sebenernya mau nyari angle foto unik tapi... Gagal u,u
Ini sebenernya mau nyari angle foto unik tapi… Gagal u,u
Si Uti di atas dermaga :3(1)
Si Uti di atas dermaga :3(1)

Si Uti di atas dermaga :3(2)

Si Uti di atas dermaga :3(3)
Si Uti di atas dermaga :3(3)

Sorenya kami ke air terjun Watu Sedudo di Nganjuk. Sayangnya, waktu itu hape saya low bat. Jadi fotonya ada di hape mama dan saya males mindah (digampar.)

Skip hari kedua! Kami jalan-jalan ke Wisata Gunung Kelud. Wisata yang nggak pernah kami fikirkan kalo bagusnya subhanallah O.O Di sana ada terowongan gelap(yaiyalah, masa mau terang?), tempat camping, anak krakatau, panjat tebing, 459 tangga yang saya naikin sendirian karena saking penasarannya sama view di puncak, 500+ anak tangga menuju ke pemandian air panas, serta extreme-nya motoran bareng ojek untuk sampai ke pemandian air panasnya(Iya, jadi ada dua jalan buat ke pemandian tersebut).

Ini tempat yang recomended banget buat didatengin waktu liburan! Tapi lihat kondisi juga, ya. Terlalu padat orang juga nggak enak.

Kalau ke sini dan liat padas gunung Kelud, saya selalu ingat ucapan papa saya yang konyol ini:

“Wiih, Da! Iki lo, kayak sing di Australia!” 😆

Ini Gunung Kelud!
Ini Gunung Kelud!
Walking to Kelud Mountain...
Walking to Kelud Mountain…
Papa, Mama, Adik :3
Papa, Mama, Adik :3
Ini 459 anak tangga yang saya naikin-turunin buat nyampe ke puncaknya!
Ini 459 anak tangga yang saya naikin-turunin buat nyampe ke puncaknya!

Bapak dan anak ini so sweet, ya :3 Itu turun melangkah 459 anak tangga, lho...

Bapak dan anak ini so sweet, ya :3 Itu turun melangkah 459 anak tangga, lho…
Papa sama Adek waktu mandi di air panas :D
Papa sama Adek waktu mandi di air panas 😀
“Peace with poker face, yea.”

Sorenya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Balai Kambang. Nah, lagi-lagi si hape nggak bisa diajak kompromi. Jadi, dia mati waktu sampai di pantai yang view-nya… Duh, keren banget, deh! Suara ombaknya nenangin, pasirnya bisa ditidurin saking halusnya, dan suasananya bener-bener dukung buat refreshing pikiran. Recomended banget buat didatengin!

Tapi jangan kaget ketika mendapati rumah-rumah di sana banyak yang dikibarin bendera Indonesia. Usut punya usut, tanah di perbukitan yang mengelilingi pantai tersebut menjadi sengketa antara pemerintah dan rakyat. Jadi jangan heran melihat tempat pariwisata ini kurang diurus dan jalan aspalnya yang nggak kunjung dibenahin. Hiks… *Ntar kalau sudah saya pindahin saya update lagi deh, janji!*

Malemnya kami sampai Malang, terus tidur deh ngelewatin tahun baru. Hari ketiga kami liburan, si Uti ngerengek minta main di BNS. Sampe nangis-nangis, ngambek, gitu khas alaynya anak kecil. Maka terdamparlah kami dalam kemacetan menuju tempat pariwisata tersebut.

Dan kejutannya… Kami terlalu cepat datang ke sana. Datang jam 12 tapi ternyata si BNS buka jam 3 sore. Gila, kan? Akhirnya papah mutusin untuk nunggu aja, daripada kejebak macet lagi, rame lagi, malah ntar nggak jadi deh kalo gitu.

Bayangin lama nunggunya gimana...
Bayangin lama nunggunya gimana…
Ini waktu nunggu BNS-nya di buka. Si Uti konyol, hahaha.
Ini waktu nunggu BNS-nya di buka. Si Uti konyol, hahaha.
“Huaaah! Angin menerpaku!”

Pulang-perginya bener-bener mangkelin! Macet dimana-mana, deh! Bahkan ruas kiri jalan sempat berhenti total karena–katanya–mobil-mobil di parkiran pada nggak mau ngalah buat berhenti. Tempat liburan anti-mainstream kayak gini memang harus dihindari kalau mau liburan bebas macet di hari libur nasional. *Geleng-geleng kepala*

Oke! Jadi segitu dulu snapshot dari liburan saya kemarin! Banyak Utinya, ya? Somehow, saya pengen gitu dia jadi model beneran. Tampangnya ndukung: Photogenic! Hihihi. Anyway, maaf, ya kalau fotonya kurang jelas… Maklum cuma bermodalkan kamera samsung GT-S5282.

Undur diri,
See you next post!

Jurnalis Gagal Move On

Deteksi2k13

Inget nggak, tahun lalu saya pernah cerita tentang DetEksi Convention(DetCon)? Di Doakan Saya, Kawan 😀 dan Kalah itu Akhir yang Memenangkan? So, yeah… Tahun ini saya bersama tim jurnalis smanis berpartisipas lagi!(Emang siapa gitu anak muda Jawa Timur yang nggak excited buat ikut DetCon?)

Ada yang belum tahu DetCon itu apa?

Awalnya, DetEksi hanya halaman yang ditujukan untuk pemuda di koran Jawa Pos. Pencetusnya adalah Azrul Ananda. Dimulai dari acara tahunan untuk memperingati hari jadi halaman, diadakanlah DetEksi Party. Pada tahun 2002, DetEksi Mading Campionship diadakan untuk menyalurkan kreativitas seni anak muda dalam bentuk mading. Seiring dengan membeludaknya animo peserta, lima tahun berikutnya DetEksi Jawa Pos mengubah nama menjadi DetEksi Convention yang sudah berkembang menjadi konvensi multi kompetisi.

…..For the complete story, click this 😉

Oke, jadi ini cerita nggak fresh from the oven. Terjadi bulan lalu tepatnya tanggal 9-17 November. Lama bingit, ya, saya bagi-bagi ceritanya? Dalam event tersebut, saya menjadi wakil sekolah di Journalist Blog Competition(JBC)-nya. Sedangkan teman-teman yang lain mengikuti Mading On The Spot, Mading 3D, dan kakak kelas taking their opportunity di Excelso Wallpaper Design.

Total ada sekitar 13 jenis lomba yang dipertandingkan selama sepuluh hari and I could say that DetCon was really a mega huge event for teenagers in Jawa Timur. Sejak diadakan pertama kali, animo pesertanya udah banyak banget! Seiring bertambahnya tahun, inovasi yang dilakukan juga sukses menggaet peserta dan membuat acara menjadi lebih besar.

Apa kalian tahu? Meskipun ruang lingkup lomba terbatas hanya untuk siswa Jawa Timur, tapi bagi kami, untuk punya pengalaman di DetCon itu bener-bener berharga banget. Jadi, jangan heran kalau pesertanya bener-bener totalitas saat mengikuti lomba dan jangan kaget ketika mendapati ide-ide anak SMA bener-bener gemilang di sana. DetCon is really prestigious for us.

Nggak menutup kemungkinan, event ini akan berkembang menjadi national competition. Just wish and wait for that.

Balik lagi ke #DetCon2k13, tahun ini kompetisi yang saya ikuti mengharuskan saya dan Amel(lovely partner-evah!) untuk datang selama sepuluh hari penuh di venue. Tugasnya cari foto bagi fotografer dan berita bagi penulis. Bahannya adalah acara dalam DetCon. Jadi selama itu, saya getol wawancara sana-sini sedangkan Amel lari ke sana kemari membidik setiap momen yang ada.

Best Fotonya Amel (menurutku)!
Best Fotonya Amel (menurutku)!

Nah, sepuluh hari kemaren jelas nggak berjalan mulus begitu aja. Hambatannya banyak banget! Mulai dari keputus-asa-an karena sempet stuck nggak ada inspirasi buat liputan, ngerasa stres karena pressure peserta yang keliatannya pada ndewo semua, berat bin malu waktu nggeret tangga yang Amel pake buat ambil foto(di sana ada panggung acara yang nggak memungkinkan fotografer berbadan pendek bisa moto ketika banjir penonton–peace, Mel!), keterikatan deadline, Wifi yang hidup segan mati tak mau, kehilangan handphone juga uang, duh, kalau dijelentrekkan satu-satu nggak habis-habis, deh!

Well, sebenarnya malah di situ letak tantangannya. Di situlah letak kesenangannya. Hambatan bikin chemistry saya sama Amel ketemu dan ini membuat kami menjadi tim yang solid. Kami tuh, saling mengisi. Amel panikan ngimbangin saya yang penenang, saya yang terlalu serius diimbangi Amel yang santai bin super-fun, Amel yang sering nraktir mengimbangi saya yang dompetnya sering kempes, sort kind of thing like that. Geli banget kalau ngingat kami yang lagi marah atau nggojloki(nggoda) satu sama lain. Hahaha. Saya bersyukur banget pernah kerja sama cewek ini 😉

Sepuluh hari partner-an sama Amel juga bikin kami kenal banyak anak di DetCon. Saya nggak kenal seluruh peserta JBC2k13, tapi seenggaknya saya recognize wajah mereka satu-satu. Jujur, menurut saya waktu sepuluh hari buat main sama mereka itu kurang–banget. Banyak kebiasaan kecil lomba yang nempel di ingatan saya.

Dippo, Sultan, Bryan, Amel, gila semuaah!
Dippo, Sultan, Bryan, Amel, gila semuaah!

Sudah upload naskah?
Sudah upload foto?
Sudah dapat bahan berita?
Duh, narasumbernya, kok, lama see…
He, kamu nggak laper, ta? Makan bareng, yok!
Deteksijp di komputermu bisa dibuka, nggak?
Duh, wifinya lama he sudah mau jam empaaat!

10 hari sama mereka terus  ♥
10 hari sama mereka terus ♥

Sejenis itu dengan muka-muka lelah kami. Lucu pas ngingat masa-masa itu. Yang paling nggak bisa dilupain tuh waktu kami naik kursi dan nyanyi bareng Vierra, waktu nyanyi bareng HiVi! dan Maliq sampe suara habis, waktu minta tanda tangan ke seluruh peserta sama kru, waktu face to face sama Azrul Ananda, waktu ngecengin band yang lagi tampil tapi tampilan mereka dikacangin penonton, waktu perpisahan, oh-my-god. Kayaknya semua detik-detik saya di sana memorable, deh :’)

Satu hal lagi, saya paling nggak bisa melupakan oleh-oleh dari narasumber yang saya hubungi via telepon. Jadi, dia adalah salah satu peserta luar kota yang saya kepoin kenapa, kok, ikut lomba. Tepatnya peserta dari Tuban. Kalau nggak salah saya ngabisin waktu satu jam-an sendiri ngobrol dan mengulik banyak tentang hidupnya. Eh nggak taunya, malah keterusan dan kami ended up buat janji untuk ketemuan di hari terakhir.

Waktu hari terakhir pas pengumuman pemenang lomba(tapi nggak termasuk kompetisi saya), kami ketemu setelah dia diumumkan jadi juara. Yes, narasumber yang saya wawancarai berhasil memboyong piala untuk sekolahnya. Seneng banget waktu itu apalagi pas dia tersenyum serta ngacungin piala itu ke tempat saya berdiri. Ah, ikut bangga, sungguh.

Kami ketemunya setelah itu. Dia bawa partner lombanya dan kenalan secara resmi sama saya. Di detik-detik terakhir, dia ngasih saya bubuk kopi tubruk, bijinya, serta sketches note dan satu kalimat ini: “Makasih, ya, publikasi beritanya.”

Oleh-oleh dari temen Narasumber. Tuban asli!
Oleh-oleh dari temen Narasumber. Tuban asli!

Saya yang waktu itu cuma bercanda buat minta dibawain oleh-oleh sempet ngerasa nggak enak karena nggak mbawain dia apa-apa. Tapi akhirnya, ya, kami oke-oke aja. Eits, nggak usah mikir yang aneh-aneh, yaa, karena sampai sekarang kami berteman. Saya juga nggak mungkin pacaran–apalagi jarak jauh. But still, itu kenangan paling memorable, hihi.

Pada hari yang sama, sekolah saya mendapat dua piala–dua silver untuk lomba mading 3D dan Wallpaper Excelso. Saya histeris banget waktu itu. Sempet pesimis sampe Amel harus gantian nenangin saya. Bahkan, saya nangis waktu tim mading saya menang. Soalnya lihat usahanya mereka itu bener-bener mirisin hati. Truly touching menurutku sebagai saksi pendukung mereka.

Alhamdulillah Top Ten Silver Mading #DetCon2k13
Alhamdulillah Top Ten Silver Mading #DetCon2k13

By the way, cerita saya panjang banget, ya? Ayo kita skip ke hari pengumuman JBC.

Pengumuman JBC itu paling akhir di antara serangkaian lomba yang lain. Why? Simple, karena kerjaan wartawan memang harus meliput sampai hari terakhir. Maka dari itu, liputan acara selama sepuluh hari baru dijuri setelah event sepuluh harinya selesai. Di situ saya sama Amel bener-bener pasrah. Mau menang berarti bonus, mau kalah ya dijadikan pengalaman aja.

Kami punya prinsip:

Yang penting tuh melakukan yang terbaik. Nggak usah berusaha mati-matian hanya karena pengen ngalahin seseorang. Lebih baik berusaha-usaha-usaha sambil nyari kenalan yang banyak.

Itulah yang kami lakukan. Kami nggak pernah ambusius untuk menang tapi kami nyari kenalan sebanyak-banyaknya. Meskipun begitu kenyataan berkata lain.

Pertama kali Technical Meeting(TM) saya udah punya feeling kalau nama saya akan dipanggil. Bukannya sombong atau apa, tapi memang itu yang saya rasakan dalam hati. Entah mengapa saya bener-bener yakin bakal menaklukkan juara di tahun ini. Apalagi tahu kalau pemenang biasanya ditelepon untuk bisa dipastikan datang di hari sebelum pengumuman. Yes, I got that call and that’s what happened.

And the fifth place UBS Journalist Blog Competition 2k13 goes to…. SMA Negeri 1 Sidoarjo!”

With lovely partner, Kharmelia Nur Afali ♥
With lovely partner, Kharmelia Nur Afali ♥

Kami menang. Saya dan Amel berhasil. Bener-bener nggak percaya. Amel malah butuh sedikit jeda untuk sadar kalau nama kami memang dipanggil. Waktu saya sudah berdiri excited mau maju ke depan, si Amel malah plonga-plongo–shock dengan lampiran slide yang menunjukkan sekolah kami.

“Kita menang, Mel! Ya Allah, beneran ta ini?”
“Rur, aku nggak mimpi, kan? He Rur, bohong itu sumpah bohooong!”
“Meeel!”
“Ruuur!”
“Dek, jangan teriak-teriak, ya. Yang sopan.”

YIHAA KAMI MENANG, SUJUD SYUKUR ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAH! ALHAMDULILLAAAH!(Senengnya nyangkut sampe sekarang. Hihihi.)

Pengorbanan kami terbayar sudah. Telepon sampe malam buat minta kritik pembina dan orang-orang ndewo, pulang malem demi dapet liputan paling akurat dan foto paling oke, nggeret tangga ke sana kemari, nggak sekolah empat hari, mengesampingkan tugas demi mokusin DetCon…Subhanallah, Alhamdulillah. Allah memang nggak pernah tidur.

Ini goals yang terpampang di mading kamar :D
Ini goals yang terpampang di mading kamar 😀

Iya, itu goal saya. Meskipun nggak jadi bestwriter, saya tetep bangga sudah bisa mencoret satu goal di mading kamar :’) Alhamdulillah.

Alhamdulillah 5th Place Jurnalis #DetCon2K13
Alhamdulillah 5th Place Jurnalis #DetCon2K13

Kalau tahun lalu dapat rasa, tahun ini saya dapat juara! Lebih tepatnya, ada tiga piala dari ekskul saya bisa persembahkan untuk sekolah. Meningkat satu dan meningkat derajat dari tahun lalu. Sekali lagi, Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah 🙂

Totally, many experiences and memories I got from here and those were the most important above all. Terima kasih saya persembahkan untuk orangtua(yang udah merestui buat ikut), Mas Vian & Mbak Nilam(yang udah bantu banyak banget!), Mbak BebeCitra(yang udah ngasih kritik dan support positif), keluarga Ekspresi SMANISDA, keluarga 11 IPA 7, dan yang paling besar tali asihnya, Allah SWT. Semoga saya, kamu, kita, bisa terus berkarya dan membanggakan lagi!

Menang hanya berarti pengukuhan untuk memacu diri agar semakin semangat melakukan hal yang kita tekuni.

Dengan ini saya memproklamirkan diri bahwa saya adalah #JurnalisGagalMoveOn dari even DetCon2k13 yang telah memberi saya banyak sekali pelajaran berharga. Sekali lagi, terima kasih. Semoga saya bisa menjadi salah satu dari kalian ya Mas-Mbak, hihihi.

Undur diri,
See you next post!

Kenang-kenangan #DetCon2k13 :')
Kenang-kenangan #DetCon2k13 :’)

#MMF: Uti Si Cilik, Cilik Si Uti

Photo-0327

Umurnya lima tahun, badannya gempal, pengrupa dora masa kini dan foto seseorang yang baru saja kau tatap adalah adikku. Nama lengkapnya Nadira Dwi Putri Anggraeni dan tanpa peduli aku menyingkat panggilannya serupa sebutan Nenek di keluarga Jawa. Sadis? Tidak. Menurutku ini ungkapan sayang malah.

Karena sebenarnya ada maksud di balik nama itu. Agak konyol, sih. Jadi ceritanya begini…

Semasa masih duduk di sekolah dasar(SD) aku memiliki satu kawan pintar yang sangat berprestasi di bidang matematika. Dia seorang perempuan jawa yang tinggal di utara Sumatra dengan ayah, ibu dan saudaranya. Perempuan ini berpostur tubuh ideal di balik hijab yang dikenakannya. Dan kau pasti akan sangat-sangat tidak tega menyakitinya ketika kau mulai mengenalnya. Karena sejauh ini ia adalah wanita berperangai paling halus dengan suara selirih angin yang pernah kukenal. Bahkan aku tidak pernah melihatnya marah.

Kami berteman sangat baik. Aku selalu terinspirasi olehnya yang sangat jago di hampir seluruh pelajaran waktu itu. Dia sangat memotivasiku untuk bisa mengerjakan tugasku sebaik ia, memperbaiki perangaiku seanggun ia, dan melatih diriku serajin ia.

Sampai kini aku harus mengakui bahwa dia sangat berhasil.

Ya, aku akhirnya lulus SD dengan nilai melampauinya dan menjadi terbaik satu sekolah. Sebuah pencapaian luar biasa bagiku karena sedari dulu aku sangat mendamba posisi membanggakan itu–yang mungkin tanpa kehadirannya akan menguap merupa debu cita. Aku sangat berterima-kasih padanya dan aku merasa punya utang budi. Lantaran ia, perubahan yang mengarah pada kebaikan itu terus berlanjut hingga sekarang.

Pandanganku mendadak buyar.

“Kak, mainan masak-masak, Kak… Cekali aja. Kakak, kan, cantik. Tapi jangan yang besa-besa gambarnya. Yang kecik aja. Yang inii! Iya yang inih ajah!” Sergah adikku menangkap basah layar laptop yang berubah merah muda. Menyaksikan loadingnya seraya terus merayuku untuk mengizinkannya bermain ‘masak-masak.’

“Iya-iya. Tapi harus janji, lho. Habis main langsung tidur. Oke?” Lantas ia mengangguk mantap dan kian memberingsutkan diri mendekat. Yes, modus berhasil. Kemudian kami memilih dan mulai bermain. Meski cuma satu periode games, adikku benar-benar menepati janjinya.

Ia menguap. “Good night, Kak,” ucapnya sembari mengecup pipiku. Kontan kuacak rambut pendeknya. Kuperhatikan ia berjalan melintasi ruang menuju kasur teritorinya. Ia rebahkan tubuh di kasur sembari menguap lagi, menyambar botol susu di sisi bantalnya, menyesap cairan putih di sana dengan kelopak mata yang mengerjap lelah.

Good night, Kak Uti.”


Sidoarjo, 03 Agustus 2013
Untuk kawan di Medan 🙂