[5] Prime Time Pertama!

Have you ever felt underestimate? Terpinggirkan. Terkucilkan. Benar-benar dipandang sebelah mata.

Mungkin aku pernah. But, karena mengingat sesuatu buruk adalah hal yang sama sekali nggak berguna. Aku melupakannya. Menganggap semua itu cuma hiasan hari. Selayak hiasan dinding yang terbiasa dipandang setiap hari.

Tadi ceritanya habis funwalk(yang digelar untuk memeriahkan Dies Natalis STIS) ada gathering kelompok. Singkat cerita setelah sepakat kumpul jam 15.30 WIB, teman-teman kelompok MP2K kompakan kumpul di kos Rani.

Kalau kata kating(kakak tingkat), sih. Ini momen-momen yang harus diabadikan karena bakal jadi perpisahan kelompok. Tapi kami nggak mau menyebutnya seperti itu. Saya pribadi, nggak rela.

Kalau di STIS ada tiga macam kegiatan utama ospek. MP2K, Bela Negara, Inagurasi. Tiga hal tersebut, kami laluin sama-sama. Tiga hal tersebut merekatkan persahabatan. Saling mengingatkan. Saling bantu. Saling sadar bahwa bersama dengan delapan belas orang dalam kelompok, kami menjelma keluarga.

So, it doesn’t feel right to called gathering as farewell. Alih-alih sedih sedu, kami tadi malah cerita panjang lebar. Mengapa kok masuk STIS. Bagaimana track record dulu di SMA. Apa yang kamu harapkan ke depannya. Some deep matters. Kalau aku bilang the deepest one.

Terlalu deep sampai kami sama sekali nggak sempat foto bagus. Hahaha.

Karena kami dengan sadarnya saling berbagi cerita. Tanpa paksaan. Tanpa alibi karena bermain Truth Or Dare. Tanpa dorongan dari siapapun kecuali diri sendiri.

Yah, meskipun dengan segala banyolan yang bener-bener buat refreshing(karena ketawa kami keras banget. Saking kerasnya harus bener-bener diatur supaya nggak ngangguin temen-temen kos Rani) obrolan malam ini ‘berat’. Karena opening-up diri kamu di depan orang yang sebelumnya bukan apa-apa dari bagian hidupmu adalah hal yang nggak mudah. Bahkan susah, lho, menurut beberapa orang. Termasuk temanku sendiri…. Aku juga, sih. Yah, semuanya berarti lah.

Contoh banyolannya, nih:

Ketika lagi serius-serius ngobrol. Dapet satu titik cerita yang bisa dikembangkan ngalor-ngetan-ngidol-ngulon……

‘He foto sek. Foto sek’
CKRIEK
Seketika tertawa terpingkal-pingkal. Karena sumpah, ponsel Rani yang segenggam tangan aja lebih kecil daripada itu, punya kamera dengan suara jelek abis. Bahasa Jawanya, ngroak.

Terus waktu W nerima telepon dari pacarnya….

‘Halo?’
Lalu saya dengan gamblangnya nambahin, ‘W, rokok-e, Wik. Pateni disek!(W, rokoknya, W. Matikan dulu!)’
Yang mana disambut baik oleh teman-teman dengan ditambahi, ‘Celananya dipakai dulu, sayang….’
Terus ditambahin lagi… Lalu W-pun laporan, ‘Beneran dipateni, lho.(Beneran dimatikan(hape-nya), lho.’ Dan kami tertawa terpingkal-pingkal lagi. Dirty jokes kisaran ringan yang selalu berhasil buat korbannya kena akibatnya. Apakah dimarahin mama di rumah, atau sekedar dimatiin hape oleh penelepon yang mana ujungnya esok hari langsung putus. (Eits, tapi buat W nggak lah ya 🙂 )

Iya, dirty. Jokes jaman SMA malah. Tapi tetep aja, lucu. Karena bisa aja Terus gimana dong? :’)

Itu sela-sela kami bisa membebaskan tawa. Selebihnya kami bercerita. Satu yang paling nggak bisa aku lupa itu waktu Mas A cerita. Bagaimana dia dan sesuatu di dalam tubuhnya bertahan. Jadi seseorang berbeda sejak bangku Sekolah Dasar sampai sekarang.

‘Ketika orang berada di atas, rata-rata orang tersebut nggak mau melihat ke bawah.’

Mas A berasal dari SMA yang kata dia nggak terlalu dianggap jika dibandingkan dengan sekolah favorit di daerahnya. Mas A bilang, penyakit dan jadi seseorang berbeda membuat dia bisa mengerti bagaimana rasanya di ‘bawah’. Dan bagaimana rasanya menjadi orang tersisihkan. Bagaimana fight buat apa yang dia mau. Bagaimana usaha dia melawan sakitnya ketika hanya tinggal daftar ulang saja, Mas A harus menanggung kambuhnya penyakit dan dihadapkan pada dua pilihan: Melanjut di Universitas ia belajar sebelumnya atau melanjutkan STIS.

‘Kalau mau menyerah, rasanya berat ketika melihat sudah berapa banyak hal yang kita lalui. Kita korbankan. Tapi restu orangtua itu, paling perlu. Meyakinkan orangtua itu, sangat penting.’

Kemudian cerita-cerita lain. Dianggap sombong karena berhasil menjadi salah satu dari siswa sekolah yang nggak favorit untuk bisa tembus STIS, raungan mahasiswi yang nampak bebas di luar namun terkekang di dalam sampai yang terlalu dibebaskan hingga merasa nggak diperhatikan, homesick—bedanya ketika benar-benar berjuang hidup mandiri di tanah rantau, bagaimana culture antar teman di sini bikin betah lantaran korsa, aksi nekad meninggalkan seleksi universitas bergengsi lainnya demi STIS.

Demi STIS.

Dalam hati aku benar-benar bersyukur. Mendapat kesempatan untuk bisa lulus tiga tahap seleksi, mengenal medan pertempuran bersama teman-teman hebat yang punya kisah-kisah berbeda. Kisah hidup yang membuat kita bisa mengaca diri. Kisah hidup yang menyadarkan kita bahwa di dunia ini, Tuhan punya puluhan miliar skenario indah untuk diwujudkan pada tiap insan manusianya.

How far we have been going? How far we wanna reach our dreams? How big our passion?

How grateful am I for everything I’ve got…..

Kampus kebanggan. Teman seperjuangan. Baru saja sebulan lebih. Mengisahkan puluhan cerita sudah.

Bagaimana aku bisa nggak menyayangi kalian? 🙂

 

P.S. dan obrolan malam kali ini benar-benar serius, ya. Hahaha. Namanya aku samarin, ya. Biar penasaran 🙂 Sekian.

Advertisements

[4] New World!

cityscape-of-jakarta-indonesia-hd-wallpaper-617717

Sometimes, stepping on a new home is kind of a scary thing.

In people paradigm…. most of the time, sih.

Tapi nggak tahu mengapa. Bagiku mengenali sesuatu yang baru merupakan sesuatu yang mencandu. Asyik dan nggak ngebosenin. Seolah-olah Tuhan memberikan kita perspektif lain bahwa hidup itu luas. Hidup itu nggak sesempit dari pandangan mata kita saja.

Alhamdulillah sudah touchdown Jakarta Senin tanggal 30 Agustus 2015 kemarin. Senang bercampur sedih jelas kerasa. Tapi setelah sampai di tempatnya itu, lho…. Yang namanya teman senasib sepenanggungan, sedehananya hidup indekos, nggak enaknya soto bertomat dan nasi goreng pedes rasa kecap(yang besok paginya bikin maag dan menzret), obrolan ngalur-ngidulnya sama siapapun yang kuajak bicara, pengalaman sama sekali baru naik busway, dan lain-lain dan lain-lain…… Jadi pelipur lara sekalipun jauh dari orang tercinta.

Fiuh.

Akhirnya, merantau. Akhirnya, benar-benar hidup di tanah orang, seorang diri.

Technically, seorang diri. Walaupun punya saudara di sini :p

This is it! Dimulailah perjalanan baruku! New world. New friends. New adventures. 

Hope Allah guide me all the way long. And let me pray for every one of you got the same thing all the time. 

Terutama, kamu.

 

Jakarta, 3 September 2015

[3] Sebelum Merantau

Merantau.

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika memikirkannya?

Mungkin ada yang kepikiran film Indonesia yang dibintangin Iko Uwais atau teman senasib yang sekarang sudah pergi jauh menggapai mimpi atau pacar atau bahkan pengalaman sendiri. Hikz. Calon pengalaman sendiri.

Hmm. Berat nggak sih, living alone without every single precious one who always been there for you before?

Seems like it is. Tapi nggak ada yang nggak mungkin.

Mungkin omelan mama yang mengis hari-hari merupa panggilan dalam menit-menit panjang kala pagi juga sebelum tidur. Kemudian kecupan pagi papa hanya terbataskan ucapan sayang melalui telepon. Lalu iseng setengah mati-nya adik yang bakal berujung dengan prank voice note-nya.

The point is, pasti kangen. Ya, kan? Ngaku deh. Ngaku!

Homesick jelas melanda. Namun niat untuk menuntut ilmu jauh-jauh jelas mendominasi pikiran, bukan? Ketika jarak memang harus memisahkan kita dari yang paling tersayang demi masa depan, letting go is the best way. Letting go is the only answer. Yah, meskipun ada mewek-mewek sampai mata sembap dan bengkak…yah. Yaudahlah, ya. Badai pasti berlalu.

Hari ini nanti, jadi momen keberangkatanku menuju kampus perjuangan. Kampus yang–bismillah–jadi empat tahun peraduan ilmuku. Berdoa banget supaya meskipun nanti bakal galau kangen mama-papa-adik-besties, new adventures yang sudah disiapkan Allah jadi pelipur lara. Apalagi kalau akhirnya punya keluarga kedua di sana…

…orang yang siap sedia kapanpun dibutuhkan. Bantu cari kain baju. Ribet nyiapin acara wisudaan. Orang pertama yang shock setengah mati begitu tahu kita kepeleset. Pemberi petuah membosankan yang eventually kalau dimanutin bakal bikin life better. Teman tertawa sampai perut sakit. Penyedia fasilitas dan keinginan-keinginan kecil kita. Teman curhat. Sahabat terdekat, melebihi sahabat. Orang yang kamu cinta melebihi apapun.

Keluarga.

Semoga, yah.

P.S. Just remember, for whom we dedicate our dreams and hard efforts? Tell me if you had done it 🙂

Jakarta, 29 Agustus 2015

[2] Tentang yang Rela Kamu Ajak Bicara Tanpa Kenal Kala

5cf541b859c40d13d77c154032a50ae0

I am able speaking to everyone. No matter how old they are, how they dressed, how their traits. So far, I can tell you that I can speak to them. Definitely, to you too.

Nggak cuma aku saja. Kamu pun bisa bicara dengan siapapun, kan? Asal ada bibir yang nggak hanya mengatup dan dua telinga yang harus siap mendengar sahutan apapun. Juga pikiran yang kudu spontan berfikir sebelum membiarkan bibir mengatakan apapun.

Speaking is kind of media. Komunikasi. Jembatan supaya tiap insan bisa saling mengerti satu sama lain, ya kan?

The thing is. Siapa yang mau kamu ajak bicara? Siapa yang bersedia menghabiskan waktu dengan saling mengisi canda sampai perut sakit karena tawa?

Aku yakin, pasti cuma segelintir…

Sekalipun kamu famous, hitz, or every words that hyped now, you still need those men. Nama cheesy-nya, besties.

Kepanjangannya adalah seseorang yang udah kamu anggap.kayak saudara sendiri dan bisa kamu ajak bicara sampai waktu yang nggak terkira.

Mereka mungkin bukan orang yang pertama kali ngucapin selamat ulangtahun ke kamu. Tapi mereka langsung ke rumah begitu punya waktu luang untuk main. Mereka bukan orang yang suka ngomplain ini-itu. Tapi mereka sering ngomel panjang-lebar. Tanpa pernah malu ngasih tahu kesalahan kamu. Mungkin mereka nggak bisa basa-basi. Tapi begitu tahu batang hidung kamu, topik pembicaraan nggak akan ada habisnya. Mungkin mereka bukan seseorang yang sigap menghapus air mata kamu. Tapi mereka tahu gimana mengembalikan senyum di wajahmu, even only by their words! Mungkin mereka bukan seorang motivator atau pendongeng. Tapi tiap bertingkah, mereka selalu nggak sabar berbagi cerita ke kamu. Terlepas appropiate atau nggak konteks ceritanya.

Someone who always stand for you. No matter how rough the situation gotten.

Like one of my besties said, “Wajarlah nangis pas sobat merantau. Mereka kan belahan jiwa.”

Belahan jiwa yang memandang langit yang sama. Kakinya berpijak di bumi dengan koordinat berbeda dengan kita but still, the distance making us learning to be strong in surviving a precious relationship. Jarak bikin kita jadi kangen dan sadar betapa beruntungnya kita memiliki satu-sama-lain.

Karena yang seperti itu, jarang ada.

Yang jarang itu, hanya sahabat.

Teruntuk kamu semua sahabatku, nggak sabar dengar cerita kalian besok dan besoknya dan besoknya dan besoknya dan besoknya lagi!

P.S. Emm, yaaa. Salah satu bestiesku bakal merantau kembali dan aku mendapati diri nangis mingsek-mingsek sambil ngetik di layar ponsel seolah-olah lagi sms mama pas disuruh motivator ssc untuk menyatakan betapa besar cinta kita pada mereka. Huwik. Alay aku, ah.

P.S.S. LDR-an kita semua, yah. Penting line wajib aktif! :p

Jakarta, 28 Agustus 2015