Mereka Yang Berada Di Luar Lingkaran

stop bullying4

“Eh, ke sini, yuk! Main sama kita-kita.”

“Nggak deh. Maaf. Aku mau pulang. Mama udah jemput.”

Sekali lagi, aku menolak ajakannya. Entahlah. Bergumul dengan geng yang terbentuk di kelasku  tidak terlalu membuatku nyaman. Yang ada mungkin aku hanya bisa mengetuk-ngetukkan jemari dan kaki lantas mendengarkan candaan mereka yang hambar terdengar melalui telingaku.

Aku bukannya merasa mereka tidak menerimaku, sih. Hanya ingin menarik diri saja dari suasana yang tidak terlalu sesuai untukku.

Sebelum aku mengambil sepatu di rak depan kelas, tiba-tiba Reni–seseorang yang baru saja mengajakku bermain bersamanya–berseru, “Lup! Tunggu! Aku ngapain, nih di kerja kelompok?”

Sejenak, senyumku tersungging. Namun hal itu hanya berlangsung sesaat lantaran Hasan mendadak muncul dari balik punggung Reni. “Halah kasih aja dia semua yang ngerjain. Toh ya dia mau-mau aja,” Sahutnya cuek lalu masuk kelas. Ah, lupakan saja. Reni pasti menurut Hasan. Tanpa memedulikan mereka lagi buru-buru aku berbalik pulang.

Ingin rasanya aku meneriakkan bahwa penelantaran pekerjaan seperti itu tidak baik. Tidak sesuai dengan titelnya yang kerja kelompok. Bisa dibilang, aku kerap mengorbankan diri demi nilai yang didapat orang lain. Aku sering mengerjakan semuanya sendiri.

Sebentar, apa? Kau menyebut hal itu bully? Jujur, aku tidak terlalu mengganggap hal tersebut sebagai bully sih. Karena semua kukerjakan tanpa mengharap pamrih dan kehadiran mereka. Ya memang, hobiku mengerjakan sesuatu hingga tuntas.

Jadi, untuk sementara mereka bukan masalah bagiku.

***

“Kamu tuh, kenapa semua kerjaan kamu yang buat? Dari beli gabus, triplek mahal, alat bahan sampe ngeprin aja semua kamu. Temenmu yang kaya-kaya itu mana sih? Mereka makan nilai buta?” Seru kakak mendapati aku begadang di tengah pelbagai alat dan bahan di sekitarku.

Seketika aku terdiam. Berusaha menekuni hal yang tengah kukerjakan. Yah, lebih baik memang menyelesaikan hal ini lebih dahulu daripada meladeni omelan kakak.

“Kamu cuma bisa diam? Sampai kapan kamu bakal gini terus? Diperalatin? Dimanfaatin siang malam?” Ucapnya setengah berteriak. Aku membeku. Menghentikan tanganku tapi tak berani menatap mata kakak. “Buka mata kamu! Belajar dari kakak! Udah dapet bully, bikin masa depan mereka rusak, kita untung apa?” Lanjutnya lagi.

Kontan bulir-bulir mulai terproduksi merangkak menumpuk di pelupuk mata. Tapi aku bisa apa? “Kayak gini terus bukan cuma bikin badanmu remek, tapi juga hati!” Serunya lagi kemudian beranjak pergi membanting pintu kamar.

Ternyata kakak benar, bukan hanya badanku yang melemah tapi hatiku pun turut merupa remah.

***

Aku meneguhkan hati. Jujur, aku tidak ingin membenarkan keseluruhan kata-kata kakak. Memang sih, selama ini aku hanya sibuk pada duniaku sendiri hingga menghindari yang lain sampai selalu menurut perintah mereka. Mungkin sudah waktunya membuka diri.

Ketika berjalan di koridor sekolah, aku menangkap sesosok tubuh yang kukenal. Buru-buru kupercepat langkah beringsut mendekat kepada seseorang tersebut. “Hai.” Sapaku pada Winda, teman yang selalu bertanya PR kepadaku.

Entah ini benar atau tidak, aku merasa Winda menoleh dengan picingan pada sudut-sudut matanya. “Hai. Eh, hari ini ada PR MM, ya? Aku pinjem dong nanti.” Aku mengangguk lemah. Lalu hening beberapa saat. Tak ada candaannya seperti biasa. Tak ada perhatiannya seperti ia bersikap pada yang lain. Hanya diam. Membicarakan yang itu-itu saja.

Tiba di kelas, Winda berubah. Total.

Dia sungguh ceria bersama yang lain. Bertepuk hi-five, tertawa di sana-sini, menjahili yang lain. Sekelebat waktu, tercetus banyak pertanyaan dalam benakku. Yang mungkin jika kurincikan satu-satu bisa menghabiskan setengah buku. Aku menghela nafas besar. Memandanginya dari jauh di tempat duduk abadi paling depan milikku tanpa pernah memiliki satu-pun teman bangku.

***

Hari ini ada PR matematika yang kukerjakan hingga larut malam kemarin. Aku melangkah gontai menuju kelas. Merasa tidak ada yang perlu dikejar lantaran telah memenuhi kewajibanku sebagai siswa. Seperti dugaanku, ketika masuk kelas hampir seluruh siswa ribut dengan kertas penuh angka-angka.

Tepat bel berbunyi, tiba-tiba Hasan menghambur ke arahku. “Pinjem PR, ya.” Tanpa kuizinkan terlebih dahulu kertas sudah berpindah tangan dan aku kembali terduduk sendiri. Mungkin hanya beberapa yang minta bantuan cara kepadaku lalu kembali pergi. Selebihnya? Aku sendiri. Menyepi.

Mereka…Yang kufikir telah menjadi temanku ternyata hanya melakukan tiga hal padaku. Menolak membagi kebahagiaan denganku, mengandalkan aku dalam hampir semua pekerjaan rumah dan hanya berada di sampingku ketika butuh.

Lagi-lagi perih merayap menuju manikku. Sekuat tenaga kutahan agar tidak ada setetes air matapun keluar.

Mereka masalah bagiku. Bodoh. Mengapa baru sadar sekarang?

***

Hari sudah beranjak sore tatkala kuhampiri mama tengah duduk menekuni rajutannya di beranda. Melihat beliau selalu tersenyum meski tak ada siapapun yang mendampinginya kadang buatku hatiku teriris. Mama begitu kuat. Mengapa aku tak bisa sedikit saja menirunya? Bagaimanapun hal itu merupakan urusan nanti. Masih ada yang ingin kubicarakan kini.

“Ma, aku… Aku mau pindah sekolah,” pintaku saat duduk di sebelah mama.

Sejenak mama memandangku. Sedang jemarinya masih fasih mengait satu benang ke benang lain. Matanya menyipit. “Kalo kamu pindah sekolah tapi kelakuanmu tetep gitu ya sama aja. Bakal di-bully terus,” tutur kakak yang mendadak muncul berdiri di ambang pintu.

Mama masih terdiam. Aktivitasnya terhenti sekarang. Kedua bola mata kelabunya menatap kami bergantian. “Kalian kenapa sih?”

Aku tak mampu menjawab. Menurutku ini masalah pribadi. Tidak ada gunanya berbagi dengan yang lain. Beberapa detik menggantung dalam hening akhirnya kakakku beringsut ke arah kami lantas berucap, “Kuncinya cuma satu, berani. Berani ngomong, berani nolak, berani dapetin hakmu. Udah. Mereka bakal respek,” dan duduk di sisi mama yang lain. “Kalo kamu tiba-tiba frontal, ya, percuma. Bertahan sekurun waktu anget-anget tai ayam. Setelah itu? Ya bakal di-bully lagi.”

Mama mengangguk mengerti. Beliau tersenyum penuh arti. Entah mengapa melihat mama seperti itu saja sudah membuatku semangat lagi. Ah, ya. Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan.

***

“Pinjem dong,” aku tengah menulis kalimat terakhir tugas Bahasa Indonesia ketika tiba-tiba Hasan menyabet bukuku lantas berlalu pergi.

Aku kembali menghela nafas besar. Lalu buru-buru membulatkan tekad bahwa hal ini tidak sepatutnya terjadi. Harus berani, ucapku dalam hati.

Sejurus kemudian aku mendapati diri berdiri di belakang Hasan. Kertasku nampak terkulai lecek di meja Hasan. Dalam satu gerakan cepat aku mengambil secarik folio tersebut. Mendadak semua mata tertuju padaku. “Maaf tapi aku–” Aku nggak mau menjerumuskan kalian. “–aku nggak mau kalian melakukan hal ini lagi,” sambungku tertahan. Beberapa detik berlalu dengan diam lalu mereka kembali pada pekerjaannya masing-masing.

Tatkala jam terakhir tiba dan pelajaran seni rupa mengharuskan kami menggunakan pensil gambar, aku yang menghampiri mereka berniat untuk meminjam mendapat perlakuan yang tidak jauh berbeda seperti biasanya. Hanya saja jika biasanya mereka menatapku sesaat, kini mereka meminjamkan barang tanpa menganggapku ada.

Aku di-bully terang-terangan.

***

“Sudah siap?” Tanya mama melihatku keluar dari rumah mengunci pintu dengan tentengan koper besar.

Aku mengangguk. Melangkah menuju taksi yang sudah dipesan mama. Kakak nampak sudah anteng di tempat duduk samping kemudi. “Lebih dari siap, Ma.” Jawabku kemudian. Dua hari yang lalu saat mengurus surat kepindahan, guruku berucap bahwa semua temanku sudah diberi wejangan dan ‘tamparan.’ Yah, setidaknya aku tidak perlu menjelaskan hikmah kepergianku pada mereka.

Jujur, belum pernah aku merasa seringan ini.

***

10 tahun kemudian…

Make up-ku berantakan. Wajahku kusut. Pakaianku juga sudah mulai menyatu dengan bau tubuh. Ah, sudah jam berapa ini?

“Terima kasih sudah menjadi narasumber kami, Bu,” ucap Pak Wiranto sopan mengantarku ke tempat parkiran. Lelaki tersebut menjabat tanganku lantas berbasa-basi formal.

Aku baru saja membicarakan bully-ing di salah satu universitas ternama Jakarta. Agak aneh mendapati managerku menelepon mendadak bahwa mereka sangat antusias dan ingin melihatku selepas pulang dari Amerika untuk mewakili Indonesia pada ajang Anti-Bullying Internasional. Mengingat waktu yang tersisa hari ini hanya malam hari ternyata ada juga yang masih semangat berinteraksi denganku meski jam tidur sudah lewat.

“Ya, Pak. Saya sangat senang bisa bertemu dengan mereka semua,” sahutku sopan. Kami berjalan membicarakan banyak hal. Ya, meski harus kuakui kesemua topik tidak kurespon secara baik, sih. Mau bagaimana lagi? Sekarang pukul sebelas malam dan kini waktuku untuk pulang. Jadi tak salah kan bila keletihanku terlihat?

“Lupi?” Terdengar suara seseorang dari belakang. Kontan kumenolehkan wajah. Seketika aku terkesiap. Aku tidak mungkin salah mengenal.

Dia..Dia Hasan. Kawan yang dulu merebut pekerjaan rumahku. Mataku melebar. Dia nampak seperti seorang pegawai resmi pemerintah. Syukurlah kabarnya baik-baik saja. “Saya tinggal dulu, Bu. Masih ada yang harus dibereskan. Terima kasih sekali lagi,” tak sadar masih ada orang lain, ucapan Pak Wiranto hanya kurespon dengan anggukan saja. Lalu ia pergi. Sungguh aku masih terkejut dengan seseorang di hadapanku ini.

“Bukumu bagus. Projekmu apalagi. Saya kagum sama kamu,” ungkap Hasan tanpa malu. Sejenak aku menginngat. Dulu mereka tidak  pernah menyebut mereka dengan ‘saya’ di hadapanku.

Thanks,” jawabku sekenanya.

Hening menggantung beberapa saat. Sampai akhirnya Hasan kembali membuka pembicaraan, “Kamu benar, banyak dari kami keteteran waktu kamu hilang. Ada hikmahnya juga kamu ngilang,” candanya sarkasme tapi aku hanya tersenyum simpul. “Saya mau minta maaf.”

Kamu mau aku ngerespon apa, coba? Batinku dalam hati. Entah mengapa semua ini terasa membingungkan. Sepuluh tahun yang lalu memang sungguh pendobrakan langkah hidupku yang baru. Melibatkan mereka–tentunya.

Lalu Hasan berucap lagi, “Saya kagum sama kamu, Lup. Terima kasih telah menginspirasi saya, ya. Oh, bukan. Lebih tepatnya kami.”

“Ya. Sama-sama,” responku datar. Bahkan sekarang aku tidak terlalu mempermasalahkan kejadian tersebut. Kecanggungan sontak menari-nari di sekitar kami. Berniat menyudahi basa-basi ini, aku bertanya, “Ngopi, yuk?” Yang ditanggapinya dengan dua bola mata mengilat keheranan.

Tidak ada sesuatu yang terlambat untuk memulai hal baik, bukan?

Sidoarjo, 20 Juni 2013
Diikut sertakan giveaway ini.
SAY NO TO BULLY!

Advertisements