[18] A while only, kok. Hopefully.

In the end of the day. Ketika akhirnya bisa punya waktu senggang, I feel clueless.

Entah mengapa seolah-olah tuntutan dari dosen, organisasi, komunitas, orangtua, itu do not make me feeling really alive. Kayak, that will be done soon but I’m taking breath for a while here. A while yang sebenernya sama sekali nggak produktif.

Kita mungkin bisa lelah. Bisa merengek pada Tuhan supaya teringankan segala beban, terbebaskan dari amanah, terselesaikan dari masalah, apapun untuk membuat nafas kita melega. Tapi kita juga perlu tahu bahwa Tuhan nggak sedang menunggu. Moreover, time. Cih, mana mau waktu menunggu?

Mengutip dari Kurniawan Gunadi, bahwa kita adalah makhluk-makhluk yang sedang menunggu. Menunggu apa hayo? Kematian. Kita sedang dalam perjalanan panjang menuju gerbang pengantar keabadian(Wuusss, bahasanku, ya).

Sesungguhnya, I never think about why we should meet up people and end up waving them—saying goodbye like it was the worst thing. Atau ketika, meeting the facts that we are all connected. Baik itu pergaulan, destiny, tujuan, atau bahkan unexpected thing. Maksudku, mikir kayak gitu nggak pernah bakal ada habisnya gitu. Selalu ada dua sisi. Sedih atau bahagia. Mau yang mana, tergantung kita. Apapun pilihannya, selalu berharap yang paling indah.

But always. I remember Allah has His path for me—even every single of us—in every second we taking breath and stepping something. He always does.

..Dan jangan lupa. Bukankah dari sekian banyak peristiwa yang telah kita lalui hanyalah ilusi dari ladang penanam pahala semata? Because life ‘is only’ a boat. Not even an Island we have to reach for the final arrival.

Just make sure every time we spend bermanfaat, yhaa. Hihihi.

Selamat rehat. Semangat berangkat, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 20 Januari 2016

[17] WHAT DOESNT KILL YOU MAKE YOU STRONGER

Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))
Bocah-Faizal-Ruree! Yaampun jaman-jaman SMA :))

“Aduh, maaf banget ya. Nggak jadi bisa datang. Tak doakan semua bisa sukses, guys! See you on top!”

Mungkin kalimat di atas merupakan kalimat doa yang baik, ya. Saling berharap supaya teman-teman sukses dan jadi ahli di bidangnya masing-masing.

But. I. Hate. That. Really.

Menurutku, apa yang sudah tertera di atas sama sekali nggak mempererat tali persaudaraan. Cuma formalitas. Ungkapan yang seolah-olah harus diucapkan ketika sudah sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing. Kalimat pelarian diri dari silaturahmi yang hakiki.

But there is the time dimana kata-kata itu memang harus diucapkan. Ada saat ketika kondisi nggak memungkinkan akhirnya membuat kita terkurung di satu kota nan jauh dari rumah, mengikhlaskan kesempatan pulang, dan melewatkan waktu yang harusnya bisa diisi temu kangen dengan teman-teman sekolah.

Akhir minggu kemarin, saya bersama Raden dan Faizal membahas seru rencana ketemuan via chat WhatsApp. Dolen, bahasa Jawanya. Mereka temen baik saya banget waktu SMA. Dulu sering belajar dan main bareng. Mereka ini dua di antara orang-orang yang buat saya bersyukur banget. Because they are crazy, kind, warm-hearted, and most important—hard to find.

Faizal deket banget karena saya sering curhat sama dia. Ngobrol apa aja nyambung—apalagi bahas masalah cinta, gilak ini temen saya udah expert banget dah di bagian situ, hahaha—dari musik sampe bahasan nggak penting pun bisa aja jadi obrolan kami. Terus dulu satu les-les an sama dia juga. Pernah banget ngerasain jadi temen sepenanggungan, seperjuangan. Faizal sekarang di Universitas Brawijaya, jurusan hukum. Jurusan yang dia pingin.

Kalau Raden, nih. Hahaha. Bocah! Temen terunik yang saya punya. Kenapa terunik? Karena dia tuh naksir sahabat saya semenjak kelas satu SMA, terus dia dulu sering cerita-sharing sama saya juga. Dan yang paling saya inget tuh waktu dia minta dibimbing belajar Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik(TPA) dalam rangka seleksinya di Angkatan Kepolisian(AKPOL). Tiap Sabtu dulu sering banget nentorin anak satu ini, sekaligus cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon. Sampai akhirnya—duh, ini bagian-bagian mengharukan—tes dilaksanakan, dia diasingkan beberapa saat lalu si bocah ini ngabarin saya via telepon untuk ngasih tahu kalau nilai TOEFL Bahasa Inggrisnya tertinggi se-peserta Jawa Timur dan nilai TPA-nya tertinggi se-Indonesia!

Alhamdulillah. Alhamdulillah.

And yes, dia berhasil masuk AKPOL :’) #tearsofjoy!

Seneng banget nggak sih rasanya jadi part of bigger thing that is success and valuable for others? Itu yang saya rasain waktu berbagi. Itu yang buat saya sangat bersyukur :’)

Kami tuh sebenernya ngerencanain tanggal 27 besok buat jalan bareng. Around Surabaya aja. Acaranya sederhana, sih. Pengennya cuma ngemall buat nonton—which is mau nemenin Raden yang belum pernah nonton sama sekali :p—terus photobox dan makan bareng.

Tapi wacana hanyalah wacana.

Saya nggak bisa pulang karena nggak bisa ngelobby dosen dan terlalu takut untuk bolos satu mata kuliah inti yang emang nggak bisa dilobby.

“Ealah, Rur. Padahal aku wes bayangno kita nonton star-wars,” kata Faizal.

“Ealah, kampret. Aku habis ini kayaknya nggak ada libur panjang,” kata Raden.

Sedih, ya? Sedih banget. Temen deket saya aja kecewa apalagi yang di sini… yang nggak bisa pulang. Tapi lebih sedih lagi saya di sini terkungkung nggak bisa ketemu mama papa dan cuma bisa ngandelin telepon untuk pelepas kangen.

“Udahlah nggak usah pulang dulu. Kuliahnya kan lebih penting. Mbak kan juga masih semester satu. Papa sama mama ini telepon kamu aja udah cukup.

Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)
Ciye, kangen maksimal ciye. Ciye, cengeng ciye :’)

Itu kata papa tadi siang, waktu akhirnya menyarankan saya nggak pulang aja. Tahulah, saya mewekan. Jadi habis papa bilang gitu, sambungan saya putusin, terus air mata tuh kayaknya lancar banget produksinya sampe nafas sesek rasanya(Saya nggak cukup cuma telepon aja, Ma, Pa!)

Saya adalah mahasiswa perantauan. Rumah terletak jauh dari pandangan, sekitar 80 km. Baru kali ini banget ngerasain kangen yang sumpah demi apapun nggak bisa ditolong kalau rasanya nggak pulang. Baru sekarang tahu gimana rindunya saya sama mama, papa, temen… Rindu rumah.

Tapi dari sini, akhirnya saya belajar. Kalau keluarga, temen masa sekolah, itu dua harta yang sama sekali nggak bisa tergantikan, sesuatu yang membuat kita jadi orang paling kaya sedunia. Karena mereka adalah sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan uang dan cuma bisa eksis kalau kita telaten merawat dan menjaga silaturahmi.

“Saya lebih memilih menabung untuk pulang kampung. Karena saya tahu umur orangtua saya nggak selama menara Eiffel atau Tembok Cina yang kalian pamer-pamerin.”

Gilak, ya. Itu quotes yang bikin saya… “Okay, ini bener banget. Okay, itu bikin prinsip berubah. Okay, itu….(speecheless).” #BaperMaksimal.

Tapi perantauan melatih kita untuk mandiri dan bisa kuat sekalipun harta paling penting yang kita miliki lagi nggak ada di samping kita. Alhamdulillah, udah bisa mengikhlaskan kesempatan untuk nggak pulang. Yah, Allah SWT pasti punya rencana yang lebih indah. Yakin banget, deh 🙂

Semoga tahun depan jatah saya pulang kampungnya bener-bener eksklusif panjang dan nggak keganggu apa-apa. Hahahaamin, ya Allah:)

Selamat liburan! Selamat berkumpul dengan keluarga, Brummies tersayang!♥

Jakarta, 23 Desember 2015 | 12:23 AM

[16] Homesick Parah!

Ciye 🙂

“Assalamualaikum?”

“Waalaikumsalam. Ada apa, Non?”

“Ma, aku kangen…..”

Kemudian nangis. Sesenggukan. Bersama. Kemudian sadar ini imajinasi belaka karena nggak sampai hati ndengerin mama nangis.

Saya lagi sakit. Panas, pusing, batuk, pilek, capek-capek, linu segala macem (macam komplikasi aja, ya. Hahahaastaghfirullah.) dan timing sakitnya ini sama sekali nggak pas karena bener-bener di pertengahan UTS. Mau belajar nggak nyaman, mau mandi airnya dingin banget, mau makan buat nelan rasanya pahit, mau keluar beli makan rasanya mager terlalu takut kalau-kalau jatoh di jalan atau gimana, semua serba salaaaah. Saya sempet curhat ke salah satu kakak tingkat yang sudah saya anggap Mbak sendiri dan dia bilang gini:

“Kalau temen-temen di kosku lagi kayak kamu gitu berarti lagi homesick, Dek. LOL.”

JDYER. 😀

Deep down inside membenarkan 100%.

Cewek itu baperan, sungguh. Sekalipun nggak menampakkan kalau lagi sama temen, siapa tahu gimana dia kalo lagi sendirian di kos, malam-malam, bikin sajadah tempat sujudnya sampe basah? (Wait-wait, I am not telling about how I am di kos, ya. Itu cuma perumpamaan 🙂 ) Apalagi kalau case-nya adalah orangtua. That’s one of the weakest point we’ve all got. Cowok juga, sih. Tapi nggak sebaper ceweklah. Because they’re strong with logic and somehow I wannabe like them too, ugh (At least separuhnya aja deh, bisa nggak ya…).

The point is, homesick itu sama sekali nggak enak. Annoying. Uncomfortable. Bikin uring-uringan. Bikin galau. Bikin alay(Nggak, ini nggak kok haha) BUT dari homesick, finally you will realize how important your family are. Seunik, segila, seflat apapun keluarga kamu, they are still your one and onely lovely family you love the most whom you’ll never let go of.

Bagi siapapun kamu yang merantau, telepon orangtua kamu rutin tiap hari, ya. Dua-duanya! Jangan pilih kasih! Hahaha.

Yang lagi homesick….yaudah lah ya, lanjut aktivitas masing-masing. Yang penting pastiin tanggal pulang kampungnya kapan. Kata David Archuleta gini brummies, “Show me the good things come to those who wait…

Makanya, sabar! :p (Ngomong ke diri sendiri)

 

Jakarta, 12 Desember 2015
In the middle of belajar kalkulus, uhuk.

[14] Seragam dan Segenggam Harapan

Satu B kompak selalu, ya! :)
Satu B kompak selalu, ya! 🙂

Have you ever thought about the essential of wearing uniform? Selain untuk pemerataan status sosial murid atau mahasiswa, tentunya. Karena jauh daripada itu, menurutku esensinya lebih daripada itu.

Seragam mendefinisikan dimana kamu sedang belajar. Jalur keahlian apa yang kamu pilih. Tanggung jawab sebesar apa yang kamu pikul. Karena belajar atau menuntut ilmu nggak sesederhana yang dibayangkan. Tugas kita bukan cuma belajar, berorganisasi atau aktif dalam kepanitiaan. Lebih daripada itu. Kata guru saya waktu SMA dulu,

“Tugas kalian saya kasih nilai 60, 70, 80, 90, 100 sekarang terserah saya. Kalau saya mau, bisa saja kalian request mau nilai berapa. Bisa saja. Tapi bukan itu sesungguhnya tugas kalian. Tugas nyata kalian adanya di sana. Masa depan dan masyarakat. Bagaimana nilai-nilai benar-benar kalian aplikasikan atau bagaimana nilai-nilai tersebut sudah tidak ada artinya sama sekali.”

That’s it.

Universitas, Sekolah Tinggi, atau apapun instansi tempat kamu menuntut ilmu adalah media. Miniatur dari masyarakat sesungguhnya. cuma sepersekian persennya saja. Tapi kalau sudah terlatih di dalam media tersebut, inshaAllah siap menghadapi yang lebih berat.

Moreover when you know your education been paid completely or partly or one-fourth only by money citizen. Berasa punya utang, ya? Utang yang baik tentunya.

‘Sudah dibayarin, masa cuma belajar saja? Nggak aktif sama sekali? Lalu mau ‘membayar’-nya dengan apa? Bakti masa depannya akan seperti apa?’

Bagaimana hal tersebut malah membuat semangat semakin terpacu. Terlebih lagi, di sana… Di kampung halaman orangtua tercinta mendoakan dari jauh. Meletakkan harapan-harapan beliau di pundak kita.

How I miss mamski so much. Jadi pengen meluk mama #baper.

Ada satu hal lagi yang waktu itu disampaikan guru saya,

“Kalian harus ingat, anak-anak bukan saya yang beri kalian pertanggung jawaban nilai tapi Dia. Dia yang berada di atas kita semua, mengawasi segala gerak-gerik kita setiap saat. Allah SWT.”

Ini temen kos :D
Ini temen kos 😀

Semangat mengemban tugas, wahai para penuntut ilmu se-Indonesia Raya! Selamat mengenakan seragam dan menggenggam banyak harapan, calon statisti STIS! #MoveOnPDA! 🙂

 

Jakarta, 03 November 2015

[9] Tuhan, (Maaf) Kami Berpura-pura

Aku bukan ahli biologi. I don’t even know how hormones really works. Apa dia hanya meloncat dari dendrit satu ke lainnya(Sebentar, ini syaraf bukan?) atau hanya menunggu pemicu. Aku sama sekali nggak paham jelasnya.

Yang pasti, ada radar tersendiri ketika seseorang yang menarik perhatian ada di sekitar. Apakah dia hanya terdiam, berjalan, mengobrol. Apapun. Secepat aku sadar, secepat itulah aku berbenah. Melembutkan perkataan, bertindak anggun, cepat-cepat shalat, membaca al-quran, being really a woman.

Tapi butuh beberapa waktu untuk menyadarkanku. That everything above, all the-shappy-things called…whatever you called, is unworthy. Sama sekali.

Aku memang bukan ahli biologi. Tapi fakta bahwa hormon bisa bekerja sedemikan rupa hanyalah karena kehendak Allah semata. Bagaimanapun caranya, Allah yang tahu jelas persisnya. Setiap detik. Bahkan saat kamu membaca ini-pun, saat aku mengetikkan inipun, Allah mengatur segala sesuatunya.

Suddenly I am confused.

Buat apa sebenarnya ibadahku? Karena ingin memberi impresi atau karena panggilan hati?

Seringkali aku melupakan kenyataan. Bahwa Allah memperhatikan. Allah melihat. Sekalipun hanya mengedipkan mata, Allah tahu persis.

Then shame got me.

Mengapa dengan zat yang paling peduli, sujudku hanya setengah hati? Menjunjung tinggi hedonisme, bersantai-santai ria, berpura-pura. Padahal impresi yang kutunjukkan belum pasti diperhatikan pun juga nggak akan terjadi tanpa kehendak-Nya.

…Pada akhirnya aku bersyukur. Atas kehendak-Nya pula aku mampu mengerti sedemikian ini. Walaupun (sangat) telat. Lebih baik begitu, daripada nggak sama sekali, kan ya? 🙂

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

 

Jakarta, 25 November 2015
P.S. Terinspirasi oleh “Mencintai-Mu” karya Kurniawan Gunadi di Buku Hujan Matahari

[8] Lapor, Ma(sya Allah).

 

She was such in hurry.

Perempuan itu berjalan. Kakinya melangkah satu-satu dalam gerakan cepat. Nggak sabar dia sampai di kosnya. Nggak tega membiarkan ponselnya menghitam sejak siang tadi.

Setibanya di kos, buru-buru Ia mencari charger. Menunggu dengan sabar hingga layar kembali normal. Sekalipun jelas-jelas ia tahu dirinya smelly, She didn’t care. Jari-jarinya mengetuk-etuk dengan cepat nomor kontak di ponselnya: Mama.

“Assalamualaikum, Mbak. Lagi dimana sekarang? Kemana saja seharian? Kok mama telepon berkali-kali nggak diangkat. Ada acara di kampus toh?” Secepat berondongan pertanyaan meluncur dari jauh di sana, secepat itulah hati si perempuan menghangat.

Ia tersenyum. “Waalaikum salam. Lagi di kos, Ma.” Nggak ada pelipur lara paling menenangkan selain mendengar suara mama setelah seharian berkutat pada dunia. Nothing except that.

Sekalipun mama lebih dominan mengomel. Bukan marah, ya. Mengomel. Memberitahu kita letak kesalahan lengkap dengan solusi-solusinya. Rasanya mendengar suara mama yang begitu saja seperti tersiram air dingin di tengah padang pasir terik.

“Ma, aku mau mandi. Udahan dulu, ya?” Kata si perempuan melalui loudspeaker.

Nan jauh di sana, mungkin perempuan itu sama sekali nggak tahu betapa masih merindunya sang Mama. Betapa Mama masih ingin mendengar suaranya, tawanya, ceritanya. Sekalipun Mama sudah bekerja seharian penuh, taking care everything from A to Z. Hingga penyakit encoknya nyaris kambuh atau batuknya atau pileknya atau maagnya.

But no mother showed it. Not even a single one.

“Iya. Jangan lupa laporan, ya.” Cuma itu yang Mama responkan.

Perempuan berkerudung putih panjang itu berkenyit dalam. “Kan sudah, Ma?”

Giliran mama tersenyum. “Laporan sama Allah. Jangan pernah melupakan itu.”

Perempuan itu menertawakan dirinya sendiri. Pikirannya sudah penuh kabut rindu insan ciptaan hingga lupa siapa penciptanya. “Ya, Ma. Pasti.”

[2] Tentang yang Rela Kamu Ajak Bicara Tanpa Kenal Kala

5cf541b859c40d13d77c154032a50ae0

I am able speaking to everyone. No matter how old they are, how they dressed, how their traits. So far, I can tell you that I can speak to them. Definitely, to you too.

Nggak cuma aku saja. Kamu pun bisa bicara dengan siapapun, kan? Asal ada bibir yang nggak hanya mengatup dan dua telinga yang harus siap mendengar sahutan apapun. Juga pikiran yang kudu spontan berfikir sebelum membiarkan bibir mengatakan apapun.

Speaking is kind of media. Komunikasi. Jembatan supaya tiap insan bisa saling mengerti satu sama lain, ya kan?

The thing is. Siapa yang mau kamu ajak bicara? Siapa yang bersedia menghabiskan waktu dengan saling mengisi canda sampai perut sakit karena tawa?

Aku yakin, pasti cuma segelintir…

Sekalipun kamu famous, hitz, or every words that hyped now, you still need those men. Nama cheesy-nya, besties.

Kepanjangannya adalah seseorang yang udah kamu anggap.kayak saudara sendiri dan bisa kamu ajak bicara sampai waktu yang nggak terkira.

Mereka mungkin bukan orang yang pertama kali ngucapin selamat ulangtahun ke kamu. Tapi mereka langsung ke rumah begitu punya waktu luang untuk main. Mereka bukan orang yang suka ngomplain ini-itu. Tapi mereka sering ngomel panjang-lebar. Tanpa pernah malu ngasih tahu kesalahan kamu. Mungkin mereka nggak bisa basa-basi. Tapi begitu tahu batang hidung kamu, topik pembicaraan nggak akan ada habisnya. Mungkin mereka bukan seseorang yang sigap menghapus air mata kamu. Tapi mereka tahu gimana mengembalikan senyum di wajahmu, even only by their words! Mungkin mereka bukan seorang motivator atau pendongeng. Tapi tiap bertingkah, mereka selalu nggak sabar berbagi cerita ke kamu. Terlepas appropiate atau nggak konteks ceritanya.

Someone who always stand for you. No matter how rough the situation gotten.

Like one of my besties said, “Wajarlah nangis pas sobat merantau. Mereka kan belahan jiwa.”

Belahan jiwa yang memandang langit yang sama. Kakinya berpijak di bumi dengan koordinat berbeda dengan kita but still, the distance making us learning to be strong in surviving a precious relationship. Jarak bikin kita jadi kangen dan sadar betapa beruntungnya kita memiliki satu-sama-lain.

Karena yang seperti itu, jarang ada.

Yang jarang itu, hanya sahabat.

Teruntuk kamu semua sahabatku, nggak sabar dengar cerita kalian besok dan besoknya dan besoknya dan besoknya dan besoknya lagi!

P.S. Emm, yaaa. Salah satu bestiesku bakal merantau kembali dan aku mendapati diri nangis mingsek-mingsek sambil ngetik di layar ponsel seolah-olah lagi sms mama pas disuruh motivator ssc untuk menyatakan betapa besar cinta kita pada mereka. Huwik. Alay aku, ah.

P.S.S. LDR-an kita semua, yah. Penting line wajib aktif! :p

Jakarta, 28 Agustus 2015