[15] (Harusnya) Bukan Jadi Alasan

Kadang ada beberapa hari yang terlewat tanpa ada sesuatu yang bisa dicatat, ditulis. Rata-rata karena hari itu bener-bener flat. Nothing special. Atau karena terlampau spesialnya, bisa jadi nggak mau nulis apa-apa, membiarkan hanya dirinya dan Allah SWT saja yang tahu.

Manapun itu, nggak lantas jadi alasan untuk menghentikan rutinitas yang baik, ya. Hahaha. Jangan dicontoh.

“Karena lebih baik sedikit namun dikerjakan setiap hari daripada banyak tapi hanya sekali-kali.”

Berulang kali saya dengar quotes itu. Sampai sekarang pun kayaknya jarang absen. Memang kata-kata mutiara yang nggak ada matinya, ya. Maksudnya, that’s a right thing to do but human tend to ignore it. Lagi-lagi berfikir kalau punya waktu lama untuk melakukan segala sesuatunya.

…Karena memang Allah SWT menyukai pribadi yang istiqomah, ya. Nggak heran sering diingatkan 😀

Supaya bisa kuat berutinitas-ria, harus terus bersyukur dan bersabar. Semata-mata karena—katanya Usep Badruzzaman—“Gusti Allah ora sare”. Hihihi.

Selamat malam, Brummies. Selamat beristirahat 🙂

 

Jakarta, 07 November 2015

[13] 31 Oktober 2015

tumblr_lulgxlFDbE1r5ssqlo1_500_large

Nggak kerasa banget sudah di penghujung bulan, ya. Nggak nyadar juga dua bulan lagi bakal berganti tahun(tapi tahun baru Islam sudah bergulir kok, haha). Uhuk. Gimana, nih progress di bulan kesepuluh? Apa target-target sudah terlaksana?

Here, I am the one who will answer: not yet. Mwahaha. Malu. Sungguh. Karena memang ada beberapa hal yang terus-menerus saya pending, skip, lupakan, abaikan, buang ke laut, umpetin di kolong tempat tidur—apapun—sampai tahu-tahu aja sudah numpuk. Tahu-tahu saja melihatnya bikin panas mata, bikin gemes hati, bikin sedih pikiran.

Kata Wahyu Aditya: Ilmu otak kadal banget, kamu! Thinking we have a lot of time and able to do everything on our own up to own mood?

Orang paling kaya di dunia adalah orang yang bisa membeli hal yang nggak bakal terbeli. Here, the context is time. Always. Makanya, cuma Allah semata yang paling kaya. Fortunately, time machine only exist on science-fiction movie, ya. Kalau ada beneran… Ya, bakal tetep saya pakai, sih. Mau mengenang betapa alaynya saya zaman dulu. Yang sekarang mungkin terbawa sedikit-sedikit. Atau banyak, ya? Ah, terserah. Nggak baik menilai diri sendiri #ngeles 😀

But, seriously.

Waktu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main.

Berulang kali saya mendengar nasehat itu. Gini, dulu zaman SMA pernah meremehkan ulangan biologi karena saya notabene sama sekali nggak suka biologi dan nggak(benar-benar optimal) memahami materinya. Tapi saya berpersepsi bahwa akan mengulang pelajaran di rumah. Seperti anak SMA pada umumnya, saya pending teruuuus sampai akhirnya haripun bergulir. Kemudian berhenti. Tepat di ulangannya itu.

Bisa ditebaklah, apa yang terjadi… Remidi! Hahaha(Menertawakan kegagalan sendiri adalah hal yang nggak baik. Jadi saya mohon. Ini hanya bacaan untuk 18 ke atas. Yang umurnya kurang, nggak papa sih lanjutin aja. Tanggung soalnya. Mwahaha).

Itu contoh sederhana aja sih. Dampak dari sama sekali nggak menghargai waktu. Just like bapak-bapak TNI pelatih Bela Negara kami kemarin bilang:

“Kalau mau orang lain menghargai kalian, hargailah orang lain terlebih dahulu. Enak sekali kalian minta respect tapi kalian sendiri nggak mau respect.”

That quotes have to implant towards managing time, too.

Aku, kamu, kita, semua adalah fighter yang berival kuat dengan waktu. Selalu. Setiap orang punya 24 jam yang sama tiap hari. Dimana bener-bener up-to-us mau menghabiskan seperti apa. Apa mau untuk memikirkan topik skripsi(kakak-kakak tingkat tahun terakhir di universitas atau sekolah tinggi manapun semangat, yoaaa), atau untuk belajar mati-matian atau malah hanya untuk menonton drama-drama (yang sebenernya sama sekali nggak ada efeknya buat kehidupan nyata kita kecuali daydreaming-_-) atau main uno atau chattingan sampai tiba-tiba nggak kerasa aja udah sampai malam berkutat di depan layar ponsel.

Apapun kegiatannya, nggak mau kan membuang satu hari berharga yang nggak akan terulang lagi?

Karena jalan menuju kemalasan selalu lebih menggoda. Hahaha. Yuk, kita perangi bersama! 😀

 

Jakarta, 31 Oktober 2015
P.S. Maaf gambarnya nggak ada korelasi sama sekali dengan tulisannya, ya. Hahaha.

[12] Cruel Like A Deadly Fuel

tumblr_ly4jocsFxY1qd4q01o1_500_large

Mengawal rindu bukan perkara gampang. Berharap Mama nan jauh dari mata untuk bisa mewujud nyata kadang hanya sebatas angan. Dan papa. Lalu sahabat karib yang kini tengah sama-sama berjuang menuntut ilmu. Hmm. Jarak itu sadis, ya.

Fact that we wanna their hugs or hearing their laughs or simply just seeing their smile itu yang bikin makin nyiksa. Iya nggak, sih?

Terlepas dari seberapa aktif kita, sejauh mana kita didamparkan, setekun apapun kita belajar, se-yolo apapun diri kita, dalam 24 jam sehari pasti ada waktu dimana kita hanya sendiri. Entah itu berdiam diri atau memang karena waktunya tidur dan mandi. Nggak mungkin kan dua hal itu dilakukan bersama? (Eh, tapi kalau buat tidur boleh-boleh aja asal sama sesama jenis, ya. Haha.)

Kadang waktu benar-benar nggak ada yang menemani, kita pasti akan selintas terpikirkan orang-orang masa lalu. Yang masih eksis, dan mendukung hingga sekarang. Berharap bisa menceritakan apapun keluh-kesan usai seharian beraktivitas—secara langsung, face to face.

Because nothing can replace real things. Real people. Real talk. Real sympathy. Real love. Real care. Real stuffs.

Sekalipun sajadah kamu basah oleh air mata. Nggak akan ada yang tiba-tiba bisa membawa orang-orang yang kita rindukan di hadapanmu. Kecuali Allah semata, sih. Haha.

Eventough distance is cruel like deadly fuel, I learn something from it. That we should be patient. Menyerahkan segala sesuatunya pada Yang Maha Tahu dan senantiasa berdoa supaya orang-orang paling kamu sayang bisa terjaga lantas bisa kembali kita tegur sapa cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon nggak peduli senja tiba-tiba menjingga nila esok paginya.

Berat, sih. Tapi bisa kok. Harus bisa, ya.

Selamat berindu-ria, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 29 Oktober 2015

[11] Menyoal Beliau

[11] (2)

Berbahagialah kamu yang belum pernah membuat orangtuamu menitikkan air mata. Merapal berbagai doa dalam hati supaya anaknya berubah…baik.

Please, be happy for it. Truly.

Because when you do reverse, rasanya sakit. Ketusuk. Sel-sel dalam tubuh lemas seketika saking nggak percayanya kita telah melakukan kesalahan.

Membuat orang yang paling kita pedulikan menangis adalah hal super-mega-dobel-besar dosa. Allah jelas tahu.

Sekalipun cek-cok kecil, Allah Maha Tahu.

Mengecewakan merupakan kata-kata yang familiar buatku. Membangkang. Membentak. Apapun yang membuat beliau mengelus dada. Apapun yang membuatku sendiri merasa gagal menjadi anak kebanggaan.

It hurts even deeper when finally they always forgive you. Always accept you just like you are now. Just like you want to be considered. It hurts when they have nothing to revenge but just love us back. That’s the pain you’ve got to take. There is nothing you can do but regretting every mistake you have done.

But that is their best gift ever. Adanya mereka saja sudah jadi suatu hadiah terbesar untuk kita semua, kan, ya?

Karena orangtua sayang. Kita. Selalu. Seburuk apapun kelakuan. Sehina apapun kesalahan. Tetap saja.

Nggak ada orangtua sempurna di dunia ini. Adanya mereka yang selalu berusaha untuk memberikan kita yang terbaik, seburuk apapun keadaan. Segila apapun situasi. Mereka selalu ada. Mereka selalu mengingat kita. Mereka jelas-jelas mendoakan kita. Mengharapkan kita menjadi bintang-bintang gemerlap. Di sana. Langit tertinggi cita-cita. Dan nggak lupa, beserta hati mereka. 🙂

Brummies, sudah bilang sayang ke Mama Papa hari ini?

 

Jakarta, 26 Oktober 2015

[10] Kasih yang Baik

Falling in love is sucks.

Karena jatuh nggak akan pernah enak rasanya. Kata Sweta Kartika, “Jatuh paling enak adalah jatuh di antara bintang-bintang ketika gagal meraih mimpi tertinggi.” Familiar dengan quotes tersebut? Iyalah. Kan Kakak-nya ngutip Soekarno. Haha.

A lot of people saying falling in love is a really great feeling. The greatest, malah. Bagiku, sih… jatuh kayak gitu mah enaknya cuma di awal aja. Akhir-akhirnya bingung mau buang perasaan kemana. Ujung-ujungnya nulis galau(kalau saya, dulu. Dan kalian bisa cari buktinya di blog ini, hahaha). Ujung-ujungnya ngeforsir diri biar lupa. Bahkan di antara kita mungkin langsung down kali ya begitu sampai di garis finish dan bilang: “Alright, I am done falling in love with you, alien!

Because it is hurting. Just like falling from bicycle or falling from climbing tree. Bahkan saking alaynya, ada yang trauma buat jatuh cinta! Hahahaalay.

But it doesn’t happen, it wouldn’t happen kalau orang yang kamu beri kasih hanya Allah semata—juga dengan orangtua tercinta tentunya.

Kasih-Nya memang sudah jelas. Sangat terlampau jelas, malah. Aku bahkan nggak kwad menghitung seberapa besar hal yang Ia beri karena saking nggak terhitungnya. Like He gave us unlimited things we essentially needs without we have to say it first kan, ya?

Kata Maher Zein, “We just have to open our eyes and hearts and minds. If we just look bright we’ll see the sign. We can’t keep hiding from the truth. Let it take us by surprise.”

Mostly, kasih tanpa batas jarang banget di-notice. Diabakan, seringkali. Berfikir bahwa tanpa kita berterima kasih, tanpa loving back-pun, kasih tersebut akan terus bergulir, terjalin, mengalir. Seperti kasih Mama, Papa, dan Tuhan Semesta Alam.

Pernah nggak sih, sekali aja kefikiran bagaimana memberikan hadiah epic untuk Tuhan seperti halnya mikirin jungkir-balik bakal ngasih apa untuk ulangtahun crush? Atau..lebih sering mana, nih. Teriang senyum crush atau rindu senyum Mama menyambut di stasiun?

Nggak usah bohong kamu, Dek! Allah punya datanya!

Hahaha.

The point is, kasih-kasih unlimited itulah yang pantas kita selami. Kita tindak-balik. Kalau perlu, giving-back-nya wajib lebih besar, lebih dahsyat, lebih megah, dan lebih memorable. For showing that we are as a human being really appreciate and grateful for having unlimited good love. Apalagi ketika pada akhirnya terpacu karena kasih tersebut merubah kita menjadi pribadi lebih baik.

Nggak bakal ada ruginya, ya? Insya Allah 🙂

 

Jakarta, 25 November 2015

[9] Tuhan, (Maaf) Kami Berpura-pura

Aku bukan ahli biologi. I don’t even know how hormones really works. Apa dia hanya meloncat dari dendrit satu ke lainnya(Sebentar, ini syaraf bukan?) atau hanya menunggu pemicu. Aku sama sekali nggak paham jelasnya.

Yang pasti, ada radar tersendiri ketika seseorang yang menarik perhatian ada di sekitar. Apakah dia hanya terdiam, berjalan, mengobrol. Apapun. Secepat aku sadar, secepat itulah aku berbenah. Melembutkan perkataan, bertindak anggun, cepat-cepat shalat, membaca al-quran, being really a woman.

Tapi butuh beberapa waktu untuk menyadarkanku. That everything above, all the-shappy-things called…whatever you called, is unworthy. Sama sekali.

Aku memang bukan ahli biologi. Tapi fakta bahwa hormon bisa bekerja sedemikan rupa hanyalah karena kehendak Allah semata. Bagaimanapun caranya, Allah yang tahu jelas persisnya. Setiap detik. Bahkan saat kamu membaca ini-pun, saat aku mengetikkan inipun, Allah mengatur segala sesuatunya.

Suddenly I am confused.

Buat apa sebenarnya ibadahku? Karena ingin memberi impresi atau karena panggilan hati?

Seringkali aku melupakan kenyataan. Bahwa Allah memperhatikan. Allah melihat. Sekalipun hanya mengedipkan mata, Allah tahu persis.

Then shame got me.

Mengapa dengan zat yang paling peduli, sujudku hanya setengah hati? Menjunjung tinggi hedonisme, bersantai-santai ria, berpura-pura. Padahal impresi yang kutunjukkan belum pasti diperhatikan pun juga nggak akan terjadi tanpa kehendak-Nya.

…Pada akhirnya aku bersyukur. Atas kehendak-Nya pula aku mampu mengerti sedemikian ini. Walaupun (sangat) telat. Lebih baik begitu, daripada nggak sama sekali, kan ya? 🙂

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

 

Jakarta, 25 November 2015
P.S. Terinspirasi oleh “Mencintai-Mu” karya Kurniawan Gunadi di Buku Hujan Matahari