Hanya Tuhan yang Tahu Ini Cinta

Hanya Tuhan yang Tahu Apa Ini Cinta - Puisi
Hanya Tuhan yang Tahu Apa Ini Cinta – Puisi

Ada satu hal penggelitik benakku.
Seputar detak jantung,
milikku yang akhir-akhir ini
kerap berpacu tiap kamu hadir
dari sudut pintu.

Ada abstrakisme pengikat.
Berkaitan dengan waktu,
yang kuharap bisa berjalan lebih lama
saat kita mulai seru membahas
isu-isu.

Ada medan penarik.
Sehubungan dengan manik,
milikmu yang kuingin tidak
kembali menatapku saat
aku diam-diam memperhatikanmu.

Ada kelegaan.
Tatkala melihatmu kerap
mendekap Tuhanmu,
bersujud, meniti doa,
merajut asa, memohon ampun.
Demi apapun aku jauh lebih bahagia
melihatmu terus melakukan itu.

Kamu tahu?
Hadirmu pelengkap, membuatku
merasa genap. Tidak ada lagi
risau, tidak ada lagi gelisah.
Leluconmu, tidak semua mampu
menggelakkan humorku. Tapi
kini wajahmu tak jarang
menyusup mimpiku.
Tawamu, tawamu mungkin
merupakan melodi
penstimulan kekehanku.
Heran, bagaimana suaramu
bisa seindah itu?
Di antara semuanya,
senyummu itu, adalah satu
yang paling kutunggu.
Yah, mungkin kamu tidak
akan pernah tahu.

Satu hal tidak kutahu,
mengapa hanya kamu yang
tiba-tiba bisa membuatku merasa
begitu?
Ada apa denganmu?
Denganku?
Dengan kita?

Orang bilang ini mungkin saatnya,
kujatuh hati.Β  Tapi aku tidak jatuh.
Aku terbang, melayang menuju
langit ke-tujuh
dengan senyum terkembang
lantaran kamu
dan memori pemberianmu
yang berputar bagai
lantunan lagu favoritku.

Apapun sebutannya, aku tidak peduli.
Sesungguhnya, jika waktu bisa kuputar
aku ingin menjauhimu lebih dulu.
Agar aku tidak perlu lagi
mencuri pandang untuk dapat
menangkap semburat bahagiamu.
Andai rasa ini bisa kusentuh,
kan kuatur ia supaya jumlahnya
tidak menyesaki dada dan
rona merah pipiku.

Sayangnya, aku hanya bisa membiarkannya.
Hidup, mengendap, entah di bagian dasar
hatiku yang mana.
Tapi, dengan begini,
aku sudah cukup bahagia.

Aku tidak tahu dimana rasa ini
akan berlabuh.
Bisa saja bertahan,
tapi tidak ada kemungkinan
baginya untuk tidak terkandaskan
oleh derik jam yang tidak pernah menjeda.
Bisa saja menyerpih, yang akan mengutuh
saat tidak ada lagi hati yang luruh,
saat kamu datang dan
kembali berjuang.

Aku tidak tahu.
Aku tidak akan pernah tahu.
Karena sesungguhnya,
hanya Tuhan yang tahu
apa ini benar-benar cinta.

Continue reading “Hanya Tuhan yang Tahu Ini Cinta”

Selubung Merah Jambu

selubung merah jambu

Tuhan bersama semesta selalu punya cerita.

Mereka mencipta titik pertemuan kita.

Menjebak pada ketidaksengajaan

dalam dimensi tak terduga dunia.

Aku berdiri selangkah darimu,

mengulum senyum, tersipu menyapamu.

Begitu juga denganmu,

Kikuk bertemu orang baru.

 

Lucu, ya, pemuda seperti kita?

 

Waktu bergulir tanpa terasa

Entah bagaimana, sosokmu jarang alfa memayungi rembulan muda.

Menjelajah bait-bait mimpi,

dan terus berada di sana.

Tiba-tiba saja, kelebatanmu selalu ada

Membangun setiap inci diri dalam sintaksis kepala

 

Tidak jelas kapan, aku khatam tentangmu, segalanya

Dari tinggi posturmu, tegak gesturmu,

gelegar tawamu, dialeg konyolmu,

manik yang berbinar sendu,

bibirmu yang menyudut malu

Bahkan sepatu hingga segala perlengkapanmu

Hey! Sejak kapan pula kau mencadu dalam bait puisiku?

 

Lucu, ya, perempuan sepertiku?

 

Tapi kau tak kalah, kita setara

Asal kau tahu

Aku senang menangkap lirikan sekilas kala dua pasang mata kita beradu

Tawaku turut menyembul tiap kau bertingkah lugu

Lesung pipiku tak ketinggalan,

Ia membentuk kala kau melontar untaian kata manis bernada rayu

Dan

Aku tak bisa tak senang mengetahui bahwa ternyata,

kau menyediakan ruang tersendiri untukku

 

Benar, kan? Kau dan aku sama-sama lucu.

Bersama-sama merupa pemuda yang terjebak lagu cinta

Saling cumbu tanpa memberitahu

 

Ah, kukira sebutan β€˜kita’ tak lagi pantas

Lebih tepat diganti menjadi,

Aku dan kamu yang terselubung kabut merah jambu

Sidoarjo, 08 Desember 2013