#15HariNgeblogFF2 – 10th – Aku Kembali

#15HariNgeblogFF2 - 10th - Aku Kembali
#15HariNgeblogFF2 – 10th – Aku Kembali

Bagaimana kondisimu sekarang? Sehatkah? Bahagiakah?
Apa kau masih mengingatku? Kekasihmu yang dua tahun lalu meninggalkanmu?
Apa kau masih sering bertandang kemari? Ke bangunan tua di jantung kota pahlawan ini?
Shandy.. Banyak sekali yang ingin kupertanyakan padamu.

Shan, aku kembali. Aku telah berada di sini. Di depan gedung bangunan zaman penjajahan Belanda, tempat kita bertemu tuk pertama kali. Kau tahu? Aku telah menunggu hari ini sejak lama. Sejak aku meninggalkanmu. Sejak kita berpisah.

Kiranya sudah 2 tahun-kah? Ya, selama tujuh ratus tiga puluh hari itu aku merindumu. Selama seratus empat minggu itu aku mencemaskanmu. Selama dua puluh empat bulan itu aku tak tahu kabarmu. Selama itu pula, hatiku seolah terkikis pelan hari demi harinya.

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 10th – Aku Kembali”

Advertisements

#15HariNgeblogFF2 – 9th – Genggaman Tangan

#15HariNgeblogFF2 - Genggaman Tangan
#15HariNgeblogFF2 – Genggaman Tangan

“Masih kuat?” Tanya masku selepas kami menuruni dua-ratus anak tangga tuk mencapai Air Terjun Tawangmangu. Tak terelakkan, sebagian besar tenagaku terkucur habis bermain siapa-yang-cepat-duluan-sampai dengan menuruni beratus anak tangga di tempat ini. Tapi pemandangan di hadapanku..Astaga, indah sekali. Nafasku yang sebelumnya memburu tiba-tiba melancar melihat pesona alam di hadapanku yang magisnya sanggup mendamaikan hati ini.

Air terjun setinggi delapan puluh meter itu luar biasa. Aku baru pertama kali melihat sumber mata air setinggi ini. Batu-batu besar yang tertata artistik di bagian bawahnya melengkapi keindahan ini. Tumbuh-tumbuhan di sisi-sisi air tersebut nampak segar. Udara di kawasan ini-pun terasa sejuk. Benar-benar tempat yang tepat untukku me-charge-diri kembali.

“Sit? Nggak usah sampe speechless gitu dong, ngomong aja kalau capek. Pake ngeles sambil liat air pula. Pancene!” Ujar abangku setengah berteriak seraya mengacaukan rambutku. Akh, dia merusak momen imaji damaiku barusan. Mengapa ia tak ikut menikmati pemandangan ini saja?

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 9th – Genggaman Tangan”

#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai

#15HariNgeblogFF2 - Ramai
#15HariNgeblogFF2 – Ramai

Jalan Malioboro. Sekitar setengah jam aku berdiri di pinggir trotoar. Sudah tiga-puluh menit kumenunggu abangku di sini. Tadi pagi ia berjanji padaku tuk menjemputku selepas kuliah. Tapi sekarang, ia bahkan me-reject panggilanku yang-sepertinya sudah berpuluh jumlahnya. Abangku.. Teganya kau membiarkan adikmu sendiri menunggu di sini? Terpanggang pijarnya mentari yang kini memaksimalkan sinarnya?

Aku kembali menekan tuts-tuts telefon genggamku. Ini telefon ke-25-ku pada abangku itu. Tombol call kupencet. Buru-buru kuangkat ponselku mendekat telinga. Tepat saat ponsel tertempel, aku merasa tas berkait menabrak punggungku dan..

Continue reading “#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai”

#15HaringeblogFF2 – 7th – Biru, jatuh hati

#15HariNgeblogFF2 - Biru, jatuh hati
#15HariNgeblogFF2 – Biru, jatuh hati

“Biru! Ayok ke laut!” Teriak Sabah di ujung sana memanggilku. Hooam. Ini masih jam berapa? Jam 4 pagi, bukan? Aku masih-sangat mengantuk. Tapi hidup tanpa lelah menuntut. Apa yang bisa dilakukan oleh nelayan muda sepertiku selain meluat mencari ikan tuk menyambung hidup?

“Biru! Lama sekali! Ayo, cepat! Sabah sudah  di perahu, tuh!” Ucap Akhsan membuyarkan lamunanku. Hoaam. Aku menanggapinya dengan uapan manusia yang-masih-baru sadar dari tidurnya lalu dipaksa tuk berjalan ke perahu demi melaut.

“Bisa cepet dikit ngg-Lho, ngapain dia di sini?” Perintah Akhsan yang menyuruhku mempercepat langkah, tiba-tiba terganti oleh pertanyaan lain yang mau-tidak-mau membuatku menolehkan kepala ke arah yang ditunjuknya. Dan aku mendapati seorang gadis tengah mempersiapkan alat-alat lukisnya di bibir pantai. Gadis berambut hitam yang sering kami lihat setiap pagi. Bukan, yang sering kuperhatikan setiap subuh seperti ini. Bukan kali pertamanya gadis itu melukis di sini. “Bir, dia bukannya nggak bisa ngomong, ya?”

Continue reading “#15HaringeblogFF2 – 7th – Biru, jatuh hati”

#15HaringeblogFF2 – 6th – Sehangat Serabi Solo

#15HariNgeblogFF2 - Sehangat Serabi Solo
#15HariNgeblogFF2 – Sehangat Serabi Solo

Pasar Klewer. Huh, kenapa siang-kerontang begini aku malah kemari? Mengendarai motor matic-ku yang seakan menderu lelah mengantarkanku kesana-kemari di bawah terik matahari? Ohya, benar. Aku kemari karena kakakku. Ia menyuruhku kemari tuk menjemputnya selepas berburu kain batik.

Astaga! Hari ini sangat panas! Benar berita yang kudengar di radio tadi. Bahwa Kota Solo akan bersuhu sekitar 32° sampai malam nanti.

Kroaak-kroaak!

Continue reading “#15HaringeblogFF2 – 6th – Sehangat Serabi Solo”

#15HaringeblogFF2 – 5th – Sepanjang Jalan Braga

#15HariNgeblogFF2 - Sepanjang Jalan Braga
#15HariNgeblogFF2 – Sepanjang Jalan Braga

“Ma, aku benar anak mama?”

“Kamu bicara apa sih, Set.. Jangan ngelantur.”

“Kalo aku memang anak mama, papa mana ma? Kenapa papa nggak pernah ngehubungin aku?
Tolong ma, jujur sama aku.. Apa aku anak haram?”

PLAK!

“Kamu anak mama, Seta! Kamu anak kami! Tak ada bayi haram di dunia ini! Kamu suci!
Kamu anak Allah! Berhenti ngomong yang tidak-tidak! Kamu anak kandung mama!”

Continue reading “#15HaringeblogFF2 – 5th – Sepanjang Jalan Braga”

#15HaringeblogFF2 – 4th – Kerudung Merah

#15HariNgeblogFF – Kerudung Merah
#15HariNgeblogFF – Kerudung Merah

“Mak, saya minta izin tuk ikut perang. Mak tau sendiri kan saya tak tahan melihat kekalahan yang selalu didera kampung kite?” Pinta Laksmi pada ibunya yang kini merenung menatap purnama di jendela pande[1] mereka yang langsung menghadap bentangan danau dengan permukaan berkilauan karena tersapu sinar bulan. Untuk kali ini lagi, ibu Laksmi hanya bisa menghembuskan nafas besar. Bukan karena ragu akan kemampuan putrinya, tapi.. Berperang? Berperang dalam arti sebenarnya dimana ia harus melepaskan anak semata wayangnya sendiri ke medan perang? Dengan presentase potensi yang lebih tinggi tuk kehilangan? Kehilangan karena gadisnya bisa saja..

Continue reading “#15HaringeblogFF2 – 4th – Kerudung Merah”