[8] Lapor, Ma(sya Allah).

 

She was such in hurry.

Perempuan itu berjalan. Kakinya melangkah satu-satu dalam gerakan cepat. Nggak sabar dia sampai di kosnya. Nggak tega membiarkan ponselnya menghitam sejak siang tadi.

Setibanya di kos, buru-buru Ia mencari charger. Menunggu dengan sabar hingga layar kembali normal. Sekalipun jelas-jelas ia tahu dirinya smelly, She didn’t care. Jari-jarinya mengetuk-etuk dengan cepat nomor kontak di ponselnya: Mama.

“Assalamualaikum, Mbak. Lagi dimana sekarang? Kemana saja seharian? Kok mama telepon berkali-kali nggak diangkat. Ada acara di kampus toh?” Secepat berondongan pertanyaan meluncur dari jauh di sana, secepat itulah hati si perempuan menghangat.

Ia tersenyum. “Waalaikum salam. Lagi di kos, Ma.” Nggak ada pelipur lara paling menenangkan selain mendengar suara mama setelah seharian berkutat pada dunia. Nothing except that.

Sekalipun mama lebih dominan mengomel. Bukan marah, ya. Mengomel. Memberitahu kita letak kesalahan lengkap dengan solusi-solusinya. Rasanya mendengar suara mama yang begitu saja seperti tersiram air dingin di tengah padang pasir terik.

“Ma, aku mau mandi. Udahan dulu, ya?” Kata si perempuan melalui loudspeaker.

Nan jauh di sana, mungkin perempuan itu sama sekali nggak tahu betapa masih merindunya sang Mama. Betapa Mama masih ingin mendengar suaranya, tawanya, ceritanya. Sekalipun Mama sudah bekerja seharian penuh, taking care everything from A to Z. Hingga penyakit encoknya nyaris kambuh atau batuknya atau pileknya atau maagnya.

But no mother showed it. Not even a single one.

“Iya. Jangan lupa laporan, ya.” Cuma itu yang Mama responkan.

Perempuan berkerudung putih panjang itu berkenyit dalam. “Kan sudah, Ma?”

Giliran mama tersenyum. “Laporan sama Allah. Jangan pernah melupakan itu.”

Perempuan itu menertawakan dirinya sendiri. Pikirannya sudah penuh kabut rindu insan ciptaan hingga lupa siapa penciptanya. “Ya, Ma. Pasti.”

Advertisements

Collapsed

Image
Collapse.

Hei,

Gimana kabar?

Terkesan formal banget, ya, kalau aku menanyakan hal macam basa-basi seperti itu. Formal dan nggak terlalu penting. Karena masing-masing dari kita pasti tahu bagaimana respon pertanyaan tersebut. Pasti nggak jauh-jauh dari kata: Baik-baik aja, kamu gimana?

Terakhir kita berbicara satu sama lain… mungkin beberapa bulan lalu. Ketika hari ulangtahunmu tiba dan aku memberikan hadiah yang menurutku nggak seberapa dan sangat buruk dimana pada saat yang bersamaan aku berjanji untuk nggak menghubungimu lagi setelah itu. And it happens. I did it.

Aku nggak tahu mengapa aku menulis tulisan kayak gini. Aku Cuma mau minta maaf aja. Karena perilakuku udah nggak sama seperti dulu. Aku nggak bisa terus-terusan sms kamu duluan. Aku juga nggak bisa menjadi satu-satunya orang yang menjaga agar konversasi kita tetap ada. Aku nggak mau diabaikan. Aku sangat nggak ingin merasa tidak diinginkan. Aku pun nggak bisa menahan inginku untuk bisa menjadi seseorang istimewa di hatimu. Dan, aku juga mulai merutuki hati yang selalu berdesir setiap kali mata kita beradu.

Kau tahu apa artinya, kan?

Jujur, aku rindu hadirmu. Rindu bayolanmu, senyummu, ucapanmu, dan segala kenangan manis yang tercipta dulu. Ah, aku ingin kembali ke masa itu lagi. Masa dimana perasaan macam ini nggak ada, melainkan hanya kasih persahabatan saja. Waktu ketika aku akan dengan cueknya bisa memukulimu, meledekmu, membahas film terhangat, berdebat masalah lagu, karaoke denganmu, memasang taruhan untuk hal nggak penting, dan lain lain dan lain lain.

Aku sadar dimana posisiku. Maka dari itu, jangan tanya mengapa kini aku berbeda. Aku yakin, kau nggak akan mempermasalahkan perubahan yang terjadi pada diriku. Aku tahu, kau nggak akan sepeduli aku. Maaf telah menodai persahabatan kita dengan cinta, ya. Bukan salah dan inginku ketika orang yang buatku jatuh cinta adalah kamu.

Baik-baik di sana. I’m glad I used to know you.

Sidoarjo, 31 Mei 2014

Komparasi Kala

komparasi kala

“Mesa, aku kepanasan! Beli es Bli Wayan ajayuk!”

Aku tersenyum. Meringis mendapati kekonyolan yang selalu Eka spontan lakukan. Meski di tengah-tengah acara resmi seperti ini dia tetap saja berbuat hal-hal yang tidak pada umumnya orang fikirkan.

“Sa, ayolah. Nanti kutraktir, deh!” Sekali lagi Eka merayuku. Mengguncang tubuhku dengan bahunya lantas berlagak menyeka dahinya yang sesungguhnya tidak terlalu berpeluh.

“Atau ayam betutu? Kita sudah lama nggak makan bareng, kan? Sekarang aja! Langsung cus ke warung Bli Wayan!” ajaknya lagi menampakkan mesemnya.

Melihatku bergeming, Eka pun kian gemas. “Kamu tentu nggak mau kita  jadi dendeng di sini, kan? Ayolah, mari kita pergi!” Dasar, Eka. Selalu saja punya alasan kuat untuk meruntuhkan benteng pertahananku. Tanpa menanggapi ucapannya, tau-tau tanganku sudah digenggamnya. Lantas kami menelusup keramaian bersama. Memulai hari dengan petualangan berbeda. Bersisian di samping sahabat yang selalu buat hariku membuncah bahagia.

Tapi itu dulu.

Kini aku berdiri di tempat sama yang kami pijak bertahun-tahun lalu. Berdiam diri mendapati semua kenangan remaja kami terlampau indah untuk bisa terlupa. Apa kira-kira Eka juga masih mengingatnya? Saat kami masih berstatus bocah ingusan penuh keingintahuan terhadap dunia?

Semoga saja.

BLAR BLOSH BLOSH

Api menyeruak. Abu tinggi mengepak. Ngaben mencapai puncak. Selamat jalan, Eka.

 

Sidoarjo, 09 Agustus 2013
Untuk CERMIN Bentang Pustaka dengan tema upacara 😀

Tentang Teman

tentang teman(2)
Mungkin kata-kata di atas itu benar-benar naif dan kekanakan yang pernah terangkai. Karena nggak mungkin hidup tanpa teman. Nggak mungkin hidup tanpa bercerita. Teman beraarti luas bisa keluarga atau orang lain. Untuk urusan bercerita, sih, tergantung, ya. Ada orang yang bisa dengan mudahnya beradaptasi lantas bercerita ngalor-ngidul tentang apapun dalam hidupnya. Ada yang tarik-ulur. Ada juga pribadi penutup rapat perihal masalah pribadinya. Semua, toh sah-sah saja; tergantung pada manusianya. Namun sebenarnya seberapa penting arti teman?
Pintu dibuka. Decitnya menggelitik telingaku yang sedari tadi mendengar senyap. Oh, dia. Teman yang setelah sekian lama mendekam satu atap denganku.
Dari ekor mataku, dia hanya melirik sekilas. Menatapku menekuri layar laptop tanpa bertanya lagi. Belum sempat kutanya mengapa ia pulang selarut ini, temanku itu malah sudah terburu menghempaskan diri di atas kasur memejamkan mata.
Sekejap suasana menghening. Hanya terdengar bunyi jari-jariku yang mengetik tuts keyboard dalam kamar kami.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Oh, ini saatnya.

“AAAGH! Sebel sebel sebel! Tadi masa di kampus Si Dolores malu-maluin aku? Di depan kelas lagi! Dia kira aku siapa, coba? Asal marah-marah, nggak pake sebab. Dia lagi gila kali, ya? Lagi PMS? Mana tadi ada doi. Tugas besok juga belum kelar. Duh, kenapa hari ini sial banget, sih? Agh!” Serunya mencecar tanpa bisa dicegah. Sontak aku membalikkan tubuh menghadapnya. Dia masih telah duduk dengan kerucutan mulutnya juga dua manik yang berkilat marah.

Aku–yang bahkan bukan pelaku ceritanya–menghembuskan nafas besar. Dia memang seperti ini. Sering berperilaku begini. “Terus? Bukannya Dolores emang tukang marahin orang?” Jangan salah. Nama Dolores yang tersebutkan di sini bukan guru Hogwarts dalam novel Harry Potter, lho. Tapi merujuk pada salah satu dosen kami yang perangainya jauh lebih buruk ketimbang tokoh fiksi tersebut.

“Ya, iya. Tapi kan–” Lantas dia melanjutkan kalimat demi kelimat seperti memberondongkan peluru pada tawanan perang. Luncurannya sangat lancar, runtut, penuh emosi hingga menarik empati. Empatiku tentunya. Heran, mengapa aku tak pernah bosan, ya, mendengar keluhannya setiap hari?

“Nggak bisa gitu juga, lho. Dia kan udah terkenal–” Lantas aku membalas ceritanya dengan petuah-petuah yang anehnya selalu spontan terlontar kala ia berkeluh kesah. Diselingi dengan analogi konyol tentunya. Seperti: ‘Jika kamu jadi naga yang selalu marah, kamu pasti nggak akan sungkan memilih area untuk menyemburkan api, kan? Hayo?’ Ralat. Maksudku, analogi garing.

Lagi-lagi dia tertawa. Kuulangi, dia selaly tertawa mendapati analogiku yang sejujurnya tidak kumaksudkan untuk menghiburnya. Hey, aku sedang memberi filosofi, koplak!

“Ampun. Kapan, sih, selera humor kita naik satu level, aja? Dari dulu ngomongin naga, elang, monyet kayak kita udah kenal mereka lama banget, aja,” responnya lantas tertawa lagi. Mau tak mau aku pun tergelak. Dasar, sarkastik.

“Cukup. Sekarang ceritain harimu, dongs!” Tanyanya lantas melipir di pinggir kasur menatapku antusias. Sial, bagian inilah yang paling tidak kusukai.

Tapi anehnya, aku pun bercerita juga. “Ya… Ya… Mau bahas apa, coba? Alhamdulillah hari ini komikku dimuat jurnalis kampus. Terus mereka juga nawarin aku untuk kerja sama lebih lanjut. Terus–” Belum sempat kumenggenapi kisah, dia mendahului responnya. Respon gelak tawanya.

“Kamu tuh, ya. Komik aja dari dulu. Lebih personal, dong! Hiih! Gimana, sih? Gemes tauk!” Mau tak mau aku tersipu. Lantas yang terjadi kemudian adalah aku tak tahu harus berbuat apa. Maksudku, bercerita secara lisan sungguh bukan keahlianku. Hingga bukanlah suatu yang aneh apabila dia memang tidak tahu keseluruhan kisah hidupku. Memang begini lalu mau diapakan lagi?

“Em. Ya, pokoknya tadi ketemu dia di perpus. Aneh aja tahu dia baca. Terus aku pergi. Udah.” Benar bukan penilaianku terhadap diri sendiri?

Seolah tahu kelemahanku dia lantas menarik diri. “Ihiy! Pasti nggak kamu sapa, ya? Ah, gocik¹, ah! Besok disapa, lho!”

Aku melengos.

Sejurus kemudian, dia pamit untuk tidur dan berpesan padaku untuk melakukan hal serupa. Malam memang kian larut tapi dua cangkir kopi yang tak berapa lama baru kutandaskan tengah bekerja kuat-kuatnya sekarang. Tak salahlah, jika aku tidak mengindahkannya.

“Semoga besok aku sama doi bisa dimalu-maluin bareng, ya. Semoga kamu sama dia besok ketabrak atau apa kek. Pokoknya makin deket. Hahaha,” ucapnya yang langsung mengundang lemparan bantal sandaranku. Lantas ia tertidur sementara aku masih di hadapan laptop menulis kisah ini.

Jadi, apa kita butuh teman? Apa kita butuh tempat bercerita? Apa kita butuh wadah berkeluh kesah?

Menurutku, sih, semua pertanyaan terjawab ‘iya.’ Sekalipun kamu adalah orang paling tertutup di dunia yang enggan menceritakan penggalan jejak langkah.

*

Gocik¹ = Takut dalam bahasa jawa medok

Sidoarjo, 09 Agustus 2013
Terima kasih untuk setiap kawan yang mengetahui ‘tarik-ulur’ saya.
Hihihi

#Untitled [1]

untitled

Sudah pukul sembilan pagi ternyata…

Sekarang Hari Senin. Kalau sekarang aku masih motoran santai dijalan pertanda apa, dong? Iya bener banget seratus. Telat. Simpel, kan?

Enaknya menggerayangi jalanan di jam ini adalah lengang! Bisa kebut-kebutan tanpa peduli lelaki berseragam yang biasanya menilang! Hyaha! Aku selalu jadi raja di saat-saat seperti ini.

Satria modifku selalu menemani. Bersama denganku memerangi pekerja yang rata-rata enggan untuk hidup dilihat dari laju kecepatannya. Ah, payah! Mereka tak pernah tahu caranya muda!

Perempatan di depanku mendadak padat. Seluruh pengendara berhenti merapat dengan kendaraan sejalur. Mobil-mobil di ambang garis zebracross sedang sepeda motor bersiap jauh di depan mobil. Tepatnya di tengah perempatan menunggu kendaraan lawan arah berderak.

Dalam keadaan meliukkan motor, mataku sigap menangkap satu celah kecil di sisi kiri untuk dilalui supaya bisa mendahului. Lampu merah tinggal beberapa detik lagi, kan? Oke, ayo tancap gas!

TIN TIN TIN

Muatamu mbok dekek endi, le?!” Damprat salah satu pengemudi mobil tepat saat motorku menengahi laju ke kanannya. Menyebabkan mobilnya berhenti hingga kendaraan di belakangnya berhenti mendadak. Mengudarakan klakson yang serupa nada dalam telingaku.

“Hahaha! YOLO!” Seruku tak peduli. Aku terus saja memutar pedal gas membelah jalanan. Tapi tidak bisa disebut membelah juga, sih. Karena masih banyak mobil dan trek mini yang menyiput di kanan kiri.

Tepat di tengah jalan ada celah kecil untukku menerabas. Meskipun kadang pintu-pintu mobil itu bersentuhan, tak ada yang tak mungkin untuk ditaklukkan, bukan?

Aku pun bermanuver.

Tak lagi melihat angka yang ditunjuk garis spedometer, kuputar saja gas motor asal melalui celah itu. Singkatnya–dengan klakson di sana-sini lagi tentunya–aku berhasil selamat dari kecepatan yang tidak bersahabat. Lambat.

Kemudian aku mengambil jalan pintas yang menyisiri taman ibu kota. Masih dengan kecepatan sama kukuasai jalanan sampai seorang perempuan tiba-tiba menyebrang tanpa melihat kanan-kiri.

CIIIT

Goblok!” Seruku kontan mendapati kesalahannya. Rem mendadak tadi tak urung buat tubuhku condong ke depan hampir terlempar. Tapi di luar dugaanku perempuan itu berlalu tanpa menoleh sekalipun. Saat itu juga kusesalkan kata yang baru saja kulontarkan. Apa dia gila?

Tapi dia tidak. Maksudku lihat kemeja kuning lemon dan rok panjangnya. Juga rambut sepanjang punggungnya serta buku-buku dalam dekapannya. Cewek ini kenapa?

“Kalau motoran yang bener, Mas. Selamat di jalan, selamat sampai tujuan,” serunya ketika sampai di trotoar sebrang lagi-lagi tanpa menelengkan kepalanya sedikitpun. Benar-benar, dia!

“Mbak, kuntilanak biasanya nggak lewat pagi-pagi!” Pekikku mengejek. Tanpa kuduga, perempuan itu membalik tubuhnya menghadapku tepat saat kalimatku usai. Matanya menatapku sengit. Mendadak aku tak berkutik. Wajahnya, wajahnya… Tak dapat kudeskripsikan. Maksudku–

“Hati-hati. Bakal ada kemalangan di depan sana,” ujarnya tajam lalu berjalan meneruskan langkah. Meninggalkanku yang masih bergeming di sini. Wajahnya… Mengapa wajahnya–?

Berusaha menepis kemungkinan yang tak mau kuumbar sendiri, kukendarai motorku lagi dengan kecepatan seperti tadi. Seratus meter di depan adalah pertigaan jalan besar. Tadi katanya apa? Akan ada kemalangan menimpaku? Hah, sudah kuntilanak, sok-sok meramal. Dia kira aku ap–

BRAKBRAKBRAK!

Sebuah trek tiba-tiba berhenti di mulut jalan tanpa membiarkanku menarik stang rem. Semua terjadi dalam kelebatan cepat. Yang kuingat hanyalah kenyataan bahwa aku terpental setelah sebelumnya menggebuk sisi trek. Sejurus berikutnya, pandanganku memburam. Wajah perempuan itu terlintas lagi di hadapanku. Wajah mama.

Selebihnya gelap.

Sidoarjo, 06 Agustus 2013
Bingung mau ngisi apa….Ini aja spontan tanpa editan.
Komen dan kritiknya ditunggu 🙂

Mereka Yang Berada Di Luar Lingkaran

stop bullying4

“Eh, ke sini, yuk! Main sama kita-kita.”

“Nggak deh. Maaf. Aku mau pulang. Mama udah jemput.”

Sekali lagi, aku menolak ajakannya. Entahlah. Bergumul dengan geng yang terbentuk di kelasku  tidak terlalu membuatku nyaman. Yang ada mungkin aku hanya bisa mengetuk-ngetukkan jemari dan kaki lantas mendengarkan candaan mereka yang hambar terdengar melalui telingaku.

Aku bukannya merasa mereka tidak menerimaku, sih. Hanya ingin menarik diri saja dari suasana yang tidak terlalu sesuai untukku.

Sebelum aku mengambil sepatu di rak depan kelas, tiba-tiba Reni–seseorang yang baru saja mengajakku bermain bersamanya–berseru, “Lup! Tunggu! Aku ngapain, nih di kerja kelompok?”

Sejenak, senyumku tersungging. Namun hal itu hanya berlangsung sesaat lantaran Hasan mendadak muncul dari balik punggung Reni. “Halah kasih aja dia semua yang ngerjain. Toh ya dia mau-mau aja,” Sahutnya cuek lalu masuk kelas. Ah, lupakan saja. Reni pasti menurut Hasan. Tanpa memedulikan mereka lagi buru-buru aku berbalik pulang.

Ingin rasanya aku meneriakkan bahwa penelantaran pekerjaan seperti itu tidak baik. Tidak sesuai dengan titelnya yang kerja kelompok. Bisa dibilang, aku kerap mengorbankan diri demi nilai yang didapat orang lain. Aku sering mengerjakan semuanya sendiri.

Sebentar, apa? Kau menyebut hal itu bully? Jujur, aku tidak terlalu mengganggap hal tersebut sebagai bully sih. Karena semua kukerjakan tanpa mengharap pamrih dan kehadiran mereka. Ya memang, hobiku mengerjakan sesuatu hingga tuntas.

Jadi, untuk sementara mereka bukan masalah bagiku.

***

“Kamu tuh, kenapa semua kerjaan kamu yang buat? Dari beli gabus, triplek mahal, alat bahan sampe ngeprin aja semua kamu. Temenmu yang kaya-kaya itu mana sih? Mereka makan nilai buta?” Seru kakak mendapati aku begadang di tengah pelbagai alat dan bahan di sekitarku.

Seketika aku terdiam. Berusaha menekuni hal yang tengah kukerjakan. Yah, lebih baik memang menyelesaikan hal ini lebih dahulu daripada meladeni omelan kakak.

“Kamu cuma bisa diam? Sampai kapan kamu bakal gini terus? Diperalatin? Dimanfaatin siang malam?” Ucapnya setengah berteriak. Aku membeku. Menghentikan tanganku tapi tak berani menatap mata kakak. “Buka mata kamu! Belajar dari kakak! Udah dapet bully, bikin masa depan mereka rusak, kita untung apa?” Lanjutnya lagi.

Kontan bulir-bulir mulai terproduksi merangkak menumpuk di pelupuk mata. Tapi aku bisa apa? “Kayak gini terus bukan cuma bikin badanmu remek, tapi juga hati!” Serunya lagi kemudian beranjak pergi membanting pintu kamar.

Ternyata kakak benar, bukan hanya badanku yang melemah tapi hatiku pun turut merupa remah.

***

Aku meneguhkan hati. Jujur, aku tidak ingin membenarkan keseluruhan kata-kata kakak. Memang sih, selama ini aku hanya sibuk pada duniaku sendiri hingga menghindari yang lain sampai selalu menurut perintah mereka. Mungkin sudah waktunya membuka diri.

Ketika berjalan di koridor sekolah, aku menangkap sesosok tubuh yang kukenal. Buru-buru kupercepat langkah beringsut mendekat kepada seseorang tersebut. “Hai.” Sapaku pada Winda, teman yang selalu bertanya PR kepadaku.

Entah ini benar atau tidak, aku merasa Winda menoleh dengan picingan pada sudut-sudut matanya. “Hai. Eh, hari ini ada PR MM, ya? Aku pinjem dong nanti.” Aku mengangguk lemah. Lalu hening beberapa saat. Tak ada candaannya seperti biasa. Tak ada perhatiannya seperti ia bersikap pada yang lain. Hanya diam. Membicarakan yang itu-itu saja.

Tiba di kelas, Winda berubah. Total.

Dia sungguh ceria bersama yang lain. Bertepuk hi-five, tertawa di sana-sini, menjahili yang lain. Sekelebat waktu, tercetus banyak pertanyaan dalam benakku. Yang mungkin jika kurincikan satu-satu bisa menghabiskan setengah buku. Aku menghela nafas besar. Memandanginya dari jauh di tempat duduk abadi paling depan milikku tanpa pernah memiliki satu-pun teman bangku.

***

Hari ini ada PR matematika yang kukerjakan hingga larut malam kemarin. Aku melangkah gontai menuju kelas. Merasa tidak ada yang perlu dikejar lantaran telah memenuhi kewajibanku sebagai siswa. Seperti dugaanku, ketika masuk kelas hampir seluruh siswa ribut dengan kertas penuh angka-angka.

Tepat bel berbunyi, tiba-tiba Hasan menghambur ke arahku. “Pinjem PR, ya.” Tanpa kuizinkan terlebih dahulu kertas sudah berpindah tangan dan aku kembali terduduk sendiri. Mungkin hanya beberapa yang minta bantuan cara kepadaku lalu kembali pergi. Selebihnya? Aku sendiri. Menyepi.

Mereka…Yang kufikir telah menjadi temanku ternyata hanya melakukan tiga hal padaku. Menolak membagi kebahagiaan denganku, mengandalkan aku dalam hampir semua pekerjaan rumah dan hanya berada di sampingku ketika butuh.

Lagi-lagi perih merayap menuju manikku. Sekuat tenaga kutahan agar tidak ada setetes air matapun keluar.

Mereka masalah bagiku. Bodoh. Mengapa baru sadar sekarang?

***

Hari sudah beranjak sore tatkala kuhampiri mama tengah duduk menekuni rajutannya di beranda. Melihat beliau selalu tersenyum meski tak ada siapapun yang mendampinginya kadang buatku hatiku teriris. Mama begitu kuat. Mengapa aku tak bisa sedikit saja menirunya? Bagaimanapun hal itu merupakan urusan nanti. Masih ada yang ingin kubicarakan kini.

“Ma, aku… Aku mau pindah sekolah,” pintaku saat duduk di sebelah mama.

Sejenak mama memandangku. Sedang jemarinya masih fasih mengait satu benang ke benang lain. Matanya menyipit. “Kalo kamu pindah sekolah tapi kelakuanmu tetep gitu ya sama aja. Bakal di-bully terus,” tutur kakak yang mendadak muncul berdiri di ambang pintu.

Mama masih terdiam. Aktivitasnya terhenti sekarang. Kedua bola mata kelabunya menatap kami bergantian. “Kalian kenapa sih?”

Aku tak mampu menjawab. Menurutku ini masalah pribadi. Tidak ada gunanya berbagi dengan yang lain. Beberapa detik menggantung dalam hening akhirnya kakakku beringsut ke arah kami lantas berucap, “Kuncinya cuma satu, berani. Berani ngomong, berani nolak, berani dapetin hakmu. Udah. Mereka bakal respek,” dan duduk di sisi mama yang lain. “Kalo kamu tiba-tiba frontal, ya, percuma. Bertahan sekurun waktu anget-anget tai ayam. Setelah itu? Ya bakal di-bully lagi.”

Mama mengangguk mengerti. Beliau tersenyum penuh arti. Entah mengapa melihat mama seperti itu saja sudah membuatku semangat lagi. Ah, ya. Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan.

***

“Pinjem dong,” aku tengah menulis kalimat terakhir tugas Bahasa Indonesia ketika tiba-tiba Hasan menyabet bukuku lantas berlalu pergi.

Aku kembali menghela nafas besar. Lalu buru-buru membulatkan tekad bahwa hal ini tidak sepatutnya terjadi. Harus berani, ucapku dalam hati.

Sejurus kemudian aku mendapati diri berdiri di belakang Hasan. Kertasku nampak terkulai lecek di meja Hasan. Dalam satu gerakan cepat aku mengambil secarik folio tersebut. Mendadak semua mata tertuju padaku. “Maaf tapi aku–” Aku nggak mau menjerumuskan kalian. “–aku nggak mau kalian melakukan hal ini lagi,” sambungku tertahan. Beberapa detik berlalu dengan diam lalu mereka kembali pada pekerjaannya masing-masing.

Tatkala jam terakhir tiba dan pelajaran seni rupa mengharuskan kami menggunakan pensil gambar, aku yang menghampiri mereka berniat untuk meminjam mendapat perlakuan yang tidak jauh berbeda seperti biasanya. Hanya saja jika biasanya mereka menatapku sesaat, kini mereka meminjamkan barang tanpa menganggapku ada.

Aku di-bully terang-terangan.

***

“Sudah siap?” Tanya mama melihatku keluar dari rumah mengunci pintu dengan tentengan koper besar.

Aku mengangguk. Melangkah menuju taksi yang sudah dipesan mama. Kakak nampak sudah anteng di tempat duduk samping kemudi. “Lebih dari siap, Ma.” Jawabku kemudian. Dua hari yang lalu saat mengurus surat kepindahan, guruku berucap bahwa semua temanku sudah diberi wejangan dan ‘tamparan.’ Yah, setidaknya aku tidak perlu menjelaskan hikmah kepergianku pada mereka.

Jujur, belum pernah aku merasa seringan ini.

***

10 tahun kemudian…

Make up-ku berantakan. Wajahku kusut. Pakaianku juga sudah mulai menyatu dengan bau tubuh. Ah, sudah jam berapa ini?

“Terima kasih sudah menjadi narasumber kami, Bu,” ucap Pak Wiranto sopan mengantarku ke tempat parkiran. Lelaki tersebut menjabat tanganku lantas berbasa-basi formal.

Aku baru saja membicarakan bully-ing di salah satu universitas ternama Jakarta. Agak aneh mendapati managerku menelepon mendadak bahwa mereka sangat antusias dan ingin melihatku selepas pulang dari Amerika untuk mewakili Indonesia pada ajang Anti-Bullying Internasional. Mengingat waktu yang tersisa hari ini hanya malam hari ternyata ada juga yang masih semangat berinteraksi denganku meski jam tidur sudah lewat.

“Ya, Pak. Saya sangat senang bisa bertemu dengan mereka semua,” sahutku sopan. Kami berjalan membicarakan banyak hal. Ya, meski harus kuakui kesemua topik tidak kurespon secara baik, sih. Mau bagaimana lagi? Sekarang pukul sebelas malam dan kini waktuku untuk pulang. Jadi tak salah kan bila keletihanku terlihat?

“Lupi?” Terdengar suara seseorang dari belakang. Kontan kumenolehkan wajah. Seketika aku terkesiap. Aku tidak mungkin salah mengenal.

Dia..Dia Hasan. Kawan yang dulu merebut pekerjaan rumahku. Mataku melebar. Dia nampak seperti seorang pegawai resmi pemerintah. Syukurlah kabarnya baik-baik saja. “Saya tinggal dulu, Bu. Masih ada yang harus dibereskan. Terima kasih sekali lagi,” tak sadar masih ada orang lain, ucapan Pak Wiranto hanya kurespon dengan anggukan saja. Lalu ia pergi. Sungguh aku masih terkejut dengan seseorang di hadapanku ini.

“Bukumu bagus. Projekmu apalagi. Saya kagum sama kamu,” ungkap Hasan tanpa malu. Sejenak aku menginngat. Dulu mereka tidak  pernah menyebut mereka dengan ‘saya’ di hadapanku.

Thanks,” jawabku sekenanya.

Hening menggantung beberapa saat. Sampai akhirnya Hasan kembali membuka pembicaraan, “Kamu benar, banyak dari kami keteteran waktu kamu hilang. Ada hikmahnya juga kamu ngilang,” candanya sarkasme tapi aku hanya tersenyum simpul. “Saya mau minta maaf.”

Kamu mau aku ngerespon apa, coba? Batinku dalam hati. Entah mengapa semua ini terasa membingungkan. Sepuluh tahun yang lalu memang sungguh pendobrakan langkah hidupku yang baru. Melibatkan mereka–tentunya.

Lalu Hasan berucap lagi, “Saya kagum sama kamu, Lup. Terima kasih telah menginspirasi saya, ya. Oh, bukan. Lebih tepatnya kami.”

“Ya. Sama-sama,” responku datar. Bahkan sekarang aku tidak terlalu mempermasalahkan kejadian tersebut. Kecanggungan sontak menari-nari di sekitar kami. Berniat menyudahi basa-basi ini, aku bertanya, “Ngopi, yuk?” Yang ditanggapinya dengan dua bola mata mengilat keheranan.

Tidak ada sesuatu yang terlambat untuk memulai hal baik, bukan?

Sidoarjo, 20 Juni 2013
Diikut sertakan giveaway ini.
SAY NO TO BULLY!