Dari Pasir Putih, Kelud, Sampai ‘Nggembel’ di BNS

Heyho!

Selamat Tahun Baru 2014!

Ya, ya. Saya tahu kok kalo ngucapinnya telat. Tapi masa bodo, deh. Hahaha.

Kenapa tahun barunya saya kasi warna merah? Supaya kita semangat untuk kembali mengarungi 365 hari ke depan(eh, sekarang sudah dikurangi lima, sih)! Merah = Berani = Semangat berkobar! Uyeah!

Gimana liburan kamu-kamu semua, nih? Mengesankan? Di rumah aja? Visitting new place? Atau spending time with family kayak saya? Tepatnya tanggal 30 Desember sampai 1 Januari kemarin, saya sama keluarga berkelana menjelajah pariwisata anti-mainstream di daerah Trenggalek, Nganjuk, sama Malang(etapi yang ini mainstream banget).

Ada lima destinasi wisata yang kami nikmatin. Pertama ke Trenggalek tepatnya Pantai Prigi. Di sana… mengecewakan. Mengejar sunset tapi pemandangannya nggak terlalu oke karena dimana-mana ada sampah. Karena alasan tersebut, papa pun memutuskan untuk langsung cabut ke Pantai Pasir Putih yang terletak nggak jauh dari sana.

Tebak apa yang kami dapat? Pantai menawan hati :3 Ini nih, sedikit foto human interest dengan si Uti sebagai modelnya:

Si Uti di pantai pasir putih :3
Si Uti di pantai pasir putih :3
Senyumnya cantik nggak, sih? :3
“Yee, prok-prok-prook! Pantainya bagus :3”
“Somehow, you need to be like water. Taking adventure whenever it flows…”
“Senyumku limited edition :3”
Rencananya mau nangkep cantiknya si Uti tapi... Gagal T.T
Rencananya mau nangkep cantiknya si Uti tapi… Gagal T.T
“ADUOH! ADUOH! ROKKU BENERAN BASAH!”
“Kenalan sama kakiku dulu, ya, Ombak :3”
“Mama, kebelet pipis aduh duh duh.”
“Inilah pemandangan Pantai Pasir Putih yang belum terekspos dunia!”

Nah, di sana ada dermaga juga yang kondisinya sudah–err–nggak layak untuk disebut dermaga lagi. Tapi malah dari situ keliatan banget ancient-nya. Ini saya kasih dokumentasinya yang lagi-lagi ada si Uti sebagai modelnya.

Ini dermaga--semi--ancientnya!
Ini dermaga–semi–ancientnya!
“Aku di bawah dermaga!”
Ini sebenernya mau nyari angle foto unik tapi... Gagal u,u
Ini sebenernya mau nyari angle foto unik tapi… Gagal u,u
Si Uti di atas dermaga :3(1)
Si Uti di atas dermaga :3(1)

Si Uti di atas dermaga :3(2)

Si Uti di atas dermaga :3(3)
Si Uti di atas dermaga :3(3)

Sorenya kami ke air terjun Watu Sedudo di Nganjuk. Sayangnya, waktu itu hape saya low bat. Jadi fotonya ada di hape mama dan saya males mindah (digampar.)

Skip hari kedua! Kami jalan-jalan ke Wisata Gunung Kelud. Wisata yang nggak pernah kami fikirkan kalo bagusnya subhanallah O.O Di sana ada terowongan gelap(yaiyalah, masa mau terang?), tempat camping, anak krakatau, panjat tebing, 459 tangga yang saya naikin sendirian karena saking penasarannya sama view di puncak, 500+ anak tangga menuju ke pemandian air panas, serta extreme-nya motoran bareng ojek untuk sampai ke pemandian air panasnya(Iya, jadi ada dua jalan buat ke pemandian tersebut).

Ini tempat yang recomended banget buat didatengin waktu liburan! Tapi lihat kondisi juga, ya. Terlalu padat orang juga nggak enak.

Kalau ke sini dan liat padas gunung Kelud, saya selalu ingat ucapan papa saya yang konyol ini:

“Wiih, Da! Iki lo, kayak sing di Australia!” 😆

Ini Gunung Kelud!
Ini Gunung Kelud!
Walking to Kelud Mountain...
Walking to Kelud Mountain…
Papa, Mama, Adik :3
Papa, Mama, Adik :3
Ini 459 anak tangga yang saya naikin-turunin buat nyampe ke puncaknya!
Ini 459 anak tangga yang saya naikin-turunin buat nyampe ke puncaknya!

Bapak dan anak ini so sweet, ya :3 Itu turun melangkah 459 anak tangga, lho...

Bapak dan anak ini so sweet, ya :3 Itu turun melangkah 459 anak tangga, lho…
Papa sama Adek waktu mandi di air panas :D
Papa sama Adek waktu mandi di air panas 😀
“Peace with poker face, yea.”

Sorenya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Balai Kambang. Nah, lagi-lagi si hape nggak bisa diajak kompromi. Jadi, dia mati waktu sampai di pantai yang view-nya… Duh, keren banget, deh! Suara ombaknya nenangin, pasirnya bisa ditidurin saking halusnya, dan suasananya bener-bener dukung buat refreshing pikiran. Recomended banget buat didatengin!

Tapi jangan kaget ketika mendapati rumah-rumah di sana banyak yang dikibarin bendera Indonesia. Usut punya usut, tanah di perbukitan yang mengelilingi pantai tersebut menjadi sengketa antara pemerintah dan rakyat. Jadi jangan heran melihat tempat pariwisata ini kurang diurus dan jalan aspalnya yang nggak kunjung dibenahin. Hiks… *Ntar kalau sudah saya pindahin saya update lagi deh, janji!*

Malemnya kami sampai Malang, terus tidur deh ngelewatin tahun baru. Hari ketiga kami liburan, si Uti ngerengek minta main di BNS. Sampe nangis-nangis, ngambek, gitu khas alaynya anak kecil. Maka terdamparlah kami dalam kemacetan menuju tempat pariwisata tersebut.

Dan kejutannya… Kami terlalu cepat datang ke sana. Datang jam 12 tapi ternyata si BNS buka jam 3 sore. Gila, kan? Akhirnya papah mutusin untuk nunggu aja, daripada kejebak macet lagi, rame lagi, malah ntar nggak jadi deh kalo gitu.

Bayangin lama nunggunya gimana...
Bayangin lama nunggunya gimana…
Ini waktu nunggu BNS-nya di buka. Si Uti konyol, hahaha.
Ini waktu nunggu BNS-nya di buka. Si Uti konyol, hahaha.
“Huaaah! Angin menerpaku!”

Pulang-perginya bener-bener mangkelin! Macet dimana-mana, deh! Bahkan ruas kiri jalan sempat berhenti total karena–katanya–mobil-mobil di parkiran pada nggak mau ngalah buat berhenti. Tempat liburan anti-mainstream kayak gini memang harus dihindari kalau mau liburan bebas macet di hari libur nasional. *Geleng-geleng kepala*

Oke! Jadi segitu dulu snapshot dari liburan saya kemarin! Banyak Utinya, ya? Somehow, saya pengen gitu dia jadi model beneran. Tampangnya ndukung: Photogenic! Hihihi. Anyway, maaf, ya kalau fotonya kurang jelas… Maklum cuma bermodalkan kamera samsung GT-S5282.

Undur diri,
See you next post!

Advertisements

#MMF: Uti Si Cilik, Cilik Si Uti

Photo-0327

Umurnya lima tahun, badannya gempal, pengrupa dora masa kini dan foto seseorang yang baru saja kau tatap adalah adikku. Nama lengkapnya Nadira Dwi Putri Anggraeni dan tanpa peduli aku menyingkat panggilannya serupa sebutan Nenek di keluarga Jawa. Sadis? Tidak. Menurutku ini ungkapan sayang malah.

Karena sebenarnya ada maksud di balik nama itu. Agak konyol, sih. Jadi ceritanya begini…

Semasa masih duduk di sekolah dasar(SD) aku memiliki satu kawan pintar yang sangat berprestasi di bidang matematika. Dia seorang perempuan jawa yang tinggal di utara Sumatra dengan ayah, ibu dan saudaranya. Perempuan ini berpostur tubuh ideal di balik hijab yang dikenakannya. Dan kau pasti akan sangat-sangat tidak tega menyakitinya ketika kau mulai mengenalnya. Karena sejauh ini ia adalah wanita berperangai paling halus dengan suara selirih angin yang pernah kukenal. Bahkan aku tidak pernah melihatnya marah.

Kami berteman sangat baik. Aku selalu terinspirasi olehnya yang sangat jago di hampir seluruh pelajaran waktu itu. Dia sangat memotivasiku untuk bisa mengerjakan tugasku sebaik ia, memperbaiki perangaiku seanggun ia, dan melatih diriku serajin ia.

Sampai kini aku harus mengakui bahwa dia sangat berhasil.

Ya, aku akhirnya lulus SD dengan nilai melampauinya dan menjadi terbaik satu sekolah. Sebuah pencapaian luar biasa bagiku karena sedari dulu aku sangat mendamba posisi membanggakan itu–yang mungkin tanpa kehadirannya akan menguap merupa debu cita. Aku sangat berterima-kasih padanya dan aku merasa punya utang budi. Lantaran ia, perubahan yang mengarah pada kebaikan itu terus berlanjut hingga sekarang.

Pandanganku mendadak buyar.

“Kak, mainan masak-masak, Kak… Cekali aja. Kakak, kan, cantik. Tapi jangan yang besa-besa gambarnya. Yang kecik aja. Yang inii! Iya yang inih ajah!” Sergah adikku menangkap basah layar laptop yang berubah merah muda. Menyaksikan loadingnya seraya terus merayuku untuk mengizinkannya bermain ‘masak-masak.’

“Iya-iya. Tapi harus janji, lho. Habis main langsung tidur. Oke?” Lantas ia mengangguk mantap dan kian memberingsutkan diri mendekat. Yes, modus berhasil. Kemudian kami memilih dan mulai bermain. Meski cuma satu periode games, adikku benar-benar menepati janjinya.

Ia menguap. “Good night, Kak,” ucapnya sembari mengecup pipiku. Kontan kuacak rambut pendeknya. Kuperhatikan ia berjalan melintasi ruang menuju kasur teritorinya. Ia rebahkan tubuh di kasur sembari menguap lagi, menyambar botol susu di sisi bantalnya, menyesap cairan putih di sana dengan kelopak mata yang mengerjap lelah.

Good night, Kak Uti.”


Sidoarjo, 03 Agustus 2013
Untuk kawan di Medan 🙂