[16] Homesick Parah!

Ciye 🙂

“Assalamualaikum?”

“Waalaikumsalam. Ada apa, Non?”

“Ma, aku kangen…..”

Kemudian nangis. Sesenggukan. Bersama. Kemudian sadar ini imajinasi belaka karena nggak sampai hati ndengerin mama nangis.

Saya lagi sakit. Panas, pusing, batuk, pilek, capek-capek, linu segala macem (macam komplikasi aja, ya. Hahahaastaghfirullah.) dan timing sakitnya ini sama sekali nggak pas karena bener-bener di pertengahan UTS. Mau belajar nggak nyaman, mau mandi airnya dingin banget, mau makan buat nelan rasanya pahit, mau keluar beli makan rasanya mager terlalu takut kalau-kalau jatoh di jalan atau gimana, semua serba salaaaah. Saya sempet curhat ke salah satu kakak tingkat yang sudah saya anggap Mbak sendiri dan dia bilang gini:

“Kalau temen-temen di kosku lagi kayak kamu gitu berarti lagi homesick, Dek. LOL.”

JDYER. 😀

Deep down inside membenarkan 100%.

Cewek itu baperan, sungguh. Sekalipun nggak menampakkan kalau lagi sama temen, siapa tahu gimana dia kalo lagi sendirian di kos, malam-malam, bikin sajadah tempat sujudnya sampe basah? (Wait-wait, I am not telling about how I am di kos, ya. Itu cuma perumpamaan 🙂 ) Apalagi kalau case-nya adalah orangtua. That’s one of the weakest point we’ve all got. Cowok juga, sih. Tapi nggak sebaper ceweklah. Because they’re strong with logic and somehow I wannabe like them too, ugh (At least separuhnya aja deh, bisa nggak ya…).

The point is, homesick itu sama sekali nggak enak. Annoying. Uncomfortable. Bikin uring-uringan. Bikin galau. Bikin alay(Nggak, ini nggak kok haha) BUT dari homesick, finally you will realize how important your family are. Seunik, segila, seflat apapun keluarga kamu, they are still your one and onely lovely family you love the most whom you’ll never let go of.

Bagi siapapun kamu yang merantau, telepon orangtua kamu rutin tiap hari, ya. Dua-duanya! Jangan pilih kasih! Hahaha.

Yang lagi homesick….yaudah lah ya, lanjut aktivitas masing-masing. Yang penting pastiin tanggal pulang kampungnya kapan. Kata David Archuleta gini brummies, “Show me the good things come to those who wait…

Makanya, sabar! :p (Ngomong ke diri sendiri)

 

Jakarta, 12 Desember 2015
In the middle of belajar kalkulus, uhuk.

Advertisements

[15] (Harusnya) Bukan Jadi Alasan

Kadang ada beberapa hari yang terlewat tanpa ada sesuatu yang bisa dicatat, ditulis. Rata-rata karena hari itu bener-bener flat. Nothing special. Atau karena terlampau spesialnya, bisa jadi nggak mau nulis apa-apa, membiarkan hanya dirinya dan Allah SWT saja yang tahu.

Manapun itu, nggak lantas jadi alasan untuk menghentikan rutinitas yang baik, ya. Hahaha. Jangan dicontoh.

“Karena lebih baik sedikit namun dikerjakan setiap hari daripada banyak tapi hanya sekali-kali.”

Berulang kali saya dengar quotes itu. Sampai sekarang pun kayaknya jarang absen. Memang kata-kata mutiara yang nggak ada matinya, ya. Maksudnya, that’s a right thing to do but human tend to ignore it. Lagi-lagi berfikir kalau punya waktu lama untuk melakukan segala sesuatunya.

…Karena memang Allah SWT menyukai pribadi yang istiqomah, ya. Nggak heran sering diingatkan 😀

Supaya bisa kuat berutinitas-ria, harus terus bersyukur dan bersabar. Semata-mata karena—katanya Usep Badruzzaman—“Gusti Allah ora sare”. Hihihi.

Selamat malam, Brummies. Selamat beristirahat 🙂

 

Jakarta, 07 November 2015

[14] Seragam dan Segenggam Harapan

Satu B kompak selalu, ya! :)
Satu B kompak selalu, ya! 🙂

Have you ever thought about the essential of wearing uniform? Selain untuk pemerataan status sosial murid atau mahasiswa, tentunya. Karena jauh daripada itu, menurutku esensinya lebih daripada itu.

Seragam mendefinisikan dimana kamu sedang belajar. Jalur keahlian apa yang kamu pilih. Tanggung jawab sebesar apa yang kamu pikul. Karena belajar atau menuntut ilmu nggak sesederhana yang dibayangkan. Tugas kita bukan cuma belajar, berorganisasi atau aktif dalam kepanitiaan. Lebih daripada itu. Kata guru saya waktu SMA dulu,

“Tugas kalian saya kasih nilai 60, 70, 80, 90, 100 sekarang terserah saya. Kalau saya mau, bisa saja kalian request mau nilai berapa. Bisa saja. Tapi bukan itu sesungguhnya tugas kalian. Tugas nyata kalian adanya di sana. Masa depan dan masyarakat. Bagaimana nilai-nilai benar-benar kalian aplikasikan atau bagaimana nilai-nilai tersebut sudah tidak ada artinya sama sekali.”

That’s it.

Universitas, Sekolah Tinggi, atau apapun instansi tempat kamu menuntut ilmu adalah media. Miniatur dari masyarakat sesungguhnya. cuma sepersekian persennya saja. Tapi kalau sudah terlatih di dalam media tersebut, inshaAllah siap menghadapi yang lebih berat.

Moreover when you know your education been paid completely or partly or one-fourth only by money citizen. Berasa punya utang, ya? Utang yang baik tentunya.

‘Sudah dibayarin, masa cuma belajar saja? Nggak aktif sama sekali? Lalu mau ‘membayar’-nya dengan apa? Bakti masa depannya akan seperti apa?’

Bagaimana hal tersebut malah membuat semangat semakin terpacu. Terlebih lagi, di sana… Di kampung halaman orangtua tercinta mendoakan dari jauh. Meletakkan harapan-harapan beliau di pundak kita.

How I miss mamski so much. Jadi pengen meluk mama #baper.

Ada satu hal lagi yang waktu itu disampaikan guru saya,

“Kalian harus ingat, anak-anak bukan saya yang beri kalian pertanggung jawaban nilai tapi Dia. Dia yang berada di atas kita semua, mengawasi segala gerak-gerik kita setiap saat. Allah SWT.”

Ini temen kos :D
Ini temen kos 😀

Semangat mengemban tugas, wahai para penuntut ilmu se-Indonesia Raya! Selamat mengenakan seragam dan menggenggam banyak harapan, calon statisti STIS! #MoveOnPDA! 🙂

 

Jakarta, 03 November 2015

[13] 31 Oktober 2015

tumblr_lulgxlFDbE1r5ssqlo1_500_large

Nggak kerasa banget sudah di penghujung bulan, ya. Nggak nyadar juga dua bulan lagi bakal berganti tahun(tapi tahun baru Islam sudah bergulir kok, haha). Uhuk. Gimana, nih progress di bulan kesepuluh? Apa target-target sudah terlaksana?

Here, I am the one who will answer: not yet. Mwahaha. Malu. Sungguh. Karena memang ada beberapa hal yang terus-menerus saya pending, skip, lupakan, abaikan, buang ke laut, umpetin di kolong tempat tidur—apapun—sampai tahu-tahu aja sudah numpuk. Tahu-tahu saja melihatnya bikin panas mata, bikin gemes hati, bikin sedih pikiran.

Kata Wahyu Aditya: Ilmu otak kadal banget, kamu! Thinking we have a lot of time and able to do everything on our own up to own mood?

Orang paling kaya di dunia adalah orang yang bisa membeli hal yang nggak bakal terbeli. Here, the context is time. Always. Makanya, cuma Allah semata yang paling kaya. Fortunately, time machine only exist on science-fiction movie, ya. Kalau ada beneran… Ya, bakal tetep saya pakai, sih. Mau mengenang betapa alaynya saya zaman dulu. Yang sekarang mungkin terbawa sedikit-sedikit. Atau banyak, ya? Ah, terserah. Nggak baik menilai diri sendiri #ngeles 😀

But, seriously.

Waktu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main.

Berulang kali saya mendengar nasehat itu. Gini, dulu zaman SMA pernah meremehkan ulangan biologi karena saya notabene sama sekali nggak suka biologi dan nggak(benar-benar optimal) memahami materinya. Tapi saya berpersepsi bahwa akan mengulang pelajaran di rumah. Seperti anak SMA pada umumnya, saya pending teruuuus sampai akhirnya haripun bergulir. Kemudian berhenti. Tepat di ulangannya itu.

Bisa ditebaklah, apa yang terjadi… Remidi! Hahaha(Menertawakan kegagalan sendiri adalah hal yang nggak baik. Jadi saya mohon. Ini hanya bacaan untuk 18 ke atas. Yang umurnya kurang, nggak papa sih lanjutin aja. Tanggung soalnya. Mwahaha).

Itu contoh sederhana aja sih. Dampak dari sama sekali nggak menghargai waktu. Just like bapak-bapak TNI pelatih Bela Negara kami kemarin bilang:

“Kalau mau orang lain menghargai kalian, hargailah orang lain terlebih dahulu. Enak sekali kalian minta respect tapi kalian sendiri nggak mau respect.”

That quotes have to implant towards managing time, too.

Aku, kamu, kita, semua adalah fighter yang berival kuat dengan waktu. Selalu. Setiap orang punya 24 jam yang sama tiap hari. Dimana bener-bener up-to-us mau menghabiskan seperti apa. Apa mau untuk memikirkan topik skripsi(kakak-kakak tingkat tahun terakhir di universitas atau sekolah tinggi manapun semangat, yoaaa), atau untuk belajar mati-matian atau malah hanya untuk menonton drama-drama (yang sebenernya sama sekali nggak ada efeknya buat kehidupan nyata kita kecuali daydreaming-_-) atau main uno atau chattingan sampai tiba-tiba nggak kerasa aja udah sampai malam berkutat di depan layar ponsel.

Apapun kegiatannya, nggak mau kan membuang satu hari berharga yang nggak akan terulang lagi?

Karena jalan menuju kemalasan selalu lebih menggoda. Hahaha. Yuk, kita perangi bersama! 😀

 

Jakarta, 31 Oktober 2015
P.S. Maaf gambarnya nggak ada korelasi sama sekali dengan tulisannya, ya. Hahaha.

[12] Cruel Like A Deadly Fuel

tumblr_ly4jocsFxY1qd4q01o1_500_large

Mengawal rindu bukan perkara gampang. Berharap Mama nan jauh dari mata untuk bisa mewujud nyata kadang hanya sebatas angan. Dan papa. Lalu sahabat karib yang kini tengah sama-sama berjuang menuntut ilmu. Hmm. Jarak itu sadis, ya.

Fact that we wanna their hugs or hearing their laughs or simply just seeing their smile itu yang bikin makin nyiksa. Iya nggak, sih?

Terlepas dari seberapa aktif kita, sejauh mana kita didamparkan, setekun apapun kita belajar, se-yolo apapun diri kita, dalam 24 jam sehari pasti ada waktu dimana kita hanya sendiri. Entah itu berdiam diri atau memang karena waktunya tidur dan mandi. Nggak mungkin kan dua hal itu dilakukan bersama? (Eh, tapi kalau buat tidur boleh-boleh aja asal sama sesama jenis, ya. Haha.)

Kadang waktu benar-benar nggak ada yang menemani, kita pasti akan selintas terpikirkan orang-orang masa lalu. Yang masih eksis, dan mendukung hingga sekarang. Berharap bisa menceritakan apapun keluh-kesan usai seharian beraktivitas—secara langsung, face to face.

Because nothing can replace real things. Real people. Real talk. Real sympathy. Real love. Real care. Real stuffs.

Sekalipun sajadah kamu basah oleh air mata. Nggak akan ada yang tiba-tiba bisa membawa orang-orang yang kita rindukan di hadapanmu. Kecuali Allah semata, sih. Haha.

Eventough distance is cruel like deadly fuel, I learn something from it. That we should be patient. Menyerahkan segala sesuatunya pada Yang Maha Tahu dan senantiasa berdoa supaya orang-orang paling kamu sayang bisa terjaga lantas bisa kembali kita tegur sapa cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon nggak peduli senja tiba-tiba menjingga nila esok paginya.

Berat, sih. Tapi bisa kok. Harus bisa, ya.

Selamat berindu-ria, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 29 Oktober 2015

[11] Menyoal Beliau

[11] (2)

Berbahagialah kamu yang belum pernah membuat orangtuamu menitikkan air mata. Merapal berbagai doa dalam hati supaya anaknya berubah…baik.

Please, be happy for it. Truly.

Because when you do reverse, rasanya sakit. Ketusuk. Sel-sel dalam tubuh lemas seketika saking nggak percayanya kita telah melakukan kesalahan.

Membuat orang yang paling kita pedulikan menangis adalah hal super-mega-dobel-besar dosa. Allah jelas tahu.

Sekalipun cek-cok kecil, Allah Maha Tahu.

Mengecewakan merupakan kata-kata yang familiar buatku. Membangkang. Membentak. Apapun yang membuat beliau mengelus dada. Apapun yang membuatku sendiri merasa gagal menjadi anak kebanggaan.

It hurts even deeper when finally they always forgive you. Always accept you just like you are now. Just like you want to be considered. It hurts when they have nothing to revenge but just love us back. That’s the pain you’ve got to take. There is nothing you can do but regretting every mistake you have done.

But that is their best gift ever. Adanya mereka saja sudah jadi suatu hadiah terbesar untuk kita semua, kan, ya?

Karena orangtua sayang. Kita. Selalu. Seburuk apapun kelakuan. Sehina apapun kesalahan. Tetap saja.

Nggak ada orangtua sempurna di dunia ini. Adanya mereka yang selalu berusaha untuk memberikan kita yang terbaik, seburuk apapun keadaan. Segila apapun situasi. Mereka selalu ada. Mereka selalu mengingat kita. Mereka jelas-jelas mendoakan kita. Mengharapkan kita menjadi bintang-bintang gemerlap. Di sana. Langit tertinggi cita-cita. Dan nggak lupa, beserta hati mereka. 🙂

Brummies, sudah bilang sayang ke Mama Papa hari ini?

 

Jakarta, 26 Oktober 2015

[10] Kasih yang Baik

Falling in love is sucks.

Karena jatuh nggak akan pernah enak rasanya. Kata Sweta Kartika, “Jatuh paling enak adalah jatuh di antara bintang-bintang ketika gagal meraih mimpi tertinggi.” Familiar dengan quotes tersebut? Iyalah. Kan Kakak-nya ngutip Soekarno. Haha.

A lot of people saying falling in love is a really great feeling. The greatest, malah. Bagiku, sih… jatuh kayak gitu mah enaknya cuma di awal aja. Akhir-akhirnya bingung mau buang perasaan kemana. Ujung-ujungnya nulis galau(kalau saya, dulu. Dan kalian bisa cari buktinya di blog ini, hahaha). Ujung-ujungnya ngeforsir diri biar lupa. Bahkan di antara kita mungkin langsung down kali ya begitu sampai di garis finish dan bilang: “Alright, I am done falling in love with you, alien!

Because it is hurting. Just like falling from bicycle or falling from climbing tree. Bahkan saking alaynya, ada yang trauma buat jatuh cinta! Hahahaalay.

But it doesn’t happen, it wouldn’t happen kalau orang yang kamu beri kasih hanya Allah semata—juga dengan orangtua tercinta tentunya.

Kasih-Nya memang sudah jelas. Sangat terlampau jelas, malah. Aku bahkan nggak kwad menghitung seberapa besar hal yang Ia beri karena saking nggak terhitungnya. Like He gave us unlimited things we essentially needs without we have to say it first kan, ya?

Kata Maher Zein, “We just have to open our eyes and hearts and minds. If we just look bright we’ll see the sign. We can’t keep hiding from the truth. Let it take us by surprise.”

Mostly, kasih tanpa batas jarang banget di-notice. Diabakan, seringkali. Berfikir bahwa tanpa kita berterima kasih, tanpa loving back-pun, kasih tersebut akan terus bergulir, terjalin, mengalir. Seperti kasih Mama, Papa, dan Tuhan Semesta Alam.

Pernah nggak sih, sekali aja kefikiran bagaimana memberikan hadiah epic untuk Tuhan seperti halnya mikirin jungkir-balik bakal ngasih apa untuk ulangtahun crush? Atau..lebih sering mana, nih. Teriang senyum crush atau rindu senyum Mama menyambut di stasiun?

Nggak usah bohong kamu, Dek! Allah punya datanya!

Hahaha.

The point is, kasih-kasih unlimited itulah yang pantas kita selami. Kita tindak-balik. Kalau perlu, giving-back-nya wajib lebih besar, lebih dahsyat, lebih megah, dan lebih memorable. For showing that we are as a human being really appreciate and grateful for having unlimited good love. Apalagi ketika pada akhirnya terpacu karena kasih tersebut merubah kita menjadi pribadi lebih baik.

Nggak bakal ada ruginya, ya? Insya Allah 🙂

 

Jakarta, 25 November 2015