#1: Butuh

Kita wajib malu.

Terlalu banyak memikirkan hal yang belum tentu kita rengkuh.

Jika sejatinya hanya Allah terminal terakhir kita berlabuh, mengapa harus mengeluh?

Kenapa tak kita tinggal saja kelabu demi esa yang satu?

Sepantasnya malu.

Seyogyanya sedih-sedu.

Tak sepatutnya terbandingkan antara Allah dan dunia pilu. Jelas tak perlu.

Karena hanya Ialah kembalimu.

Pelipur laramu.

Terkasihmu.

Penciptamu.

Pelenyapmu.

 

Jakarta, 22 Februari 2016

Advertisements

2 thoughts on “#1: Butuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s