[19] Beauty of Being Naked

Beauty of Being ‘Naked’

Assalamualaikum ya akhi, ya ukhti!

It’s been a long time~ I’ve been coming back home~

Melihat postingan terakhir saya tanggal 20 Januari 2016 terus sekarang udah tanggal 18 Februari aja. Nyaris satu bulan, fiuh. By the way, rasanya kagok….. Mematut diri di depan layar laptop setelah nggak kebiasa menulis tiap hari lagi. Honestly, jemari kesendat-sendat mengikuti pikiran yang ribet memilih kata untuk disampaikan. Hahaha.

Tapi bukan itu maksud saya menulis postingan ini.

Sesungguhnya sih, saya juga nggak tahu mau ngomongin apa. Saya cuma kangen sama blog ini. Blog yang ternyata punya pembaca juga. Which is some of them are my friends. Malu. Bener-bener malu.

Menulis itu mudah. Tinggal mengetikkan apa saja yang terlintas dalam akal. Susahnya itu, bagaimana membuat apa yang telah kita jelentrekkan satu persatu jadi presentable dan valuable for public consumption.

Satu lagi, susahnya menulis; adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk rela being ‘naked’ in front of people. Naked dalam artian hasil buah pikiran kita yang bakal kebaca masyarakat. Being a writer is one of the embarrassing profession. Because what you write is what you think. What you think is your own perspection which is unique and presenting your soul precisely.

Kadang itu yang bikin saya nggak percaya diri tiap ada temen komen via dunia nyata. Knowing other realize who you really are tuh memang ngelegain tapi kalau belum siap juga ngeribetin (Astaga, maafkan bahasa saya yang bingungin, hihihihin).

But those are the beauty of writing! Itu something yang addicted. Membagikan apa yang kamu percaya dan apa yang kamu tahu jadi kesenangan tersendiri, loh. Apalagi setelah tahu feedback brummies (kalo ada :p) nunjukin kurva positive dan bikin semangat balik nulis lagi (seketika keinget UAS yang tinggal empat hari lagi……………).

Temen saya bilang:

Blogmu bagus, Rur! Apalagi yang seneng-seneng! Waktu kamu keterima desain ITS, terus dari SMP ke SMA, apiklah! Tapi kok yang baru-baru sedih-sedih kabeh, yo? Tak skip akhirnya yang sedih-sedih….

Saya cuma bisa:

Hahahahahaha……………. *hening sejenak* 🙂

One more beauty about writing: you can not deceive people mind. Yang kamu tulis, ya itu: kamu. Sekalipun apa yang kamu tulis nggak sesuai dengan situasi, itu konsekuensi. Kata-kata kamu yang bakal melekat di pikiran pembaca. Pemikiran kamu yang bikin orang aware, notice dan opening mind up.

Yuk, produktif dan istiqomah dalam menekuni kegiatan kita, brummies! 🙂

“Meski hari libur, hindari bermalas diri. Tetaplah produktif dalam berkarya dan beribadah. Lalu kapan istirahatnya? Percayalah, tempat istirahat terbaik adalah surga.”

-Ahmad Rifa’I Rifan dalam buku Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk.

 

Jakarta, 18 Februari 2016
Di sela-sela Ujian Akhir Semester Ganjil

Advertisements

7 thoughts on “[19] Beauty of Being Naked

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s