[10] Kasih yang Baik

Falling in love is sucks.

Karena jatuh nggak akan pernah enak rasanya. Kata Sweta Kartika, “Jatuh paling enak adalah jatuh di antara bintang-bintang ketika gagal meraih mimpi tertinggi.” Familiar dengan quotes tersebut? Iyalah. Kan Kakak-nya ngutip Soekarno. Haha.

A lot of people saying falling in love is a really great feeling. The greatest, malah. Bagiku, sih… jatuh kayak gitu mah enaknya cuma di awal aja. Akhir-akhirnya bingung mau buang perasaan kemana. Ujung-ujungnya nulis galau(kalau saya, dulu. Dan kalian bisa cari buktinya di blog ini, hahaha). Ujung-ujungnya ngeforsir diri biar lupa. Bahkan di antara kita mungkin langsung down kali ya begitu sampai di garis finish dan bilang: “Alright, I am done falling in love with you, alien!

Because it is hurting. Just like falling from bicycle or falling from climbing tree. Bahkan saking alaynya, ada yang trauma buat jatuh cinta! Hahahaalay.

But it doesn’t happen, it wouldn’t happen kalau orang yang kamu beri kasih hanya Allah semata—juga dengan orangtua tercinta tentunya.

Kasih-Nya memang sudah jelas. Sangat terlampau jelas, malah. Aku bahkan nggak kwad menghitung seberapa besar hal yang Ia beri karena saking nggak terhitungnya. Like He gave us unlimited things we essentially needs without we have to say it first kan, ya?

Kata Maher Zein, “We just have to open our eyes and hearts and minds. If we just look bright we’ll see the sign. We can’t keep hiding from the truth. Let it take us by surprise.”

Mostly, kasih tanpa batas jarang banget di-notice. Diabakan, seringkali. Berfikir bahwa tanpa kita berterima kasih, tanpa loving back-pun, kasih tersebut akan terus bergulir, terjalin, mengalir. Seperti kasih Mama, Papa, dan Tuhan Semesta Alam.

Pernah nggak sih, sekali aja kefikiran bagaimana memberikan hadiah epic untuk Tuhan seperti halnya mikirin jungkir-balik bakal ngasih apa untuk ulangtahun crush? Atau..lebih sering mana, nih. Teriang senyum crush atau rindu senyum Mama menyambut di stasiun?

Nggak usah bohong kamu, Dek! Allah punya datanya!

Hahaha.

The point is, kasih-kasih unlimited itulah yang pantas kita selami. Kita tindak-balik. Kalau perlu, giving-back-nya wajib lebih besar, lebih dahsyat, lebih megah, dan lebih memorable. For showing that we are as a human being really appreciate and grateful for having unlimited good love. Apalagi ketika pada akhirnya terpacu karena kasih tersebut merubah kita menjadi pribadi lebih baik.

Nggak bakal ada ruginya, ya? Insya Allah 🙂

 

Jakarta, 25 November 2015

Advertisements

4 thoughts on “[10] Kasih yang Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s