[6] Sepenggal Kisah Menuju Kampus Perjuangan

logo-its-biru-transparan

“…Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadah:11)

Prophet Mohammad SAW. says, bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. That line always used almost by every single educated human on earth. When it comes in an job interview or seminar or ceramah or even private chat between two people. Faktanya, orang yang bermanfaat memang orang-orang terbaik yang selalu dikenang, punya andil besar mengubah bangsa, dan membawa revolusi baik untuk ke depannya.

Contohnya? A lot. I don’t need mention the big names one by one karena brummies pasti sudah punya pandangan sendiri:)

In my case, being something useful for everybody around me order me to fighting harder dan mendorong hati kecil untuk jadi pribadi berpendidikan  yang siap terjun di bidang spesifik yang tentunya bisa membawa perubahan di Indonesia. Singkatnya, kuliah dululah. Hahaha.

Yep, jadi sekarang saya bakal bahas tentang jatuh-bangun mencapai dream university versiku. Rasanya kayak baru kemarin aja berangkat ke sekolah diantar papa, berseragam putih abu-abu lengkap, bercanda tanpa henti sama teman, (yah…baper).  Sekarang? Alhamdulillah sudah menemukan jalan sendiri.

Dulu sekali, my passion sempat jatuh di bidang astronomi. Dipikir ulang, “Kok kayaknya cuma tertarik sama foto satelitnya aja, ya?” Karena notabene, ilmu astronomi kan butuh pondasi matematika dan fisika yang sangat kwad sekaleh. Saya matematika, inshaAllah diusahakan lah ya. Nah, fisika? FISIKA?! Tahun ini saja saya sudah les fisika, nilai UNAS fisika saya—alhamdulillah masih—dapat tujuh (rofl).

Terus move on ke bidang jurnalistik. I am a writer. Even the amateur one. Jadi, choosing language as my next prospect seems logic dan bakal bikin saya makin semangat karena living in a hobby. But you know, these days. Parents always direct as to something yang…lebih menjanjikan. I am not saying journalistic bukan prospek yang menjanjikan. Hanya saja, masih ada beberapa orang yang memandangnya sebelah mata. Berfikir kalau bidang jurnalistik hanya akan menjanjikan untuk segelintir orang beruntung.

The point is, paradigma yang berfikir demikian. Termasuk orangtua saya.

Tired in argumenting, saya akhirnya pindah haluan sepenuhnya ke bidang desain interior. Kenapa akhirnya milih itu? Karena papa saya menyarankan masuk ke sana. Tiap kali kami sekeluarga makan di restoran, satu yang nggak pernah terlewatkan adalah sesi mengomentari interior ruangan resto. “Da(Saya di rumah dipanggil Mada), bagus ya penataannya. Ini pesan kursinya saja sudah habis berapa puluh juta. Kayu jati begini.” Stuffs like that. Pelan-pelan saya juga mulai suka baca majalah interior, mengikuti perkembangan interior di luar negeri itu bagaimana, perlahan-lahan tahu siapa saja desainer interior tersohor Indonesia, dan banyak lagi, deh. (Nanti kalau diketik nggak nyampek-nyampek ke poin postingannya. Hahaha) Di lain sisi saya juga tertarik dengan STIS(Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) sebagai cadangan.

But even so, perjuangan selalu mengikuti. Karena saya butuh tiga kali nangis di mobil untuk meyakinkan orangtua saya bahwa saya memang benar-benar ingin menggeluti bidang interior. Sekalipun pada akhirnya papa berpikir desain interior nggak terlalu menjanjikan(juga).

Saya ingat sekali, dulu itu pernah sepulang les kimia saya diajak ke rumah teman papa yang merupakan seorang pengamat pendidikan. Sepanjang perjalanan diberondongi hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi jika akhirnya saya masuk interior. Papa bilang, jurusan yang temannya geluti itu lebih memiliki prospek gede dan saya dijamin nggak bakal nganggur.

Saya sebal. Asli. Saya sebal. Mata sudah panas karena tangisan mau tumpah, hati pun begitu. Fortunately, teman papa sedang nggak ada di rumahnya. Dan malam itu berakhir dengan saya yang nangis—bener-bener nangis—memperjuangkan apa yang sudah saya yakini benar.

Karena janji Allah memang benar, entah bagaimana mungkin papa terenyuh hatinya, ya. Karena malam itu juga saya diizinkan masuk interior. Tepatnya di ITS(kemudian sujud syukur. Shalat segala macam berterima kasih sangat sama Allah, mwahaha)!

Itu baru permulaan. Karena sesungguhnya battle just begin! Supaya bisa menembus impian, ada dua jalur yang bisa saya tempuh. Yaitu melalui SNMPTN(undangan) atau jalur tes. Saya yang aslinya cuman suka nggambar asal jadi ketar-ketir sendiri karena jalur undangan butuh portofolio gambar.

Dan. Portofolio. Itu. Nggak. Gampang.

Bener-bener nggak gampang.

Nothing is easy but nothing is impossible. Kita dituntut menyerahkan karya terbaik—yang benar-benar paling baik—sesuai syarat(tahun saya itu, gambar stilllife, suasana, dan perspektif). Minder dong saya. Secara gambar juga nggak jago-jago amat. Maka, before any negative toughts muncul lagi saya buru-buru ambil course gambar di guru kesenian saya tercinta. Bapak Putra—bapak paling muda SMANISDA yang sering digodain murid-muridnya dan yang namanya sering di salah artikan di depan plang kamar mandi: Toilet (Pak) Putra.

Singkat cerita, saya nggak puas(Haish, alay banget ya. Baru belajar bentar nggak puas). Saya pengen belajar dari yang bener-bener dasar untuk mempersiapkan portofolio tersayang. Maka saya pun berinisiatif les di luar. Di Studio Artmagic tepatnya. Lokasinya si Artmagic ini…45 s.d. 60 menit kalau ditempuh naik sepeda motor. Kalau sepeda motor lagi dipake dan saya terpaksa naik angkot, tiap Sabtu saya men-skip jadwal PIB(saya lupa kepanjangannya apa. Intinya itu jam-jam pelajaran tambahan menyongsong datangnya UNAS. Hahaha) dan langsung cus berangkat. Hmm, kira-kira dua jam baru nyampe tempat. Lama, ya?

Singkat cerita setengah tahunan les akhirnya menelurkan tiga gambar dan satu maket(yang ini bener-bener setengah mati ngerjainnya-_-). Singkat ceritanya lagi, saya nggak diterima di jalur undangan! Hahaha! Nggak kaget. Dibandingkan dengan yang lain, karya saya mungkin masih ecek-ecek. But still, I’m proud of it because that’s work of mine.

Saya memang nggak menargetkan untuk bisa lulus di jalur undangan karena—hey, who doesn’t know the transparency of this system? Cuma dinilai berdasarkan hasil rapot dan prestasi alumni. Memang sih, pihak BK memberikan bimbingan dan pengarahan, but still. Kebanyakan hasilnya tuh memang sama sekali nggak diduga. Kalau kata kakak kelas saya dulu:

“Undangan nggak lolos? Nggak apa-apa lah. Kan lotrean itu.”

Hahaha. #nooffense #justkidding

Saya nggak lolos undangan baik-baik saja. Sekalipun di antara lima orang yang mendaftar undangan ITS, dimana cuma saya saja yang mengikuti les gambar di Surabaya, cuma saya juga yang nggak lolos. Empat teman saya lainnya les di Pak Putra lolos(kenapa hubungan kita nggak berlanjut saja, bapak? Kenapa?). Baik-baik aja, saya. Sungguh. Lha kok, sorenya pengumuman itu mama saya nangis. Itu yang bikin hati teriris.

“Non-non(mama saya manggil saya Mbak Nonik). Kamu itu sudah dileskan jauh-jauh, kok ya nggak lolos. Di antara lima temen kamu yang mau masuk desain its, kok cuma kamu…”

DATFEELS, BROH. DATFEELS.

Sedih, ya? Sedih eneng di sini, Bang. Kecabik hati dinda, akanggg. Lara ne atiku ora setara karo perjuangankuuuuhhhh.

Iya, kecabik. Tapi itu yang buat niat saya untuk lolos SBMPTN juaaauuuhhh lebih besar. Lebih sarat makna. Lebih dalam dan…baper. Hahahaha.

Saya berjuang lagi. Tetap les di artmagic lagi. Berjuang sama temen-temen regular 3 yang bener-bener kayak keluarga. Sasha, Betty, Ifan, Pras, Vicky. Les isinya ketawa, nyemil, seru-seruan, nggak berasa kayak les. Bahkan beberapa dari guru kami bilang kalau kelas kami ini seperti pendobrak ‘budaya’ artmagic. “Biasanya anak reguler diem-diem. Tapi reguler tiga enggak.” 🙂

Tiap hari selama sebulan saya les. Bolak-balik Sidoarjo-Surabaya. Tiap malam saya ‘ganggu’ pengajar-pengajar saya(Mbak Beng, Mbak Fia, Mas Kumy, Mas Agung) buat minta soal dan minta langsung dievaluasiin setelahnya selesai. Untungnya, SMA Cuma tinggal nunggu ijazah jadi mau fully mengeluarkan tenaga bisa tercapai. Yang bikin menantang di saat-saat seperti ini adalah Hell Class dan Try Out-nya! Gelaaa, saya bener-bener kangen masa-masa itu :’)

Jangan pikir macam-macam tentang hell class, ya. Karena memang macem-macem terjadi di hell class! Hahaha. Di sini kita dikasih soal untuk dikerjakan selama sekian menit yang mana dari waktu tersebut dibagi jadi beberapa tahapan. Kalau sudah satu tahapan habis masa, waktunya menempelkan karya di depan kelas, macem-macem mulai ambil alih. Dari mencoret bidang gambar waktu rananya nggak pas, lalu proporsinya yang kurang enak dipandang, atau mungkin karena ekspresi dan sketsa masih belum jelas kemudian menggunting bidang gambar(bayangin, deh ya. Udah susah-susah nggambar, diguntiiiiing. Hiks) kalau rana dan proporsinya lebih tepat jika gambar diperbesar. Kalau sudah dapat coretan atau guntingan, wajib mengulang dari awal tanpa perpanjangan waktu. Menantang sekali, kan? :’)

Serunya tuh waktu saling menyalahkan sampai akhirnya satu kelas mengulang gambar semua. Serunya tuh waktu tahu ternyata sekalipun ngulang masih tetap bisa mengejar ketertinggalan dengan teman yang nggak ngulang. Serunya tuh waktu tahu bahwa ternyata proses menggambar adalah proses mengulang yang jika dilakukan secara kontinu dan bersungguh-sungguh, kita bisa memenuhi kategori benar dan tepat.

Ah, how time flies so fast, ya.

Untuk pelajarannya saya lebih memilih membeli buku soal dan les privat atau kelompokan di guru-guru yang menurut saya ngajarnya enak dan cesspleng! Selagi berjuang itu, selain saya shalat wajib saya juga shalat hajat. Sama apa, ya. Ohya, pas itu kan puasa ramadhan. Jadi bener-bener ujian ketika capek dan pengen tidur aja. Tapi alhamdulillahnya nggak pernah kayak gitu, sih. Hahaha.

Ketika hari-H tiba, saya mengeluarkan apa yang saya tahu apa yang saya mampu. Dengan satu keyakinan bahwa saya bisa menembus SBMPTN 2015. Bismillah.

Pengumuman tiba, waktu itu saya sekeluarga lagi otw pulang dari rekreasi. Data kan baru bisa diakses pukul 17.00 WIB. Jadi kami shalat Ashar dulu. Minta ketenangan dulu. Baru perjalanan berlanjut, saya pinjam ponsel mama untuk mengecek web its.

Sumpah, waktu itu jantung rasanya deg-deg an kayak genderang mau perang. Tangan bergetar hebat. Hati harap-harap cemas. Udah kayak mau kepergok ketemu mata-mata yang mengintai kita gitu. Saya ketikkan nomor pendaftaran saya perlahan, sembari tetap berusaha tenang. Kemudian saya mengklik tombol di sana(namanya saya lupa, pokoknya tombol) lalu…

JRENG. HIJAU!

Selamat! Anda diterima di ITS jurusan Desain Interior 2015.

“MAMAAA AKU DITERIMA, MAAA! AKU DITERIMAAAAAA!” Kemudian nggak bisa melanjutkan konversasi karena sudah nangis sesenggukan. Papa bahkan menghentikan mobil untuk membiarkan mama turun dan memeluk saya yang duduk di belakang.

Aseli. Terharu. Aseli. Benar-benar merasa kecil.

Karena janji Allah selalu benar.

Jadi apa aku tanpa-Mu, ya Tuhanku?

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Advertisements

3 thoughts on “[6] Sepenggal Kisah Menuju Kampus Perjuangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s