[13] 31 Oktober 2015

tumblr_lulgxlFDbE1r5ssqlo1_500_large

Nggak kerasa banget sudah di penghujung bulan, ya. Nggak nyadar juga dua bulan lagi bakal berganti tahun(tapi tahun baru Islam sudah bergulir kok, haha). Uhuk. Gimana, nih progress di bulan kesepuluh? Apa target-target sudah terlaksana?

Here, I am the one who will answer: not yet. Mwahaha. Malu. Sungguh. Karena memang ada beberapa hal yang terus-menerus saya pending, skip, lupakan, abaikan, buang ke laut, umpetin di kolong tempat tidur—apapun—sampai tahu-tahu aja sudah numpuk. Tahu-tahu saja melihatnya bikin panas mata, bikin gemes hati, bikin sedih pikiran.

Kata Wahyu Aditya: Ilmu otak kadal banget, kamu! Thinking we have a lot of time and able to do everything on our own up to own mood?

Orang paling kaya di dunia adalah orang yang bisa membeli hal yang nggak bakal terbeli. Here, the context is time. Always. Makanya, cuma Allah semata yang paling kaya. Fortunately, time machine only exist on science-fiction movie, ya. Kalau ada beneran… Ya, bakal tetep saya pakai, sih. Mau mengenang betapa alaynya saya zaman dulu. Yang sekarang mungkin terbawa sedikit-sedikit. Atau banyak, ya? Ah, terserah. Nggak baik menilai diri sendiri #ngeles 😀

But, seriously.

Waktu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main.

Berulang kali saya mendengar nasehat itu. Gini, dulu zaman SMA pernah meremehkan ulangan biologi karena saya notabene sama sekali nggak suka biologi dan nggak(benar-benar optimal) memahami materinya. Tapi saya berpersepsi bahwa akan mengulang pelajaran di rumah. Seperti anak SMA pada umumnya, saya pending teruuuus sampai akhirnya haripun bergulir. Kemudian berhenti. Tepat di ulangannya itu.

Bisa ditebaklah, apa yang terjadi… Remidi! Hahaha(Menertawakan kegagalan sendiri adalah hal yang nggak baik. Jadi saya mohon. Ini hanya bacaan untuk 18 ke atas. Yang umurnya kurang, nggak papa sih lanjutin aja. Tanggung soalnya. Mwahaha).

Itu contoh sederhana aja sih. Dampak dari sama sekali nggak menghargai waktu. Just like bapak-bapak TNI pelatih Bela Negara kami kemarin bilang:

“Kalau mau orang lain menghargai kalian, hargailah orang lain terlebih dahulu. Enak sekali kalian minta respect tapi kalian sendiri nggak mau respect.”

That quotes have to implant towards managing time, too.

Aku, kamu, kita, semua adalah fighter yang berival kuat dengan waktu. Selalu. Setiap orang punya 24 jam yang sama tiap hari. Dimana bener-bener up-to-us mau menghabiskan seperti apa. Apa mau untuk memikirkan topik skripsi(kakak-kakak tingkat tahun terakhir di universitas atau sekolah tinggi manapun semangat, yoaaa), atau untuk belajar mati-matian atau malah hanya untuk menonton drama-drama (yang sebenernya sama sekali nggak ada efeknya buat kehidupan nyata kita kecuali daydreaming-_-) atau main uno atau chattingan sampai tiba-tiba nggak kerasa aja udah sampai malam berkutat di depan layar ponsel.

Apapun kegiatannya, nggak mau kan membuang satu hari berharga yang nggak akan terulang lagi?

Karena jalan menuju kemalasan selalu lebih menggoda. Hahaha. Yuk, kita perangi bersama! 😀

 

Jakarta, 31 Oktober 2015
P.S. Maaf gambarnya nggak ada korelasi sama sekali dengan tulisannya, ya. Hahaha.

[12] Cruel Like A Deadly Fuel

tumblr_ly4jocsFxY1qd4q01o1_500_large

Mengawal rindu bukan perkara gampang. Berharap Mama nan jauh dari mata untuk bisa mewujud nyata kadang hanya sebatas angan. Dan papa. Lalu sahabat karib yang kini tengah sama-sama berjuang menuntut ilmu. Hmm. Jarak itu sadis, ya.

Fact that we wanna their hugs or hearing their laughs or simply just seeing their smile itu yang bikin makin nyiksa. Iya nggak, sih?

Terlepas dari seberapa aktif kita, sejauh mana kita didamparkan, setekun apapun kita belajar, se-yolo apapun diri kita, dalam 24 jam sehari pasti ada waktu dimana kita hanya sendiri. Entah itu berdiam diri atau memang karena waktunya tidur dan mandi. Nggak mungkin kan dua hal itu dilakukan bersama? (Eh, tapi kalau buat tidur boleh-boleh aja asal sama sesama jenis, ya. Haha.)

Kadang waktu benar-benar nggak ada yang menemani, kita pasti akan selintas terpikirkan orang-orang masa lalu. Yang masih eksis, dan mendukung hingga sekarang. Berharap bisa menceritakan apapun keluh-kesan usai seharian beraktivitas—secara langsung, face to face.

Because nothing can replace real things. Real people. Real talk. Real sympathy. Real love. Real care. Real stuffs.

Sekalipun sajadah kamu basah oleh air mata. Nggak akan ada yang tiba-tiba bisa membawa orang-orang yang kita rindukan di hadapanmu. Kecuali Allah semata, sih. Haha.

Eventough distance is cruel like deadly fuel, I learn something from it. That we should be patient. Menyerahkan segala sesuatunya pada Yang Maha Tahu dan senantiasa berdoa supaya orang-orang paling kamu sayang bisa terjaga lantas bisa kembali kita tegur sapa cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon nggak peduli senja tiba-tiba menjingga nila esok paginya.

Berat, sih. Tapi bisa kok. Harus bisa, ya.

Selamat berindu-ria, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 29 Oktober 2015

[11] Menyoal Beliau

[11] (2)

Berbahagialah kamu yang belum pernah membuat orangtuamu menitikkan air mata. Merapal berbagai doa dalam hati supaya anaknya berubah…baik.

Please, be happy for it. Truly.

Because when you do reverse, rasanya sakit. Ketusuk. Sel-sel dalam tubuh lemas seketika saking nggak percayanya kita telah melakukan kesalahan.

Membuat orang yang paling kita pedulikan menangis adalah hal super-mega-dobel-besar dosa. Allah jelas tahu.

Sekalipun cek-cok kecil, Allah Maha Tahu.

Mengecewakan merupakan kata-kata yang familiar buatku. Membangkang. Membentak. Apapun yang membuat beliau mengelus dada. Apapun yang membuatku sendiri merasa gagal menjadi anak kebanggaan.

It hurts even deeper when finally they always forgive you. Always accept you just like you are now. Just like you want to be considered. It hurts when they have nothing to revenge but just love us back. That’s the pain you’ve got to take. There is nothing you can do but regretting every mistake you have done.

But that is their best gift ever. Adanya mereka saja sudah jadi suatu hadiah terbesar untuk kita semua, kan, ya?

Karena orangtua sayang. Kita. Selalu. Seburuk apapun kelakuan. Sehina apapun kesalahan. Tetap saja.

Nggak ada orangtua sempurna di dunia ini. Adanya mereka yang selalu berusaha untuk memberikan kita yang terbaik, seburuk apapun keadaan. Segila apapun situasi. Mereka selalu ada. Mereka selalu mengingat kita. Mereka jelas-jelas mendoakan kita. Mengharapkan kita menjadi bintang-bintang gemerlap. Di sana. Langit tertinggi cita-cita. Dan nggak lupa, beserta hati mereka. 🙂

Brummies, sudah bilang sayang ke Mama Papa hari ini?

 

Jakarta, 26 Oktober 2015

[10] Kasih yang Baik

Falling in love is sucks.

Karena jatuh nggak akan pernah enak rasanya. Kata Sweta Kartika, “Jatuh paling enak adalah jatuh di antara bintang-bintang ketika gagal meraih mimpi tertinggi.” Familiar dengan quotes tersebut? Iyalah. Kan Kakak-nya ngutip Soekarno. Haha.

A lot of people saying falling in love is a really great feeling. The greatest, malah. Bagiku, sih… jatuh kayak gitu mah enaknya cuma di awal aja. Akhir-akhirnya bingung mau buang perasaan kemana. Ujung-ujungnya nulis galau(kalau saya, dulu. Dan kalian bisa cari buktinya di blog ini, hahaha). Ujung-ujungnya ngeforsir diri biar lupa. Bahkan di antara kita mungkin langsung down kali ya begitu sampai di garis finish dan bilang: “Alright, I am done falling in love with you, alien!

Because it is hurting. Just like falling from bicycle or falling from climbing tree. Bahkan saking alaynya, ada yang trauma buat jatuh cinta! Hahahaalay.

But it doesn’t happen, it wouldn’t happen kalau orang yang kamu beri kasih hanya Allah semata—juga dengan orangtua tercinta tentunya.

Kasih-Nya memang sudah jelas. Sangat terlampau jelas, malah. Aku bahkan nggak kwad menghitung seberapa besar hal yang Ia beri karena saking nggak terhitungnya. Like He gave us unlimited things we essentially needs without we have to say it first kan, ya?

Kata Maher Zein, “We just have to open our eyes and hearts and minds. If we just look bright we’ll see the sign. We can’t keep hiding from the truth. Let it take us by surprise.”

Mostly, kasih tanpa batas jarang banget di-notice. Diabakan, seringkali. Berfikir bahwa tanpa kita berterima kasih, tanpa loving back-pun, kasih tersebut akan terus bergulir, terjalin, mengalir. Seperti kasih Mama, Papa, dan Tuhan Semesta Alam.

Pernah nggak sih, sekali aja kefikiran bagaimana memberikan hadiah epic untuk Tuhan seperti halnya mikirin jungkir-balik bakal ngasih apa untuk ulangtahun crush? Atau..lebih sering mana, nih. Teriang senyum crush atau rindu senyum Mama menyambut di stasiun?

Nggak usah bohong kamu, Dek! Allah punya datanya!

Hahaha.

The point is, kasih-kasih unlimited itulah yang pantas kita selami. Kita tindak-balik. Kalau perlu, giving-back-nya wajib lebih besar, lebih dahsyat, lebih megah, dan lebih memorable. For showing that we are as a human being really appreciate and grateful for having unlimited good love. Apalagi ketika pada akhirnya terpacu karena kasih tersebut merubah kita menjadi pribadi lebih baik.

Nggak bakal ada ruginya, ya? Insya Allah 🙂

 

Jakarta, 25 November 2015

[9] Tuhan, (Maaf) Kami Berpura-pura

Aku bukan ahli biologi. I don’t even know how hormones really works. Apa dia hanya meloncat dari dendrit satu ke lainnya(Sebentar, ini syaraf bukan?) atau hanya menunggu pemicu. Aku sama sekali nggak paham jelasnya.

Yang pasti, ada radar tersendiri ketika seseorang yang menarik perhatian ada di sekitar. Apakah dia hanya terdiam, berjalan, mengobrol. Apapun. Secepat aku sadar, secepat itulah aku berbenah. Melembutkan perkataan, bertindak anggun, cepat-cepat shalat, membaca al-quran, being really a woman.

Tapi butuh beberapa waktu untuk menyadarkanku. That everything above, all the-shappy-things called…whatever you called, is unworthy. Sama sekali.

Aku memang bukan ahli biologi. Tapi fakta bahwa hormon bisa bekerja sedemikan rupa hanyalah karena kehendak Allah semata. Bagaimanapun caranya, Allah yang tahu jelas persisnya. Setiap detik. Bahkan saat kamu membaca ini-pun, saat aku mengetikkan inipun, Allah mengatur segala sesuatunya.

Suddenly I am confused.

Buat apa sebenarnya ibadahku? Karena ingin memberi impresi atau karena panggilan hati?

Seringkali aku melupakan kenyataan. Bahwa Allah memperhatikan. Allah melihat. Sekalipun hanya mengedipkan mata, Allah tahu persis.

Then shame got me.

Mengapa dengan zat yang paling peduli, sujudku hanya setengah hati? Menjunjung tinggi hedonisme, bersantai-santai ria, berpura-pura. Padahal impresi yang kutunjukkan belum pasti diperhatikan pun juga nggak akan terjadi tanpa kehendak-Nya.

…Pada akhirnya aku bersyukur. Atas kehendak-Nya pula aku mampu mengerti sedemikian ini. Walaupun (sangat) telat. Lebih baik begitu, daripada nggak sama sekali, kan ya? 🙂

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

 

Jakarta, 25 November 2015
P.S. Terinspirasi oleh “Mencintai-Mu” karya Kurniawan Gunadi di Buku Hujan Matahari

[8] Lapor, Ma(sya Allah).

 

She was such in hurry.

Perempuan itu berjalan. Kakinya melangkah satu-satu dalam gerakan cepat. Nggak sabar dia sampai di kosnya. Nggak tega membiarkan ponselnya menghitam sejak siang tadi.

Setibanya di kos, buru-buru Ia mencari charger. Menunggu dengan sabar hingga layar kembali normal. Sekalipun jelas-jelas ia tahu dirinya smelly, She didn’t care. Jari-jarinya mengetuk-etuk dengan cepat nomor kontak di ponselnya: Mama.

“Assalamualaikum, Mbak. Lagi dimana sekarang? Kemana saja seharian? Kok mama telepon berkali-kali nggak diangkat. Ada acara di kampus toh?” Secepat berondongan pertanyaan meluncur dari jauh di sana, secepat itulah hati si perempuan menghangat.

Ia tersenyum. “Waalaikum salam. Lagi di kos, Ma.” Nggak ada pelipur lara paling menenangkan selain mendengar suara mama setelah seharian berkutat pada dunia. Nothing except that.

Sekalipun mama lebih dominan mengomel. Bukan marah, ya. Mengomel. Memberitahu kita letak kesalahan lengkap dengan solusi-solusinya. Rasanya mendengar suara mama yang begitu saja seperti tersiram air dingin di tengah padang pasir terik.

“Ma, aku mau mandi. Udahan dulu, ya?” Kata si perempuan melalui loudspeaker.

Nan jauh di sana, mungkin perempuan itu sama sekali nggak tahu betapa masih merindunya sang Mama. Betapa Mama masih ingin mendengar suaranya, tawanya, ceritanya. Sekalipun Mama sudah bekerja seharian penuh, taking care everything from A to Z. Hingga penyakit encoknya nyaris kambuh atau batuknya atau pileknya atau maagnya.

But no mother showed it. Not even a single one.

“Iya. Jangan lupa laporan, ya.” Cuma itu yang Mama responkan.

Perempuan berkerudung putih panjang itu berkenyit dalam. “Kan sudah, Ma?”

Giliran mama tersenyum. “Laporan sama Allah. Jangan pernah melupakan itu.”

Perempuan itu menertawakan dirinya sendiri. Pikirannya sudah penuh kabut rindu insan ciptaan hingga lupa siapa penciptanya. “Ya, Ma. Pasti.”

[7] Sepenggal Kisah Menuju Kampus Kebanggaan

LOGO STIS

“Kesempatan nggak datang dua kali, lho.” Begitu orang banyak berkata.

Kalau saya pikir sih, iya emang nggak datang dua kali. But it will be there if we chase it. Bahkan tiga, empat, lima kali kalau perlu.

Selama berusaha meraih Interior ITS, di antara pengumuman SNMPTN dan prepare SBMPTN nggak salah(Nggak salah berarti benar, ya), saya tertarik sama satu sekolah kedinasan. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik namanya. STIS singkatannya.

Cara membacanya bukan se-tis, loh, ya. Namun dibaca perhuruf: es-te-i-es. Mengapa? Karena STAN sudah disebut se-tan! Ya, nggak lah ya. Entar saya tanyakan pada dosen dulu. Hahaha.

Awalnya tahu dari jarkoman temen. Sekolah yang menawarkan program pendidikan D-IV, nggak ada pembiayaan sama sekali alias gratis alias beasiswa, malah dapat uang saku setiap bulannya. Lihat ini saja mungkin pasti pada ngiler, ya. Nggak urung sayapun tergelitik untuk sekedar mencoba.

Dulu pokoknya cuma mau cari sekolah cadangan. Yang tesnya harus bisa saya lalui semua dan sekolahnya nggak menyengsarakan orangtua. Setara dengan pilihan saya pertama-lah. Karena STIS lebih menarik perhatian saya daripada STMKG, STAN, IPDN, atau yang lainnya, maka saya pun mendaftar. Sebelumnya sempet pengen daftar STSN. Kan keren gitu kerjanya jadi asisten mata-mata. Ala-ala James Bond, hahaha(pikiran labil anak muda). Tapi karena jadwal persiapan pendaftarannya bentrok dengan pengumpulan portofolio jadinya saya skip deh.

Tes STIS ada tiga tahap. Tulis, psikotes, dan wawancara. Tes tulisnya meliputi pelajaran Matematika(gilak, ini soalnya kemarin hebring bangetz), Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Umum. Singkat cerita, dimulailah perjuangan saya.

Saya bukan seseorang jenius yang bisa dengan mudah menguasai sesuatu hal. I’m sorry sir, but I’m not the genius one but I’m the hard worker woman. Maka jadilah saya belajar buku USM. Nggak tahu udah berapa paket, pokoknya saya kerjain terus dengan bahagia, hahaha. Saya cobain gitu soal-soalnya tiap malam. Paginya langsung ke guru pembelajaran terkait buat minta ajar dan klarifikasi apa jawaban saya sudah benar. Alhamdulillahnya, guru-guru saya welcome banget untuk mau bantu. Sekalipun beliau harus rela pulang agak telat karena mengajari saya. Terharunya tuh di sini. Di bawa sampai kini…..

Hari-H pun tiba. Di UBHARA(Universitas Bhayangkara) yang tes menuhin satu kampus, euy. Setelah saya dengar pengumuman, ternyata itu baru sepersekian persennya saja karena peminat STIS tahun ini saja ada 32.000+. Kaget? Pasti. Nge-down? Jangan ditanya. Namun apalah arti perjuangan saya sebulan kemarin belajar kalau malah pada hari-H-nya jadi ciut?

So I gotta do what woman gotta do.

Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum Alhamdulillah gitu lancer jaya. Lha, kok, Matematika… Matematika, Nak, cuma bisa separuh. Separuh. Iya, se-pa-ruh.  Hati rasanya sakit banget cuman bisa menaklukkan segelintir soal. Tapi saya bersyukur, seenggaknya bisa memberikan usaha dan strategi terbaik. Untungnya soal Bahasa Inggris dan Pengetahuan Umum memper gitu sama USM. Jadi agak PD buat ngisi banyak(Maklumlah ya, ini kalau salah dapat minus kan ya sayang kalau ngisi ngawur).

Kemudian seleksi tahap kedua itu tes psikotes. Saya lupa beli buku karangan siapa pokoknya bukunya tebel sangad. Isinya lengkap mulai dari gambar sampai tes pertanyaan. Karena selang waktu antara pengumuman tahap 1 dan tes tahap 2 berdekatan, jadilah saya tiap malam nge-date sama buku tebal itu. Seringnya saya latihan nggambar orang, pohon, sama tes wartegg. Soal-soal psikotes lainnya juga saya kerjain dengan semangat karena seruu! Oh iya. Saya juga les psikotes di guru kimia saya, nih. Bu Farida namanya.

Hari-H-pun tiba dan saya senang sekali soalnya soal-soal nggak jauh beda dari apa yang saya pelajarin! Alhamdulillah. Beruntungnya nggak ada tes kreppelin. Tes warteggnya juga sama banget dengan latihan saya. Sepulang tes seneng banget, deh. Karena sudah mengusahakan yang paling baik sekalipun nggak peduli gimana hasilnya nanti.

I don’t know why, from the very first time I registered for this school, I’ve got good feeling already. Seolah-olah tes demi tes adalah hal paling membahagiakan untuk dilalui. Seakan-akan pengumuman seleksi itu, bener-bener ZMF(Zero Mind Focus).

“Apapun yang diberi Allah, itu pasti yang terbaik buat kita.”

Jadilah jantung saya berdebar sangad waktu pengumuman tahap 1 dan 2. Tahap 1 dipangkas cuma jadi 2500/3000 orang nggak salah. Lalu tahap 2 dipangkas jadi 700 orang. Karena masih persiapan buat SBMPTN, jadinya agak terpecah dua perhatian saya. Tapi ketika tahap 3 diumumkan, beruntung sekali waktu itu sudah pengumuman SBMPTN. Atau lagi nunggu pengumumannya, ya? Lupa. Intinya, bisa bener-bener fokus, deh!

Tahap 3 wawancara itu…. Persiapannya, saya ikut tes psikotes di kantor Angkatan Laut bareng saudara saya yang ayahnya kerja di situ. Sebenarnya yang maksa ikut adalah papski tersayang, sih(Karena papa ngebet). Di sana kami dikasih tahu bagaimana karakter kami sesungguhnya dan apa yang sebaiknya dilakukan supaya bisa jadi lebih baik lagi. Tapi dokter–Pak Candra namanya pas–itu bilang sama saya, begini: “Kamu ini bisa sukses, lho. Tapi pintunya kebanyakan, ya? Pokoknya dipilih yang paling baik, ya. Yang bisa membuat kamu enjoy sama pekerjaan itu dan bisa membuat kamu merasa berarti.”

Saya belum keterima resmi dari STIS saja sudah diomongi begitu. Masih terlalu jauh, Pak. Batin saya waktu itu. Tapi saya tetap angguk-angguk kepala. Sambil terus mendengarkan beliau.

Hari-H tes wawancara. Saya dapat meja N nggak salah. Lupa siapa pengujinya tapi yang jelas beliau S-2 dan asyik banget buat diajak ngobrol. Awalnya saya agak skeptis soalnya saya dapat jadwal pertama wawancara tapi berkas saya dari tes psikotes sama ijazah dan sebagainya…Nggak ada, brummies! Hilang entah kemana.

Mau panik juga nggak bakal bantu. Mau nyari juga bukan kewenangan saya. Jadilah saya waktu itu cuma diwawancara mengenai kuisioner yang harus diisi paginya bersama dengan sederet pertanyaan lain yang ada di map si bapak.

Saya nggak terlalu ingat persis bagaimana pertanyaan yang diajukan. Pokoknya berkisar antara diri kita sendiri, alasan pengen masuk STIS, kalau sudah masuk mau ngapain, cita-cita, kesiapan kita dilempar ke luar pulau, seberapa aktif kita, dan bagaimana tanggapan kita terhadap perbedaan. Ini yang paling banyak pertanyaannya. Beruntungnya kalian yang dulu waktu SMA mengikuti berbagai organisasi, hoho. Dari perbedaan gender, agama, suku, ras, umur, dan bagaimana cara kita menyikapinya. Kemudian pancasila, pengamalan, serta makna per-silanya. Tata urutan perundang-undangan. Apalagi, ya? Lupa. Pertanyaan yang paling teringat itu ini:

“Bagaimana tanggapan anda terhadap PNS yang menjadi anggota partai politik?”

Saya sempat berfikir agak lama. “Kalau partai politik kan mengabdi pada rakyat juga, Pak nantinya di parlemen. Kalau menurut saya, sih, bagus-bagus saja.”

Jawaban saya zonk banget nggak sih, hahaha. Malu.

Terus bapaknya langsung berkenyit sangat dalam. “Loh, kalau parpol kan memperjuangkan parpolnya. Bukan rakyat. Katanya tadi kamu maunya bermanfaat bagi sesama, mengabdi untuk masyarakat?”

Saya ditohok gitu. Langsung saja deh saya klarifikasi pendapat saya. Alhamdulillah bapaknya ngingetin 🙂

Kemudian pertanyaan terakhir, “Kalau anda diterima di STIS, akan memilih kemana?”

Saya nggak perlu mikir buat jawab ini: “Kalau saya sih terserah Allah, Pak. Menunggu pengumumannya saja.”

Terus bapaknya langsung berkenyit sangat dalam lagi. “Ya nggak bisa gitu. Di sini pilihannya ada tiga: a) memilih STIS b) ragu-ragu c) memilih PTN/PTS lain. Kalau anda keterima dan mundur, sudah berapa puluh ribu orang yang mengantri STIS bakal menangis, Ruri? Di sini, saya kan sudah ngobrol panjang lebar dengan anda. Saya nggak mau gagal mendeteksi hati peserta. Kan saya juga harus laporan nantinya. Ayo, harus tegas menjawabnya. Bagaimana?”

Saya sempat nggak bisa berkata apa-apa gitu waktu si Bapak memepet saya. Dalam hati waktu itu saya masih gamang luar biasa. Tapi prinsip saya waktu wawancara dan melakukan tes lain itu pokoknya, “Jadi apa yang institusi mau. Berikan jawaban yang mereka inginkan ada pada setiap calon mahasiswanya.”

Maka saya pun menjawab, “Bismillah, STIS, Pak.”

“Yakin? Nggak bakal mundur? Ingat banyak orang mengantri untuk ini, lho.”

“Bismillah, siap, Pak.”

Dalam hati saya berpikir, kan kalau diterima…Kalau. Diterima. Kalau nggak ya saya bakal tetap di Interior saja, kan?

Akhir wawancara ditutup dengan bapaknya yang menulis lembar terakhir di berkas saya dan satu ucapan ini, “Bagaimana, Ruri? Mungkin ada yang mau anda tanyakan tentang STIS?” Hahaha. Giliran saya yang dipersilahkan nanya. Saya lupa tanya apa waktu itu.

Pengumuman tiba, pagi-pagi habis subuhan saya mengecek di web STIS. Hati saya berdesir…tapi nggak sedebar-debar ketika pengumuman SBMPTN, sih. Saya download hasil pengumumannya lalu…

Nomor peserta saya tertera sebagai mahasiswa satu dari 500 mahasiswa yang lolos.

Saya nangis. Sujud syukur. Benar-benar merasa Allah dekat sekali dengan saya. Memilihkan yang terbaik dari doa-doa saya.

Mama mulai menjarkom siapa saja yang dekat dengan kami. Dan semua bilang selamat. Semua bilang selamat jalan.

Pada akhirnya di sinilah saya mendamparkan diri. Di kota terpadat Indonesia, dengan beragam mimpi dan cita-cita. Di sekolah kebanggaan, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik.

Karena janji Allah selalu benar.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

P.S. Ada beberapa pertimbangan mengapa akhirnya saya memilih STIS. Terlepas dari beasiswa dan TID-nya. Nggak perlu saya ceritakan, ya. Malu. Message saya di  facebook saja kalau penasaran 🙂 Hihihi.

[6] Sepenggal Kisah Menuju Kampus Perjuangan

logo-its-biru-transparan

“…Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadah:11)

Prophet Mohammad SAW. says, bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. That line always used almost by every single educated human on earth. When it comes in an job interview or seminar or ceramah or even private chat between two people. Faktanya, orang yang bermanfaat memang orang-orang terbaik yang selalu dikenang, punya andil besar mengubah bangsa, dan membawa revolusi baik untuk ke depannya.

Contohnya? A lot. I don’t need mention the big names one by one karena brummies pasti sudah punya pandangan sendiri:)

In my case, being something useful for everybody around me order me to fighting harder dan mendorong hati kecil untuk jadi pribadi berpendidikan  yang siap terjun di bidang spesifik yang tentunya bisa membawa perubahan di Indonesia. Singkatnya, kuliah dululah. Hahaha.

Yep, jadi sekarang saya bakal bahas tentang jatuh-bangun mencapai dream university versiku. Rasanya kayak baru kemarin aja berangkat ke sekolah diantar papa, berseragam putih abu-abu lengkap, bercanda tanpa henti sama teman, (yah…baper).  Sekarang? Alhamdulillah sudah menemukan jalan sendiri.

Dulu sekali, my passion sempat jatuh di bidang astronomi. Dipikir ulang, “Kok kayaknya cuma tertarik sama foto satelitnya aja, ya?” Karena notabene, ilmu astronomi kan butuh pondasi matematika dan fisika yang sangat kwad sekaleh. Saya matematika, inshaAllah diusahakan lah ya. Nah, fisika? FISIKA?! Tahun ini saja saya sudah les fisika, nilai UNAS fisika saya—alhamdulillah masih—dapat tujuh (rofl).

Terus move on ke bidang jurnalistik. I am a writer. Even the amateur one. Jadi, choosing language as my next prospect seems logic dan bakal bikin saya makin semangat karena living in a hobby. But you know, these days. Parents always direct as to something yang…lebih menjanjikan. I am not saying journalistic bukan prospek yang menjanjikan. Hanya saja, masih ada beberapa orang yang memandangnya sebelah mata. Berfikir kalau bidang jurnalistik hanya akan menjanjikan untuk segelintir orang beruntung.

The point is, paradigma yang berfikir demikian. Termasuk orangtua saya.

Tired in argumenting, saya akhirnya pindah haluan sepenuhnya ke bidang desain interior. Kenapa akhirnya milih itu? Karena papa saya menyarankan masuk ke sana. Tiap kali kami sekeluarga makan di restoran, satu yang nggak pernah terlewatkan adalah sesi mengomentari interior ruangan resto. “Da(Saya di rumah dipanggil Mada), bagus ya penataannya. Ini pesan kursinya saja sudah habis berapa puluh juta. Kayu jati begini.” Stuffs like that. Pelan-pelan saya juga mulai suka baca majalah interior, mengikuti perkembangan interior di luar negeri itu bagaimana, perlahan-lahan tahu siapa saja desainer interior tersohor Indonesia, dan banyak lagi, deh. (Nanti kalau diketik nggak nyampek-nyampek ke poin postingannya. Hahaha) Di lain sisi saya juga tertarik dengan STIS(Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) sebagai cadangan.

But even so, perjuangan selalu mengikuti. Karena saya butuh tiga kali nangis di mobil untuk meyakinkan orangtua saya bahwa saya memang benar-benar ingin menggeluti bidang interior. Sekalipun pada akhirnya papa berpikir desain interior nggak terlalu menjanjikan(juga).

Saya ingat sekali, dulu itu pernah sepulang les kimia saya diajak ke rumah teman papa yang merupakan seorang pengamat pendidikan. Sepanjang perjalanan diberondongi hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi jika akhirnya saya masuk interior. Papa bilang, jurusan yang temannya geluti itu lebih memiliki prospek gede dan saya dijamin nggak bakal nganggur.

Saya sebal. Asli. Saya sebal. Mata sudah panas karena tangisan mau tumpah, hati pun begitu. Fortunately, teman papa sedang nggak ada di rumahnya. Dan malam itu berakhir dengan saya yang nangis—bener-bener nangis—memperjuangkan apa yang sudah saya yakini benar.

Karena janji Allah memang benar, entah bagaimana mungkin papa terenyuh hatinya, ya. Karena malam itu juga saya diizinkan masuk interior. Tepatnya di ITS(kemudian sujud syukur. Shalat segala macam berterima kasih sangat sama Allah, mwahaha)!

Itu baru permulaan. Karena sesungguhnya battle just begin! Supaya bisa menembus impian, ada dua jalur yang bisa saya tempuh. Yaitu melalui SNMPTN(undangan) atau jalur tes. Saya yang aslinya cuman suka nggambar asal jadi ketar-ketir sendiri karena jalur undangan butuh portofolio gambar.

Dan. Portofolio. Itu. Nggak. Gampang.

Bener-bener nggak gampang.

Nothing is easy but nothing is impossible. Kita dituntut menyerahkan karya terbaik—yang benar-benar paling baik—sesuai syarat(tahun saya itu, gambar stilllife, suasana, dan perspektif). Minder dong saya. Secara gambar juga nggak jago-jago amat. Maka, before any negative toughts muncul lagi saya buru-buru ambil course gambar di guru kesenian saya tercinta. Bapak Putra—bapak paling muda SMANISDA yang sering digodain murid-muridnya dan yang namanya sering di salah artikan di depan plang kamar mandi: Toilet (Pak) Putra.

Singkat cerita, saya nggak puas(Haish, alay banget ya. Baru belajar bentar nggak puas). Saya pengen belajar dari yang bener-bener dasar untuk mempersiapkan portofolio tersayang. Maka saya pun berinisiatif les di luar. Di Studio Artmagic tepatnya. Lokasinya si Artmagic ini…45 s.d. 60 menit kalau ditempuh naik sepeda motor. Kalau sepeda motor lagi dipake dan saya terpaksa naik angkot, tiap Sabtu saya men-skip jadwal PIB(saya lupa kepanjangannya apa. Intinya itu jam-jam pelajaran tambahan menyongsong datangnya UNAS. Hahaha) dan langsung cus berangkat. Hmm, kira-kira dua jam baru nyampe tempat. Lama, ya?

Singkat cerita setengah tahunan les akhirnya menelurkan tiga gambar dan satu maket(yang ini bener-bener setengah mati ngerjainnya-_-). Singkat ceritanya lagi, saya nggak diterima di jalur undangan! Hahaha! Nggak kaget. Dibandingkan dengan yang lain, karya saya mungkin masih ecek-ecek. But still, I’m proud of it because that’s work of mine.

Saya memang nggak menargetkan untuk bisa lulus di jalur undangan karena—hey, who doesn’t know the transparency of this system? Cuma dinilai berdasarkan hasil rapot dan prestasi alumni. Memang sih, pihak BK memberikan bimbingan dan pengarahan, but still. Kebanyakan hasilnya tuh memang sama sekali nggak diduga. Kalau kata kakak kelas saya dulu:

“Undangan nggak lolos? Nggak apa-apa lah. Kan lotrean itu.”

Hahaha. #nooffense #justkidding

Saya nggak lolos undangan baik-baik saja. Sekalipun di antara lima orang yang mendaftar undangan ITS, dimana cuma saya saja yang mengikuti les gambar di Surabaya, cuma saya juga yang nggak lolos. Empat teman saya lainnya les di Pak Putra lolos(kenapa hubungan kita nggak berlanjut saja, bapak? Kenapa?). Baik-baik aja, saya. Sungguh. Lha kok, sorenya pengumuman itu mama saya nangis. Itu yang bikin hati teriris.

“Non-non(mama saya manggil saya Mbak Nonik). Kamu itu sudah dileskan jauh-jauh, kok ya nggak lolos. Di antara lima temen kamu yang mau masuk desain its, kok cuma kamu…”

DATFEELS, BROH. DATFEELS.

Sedih, ya? Sedih eneng di sini, Bang. Kecabik hati dinda, akanggg. Lara ne atiku ora setara karo perjuangankuuuuhhhh.

Iya, kecabik. Tapi itu yang buat niat saya untuk lolos SBMPTN juaaauuuhhh lebih besar. Lebih sarat makna. Lebih dalam dan…baper. Hahahaha.

Saya berjuang lagi. Tetap les di artmagic lagi. Berjuang sama temen-temen regular 3 yang bener-bener kayak keluarga. Sasha, Betty, Ifan, Pras, Vicky. Les isinya ketawa, nyemil, seru-seruan, nggak berasa kayak les. Bahkan beberapa dari guru kami bilang kalau kelas kami ini seperti pendobrak ‘budaya’ artmagic. “Biasanya anak reguler diem-diem. Tapi reguler tiga enggak.” 🙂

Tiap hari selama sebulan saya les. Bolak-balik Sidoarjo-Surabaya. Tiap malam saya ‘ganggu’ pengajar-pengajar saya(Mbak Beng, Mbak Fia, Mas Kumy, Mas Agung) buat minta soal dan minta langsung dievaluasiin setelahnya selesai. Untungnya, SMA Cuma tinggal nunggu ijazah jadi mau fully mengeluarkan tenaga bisa tercapai. Yang bikin menantang di saat-saat seperti ini adalah Hell Class dan Try Out-nya! Gelaaa, saya bener-bener kangen masa-masa itu :’)

Jangan pikir macam-macam tentang hell class, ya. Karena memang macem-macem terjadi di hell class! Hahaha. Di sini kita dikasih soal untuk dikerjakan selama sekian menit yang mana dari waktu tersebut dibagi jadi beberapa tahapan. Kalau sudah satu tahapan habis masa, waktunya menempelkan karya di depan kelas, macem-macem mulai ambil alih. Dari mencoret bidang gambar waktu rananya nggak pas, lalu proporsinya yang kurang enak dipandang, atau mungkin karena ekspresi dan sketsa masih belum jelas kemudian menggunting bidang gambar(bayangin, deh ya. Udah susah-susah nggambar, diguntiiiiing. Hiks) kalau rana dan proporsinya lebih tepat jika gambar diperbesar. Kalau sudah dapat coretan atau guntingan, wajib mengulang dari awal tanpa perpanjangan waktu. Menantang sekali, kan? :’)

Serunya tuh waktu saling menyalahkan sampai akhirnya satu kelas mengulang gambar semua. Serunya tuh waktu tahu ternyata sekalipun ngulang masih tetap bisa mengejar ketertinggalan dengan teman yang nggak ngulang. Serunya tuh waktu tahu bahwa ternyata proses menggambar adalah proses mengulang yang jika dilakukan secara kontinu dan bersungguh-sungguh, kita bisa memenuhi kategori benar dan tepat.

Ah, how time flies so fast, ya.

Untuk pelajarannya saya lebih memilih membeli buku soal dan les privat atau kelompokan di guru-guru yang menurut saya ngajarnya enak dan cesspleng! Selagi berjuang itu, selain saya shalat wajib saya juga shalat hajat. Sama apa, ya. Ohya, pas itu kan puasa ramadhan. Jadi bener-bener ujian ketika capek dan pengen tidur aja. Tapi alhamdulillahnya nggak pernah kayak gitu, sih. Hahaha.

Ketika hari-H tiba, saya mengeluarkan apa yang saya tahu apa yang saya mampu. Dengan satu keyakinan bahwa saya bisa menembus SBMPTN 2015. Bismillah.

Pengumuman tiba, waktu itu saya sekeluarga lagi otw pulang dari rekreasi. Data kan baru bisa diakses pukul 17.00 WIB. Jadi kami shalat Ashar dulu. Minta ketenangan dulu. Baru perjalanan berlanjut, saya pinjam ponsel mama untuk mengecek web its.

Sumpah, waktu itu jantung rasanya deg-deg an kayak genderang mau perang. Tangan bergetar hebat. Hati harap-harap cemas. Udah kayak mau kepergok ketemu mata-mata yang mengintai kita gitu. Saya ketikkan nomor pendaftaran saya perlahan, sembari tetap berusaha tenang. Kemudian saya mengklik tombol di sana(namanya saya lupa, pokoknya tombol) lalu…

JRENG. HIJAU!

Selamat! Anda diterima di ITS jurusan Desain Interior 2015.

“MAMAAA AKU DITERIMA, MAAA! AKU DITERIMAAAAAA!” Kemudian nggak bisa melanjutkan konversasi karena sudah nangis sesenggukan. Papa bahkan menghentikan mobil untuk membiarkan mama turun dan memeluk saya yang duduk di belakang.

Aseli. Terharu. Aseli. Benar-benar merasa kecil.

Karena janji Allah selalu benar.

Jadi apa aku tanpa-Mu, ya Tuhanku?

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

[5] Prime Time Pertama!

Have you ever felt underestimate? Terpinggirkan. Terkucilkan. Benar-benar dipandang sebelah mata.

Mungkin aku pernah. But, karena mengingat sesuatu buruk adalah hal yang sama sekali nggak berguna. Aku melupakannya. Menganggap semua itu cuma hiasan hari. Selayak hiasan dinding yang terbiasa dipandang setiap hari.

Tadi ceritanya habis funwalk(yang digelar untuk memeriahkan Dies Natalis STIS) ada gathering kelompok. Singkat cerita setelah sepakat kumpul jam 15.30 WIB, teman-teman kelompok MP2K kompakan kumpul di kos Rani.

Kalau kata kating(kakak tingkat), sih. Ini momen-momen yang harus diabadikan karena bakal jadi perpisahan kelompok. Tapi kami nggak mau menyebutnya seperti itu. Saya pribadi, nggak rela.

Kalau di STIS ada tiga macam kegiatan utama ospek. MP2K, Bela Negara, Inagurasi. Tiga hal tersebut, kami laluin sama-sama. Tiga hal tersebut merekatkan persahabatan. Saling mengingatkan. Saling bantu. Saling sadar bahwa bersama dengan delapan belas orang dalam kelompok, kami menjelma keluarga.

So, it doesn’t feel right to called gathering as farewell. Alih-alih sedih sedu, kami tadi malah cerita panjang lebar. Mengapa kok masuk STIS. Bagaimana track record dulu di SMA. Apa yang kamu harapkan ke depannya. Some deep matters. Kalau aku bilang the deepest one.

Terlalu deep sampai kami sama sekali nggak sempat foto bagus. Hahaha.

Karena kami dengan sadarnya saling berbagi cerita. Tanpa paksaan. Tanpa alibi karena bermain Truth Or Dare. Tanpa dorongan dari siapapun kecuali diri sendiri.

Yah, meskipun dengan segala banyolan yang bener-bener buat refreshing(karena ketawa kami keras banget. Saking kerasnya harus bener-bener diatur supaya nggak ngangguin temen-temen kos Rani) obrolan malam ini ‘berat’. Karena opening-up diri kamu di depan orang yang sebelumnya bukan apa-apa dari bagian hidupmu adalah hal yang nggak mudah. Bahkan susah, lho, menurut beberapa orang. Termasuk temanku sendiri…. Aku juga, sih. Yah, semuanya berarti lah.

Contoh banyolannya, nih:

Ketika lagi serius-serius ngobrol. Dapet satu titik cerita yang bisa dikembangkan ngalor-ngetan-ngidol-ngulon……

‘He foto sek. Foto sek’
CKRIEK
Seketika tertawa terpingkal-pingkal. Karena sumpah, ponsel Rani yang segenggam tangan aja lebih kecil daripada itu, punya kamera dengan suara jelek abis. Bahasa Jawanya, ngroak.

Terus waktu W nerima telepon dari pacarnya….

‘Halo?’
Lalu saya dengan gamblangnya nambahin, ‘W, rokok-e, Wik. Pateni disek!(W, rokoknya, W. Matikan dulu!)’
Yang mana disambut baik oleh teman-teman dengan ditambahi, ‘Celananya dipakai dulu, sayang….’
Terus ditambahin lagi… Lalu W-pun laporan, ‘Beneran dipateni, lho.(Beneran dimatikan(hape-nya), lho.’ Dan kami tertawa terpingkal-pingkal lagi. Dirty jokes kisaran ringan yang selalu berhasil buat korbannya kena akibatnya. Apakah dimarahin mama di rumah, atau sekedar dimatiin hape oleh penelepon yang mana ujungnya esok hari langsung putus. (Eits, tapi buat W nggak lah ya 🙂 )

Iya, dirty. Jokes jaman SMA malah. Tapi tetep aja, lucu. Karena bisa aja Terus gimana dong? :’)

Itu sela-sela kami bisa membebaskan tawa. Selebihnya kami bercerita. Satu yang paling nggak bisa aku lupa itu waktu Mas A cerita. Bagaimana dia dan sesuatu di dalam tubuhnya bertahan. Jadi seseorang berbeda sejak bangku Sekolah Dasar sampai sekarang.

‘Ketika orang berada di atas, rata-rata orang tersebut nggak mau melihat ke bawah.’

Mas A berasal dari SMA yang kata dia nggak terlalu dianggap jika dibandingkan dengan sekolah favorit di daerahnya. Mas A bilang, penyakit dan jadi seseorang berbeda membuat dia bisa mengerti bagaimana rasanya di ‘bawah’. Dan bagaimana rasanya menjadi orang tersisihkan. Bagaimana fight buat apa yang dia mau. Bagaimana usaha dia melawan sakitnya ketika hanya tinggal daftar ulang saja, Mas A harus menanggung kambuhnya penyakit dan dihadapkan pada dua pilihan: Melanjut di Universitas ia belajar sebelumnya atau melanjutkan STIS.

‘Kalau mau menyerah, rasanya berat ketika melihat sudah berapa banyak hal yang kita lalui. Kita korbankan. Tapi restu orangtua itu, paling perlu. Meyakinkan orangtua itu, sangat penting.’

Kemudian cerita-cerita lain. Dianggap sombong karena berhasil menjadi salah satu dari siswa sekolah yang nggak favorit untuk bisa tembus STIS, raungan mahasiswi yang nampak bebas di luar namun terkekang di dalam sampai yang terlalu dibebaskan hingga merasa nggak diperhatikan, homesick—bedanya ketika benar-benar berjuang hidup mandiri di tanah rantau, bagaimana culture antar teman di sini bikin betah lantaran korsa, aksi nekad meninggalkan seleksi universitas bergengsi lainnya demi STIS.

Demi STIS.

Dalam hati aku benar-benar bersyukur. Mendapat kesempatan untuk bisa lulus tiga tahap seleksi, mengenal medan pertempuran bersama teman-teman hebat yang punya kisah-kisah berbeda. Kisah hidup yang membuat kita bisa mengaca diri. Kisah hidup yang menyadarkan kita bahwa di dunia ini, Tuhan punya puluhan miliar skenario indah untuk diwujudkan pada tiap insan manusianya.

How far we have been going? How far we wanna reach our dreams? How big our passion?

How grateful am I for everything I’ve got…..

Kampus kebanggan. Teman seperjuangan. Baru saja sebulan lebih. Mengisahkan puluhan cerita sudah.

Bagaimana aku bisa nggak menyayangi kalian? 🙂

 

P.S. dan obrolan malam kali ini benar-benar serius, ya. Hahaha. Namanya aku samarin, ya. Biar penasaran 🙂 Sekian.

[4] New World!

cityscape-of-jakarta-indonesia-hd-wallpaper-617717

Sometimes, stepping on a new home is kind of a scary thing.

In people paradigm…. most of the time, sih.

Tapi nggak tahu mengapa. Bagiku mengenali sesuatu yang baru merupakan sesuatu yang mencandu. Asyik dan nggak ngebosenin. Seolah-olah Tuhan memberikan kita perspektif lain bahwa hidup itu luas. Hidup itu nggak sesempit dari pandangan mata kita saja.

Alhamdulillah sudah touchdown Jakarta Senin tanggal 30 Agustus 2015 kemarin. Senang bercampur sedih jelas kerasa. Tapi setelah sampai di tempatnya itu, lho…. Yang namanya teman senasib sepenanggungan, sedehananya hidup indekos, nggak enaknya soto bertomat dan nasi goreng pedes rasa kecap(yang besok paginya bikin maag dan menzret), obrolan ngalur-ngidulnya sama siapapun yang kuajak bicara, pengalaman sama sekali baru naik busway, dan lain-lain dan lain-lain…… Jadi pelipur lara sekalipun jauh dari orang tercinta.

Fiuh.

Akhirnya, merantau. Akhirnya, benar-benar hidup di tanah orang, seorang diri.

Technically, seorang diri. Walaupun punya saudara di sini :p

This is it! Dimulailah perjalanan baruku! New world. New friends. New adventures. 

Hope Allah guide me all the way long. And let me pray for every one of you got the same thing all the time. 

Terutama, kamu.

 

Jakarta, 3 September 2015

[3] Sebelum Merantau

Merantau.

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika memikirkannya?

Mungkin ada yang kepikiran film Indonesia yang dibintangin Iko Uwais atau teman senasib yang sekarang sudah pergi jauh menggapai mimpi atau pacar atau bahkan pengalaman sendiri. Hikz. Calon pengalaman sendiri.

Hmm. Berat nggak sih, living alone without every single precious one who always been there for you before?

Seems like it is. Tapi nggak ada yang nggak mungkin.

Mungkin omelan mama yang mengis hari-hari merupa panggilan dalam menit-menit panjang kala pagi juga sebelum tidur. Kemudian kecupan pagi papa hanya terbataskan ucapan sayang melalui telepon. Lalu iseng setengah mati-nya adik yang bakal berujung dengan prank voice note-nya.

The point is, pasti kangen. Ya, kan? Ngaku deh. Ngaku!

Homesick jelas melanda. Namun niat untuk menuntut ilmu jauh-jauh jelas mendominasi pikiran, bukan? Ketika jarak memang harus memisahkan kita dari yang paling tersayang demi masa depan, letting go is the best way. Letting go is the only answer. Yah, meskipun ada mewek-mewek sampai mata sembap dan bengkak…yah. Yaudahlah, ya. Badai pasti berlalu.

Hari ini nanti, jadi momen keberangkatanku menuju kampus perjuangan. Kampus yang–bismillah–jadi empat tahun peraduan ilmuku. Berdoa banget supaya meskipun nanti bakal galau kangen mama-papa-adik-besties, new adventures yang sudah disiapkan Allah jadi pelipur lara. Apalagi kalau akhirnya punya keluarga kedua di sana…

…orang yang siap sedia kapanpun dibutuhkan. Bantu cari kain baju. Ribet nyiapin acara wisudaan. Orang pertama yang shock setengah mati begitu tahu kita kepeleset. Pemberi petuah membosankan yang eventually kalau dimanutin bakal bikin life better. Teman tertawa sampai perut sakit. Penyedia fasilitas dan keinginan-keinginan kecil kita. Teman curhat. Sahabat terdekat, melebihi sahabat. Orang yang kamu cinta melebihi apapun.

Keluarga.

Semoga, yah.

P.S. Just remember, for whom we dedicate our dreams and hard efforts? Tell me if you had done it 🙂

Jakarta, 29 Agustus 2015

[2] Tentang yang Rela Kamu Ajak Bicara Tanpa Kenal Kala

5cf541b859c40d13d77c154032a50ae0

I am able speaking to everyone. No matter how old they are, how they dressed, how their traits. So far, I can tell you that I can speak to them. Definitely, to you too.

Nggak cuma aku saja. Kamu pun bisa bicara dengan siapapun, kan? Asal ada bibir yang nggak hanya mengatup dan dua telinga yang harus siap mendengar sahutan apapun. Juga pikiran yang kudu spontan berfikir sebelum membiarkan bibir mengatakan apapun.

Speaking is kind of media. Komunikasi. Jembatan supaya tiap insan bisa saling mengerti satu sama lain, ya kan?

The thing is. Siapa yang mau kamu ajak bicara? Siapa yang bersedia menghabiskan waktu dengan saling mengisi canda sampai perut sakit karena tawa?

Aku yakin, pasti cuma segelintir…

Sekalipun kamu famous, hitz, or every words that hyped now, you still need those men. Nama cheesy-nya, besties.

Kepanjangannya adalah seseorang yang udah kamu anggap.kayak saudara sendiri dan bisa kamu ajak bicara sampai waktu yang nggak terkira.

Mereka mungkin bukan orang yang pertama kali ngucapin selamat ulangtahun ke kamu. Tapi mereka langsung ke rumah begitu punya waktu luang untuk main. Mereka bukan orang yang suka ngomplain ini-itu. Tapi mereka sering ngomel panjang-lebar. Tanpa pernah malu ngasih tahu kesalahan kamu. Mungkin mereka nggak bisa basa-basi. Tapi begitu tahu batang hidung kamu, topik pembicaraan nggak akan ada habisnya. Mungkin mereka bukan seseorang yang sigap menghapus air mata kamu. Tapi mereka tahu gimana mengembalikan senyum di wajahmu, even only by their words! Mungkin mereka bukan seorang motivator atau pendongeng. Tapi tiap bertingkah, mereka selalu nggak sabar berbagi cerita ke kamu. Terlepas appropiate atau nggak konteks ceritanya.

Someone who always stand for you. No matter how rough the situation gotten.

Like one of my besties said, “Wajarlah nangis pas sobat merantau. Mereka kan belahan jiwa.”

Belahan jiwa yang memandang langit yang sama. Kakinya berpijak di bumi dengan koordinat berbeda dengan kita but still, the distance making us learning to be strong in surviving a precious relationship. Jarak bikin kita jadi kangen dan sadar betapa beruntungnya kita memiliki satu-sama-lain.

Karena yang seperti itu, jarang ada.

Yang jarang itu, hanya sahabat.

Teruntuk kamu semua sahabatku, nggak sabar dengar cerita kalian besok dan besoknya dan besoknya dan besoknya dan besoknya lagi!

P.S. Emm, yaaa. Salah satu bestiesku bakal merantau kembali dan aku mendapati diri nangis mingsek-mingsek sambil ngetik di layar ponsel seolah-olah lagi sms mama pas disuruh motivator ssc untuk menyatakan betapa besar cinta kita pada mereka. Huwik. Alay aku, ah.

P.S.S. LDR-an kita semua, yah. Penting line wajib aktif! :p

Jakarta, 28 Agustus 2015

[1] Habis Di-Stek

Oak-tree-in-field-007

For most people, it’s kind of weird to starting everything from the scratch again. Bahkan–the deepest one. Tapi aku sih, engga.

Delapan-belas tahun hidupku, aku sudah melampaui banyak hal. Tapi, tetap. Aku nggak puas dan selalu merasa ingin pindah ke sesuatu yang baru. It’s scary sometimes. Not knowing gimana medan yang bakal dituju. Namun, setelah berkali-kali ganti haluan arah hidup, jadi terbiasa. Karena sesungguhnya, perbedaan yang didapat itu jadi kecantikan tersendiri setiap kali mencoba hal baru 🙂

Anyway, senang sekali akhirnya bisa mantap menentukan pilihan. Sebelumnya niat banget mau pindah blog. Sudah tertuntaskan. Tapi akhirnya mikir ulang, minta pendapat dari kawan dekat, merenung lagi… Akhirnya tetap di sini. Words of Thousand Stories. Bersama kenangan semasa putih abu-abu. Blog yang sedikit-banyak membangun diri saya dan menemani saya sepanjang kelas 10 dan 11(karena kelas 12 sama sekali nggak kesentuh. Hahaha). Cuma, namanya saya ganti. Format bahasanya juga. The thing is, jadi benar-benar yang dimau hati #eea.

Jadi, brummies! Kupersembahkan blog baruku ini untuk siapapun yang mau membaca dan menilik pengalaman-pengalamanku selanjutnya(drum gedebuk konstan)…….

BRUMWORDS

Maaf, ya. Nggak ada acara syukuran gitu. Tapi, yep! Ini ranting baru, habis disetek! Lembaran baru! Woohoooo!

Can not hardly waiting what life will take me in time ahead!