[13] 31 Oktober 2015

tumblr_lulgxlFDbE1r5ssqlo1_500_large

Nggak kerasa banget sudah di penghujung bulan, ya. Nggak nyadar juga dua bulan lagi bakal berganti tahun(tapi tahun baru Islam sudah bergulir kok, haha). Uhuk. Gimana, nih progress di bulan kesepuluh? Apa target-target sudah terlaksana?

Here, I am the one who will answer: not yet. Mwahaha. Malu. Sungguh. Karena memang ada beberapa hal yang terus-menerus saya pending, skip, lupakan, abaikan, buang ke laut, umpetin di kolong tempat tidur—apapun—sampai tahu-tahu aja sudah numpuk. Tahu-tahu saja melihatnya bikin panas mata, bikin gemes hati, bikin sedih pikiran.

Kata Wahyu Aditya: Ilmu otak kadal banget, kamu! Thinking we have a lot of time and able to do everything on our own up to own mood?

Orang paling kaya di dunia adalah orang yang bisa membeli hal yang nggak bakal terbeli. Here, the context is time. Always. Makanya, cuma Allah semata yang paling kaya. Fortunately, time machine only exist on science-fiction movie, ya. Kalau ada beneran… Ya, bakal tetep saya pakai, sih. Mau mengenang betapa alaynya saya zaman dulu. Yang sekarang mungkin terbawa sedikit-sedikit. Atau banyak, ya? Ah, terserah. Nggak baik menilai diri sendiri #ngeles 😀

But, seriously.

Waktu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main.

Berulang kali saya mendengar nasehat itu. Gini, dulu zaman SMA pernah meremehkan ulangan biologi karena saya notabene sama sekali nggak suka biologi dan nggak(benar-benar optimal) memahami materinya. Tapi saya berpersepsi bahwa akan mengulang pelajaran di rumah. Seperti anak SMA pada umumnya, saya pending teruuuus sampai akhirnya haripun bergulir. Kemudian berhenti. Tepat di ulangannya itu.

Bisa ditebaklah, apa yang terjadi… Remidi! Hahaha(Menertawakan kegagalan sendiri adalah hal yang nggak baik. Jadi saya mohon. Ini hanya bacaan untuk 18 ke atas. Yang umurnya kurang, nggak papa sih lanjutin aja. Tanggung soalnya. Mwahaha).

Itu contoh sederhana aja sih. Dampak dari sama sekali nggak menghargai waktu. Just like bapak-bapak TNI pelatih Bela Negara kami kemarin bilang:

“Kalau mau orang lain menghargai kalian, hargailah orang lain terlebih dahulu. Enak sekali kalian minta respect tapi kalian sendiri nggak mau respect.”

That quotes have to implant towards managing time, too.

Aku, kamu, kita, semua adalah fighter yang berival kuat dengan waktu. Selalu. Setiap orang punya 24 jam yang sama tiap hari. Dimana bener-bener up-to-us mau menghabiskan seperti apa. Apa mau untuk memikirkan topik skripsi(kakak-kakak tingkat tahun terakhir di universitas atau sekolah tinggi manapun semangat, yoaaa), atau untuk belajar mati-matian atau malah hanya untuk menonton drama-drama (yang sebenernya sama sekali nggak ada efeknya buat kehidupan nyata kita kecuali daydreaming-_-) atau main uno atau chattingan sampai tiba-tiba nggak kerasa aja udah sampai malam berkutat di depan layar ponsel.

Apapun kegiatannya, nggak mau kan membuang satu hari berharga yang nggak akan terulang lagi?

Karena jalan menuju kemalasan selalu lebih menggoda. Hahaha. Yuk, kita perangi bersama! 😀

 

Jakarta, 31 Oktober 2015
P.S. Maaf gambarnya nggak ada korelasi sama sekali dengan tulisannya, ya. Hahaha.

[12] Cruel Like A Deadly Fuel

tumblr_ly4jocsFxY1qd4q01o1_500_large

Mengawal rindu bukan perkara gampang. Berharap Mama nan jauh dari mata untuk bisa mewujud nyata kadang hanya sebatas angan. Dan papa. Lalu sahabat karib yang kini tengah sama-sama berjuang menuntut ilmu. Hmm. Jarak itu sadis, ya.

Fact that we wanna their hugs or hearing their laughs or simply just seeing their smile itu yang bikin makin nyiksa. Iya nggak, sih?

Terlepas dari seberapa aktif kita, sejauh mana kita didamparkan, setekun apapun kita belajar, se-yolo apapun diri kita, dalam 24 jam sehari pasti ada waktu dimana kita hanya sendiri. Entah itu berdiam diri atau memang karena waktunya tidur dan mandi. Nggak mungkin kan dua hal itu dilakukan bersama? (Eh, tapi kalau buat tidur boleh-boleh aja asal sama sesama jenis, ya. Haha.)

Kadang waktu benar-benar nggak ada yang menemani, kita pasti akan selintas terpikirkan orang-orang masa lalu. Yang masih eksis, dan mendukung hingga sekarang. Berharap bisa menceritakan apapun keluh-kesan usai seharian beraktivitas—secara langsung, face to face.

Because nothing can replace real things. Real people. Real talk. Real sympathy. Real love. Real care. Real stuffs.

Sekalipun sajadah kamu basah oleh air mata. Nggak akan ada yang tiba-tiba bisa membawa orang-orang yang kita rindukan di hadapanmu. Kecuali Allah semata, sih. Haha.

Eventough distance is cruel like deadly fuel, I learn something from it. That we should be patient. Menyerahkan segala sesuatunya pada Yang Maha Tahu dan senantiasa berdoa supaya orang-orang paling kamu sayang bisa terjaga lantas bisa kembali kita tegur sapa cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon nggak peduli senja tiba-tiba menjingga nila esok paginya.

Berat, sih. Tapi bisa kok. Harus bisa, ya.

Selamat berindu-ria, Brummies! 🙂

 

Jakarta, 29 Oktober 2015

[11] Menyoal Beliau

[11] (2)

Berbahagialah kamu yang belum pernah membuat orangtuamu menitikkan air mata. Merapal berbagai doa dalam hati supaya anaknya berubah…baik.

Please, be happy for it. Truly.

Because when you do reverse, rasanya sakit. Ketusuk. Sel-sel dalam tubuh lemas seketika saking nggak percayanya kita telah melakukan kesalahan.

Membuat orang yang paling kita pedulikan menangis adalah hal super-mega-dobel-besar dosa. Allah jelas tahu.

Sekalipun cek-cok kecil, Allah Maha Tahu.

Mengecewakan merupakan kata-kata yang familiar buatku. Membangkang. Membentak. Apapun yang membuat beliau mengelus dada. Apapun yang membuatku sendiri merasa gagal menjadi anak kebanggaan.

It hurts even deeper when finally they always forgive you. Always accept you just like you are now. Just like you want to be considered. It hurts when they have nothing to revenge but just love us back. That’s the pain you’ve got to take. There is nothing you can do but regretting every mistake you have done.

But that is their best gift ever. Adanya mereka saja sudah jadi suatu hadiah terbesar untuk kita semua, kan, ya?

Karena orangtua sayang. Kita. Selalu. Seburuk apapun kelakuan. Sehina apapun kesalahan. Tetap saja.

Nggak ada orangtua sempurna di dunia ini. Adanya mereka yang selalu berusaha untuk memberikan kita yang terbaik, seburuk apapun keadaan. Segila apapun situasi. Mereka selalu ada. Mereka selalu mengingat kita. Mereka jelas-jelas mendoakan kita. Mengharapkan kita menjadi bintang-bintang gemerlap. Di sana. Langit tertinggi cita-cita. Dan nggak lupa, beserta hati mereka. 🙂

Brummies, sudah bilang sayang ke Mama Papa hari ini?

 

Jakarta, 26 Oktober 2015

[10] Kasih yang Baik

Falling in love is sucks.

Karena jatuh nggak akan pernah enak rasanya. Kata Sweta Kartika, “Jatuh paling enak adalah jatuh di antara bintang-bintang ketika gagal meraih mimpi tertinggi.” Familiar dengan quotes tersebut? Iyalah. Kan Kakak-nya ngutip Soekarno. Haha.

A lot of people saying falling in love is a really great feeling. The greatest, malah. Bagiku, sih… jatuh kayak gitu mah enaknya cuma di awal aja. Akhir-akhirnya bingung mau buang perasaan kemana. Ujung-ujungnya nulis galau(kalau saya, dulu. Dan kalian bisa cari buktinya di blog ini, hahaha). Ujung-ujungnya ngeforsir diri biar lupa. Bahkan di antara kita mungkin langsung down kali ya begitu sampai di garis finish dan bilang: “Alright, I am done falling in love with you, alien!

Because it is hurting. Just like falling from bicycle or falling from climbing tree. Bahkan saking alaynya, ada yang trauma buat jatuh cinta! Hahahaalay.

But it doesn’t happen, it wouldn’t happen kalau orang yang kamu beri kasih hanya Allah semata—juga dengan orangtua tercinta tentunya.

Kasih-Nya memang sudah jelas. Sangat terlampau jelas, malah. Aku bahkan nggak kwad menghitung seberapa besar hal yang Ia beri karena saking nggak terhitungnya. Like He gave us unlimited things we essentially needs without we have to say it first kan, ya?

Kata Maher Zein, “We just have to open our eyes and hearts and minds. If we just look bright we’ll see the sign. We can’t keep hiding from the truth. Let it take us by surprise.”

Mostly, kasih tanpa batas jarang banget di-notice. Diabakan, seringkali. Berfikir bahwa tanpa kita berterima kasih, tanpa loving back-pun, kasih tersebut akan terus bergulir, terjalin, mengalir. Seperti kasih Mama, Papa, dan Tuhan Semesta Alam.

Pernah nggak sih, sekali aja kefikiran bagaimana memberikan hadiah epic untuk Tuhan seperti halnya mikirin jungkir-balik bakal ngasih apa untuk ulangtahun crush? Atau..lebih sering mana, nih. Teriang senyum crush atau rindu senyum Mama menyambut di stasiun?

Nggak usah bohong kamu, Dek! Allah punya datanya!

Hahaha.

The point is, kasih-kasih unlimited itulah yang pantas kita selami. Kita tindak-balik. Kalau perlu, giving-back-nya wajib lebih besar, lebih dahsyat, lebih megah, dan lebih memorable. For showing that we are as a human being really appreciate and grateful for having unlimited good love. Apalagi ketika pada akhirnya terpacu karena kasih tersebut merubah kita menjadi pribadi lebih baik.

Nggak bakal ada ruginya, ya? Insya Allah 🙂

 

Jakarta, 25 November 2015

[9] Tuhan, (Maaf) Kami Berpura-pura

Aku bukan ahli biologi. I don’t even know how hormones really works. Apa dia hanya meloncat dari dendrit satu ke lainnya(Sebentar, ini syaraf bukan?) atau hanya menunggu pemicu. Aku sama sekali nggak paham jelasnya.

Yang pasti, ada radar tersendiri ketika seseorang yang menarik perhatian ada di sekitar. Apakah dia hanya terdiam, berjalan, mengobrol. Apapun. Secepat aku sadar, secepat itulah aku berbenah. Melembutkan perkataan, bertindak anggun, cepat-cepat shalat, membaca al-quran, being really a woman.

Tapi butuh beberapa waktu untuk menyadarkanku. That everything above, all the-shappy-things called…whatever you called, is unworthy. Sama sekali.

Aku memang bukan ahli biologi. Tapi fakta bahwa hormon bisa bekerja sedemikan rupa hanyalah karena kehendak Allah semata. Bagaimanapun caranya, Allah yang tahu jelas persisnya. Setiap detik. Bahkan saat kamu membaca ini-pun, saat aku mengetikkan inipun, Allah mengatur segala sesuatunya.

Suddenly I am confused.

Buat apa sebenarnya ibadahku? Karena ingin memberi impresi atau karena panggilan hati?

Seringkali aku melupakan kenyataan. Bahwa Allah memperhatikan. Allah melihat. Sekalipun hanya mengedipkan mata, Allah tahu persis.

Then shame got me.

Mengapa dengan zat yang paling peduli, sujudku hanya setengah hati? Menjunjung tinggi hedonisme, bersantai-santai ria, berpura-pura. Padahal impresi yang kutunjukkan belum pasti diperhatikan pun juga nggak akan terjadi tanpa kehendak-Nya.

…Pada akhirnya aku bersyukur. Atas kehendak-Nya pula aku mampu mengerti sedemikian ini. Walaupun (sangat) telat. Lebih baik begitu, daripada nggak sama sekali, kan ya? 🙂

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

 

Jakarta, 25 November 2015
P.S. Terinspirasi oleh “Mencintai-Mu” karya Kurniawan Gunadi di Buku Hujan Matahari

[8] Lapor, Ma(sya Allah).

 

She was such in hurry.

Perempuan itu berjalan. Kakinya melangkah satu-satu dalam gerakan cepat. Nggak sabar dia sampai di kosnya. Nggak tega membiarkan ponselnya menghitam sejak siang tadi.

Setibanya di kos, buru-buru Ia mencari charger. Menunggu dengan sabar hingga layar kembali normal. Sekalipun jelas-jelas ia tahu dirinya smelly, She didn’t care. Jari-jarinya mengetuk-etuk dengan cepat nomor kontak di ponselnya: Mama.

“Assalamualaikum, Mbak. Lagi dimana sekarang? Kemana saja seharian? Kok mama telepon berkali-kali nggak diangkat. Ada acara di kampus toh?” Secepat berondongan pertanyaan meluncur dari jauh di sana, secepat itulah hati si perempuan menghangat.

Ia tersenyum. “Waalaikum salam. Lagi di kos, Ma.” Nggak ada pelipur lara paling menenangkan selain mendengar suara mama setelah seharian berkutat pada dunia. Nothing except that.

Sekalipun mama lebih dominan mengomel. Bukan marah, ya. Mengomel. Memberitahu kita letak kesalahan lengkap dengan solusi-solusinya. Rasanya mendengar suara mama yang begitu saja seperti tersiram air dingin di tengah padang pasir terik.

“Ma, aku mau mandi. Udahan dulu, ya?” Kata si perempuan melalui loudspeaker.

Nan jauh di sana, mungkin perempuan itu sama sekali nggak tahu betapa masih merindunya sang Mama. Betapa Mama masih ingin mendengar suaranya, tawanya, ceritanya. Sekalipun Mama sudah bekerja seharian penuh, taking care everything from A to Z. Hingga penyakit encoknya nyaris kambuh atau batuknya atau pileknya atau maagnya.

But no mother showed it. Not even a single one.

“Iya. Jangan lupa laporan, ya.” Cuma itu yang Mama responkan.

Perempuan berkerudung putih panjang itu berkenyit dalam. “Kan sudah, Ma?”

Giliran mama tersenyum. “Laporan sama Allah. Jangan pernah melupakan itu.”

Perempuan itu menertawakan dirinya sendiri. Pikirannya sudah penuh kabut rindu insan ciptaan hingga lupa siapa penciptanya. “Ya, Ma. Pasti.”

[7] Sepenggal Kisah Menuju Kampus Kebanggaan

LOGO STIS

“Kesempatan nggak datang dua kali, lho.” Begitu orang banyak berkata.

Kalau saya pikir sih, iya emang nggak datang dua kali. But it will be there if we chase it. Bahkan tiga, empat, lima kali kalau perlu.

Selama berusaha meraih Interior ITS, di antara pengumuman SNMPTN dan prepare SBMPTN nggak salah(Nggak salah berarti benar, ya), saya tertarik sama satu sekolah kedinasan. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik namanya. STIS singkatannya.

Cara membacanya bukan se-tis, loh, ya. Namun dibaca perhuruf: es-te-i-es. Mengapa? Karena STAN sudah disebut se-tan! Ya, nggak lah ya. Entar saya tanyakan pada dosen dulu. Hahaha.

Awalnya tahu dari jarkoman temen. Sekolah yang menawarkan program pendidikan D-IV, nggak ada pembiayaan sama sekali alias gratis alias beasiswa, malah dapat uang saku setiap bulannya. Lihat ini saja mungkin pasti pada ngiler, ya. Nggak urung sayapun tergelitik untuk sekedar mencoba.

Dulu pokoknya cuma mau cari sekolah cadangan. Yang tesnya harus bisa saya lalui semua dan sekolahnya nggak menyengsarakan orangtua. Setara dengan pilihan saya pertama-lah. Karena STIS lebih menarik perhatian saya daripada STMKG, STAN, IPDN, atau yang lainnya, maka saya pun mendaftar. Sebelumnya sempet pengen daftar STSN. Kan keren gitu kerjanya jadi asisten mata-mata. Ala-ala James Bond, hahaha(pikiran labil anak muda). Tapi karena jadwal persiapan pendaftarannya bentrok dengan pengumpulan portofolio jadinya saya skip deh.

Tes STIS ada tiga tahap. Tulis, psikotes, dan wawancara. Tes tulisnya meliputi pelajaran Matematika(gilak, ini soalnya kemarin hebring bangetz), Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Umum. Singkat cerita, dimulailah perjuangan saya.

Saya bukan seseorang jenius yang bisa dengan mudah menguasai sesuatu hal. I’m sorry sir, but I’m not the genius one but I’m the hard worker woman. Maka jadilah saya belajar buku USM. Nggak tahu udah berapa paket, pokoknya saya kerjain terus dengan bahagia, hahaha. Saya cobain gitu soal-soalnya tiap malam. Paginya langsung ke guru pembelajaran terkait buat minta ajar dan klarifikasi apa jawaban saya sudah benar. Alhamdulillahnya, guru-guru saya welcome banget untuk mau bantu. Sekalipun beliau harus rela pulang agak telat karena mengajari saya. Terharunya tuh di sini. Di bawa sampai kini…..

Hari-H pun tiba. Di UBHARA(Universitas Bhayangkara) yang tes menuhin satu kampus, euy. Setelah saya dengar pengumuman, ternyata itu baru sepersekian persennya saja karena peminat STIS tahun ini saja ada 32.000+. Kaget? Pasti. Nge-down? Jangan ditanya. Namun apalah arti perjuangan saya sebulan kemarin belajar kalau malah pada hari-H-nya jadi ciut?

So I gotta do what woman gotta do.

Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum Alhamdulillah gitu lancer jaya. Lha, kok, Matematika… Matematika, Nak, cuma bisa separuh. Separuh. Iya, se-pa-ruh.  Hati rasanya sakit banget cuman bisa menaklukkan segelintir soal. Tapi saya bersyukur, seenggaknya bisa memberikan usaha dan strategi terbaik. Untungnya soal Bahasa Inggris dan Pengetahuan Umum memper gitu sama USM. Jadi agak PD buat ngisi banyak(Maklumlah ya, ini kalau salah dapat minus kan ya sayang kalau ngisi ngawur).

Kemudian seleksi tahap kedua itu tes psikotes. Saya lupa beli buku karangan siapa pokoknya bukunya tebel sangad. Isinya lengkap mulai dari gambar sampai tes pertanyaan. Karena selang waktu antara pengumuman tahap 1 dan tes tahap 2 berdekatan, jadilah saya tiap malam nge-date sama buku tebal itu. Seringnya saya latihan nggambar orang, pohon, sama tes wartegg. Soal-soal psikotes lainnya juga saya kerjain dengan semangat karena seruu! Oh iya. Saya juga les psikotes di guru kimia saya, nih. Bu Farida namanya.

Hari-H-pun tiba dan saya senang sekali soalnya soal-soal nggak jauh beda dari apa yang saya pelajarin! Alhamdulillah. Beruntungnya nggak ada tes kreppelin. Tes warteggnya juga sama banget dengan latihan saya. Sepulang tes seneng banget, deh. Karena sudah mengusahakan yang paling baik sekalipun nggak peduli gimana hasilnya nanti.

I don’t know why, from the very first time I registered for this school, I’ve got good feeling already. Seolah-olah tes demi tes adalah hal paling membahagiakan untuk dilalui. Seakan-akan pengumuman seleksi itu, bener-bener ZMF(Zero Mind Focus).

“Apapun yang diberi Allah, itu pasti yang terbaik buat kita.”

Jadilah jantung saya berdebar sangad waktu pengumuman tahap 1 dan 2. Tahap 1 dipangkas cuma jadi 2500/3000 orang nggak salah. Lalu tahap 2 dipangkas jadi 700 orang. Karena masih persiapan buat SBMPTN, jadinya agak terpecah dua perhatian saya. Tapi ketika tahap 3 diumumkan, beruntung sekali waktu itu sudah pengumuman SBMPTN. Atau lagi nunggu pengumumannya, ya? Lupa. Intinya, bisa bener-bener fokus, deh!

Tahap 3 wawancara itu…. Persiapannya, saya ikut tes psikotes di kantor Angkatan Laut bareng saudara saya yang ayahnya kerja di situ. Sebenarnya yang maksa ikut adalah papski tersayang, sih(Karena papa ngebet). Di sana kami dikasih tahu bagaimana karakter kami sesungguhnya dan apa yang sebaiknya dilakukan supaya bisa jadi lebih baik lagi. Tapi dokter–Pak Candra namanya pas–itu bilang sama saya, begini: “Kamu ini bisa sukses, lho. Tapi pintunya kebanyakan, ya? Pokoknya dipilih yang paling baik, ya. Yang bisa membuat kamu enjoy sama pekerjaan itu dan bisa membuat kamu merasa berarti.”

Saya belum keterima resmi dari STIS saja sudah diomongi begitu. Masih terlalu jauh, Pak. Batin saya waktu itu. Tapi saya tetap angguk-angguk kepala. Sambil terus mendengarkan beliau.

Hari-H tes wawancara. Saya dapat meja N nggak salah. Lupa siapa pengujinya tapi yang jelas beliau S-2 dan asyik banget buat diajak ngobrol. Awalnya saya agak skeptis soalnya saya dapat jadwal pertama wawancara tapi berkas saya dari tes psikotes sama ijazah dan sebagainya…Nggak ada, brummies! Hilang entah kemana.

Mau panik juga nggak bakal bantu. Mau nyari juga bukan kewenangan saya. Jadilah saya waktu itu cuma diwawancara mengenai kuisioner yang harus diisi paginya bersama dengan sederet pertanyaan lain yang ada di map si bapak.

Saya nggak terlalu ingat persis bagaimana pertanyaan yang diajukan. Pokoknya berkisar antara diri kita sendiri, alasan pengen masuk STIS, kalau sudah masuk mau ngapain, cita-cita, kesiapan kita dilempar ke luar pulau, seberapa aktif kita, dan bagaimana tanggapan kita terhadap perbedaan. Ini yang paling banyak pertanyaannya. Beruntungnya kalian yang dulu waktu SMA mengikuti berbagai organisasi, hoho. Dari perbedaan gender, agama, suku, ras, umur, dan bagaimana cara kita menyikapinya. Kemudian pancasila, pengamalan, serta makna per-silanya. Tata urutan perundang-undangan. Apalagi, ya? Lupa. Pertanyaan yang paling teringat itu ini:

“Bagaimana tanggapan anda terhadap PNS yang menjadi anggota partai politik?”

Saya sempat berfikir agak lama. “Kalau partai politik kan mengabdi pada rakyat juga, Pak nantinya di parlemen. Kalau menurut saya, sih, bagus-bagus saja.”

Jawaban saya zonk banget nggak sih, hahaha. Malu.

Terus bapaknya langsung berkenyit sangat dalam. “Loh, kalau parpol kan memperjuangkan parpolnya. Bukan rakyat. Katanya tadi kamu maunya bermanfaat bagi sesama, mengabdi untuk masyarakat?”

Saya ditohok gitu. Langsung saja deh saya klarifikasi pendapat saya. Alhamdulillah bapaknya ngingetin 🙂

Kemudian pertanyaan terakhir, “Kalau anda diterima di STIS, akan memilih kemana?”

Saya nggak perlu mikir buat jawab ini: “Kalau saya sih terserah Allah, Pak. Menunggu pengumumannya saja.”

Terus bapaknya langsung berkenyit sangat dalam lagi. “Ya nggak bisa gitu. Di sini pilihannya ada tiga: a) memilih STIS b) ragu-ragu c) memilih PTN/PTS lain. Kalau anda keterima dan mundur, sudah berapa puluh ribu orang yang mengantri STIS bakal menangis, Ruri? Di sini, saya kan sudah ngobrol panjang lebar dengan anda. Saya nggak mau gagal mendeteksi hati peserta. Kan saya juga harus laporan nantinya. Ayo, harus tegas menjawabnya. Bagaimana?”

Saya sempat nggak bisa berkata apa-apa gitu waktu si Bapak memepet saya. Dalam hati waktu itu saya masih gamang luar biasa. Tapi prinsip saya waktu wawancara dan melakukan tes lain itu pokoknya, “Jadi apa yang institusi mau. Berikan jawaban yang mereka inginkan ada pada setiap calon mahasiswanya.”

Maka saya pun menjawab, “Bismillah, STIS, Pak.”

“Yakin? Nggak bakal mundur? Ingat banyak orang mengantri untuk ini, lho.”

“Bismillah, siap, Pak.”

Dalam hati saya berpikir, kan kalau diterima…Kalau. Diterima. Kalau nggak ya saya bakal tetap di Interior saja, kan?

Akhir wawancara ditutup dengan bapaknya yang menulis lembar terakhir di berkas saya dan satu ucapan ini, “Bagaimana, Ruri? Mungkin ada yang mau anda tanyakan tentang STIS?” Hahaha. Giliran saya yang dipersilahkan nanya. Saya lupa tanya apa waktu itu.

Pengumuman tiba, pagi-pagi habis subuhan saya mengecek di web STIS. Hati saya berdesir…tapi nggak sedebar-debar ketika pengumuman SBMPTN, sih. Saya download hasil pengumumannya lalu…

Nomor peserta saya tertera sebagai mahasiswa satu dari 500 mahasiswa yang lolos.

Saya nangis. Sujud syukur. Benar-benar merasa Allah dekat sekali dengan saya. Memilihkan yang terbaik dari doa-doa saya.

Mama mulai menjarkom siapa saja yang dekat dengan kami. Dan semua bilang selamat. Semua bilang selamat jalan.

Pada akhirnya di sinilah saya mendamparkan diri. Di kota terpadat Indonesia, dengan beragam mimpi dan cita-cita. Di sekolah kebanggaan, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik.

Karena janji Allah selalu benar.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

P.S. Ada beberapa pertimbangan mengapa akhirnya saya memilih STIS. Terlepas dari beasiswa dan TID-nya. Nggak perlu saya ceritakan, ya. Malu. Message saya di  facebook saja kalau penasaran 🙂 Hihihi.