Heart Attack (Prolog)

DEG.

Tidak salah lagi. Aku harus secepatnya pergi dari sini.

Kukerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menyeret diri menjauh dari pemuda di hadapanku. Tak peduli dengan lembar demi lembar kertas yang berhamburan, kupaksakan diri untuk berlari, meski terseok. Dalam hati, kuenyahkan jauh-jauh rasa yang nggak harusnya ada. Tekadku sudah bulat: aku benar-benar harus menghilang sekarang.

“Sebentar!”

DEG. Mengapa suaranya masih sama seperti dulu?

Bisa kurasakan langkahku nyaris terhenti lantaran suara khas pemuda itu. Hell yeah, mau nggak mau benakku langsung terisi penuh tentangnya tanpa menyisakan ruang sedikitpun untukku berfikir. Bagaimana pertemuan pertama kami, pelukan hangatnya, aroma tubuhnya, ciuman—Crap! Berhenti berimaji, Demi! Jangan mengulang masa-masa itu kembali!

Aku melesat lari terpincang saat derapan langkah cepatnya terdengar menghentak di belakangku. Mengapa dia nggak berhenti aja, sih? Mana nggak bisa jalan cepet. Sial. Tanpa berani menoleh ke belakang untuk tahu berapa jarak yang tercipta anatar kami, aku berusaha mengerahkan seluruh tenaga yang ada. Lari, lari dan terus berlari tanpa tahu kemana aku pergi.

Anehnya, aku nggak merasa perih di lututku lantaran jatuh beberapa detik lalu. Yang ada malah luka hati menganga seiring dengan degupan jantung yang berpacu melawan waktu.

Tapi aku terlambat.

“Akh,” erangku lirih mendapati pergelangan tanganku yang tercengkram erat. Kontan kuhentikan langkah tanpa berani mendongak pada pemuda itu. Kini ia malah berada tepat di depanku dengan nafasnya yang terdengar agak memburu. My God, bisa kau bebaskan aku dari sini?

DEG. DEG. DEG.

Dengan satu gerakan cepat, ia sentuh daguku lantas mengangkatnya hingga–hingga yang terlampir dalam korneaku hanya dia seorang. “Demi?”

Detik itu juga, tenggorokanku tercekat.

Gelenyar aneh itu datang lagi. Detakan jantungku meliar kembali. Hangat kasih itu menyelimuti hati. Mengapa ia nggak berubah sama sekali? Dan mengapa aku masih sanggup bergeming menatapnya bersama perih yang semakin menggerogoti batin?

“Maaf, tapi kamu sepertinya salah orang.”

Aku memang nggak akan pernah salah mengenali seseorang di hadapanku ini sekalipun hanya siluet samar dan suaranya. Meskipun begitu, aku lebih mahir mendeteksi dentuman tubuhku yang kini kian nggak terkendali dan aku nggak mau masa dulu terulang kembali.

Nggak. Ini nggak mungkin terjadi lagi. I am not falling in love–again–with him. This is just… Just a heart attack. Heart attack.

***

READ THE WHOLE PARTS HERE

(A/N) Setelah vakum nulis fanfiction selama setahun lebih, akhirnya saya kembali! Kangen berimajinasi ringan semacam itu, sih. Hihiya! Semoga cerita ini bisa ter-update setiap minggu dan tentunya, bisa mengobati rindu bagi kalian-kalian yang menunggu ceritaku (Yah, anggap saja ada. 😆 )

Untuk part selanjutnya akan aku post di wattpad karena aku bener-bener kapok menangkap basah beberapa oknum yang dengan sengaja meng-copy-paste karyaku tanpa izin. Singkatnya, aku nggak mau sama yang namanya plagiarisme lagi. Dulu sih, pernah nyoba bikin lapak ini jadi anti-copas tapi nggak bisa. Sedih banget, kan? Berhubung wattpad menyediakan sarana yang anti-copas seperti itu, ya, akhirnya pindah ke sana. Jadi jangan heran kalau kalian nggak lagi menemukan fanfiction yang dulu selalu jadi Top Post di sini.

Anyway, silahkan mengritik dan memberi saran, ya!  Dari trailer, cerita, cover, apapun aku terima, deh. Aku juga mau minta tolong… Menurut kalian, lebih cocok cover 1 atau cover 2? 🙂

Advertisements

10 thoughts on “Heart Attack (Prolog)

  1. Halllo assalamualaikum…salam kenal mbak.
    saya suka tulisannya, pemilihan katanya tepat, awalnya kupikir HEART ATTACK dalam arti serangan jantung. ternyata bukan.
    keep posting mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s