#MMF: Uti Si Cilik, Cilik Si Uti

Photo-0327

Umurnya lima tahun, badannya gempal, pengrupa dora masa kini dan foto seseorang yang baru saja kau tatap adalah adikku. Nama lengkapnya Nadira Dwi Putri Anggraeni dan tanpa peduli aku menyingkat panggilannya serupa sebutan Nenek di keluarga Jawa. Sadis? Tidak. Menurutku ini ungkapan sayang malah.

Karena sebenarnya ada maksud di balik nama itu. Agak konyol, sih. Jadi ceritanya begini…

Semasa masih duduk di sekolah dasar(SD) aku memiliki satu kawan pintar yang sangat berprestasi di bidang matematika. Dia seorang perempuan jawa yang tinggal di utara Sumatra dengan ayah, ibu dan saudaranya. Perempuan ini berpostur tubuh ideal di balik hijab yang dikenakannya. Dan kau pasti akan sangat-sangat tidak tega menyakitinya ketika kau mulai mengenalnya. Karena sejauh ini ia adalah wanita berperangai paling halus dengan suara selirih angin yang pernah kukenal. Bahkan aku tidak pernah melihatnya marah.

Kami berteman sangat baik. Aku selalu terinspirasi olehnya yang sangat jago di hampir seluruh pelajaran waktu itu. Dia sangat memotivasiku untuk bisa mengerjakan tugasku sebaik ia, memperbaiki perangaiku seanggun ia, dan melatih diriku serajin ia.

Sampai kini aku harus mengakui bahwa dia sangat berhasil.

Ya, aku akhirnya lulus SD dengan nilai melampauinya dan menjadi terbaik satu sekolah. Sebuah pencapaian luar biasa bagiku karena sedari dulu aku sangat mendamba posisi membanggakan itu–yang mungkin tanpa kehadirannya akan menguap merupa debu cita. Aku sangat berterima-kasih padanya dan aku merasa punya utang budi. Lantaran ia, perubahan yang mengarah pada kebaikan itu terus berlanjut hingga sekarang.

Pandanganku mendadak buyar.

“Kak, mainan masak-masak, Kak… Cekali aja. Kakak, kan, cantik. Tapi jangan yang besa-besa gambarnya. Yang kecik aja. Yang inii! Iya yang inih ajah!” Sergah adikku menangkap basah layar laptop yang berubah merah muda. Menyaksikan loadingnya seraya terus merayuku untuk mengizinkannya bermain ‘masak-masak.’

“Iya-iya. Tapi harus janji, lho. Habis main langsung tidur. Oke?” Lantas ia mengangguk mantap dan kian memberingsutkan diri mendekat. Yes, modus berhasil. Kemudian kami memilih dan mulai bermain. Meski cuma satu periode games, adikku benar-benar menepati janjinya.

Ia menguap. “Good night, Kak,” ucapnya sembari mengecup pipiku. Kontan kuacak rambut pendeknya. Kuperhatikan ia berjalan melintasi ruang menuju kasur teritorinya. Ia rebahkan tubuh di kasur sembari menguap lagi, menyambar botol susu di sisi bantalnya, menyesap cairan putih di sana dengan kelopak mata yang mengerjap lelah.

Good night, Kak Uti.”


Sidoarjo, 03 Agustus 2013
Untuk kawan di Medan 🙂

Advertisements

5 thoughts on “#MMF: Uti Si Cilik, Cilik Si Uti

  1. jadi inget dlu pas sy SD juga punya temen pinter banget, tapi kok pas udah smp, sma sy perhatiin gak ada yg luar biasa dari hasil belajarnya, makin menurun. eh si uti lucu banget, kayak anak pertama sy yg tembem dan gempal itu. sekarang sedang terlelap dia di kamar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s