Yakin ‘Beban’?

yakin beban

Kalau kamu punya beban, apa yang bakal kamu lakukan?

Sebenarnya, beban itu kalimat klise. Menurut saya nggak ada sesuatu di dunia ini yang punya sifat memberatkan kita. Nggak ada sesuatu di dunia ini yang penuh kerumitan sampai menekan kita. Nggak ada sesuatu di dunia ini yang bisa membunuh kita.

Sebuah pekerjaan selalu diberikan sesuai porsi, kok. Kalau memang porsinya 1.000 kita bakal dikasih kurang lebih segitu. Mungkin nampaknya aja ribet. Tapi ternyata kalau dirunut dari awal kesulitan setiap pekerjaan selalu naik secara bertahap, lho. Menyesuaikan kemampuan kita yang juga selalu meningkat. Saya kasih contoh, ya.

Adik saya namanya putri. Umurnya baru 5 tahun. Pertama kali masuk PAUD dia dikenalkan pada angka juga huruf dan dituntut untuk bisa menghapalkannya luar kepala—itu tahun pertama. Setelah naik ke tingkat kedua, guru-guru mulai mengajarkannya pengoperasian bilangan kecil dan membaca sebuah kata atau bahkan kalimat. Setelah berhasil menguasai benar-benar barulah lulus jenjang PAUD lalu beralih ke SD. Di SD ya sudah tidak ada lagi pembelajaran dasar dari operasi hitung atau membaca. Semua murid harus dikondisikan mengerti dan tahu dasarnya. Sehingga ketika bertemu dengan buku pelajaran mereka tinggal mengaplikasikan kemampuan membacanya juga menghitungnya. Setidaknya adik saya yang masih kecil itu selalu melampaui standar kemampuan meski belajar dengan keluhan(Yah, maklum-lah anak kecil).

Hal itu berlaku pada jenjang-jenjang berikutnya.

Mungkin di tingkat universitas perbedaannya terlihat signifikan, ya. Kita dituntut untuk menguasai suatu ilmu tanpa dasar dari dosen lantas di kampus beliau tinggal langsung membawa mahasiswa ke persoalan rumit. Kemudian beliau memberi kita tugas dengan kurun waktu tertentu yang—memang—jika kita ingin mendapatkan hasil terbaik harus dikerjakan sebaik mungkin. Kurun waktu singkat tapi kemampuan mengerjakan harus maksimal.

Biasanya seorang pelajar atau mahasiswa punya sederet sebutan untuk mengatakan suatu beban. Dari PR menumpuk hingga pengerjaannya tidak baik, lalu terlalu banyak tugas yang tersepelekan begitu saja, padatnya kegiatan sampai memakan waktu berharga… Sebenarnya kita-lah yang harus introspeksi. Kita-lah yang harus membenahi diri. Kita-lah yang harus mengerti.

Orang menganggap sesuatu beban karena kelihatannya saja sesuatu itu memberatkan. Rasanya saja sesuatu itu akan menekan kita. Ketakutan kita saja yang akan membunuh kita.

Bisa diamati kekurangan kita adalah management. Mengatur skala prioritas. Hal ini tidak boleh diremeh-temeh-kan begitu saja, lho. Bahkan menurut saya yang paling penting. Karena dengan adanya skala tersebut kan pekerjaan kita akan lebih terarah dan menjelma suatu kebiasaan yang merupakan kewajiban. Sehingga ketika suatu pekerjaan tengah kita lakukan, tidak ada lagi yang namanya beban melainkan senyum kebanggan lantaran telah memberikan yang paling baik.

Jadi bagian mana lagi yang bisa disebut beban? Toh semua menyesuaikan, bukan?

 

 

Sidoarjo, 14 Juli 2013

Advertisements

3 thoughts on “Yakin ‘Beban’?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s