Ridhoi Saya, Bu…

ff2in1

Dalam kamar seluas dua kali satu meter persegi itu, sekilas tak ada yang spesial. Ruangan sempit, kapuk kasurnya yang tipis, sprei kusam, dan satu kursi kecil di sudut ruangan. Semua nampak nyaris terlalu sederhana bahkan menduduki peringkat serba-kekurangan.

Kecuali ketika mata kita terpusat pada dinding sebelah pintu. Tempat beragam sertifikat terpampang jelas. Bunyinya semua sama, “Sertifikat ditujukan kepada saudara ‘Oni Hamzah Rituanga’ sebagai pemenang dalam lomba sastra…” 

Oni, satu-satunya sosok dalam kamar itu terpekur. Mencerna dalam-dalam apa yang ada di hadapannya. Setiap kali semangatnya tumbuh untuk melanjutkan mimpi dari kertas-kertas tersebut, ucapan Ibu selalu teriang bak gema tak berkesudahan, “Kamu mau belajar sastra jadi apa? Teknik. Sarjana teknik lebih dibutuhkan.”

Pemuda kecil tersebut masih menyelami kata-kata pada kertas seraya menerawang jauh. “Apa salah? Apa salah menentukan pilihanku sendiri terhadap apa yang aku suka? Apa hina?” Batinnya berulang-ulang.

Tiba-tiba perempuan setengah baya berjalan dari arah luar lantas terhenti tepat di ambang pintu. Tangannya menggenggam erat tas kresek hitam besar. “Oni, kamu ngapain, nak?” Tanya perempuan itu lalu menghambur masuk kamar dan duduk bersisian dengan anaknya. Oni terdiam. Matanya tertumbuk pada plastik hitam yang ditenteng ibu.

“Itu apa, bu?”

“Ini…” jawab ibunya seraya mengeluarkan isi kresek, “buku teknik pinjeman tetangga sebelah. Kamu bisa belajar dari sini. Terus–”

Tapi mendadak, ucapan ibu terhenti pada detik dimana Oni tertunduk berlutut di hadapan ibu. “Oni? Ada apa?”

Perlahan, dengan tangan bergetar Oni sentuh tangan ibunya lantas menggenggam erat kalakian berkata, “Bu, saya tidak mau masuk jurusan teknik. Saya bukan tidak mampu. Tapi, teknik bukan panggilan hati saya, bu.”

Sekarang gantian ibu terdiam. Meyakinkan diri sendiri apa tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Saat beliau mencoba menyahut, Oni telah mengangkat kepalanya, menatap tegas ibunya lalu melanjutkan, “Mungkin gajinya nanti tidak seberapa. Tapi saya yakin, meski kecil, mimpi-mimpi di dinding kamar ini bisa menjadi besar, bu. Pasti ada jalan.”

Dan detikpun berlalu bagai slow-motion. Keheningan mengerayapi penuh seisi ruangan.

“Tolong, ridhoi saya, bu. Ridhoi mimpi-mimpi saya.”

Tak disangka, ibu kemudian berlutut dan memeluk Oni erat. Mengangguk sembari terisak. “Iya, nak. Jika itu benar mimpi kamu ibu ikhlas. Ibu ridho. Kejarlah, nak. Wujudkan mimpi kamu sampai jadi kenyataan!”

————————————————————–

Sidoarjo, 22-05-2013
Untuk Nulisbuku #FF2in1
nulis ini nggak ada riset, cuma setengah jam dan
sangat butuh kritik dari kawan-kawan sekalian :mrgreen:

Advertisements

8 thoughts on “Ridhoi Saya, Bu…

      1. iya ada, scene mellow pas si raju apa siapa gitu dikasih Kamera SLR sama ortu doi… hehe

  1. Halo kakak untuk kapasitas FF ini nggak masuk kesitu karena FF (harus) ada ledakan twist -ending yang tak terduga-.Klo mau kita bisa belajar bareng di BERANICERITA.COM dan Mondayflashfiction.blogspot.com Loh! 😉

    1. oh gitu ya. hihik, sudah lama nggak nulis ff sih. makanya jadi gini. anw, saya sudah ganung sama mondayflashfiction. cumaaa, lagi males aja :mrgreen:
      salam kenal. terima kasih kunjungan baliknya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s