Antara Jujur dan Gugur

antara jujur dan gugur

Gugur atau gagal. Pernah kamu merasakan hal itu? Pernah mengalaminya? Sepertinya, pasti setiap dari kita pernah ngerasain hal tersbut, ya. Mulai dari gagal mencapai target, gagal deket sama doi, gagal dapet nilai bagus di mapel kesenangan, gagal berkreasi atau yang lebih parahnya.. Gagal bangkit dari kegagalan itu sendiri. Naudzubillah.

Oke. Let’s said I’ve been in a competition and already had feeling that I wouldn’t even be able to win. Iya, jadi kompetisi yang baru saya ikuti tahap keduanya ini nggak berjalan mulus bahkan langsung mandeg di awal. Di awal, rasanya nggak enak banget. Merasa sedikit tidak rela lantaran harus terhenti dan nggak bisa berkutik cuma gara-gara Β masalah teknis. Moreover, para penanya yang sukses bikin ciut, kancut, makin keriput. Astaga, kemampuan menjawab–atau sebut aja ngeles-saya sungguh diuji di sini.

Balik ke topik. Sekarang kita sudah tahu dimana letak kesalahan kita, juga bersiap menghadapi kegegalan di depan mata, atau mungkin sedang dalam krisis kepercayaan diri meratapi realitas yang ada lantas apa yang akan kita lakukan? Bagaimana kita menyikapi kegagaln itu? Bagaimana harusnya diri membuat kegagalan menjadi efektif?

Pastinya, kita akan down. Tahap dimana sesal, kecewa, marah teraduk menyatu dalam benak. Yang kalau-kalau meledak bisa jadi efek buruk seukuran omega. Atau lebih ekstremnya lagi nih, menyalahkan orang lain–apalagi Tuhan–karena apa yang kita alami. Kemudian lanjut pada fase penerimaan. Langkah kedua saat rasa ababil yang meradang mulai beransur hilang. I said, bagian ini proses tergampang. Karena yang namanya perasaan manusia itu kan labil… So it always will change. Let time will tell. Iya, kecewa, sesal, marah hanya partikel emosi yang mengikuti waktu. Tak tentu. Baru deh tahap yang terakhir. Finalisasi pilihan. Apakah kita akan maju menerjang kembali menghadapi rintangan atau malah berjalan mundur mengaisi sesuatu yang telah terlewatkan?

That’s all about choice.

Well, semua tahap di atas tergantung kita sendiri. Bagaimana awal perjuangan, proses dan cara kita menyikapi. Karena nggak jarang orang-orang di dunia ini langsung berfikir bahwa kegagalan memorak-porandakan hidup mereka seutuhnya. Padahal juga nggak. Mau berefek negatif atau positif toh ya semua dikembalikan pada kitanya, bukan?

Itu semua bukan masalah jika kita emang bener-bener sedih dan bangkit menghadapi lagi. Bagi saya gagal akan menjadi masalah jika saya sendiri tidak merasa gagal, malah datar, biasa aja. Yah, meskipun pengumuman belum ditampilkan, realistis dengan berfirasat akan gagal teriring rasa sedih yang nihil… Itu aneh. Sungguh. Ibarat Tuhan gagal menjerakan saya dengan ujian kegagalan-Nya.

Tapi kemudian saya berfikir sejenak…Β Bagaimana bisa?

Apa mungkin karena saya merasa memang semua sudah baik-baik saja?
Apa mungkin karena saya sudah memersiapkan diri untuk kalah?
Apa mungkin karena saya tidak benar-benar ingin keluar sebagai pemenang di kompetisi ini?
Apa mungkin… saya merasa sudah berusaha semampunya, sejujurnya, sekuatnya hingga menganggap hasil adalah suatu bonus semata dari Tuhan?

Well, sepertinya poin terakhir paling ngena. Let’s said that I’ve been honestly-strongly did it. Tidak ada yang saya sembunyikan dan saya pure jadi diri sendiri. Masuk ruangan, bicara seperti biasa… Semua terasa benar. Yah tapi memang saya bukan pendebat yang baik sih ya, makanya jadi gelagapan buat merespon hal yang nggak saya fikirkan. Bottom side, man! Yang bikin gagal itu bagian teknisnya! Rawr!

Entahlah. Saya berfikir patut mensyukuri kegagalan ini. Setidaknya saya telah mencoba dan gagal. Bukan malah gagal mencoba. At least, there is no tear running down my face when pessimist mind came. Jadi lebih mengetahui apa yang harus dibenahi dan membuat saya dapat memersiapkan hal-hal yang kurang dalam diri. Benar-benar kegagalan yang amat berharga.

…Yah, sebuah keguguran terindah yang pernah saya alami.

———————————————————————-
Sidoarjo, 19-05-2013
Karena setiap rezeki sudah ada yang mengatur πŸ™‚
Anyway… Perasaan, gaya tulisan saya kok jadi beda, yak? :mrgreen:

Advertisements

12 thoughts on “Antara Jujur dan Gugur

  1. betul2, kalau nggak mau bangkit dari kegagalan malah itu yg bikin semakin gagal, semua org pernah mengalami kegagalan kan ka?
    pertamanya, kl aku gagal ya…. sama kyk kebanyakan manusia, sedikit galau.. *nab, nab πŸ˜€ tapi stl itu ya…. jadi tahu apa maksud dibalik gagalnya itu, kenapa gagal, dan cara agr bangkit dan berhasil.. dan bersyukur…
    gaya tulisan berbeda? nggak bgt jauh kok perbedaannya.. mungkin cuma karena temanya agak berbeda dari tema yg biasa kakak tulis. tapi beda membuat berwarna πŸ™‚

  2. emang lebih baik mencoba dan gagal, daripada gagal mencoba..
    kalau kata temen kakak, jangan sampe yang membuatmu gagal itu adalah rasa takutmu sendiri, ntar malah nyesel.. Lebih baik berusaha semampunya, dan kalau ternyata pun gagal yakin bahwa itu bukan yang terbaik buat kita
    lebih dewasa gaya penulisannya dek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s