Perburuan

Perburuan

Judul: Perburuan
Penulis: 
Pramudya Ananta Toer
Penerbit: 
PT Hasta Mitra
Tahun Terbit: Cetakan ke-3 | 1994
Tebal: 173 halaman
Rating Goodreads: 3.66/5
Rating saya: 4/5

“Siapa yang bisa menyalahkan? Orang memang sudah biasa dengan keadaannya sendiri. Dan akupun tak bisa menjalankan. Mungkin juga dia benar dan jikalau tak benar untuk umum, pastilah benar untuk dirinya sendiri. Kebiasaan memang sudah jadi nafasnya sendiri, nafas semua manusia juga.” (Hal. 93)

“Sentimen atau tidak, itu urusanmu sendiri. Tapi harus kau akui juga, bahwa percintaan mengambil bagian peting dalam hidup manusia.” (Hal. 106)

“Manusia hidup untuk menang, kemudian hidup untuk kalah.” (Hal. 135)

“…Nasihat memang murah dimana-mana. Tapi yang paling susah adalah menasehati diri sendiri. Dan nasehat pada diri sendiri itulah yang paling manjur.” (Hal. 136)

“Barangkali engkau tak pernah berpikir bahwa akibat kejahatan itu lebih cepat dirasai orang yang menerimanya daripada orang yang memberikannya.” (Hal. 139)

“Alangkah mahalnya kepercayaan itu. Alangkah susah mendapat kepercayaan dari engkau.” (Hal. 149)

*

Menceritakan ‘perburuan’ Hardo–seorang tentara Indonesia di zaman ketika Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya. Di sini, ‘perburuan’ dianalogikan sebagai tujuan kebebasan yang terus dicari mengingat latar novel berlangsung tahun 1945.

Siapa Hardo? Hardo adalah seorang prajurit Indonesia yang berhasil lolos dari tawanan Jepang yang mana saat ini keberadaannya masih diburu pihak Nippon. Bukan tanpa alasan, Jepang masih saja memburunya. Sejauh yang saya tangkap, Hardo ini prajurit cerdik yang selalu bisa lolos dalam cengkraman Jepang. Dari dialog-dialognya bersama tokoh lain, open-minded-nya Hardo juga nampak. Saya masih teringat juga kalau sempat terjingkat saat sadar kalau Den Hardo ini hanya berpakaian cawat yang menutupi kemaluannya. Intinya, Den Hardo sebagai tokoh utama menjiwai ‘perburuan’nya sekali-lah.

Cerita dibuka dengan penampakan Hardo sebagai pengemis yang tiba-tiba muncul di rumah keluarganya saat adiknya sunatan. Kemudian, Hardo langsung pergi menuju tempat yang dicarinya–Rumah Ningsih, tunangan terkasihnya dahulu. Nah, dalam perjalanannya inilah Hardo bertemu orang-orang yang dulu dekat dan ada dalam kesehariannya. Membawanya kembali pada Jepang karena ancaman akan meninggalnya Ningsih jika ia tak segera menyerahkan diri.

Ending novel ini ‘agak’ bikin kaget. Atau sayanya saja yang nangkepnya lambat, yak? Karena ada tragedi klimaks terjadi yang masih bikin saya terheran-heran. Apakah itu? Baca sendiri saja 😀

Overall, novel ini bercerita pendek dan beralur lambat. Halaman tengah–jujur membuat saya ngantuk. Dialog-dialog yang pak Pram ciptakan tergolong rumit hingga mampu membuat cerita yang berlangsung dua hari ini terasa lama. Atau memang sastra klasik kayak gini, yak?

Meskipun begitu, banyak unsur yang saya suka di sini. Dibanding Max Havelaar yang baru saja saya baca beberapa waktu lalu, kata-kata di buku ini lebih mudah dipahami. Cara Pak Pram bertutur juga menginspirasi. Banyak kosa kata baru yang saya catat. Dari novel ini juga saya akhirnya tahu bagaimana wujud kebengisan Jepang saat menjajah Indonesia.

Ugh. Part itu bener-bener bikin naik pitam! Dan berasa sayang saja karena bagian siksa-penyiksaan-nya mungkin cuma seperdelapan dari buku ini. Sedikit sekali. Yah, mungkin Pak Pram memang ingin menonjolkan sisi pemikiran Hardo dalam perburuannya di sini.

Pertama kali tuntas membaca literatur fiksi Indonesia–setelah beberapa waktu lalu males banget ngelarin Max Havelaar. Pertama kali juga membaca karya penulis tersohor Indonesia yang karyanya tak lekang dimakan usia–Pak Pramoedya Ananta Toer. Yah, intinya saya puas baca buku ini. Tidak mengecewakan 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Perburuan

  1. Hardo anak yang pemberani. Ia tahu, bahwa ayahnya ingin menangkapnya, setelah berhasil dari cengkraman tentara Nippon. Bujukan manis ayah Hardo tak berhasil membawanya pulang kerumah. Sekali penghianat tetaplah penghianat.
    Dalam buku itu, Pram kembali mengangkat jiwa kepahlawanan anak-anak muda. Seperti pada bukunya di tepi kali bekasi.
    Salam.

    1. wah akhirnya ada yang komen postingan ini juga 😀 suka karya Pak Pram ya kak? saya agak bosen di pertengahan cerita buku ini-__- ada saran bukunya pak pram yang bagus kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s