Sekilas Sekitarmu

MFF-Quiz #2: Sekilas Sekitarmu
MFF-Quiz #2: Sekilas Sekitarmu (dok. pribadi)

Tak ada yang lebih baik dari duo kopi dan sup di pagi hari.

Bagiku mereka satu-kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Melengkapi. Menyenangkan. Apalagi jika ditemani semilir angin dari rinai hujan juga film kesayangan. Ah, rasanya malas sekali untuk beranjak dari tempat sendiri.

Tapi masalahnya, sekarang tidak ada kopi di rumah.

Ya, bagiku hanya menandaskan sup tanpa kopi terasa hambar. Di atas meja kerjaku cuma tersedia tampilan film bajakan di layar laptop, segelas air hangat, dan kunci motor. Sejenak aku berfikir. Akankah aku menyesap habis air yang tersedia atau mengambil kunci lalu beranjak membeli kopi?

Jika aku tak pergi, aku akan melanjutkan sisa hari tanpa semangat lantaran tak ada kopi. Namun mengapa kaki masih terasa berat melangkah? Seperti terlalu banyak daging sup melesak dalam lambung hingga bernafas saja berat. Sebentar, mengapa aku tak menyuruh anak itu saja? Bukannya hari ini dia free?

“Mitha! Mitha! Belikan ayah kopi!” Seruku pada satu-satunya gadis di rumah ini. Lebih tepatnya anak satu-satunya dari istriku terdahulu yang sudah mendahului kami. Benar, semenjak kekasihku pergi hanya ia perawat setiaku. Tak pernah membantah, tak pernah melawan, selalu melaksanakan perintah tepat waktu. Sungguh cermin kebanggaan para orangtua. “Mitha! Belikan ayah kopi, Nak! Ayo keluarlah dari tempat tidurmu!”

Aneh. Gadisku tak kunjung keluar. Tak biasanya ia seperti ini. Ada yang tidak beres. Hati-hati, kulangkahkan kaki menuju kamarnya, mendapati pintu tertutup rapat. Kubuka pintu perlahan. Merasakan decitnya menaikkan detakan jantung pemompa darah.

Kamarnya kosong.

“Mitha! Mitha! Kamu dimana?” Seruku panik di dalam kamarnya. Gadisku hilang! Pergi entah kemana!

Tak ada pilihan lain lagi. Kontan kuberlari terbirit ke meja kerja, bergegas menghabiskan seperempat sisa air putih lalu secepat-kilat mengambil kunci di sampingnya. Persetan dengan kopi! Hentikan semua kesenangan ini! Harus mencari Mitha. Harus menyelamatkan nyawanya.

Kubuka pintu tergesa-gesa, lalu—

DOR!

Aku memekik keras.  Satu peluru tersumat dalam betis kaki kanan. “Anda dinyatakan bersalah atas pembunuhan saudara Mitha Pritaningtyas dengan tuduhan menusuk dan membakar.”

Aku terduduk di hadapan dua polisi wanita yang menghujamkan pandangan tajam padaku. “Apa maksud kalian? Mitha hilang dan saya harus mencarinya sekarang!”

Tak menjawab pertanyaanku, mereka langsung menghambur masuk rumahku meninggalkanku yang dirudung sendu peluru. Dua pasang mata mereka refleks tertuju pada bawah meja, mendapati tulang-belulang di atas mangkuk makanku. Salah satu dari mereka bergidik ngeri. “Ini dan juga ini,” polisi itu mengangkat ziploc berisi gantungan kunci sepeda motorku, “sudah cukup membuktikan anda bersalah. Di tambah sidik jadi di TKP[1]. Selesailah sudah.”

Aku mengejang. Bagaimana gantungan itu bisa ada di tangan mereka? “Mitha! Mitha! Itu dia! Dia di depan rumah kita!” Teriakku membela diri.

Salah satu polisi meneruskan pekerjaannya, lainnya berjalan ke arahku mengabaikan seruanku, “Bagian mana yang anda makan? Jemarinya yang gembul atau perutnya? Karena kami hanya menemukan kepala di TKP.”

“Apa yang kalian bicarakan? Mitha di gerbang rumah sekarang! Lihatlah!” Ucapku lagi meyakinkan mereka.

Terdengar derap langkah dari dalam rumah. Wanita pembawa gantungan kunciku mencibir, “Dia indigo.”

“ARGH. Mana badanmu nak? Mana?”

“Syarafnya terganggu. Bahkan kini mungkin ia lupa pekerjaan apa yang dilakukannya lima detik lalu,” timpalnya lagi.

Tanpa buang waktu, kurebut pistol mereka lantas menembak kaki dua wanita berseragam resmi di dekatku. Susah payah kuselamatkan diri. Kabur mengendarai motor. Berniat mencari korban lagi untuk menemani kopiku esok pagi.

Kena kau! Nampaknya mereka termakan data-data palsuku di sensus penduduk–juga sandiwara picisanku. Cih, polisi payah.


[1] Tempat Kejadian Perkara (TKP)

——————————————————————————
Sidoarjo, 19 April 2013 19.04
Diikutsertakan dalam quiz ini
Merasa masih banyak cacat di sana-sini. Silahkan mengkritik!
Beritahu saya jika ada kejanggalan di hati :mrgreen:
Advertisements

18 thoughts on “Sekilas Sekitarmu

  1. Indigo? keknya si bapak itu penyakit jiwa dek >.< kan indigo itu berhubungan dengan indera keenam 🙂

    err, itu bapak kan kena tembak kok bisa naik motor yah hehehe
    sidik jari di tkp – setau kk sih sidik jari yang dijadikan pemberat untuk tersangka itu,jika sidik jarinya ada di alat pembunuh, kalo cuma di kunci motor belum bisa dijadikan alasan untuk menuduh dia tersangka. Dan sidik jari kadang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, ada alat untuk bisa melihat sidik jari, alatnya itu kek selotip yang ditempelin ke barang.

    Dan satu hal dek, pas dia buka pintu kok polisi langsung main tembak? kan gak bisa tuh, setau kk sih.

    1. :O :O :O
      wahahhaha, saya cacad banget di sini ya kak xD terima kasih lho kak sarang-sarannya, kritikannya! benerbener belajar. mohon bimbingannya lagi ya kak kalo nanti bikin ff 😀

  2. Banyak kalimat yang tidak penting. Dihilangkan pun kayaknya tidak berpengaruh pada inti cerita.

    Ada beberapa catatan
    – Ketika si aku keluar, dia langsung kena DOR. Setahu saya, polisi tidak langsung melakukan tembakan ke sasaran. Ada prosedur penangkapan tersangka. Lalu diborgol. Kalau pun harus menembak itu di adegan kedua, saat si aku hendak melarikan diri dengan motor. Anehnya itu, kenapa gak diborgol sejak awal? Polisinya yang bego atau gimana tuh?
    – Kenapa harus polisi wanita? Dalam penangkapan pelaku biasanya polisi lelaki. Kalaupun harus ada polwannya, tentu disertai dengan polisi lelaki juga. Keterlibatan polwan juga biasanya dalam kasus2 tertentu. Perkosaan atau tindak pidana yang dilakukan oleh perempuan. Meski ini tidak mutlak terjadi.
    – “Anda dinyatakan bersalah atas pembunuhan saudara Mitha Pritaningtyas dengan tuduhan menusuk dan membakar.”
    Dengan pernyataan itu berarti mayat Mitha telah ditemukan dong? Kok saya malah menemukan info lain bahwa hanya kepalanya yang ditemukan di TKP? Kalau hanya kepalanya, bagaimana polwan itu tahu ditusuk dan dibakar?
    – Masih ada beberapa catatan, tapi semakin saya baca makin mbulet bingungnya. Setelah DOR itu banyak yang aneh.
    – Tambahan, judulnya pun gak nyambung 🙂

    1. abis baca komenan kakak saya langsung sadar deh. wahah! cacad sekali ff yg ini! terima kasih sekaliiii saran-sarannya, kak! ini yang saya butuhkaan 🙂
      anw, kkk ilmu begitu tau darimana? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s