Tersisa Misteri

Air terjun Tirtosari (Dok. Pribadi)
Air terjun Tirtosari (Dok. Pribadi)

Pagi yang baik untuk memulai hari.

Temperatur tak biasa mengeriapi kulit membuat tubuhku merasa berbeda. Kini aku berada di telaga Sarangan. Salah satu tempat rekreasi jawa timur yang menyuguhkan telaga alami di kaki Lawu.  Meski alami, tetap saja masih ada sampah-sampah kecil yang mengapung di telaga seluas 30 hektar tersebut. Benar-benar merusak pemandangan bagi perfeksionis sepertiku.

Namun, hal yang paling kusuka di sini sekarang ialah tatkala pawana bebas polusi menelusuk tubuh. Semilir sejuknya kontan mengambil alih fungsi baju hangat kakaoku. Aliran konveksi, begitulah aku menyebutnya. Karena di sini fisik hangatku masih harus beradaptasi pada suhu udara 18° celcius. Oh, andai kamu di sini..

“Em, permisi. Mau ambil jasa pemotretan, mbak?” Terdengar suara familiar dari seorang lelaki di belakangku. Apa, ia di sini? Mungkinkah? Seketika aku membalik. Sebentar, aku tak salah dengar, bukan? Bersamaan dengan itu kudapati aliran konveksi kian menjadi dalam jasmani.  Terkesiap yang bercampur bahagia dalam bola mata hitamnya. Tuhan, terima kasih telah mengabulkan permintaanku secepat ini.

Keheningan menggantung beberapa saat ketika kami sama-sama lekat memandang. Ia mengenakan sweater hangat berwarna senada denganku. Dengan canon menggantung di leher sungguh mengesankan ia sebagai turis kasual yang siap melalang-buana deretan pariwisata. Sedang wajahnya.. Tetap rupawan layaknya sosok yang selalu kupandang dalam layar sebelum menutup mata. Ia tersenyum. Senyum yang paling kurindukan. Lengkungan manis penyirat keterkejutan yang sama mengapa takdir menemukan kami sini.

“Oke, daripada diem-diem-an gini, mending kita cepet-cepet naik ke air terjun. Yuk!” Apa yang bisa kuperbuat? Dia yang selalu ada dalam mimpi, angan, dan doa kini berpijak di tanah yang sama denganku seraya mengajakku pergi–berdua. Oh tidak, kalimat paling sesuai apa yang harus kupilih?

***

Masih harus melangkahkan kaki lagi..

Sudah setengah jam aku berjalan. Menyisiri pematang ladang, menyebrangi jembatan, meniti tangga berbatu penuh lumut namun jalan setapak ini juga belum menemui penghujung. Seperti menyihir pengunjung dengan mengulur waktu supaya keindahan alam di sana dapat dinikmati dalam sepersekian detiknya.

Masalahnya sekarang, bagaimana bisa aku menikmati seneri jika jantungku masih saja berdetak liar lantaran seseorang yang dari dulu kunanti berada di sampingku?

“Capek? Jangan berhenti dulu, ya. Sayang nih. Bentar lagi nyampe, kok,” ucapnya seraya menepuk-nepuk pelan ubunku. Aku hanya meringis. Kehilangan kemampuan untuk bicara. Antara grogi dan masih tak percaya. Bak segala macam lecet pada kakiku yang menghantam batu tak terasa ketika tahu ia berjalan mengiringku, di sisiku.

“Kamu kok diem aja, sih?” Tanyanya lagi menanggapiku yang bungkam sedari tadi. Aku hanya tersenyum. Membuang muka pada pohon-pohon tinggi berumur puluhan tahun di sekeliling kami. Mencoba mencari celah konversasi pada ilalang setinggi pergelangan kaki. Mendadak ada satu pertanyaan tercetus dari benakku. Kontan aku membalik wajah lalu berusaha merangkai kata, “Em, ka-…WOO!”

Tapi belum sempat aku mengeluarkan suara, malah luka yang mulai kurasa. Namun luka itu hanya berbuah perih sejenak lantaran sosok lelaki di sampingku kini tengah meraih pundakku dan mendekapku mendekat dalam rentangan tangannya. Geming sesaat. Sungguh aku terbius oleh dua bola mata hitamnya yang segelap malam–juga hembusan nafasnya terasa dingin saat mulai mengeriapi kulit wajahku. Ini jarak terdekat kami. Kami kembali termenung bersama. Menikmati romantisme yang pertama kali terjadi.

SSSKKK-SSSKKK

Spontan, suara orang pembawa kayu dari bawah mengejutkanku hingga aku hampir terlonjak. Orang tersebut sempat mengehentikan langkah saat melihat kami. Dahinya pun turut berkerut. “Lain kali kalo jalan liat ke depan jangan ke samping,” tuturnya mengejekku halus. Ia terkikik pelan. Menampilkan senyumnya yang terlihat samar. Seketika aku terdiam. Meredam aliran konveksi dalam diri. Malu bercampur bahagia bersamaan. Terpaku pada satu pertanyaan; Apa ia kini bahagia?

***

Berjalan satu setengah kilometer bukan kebiasaanku.

Apalagi dengan medan curam berbatu yang hanya termediakan setapak jalan penuh curam. Tapi semua terbayar lunas saat kami tiba pada incaran utama. Air terjun tirta sari. Setinggi kurang lebih 50 meter membuat suara deburan di bawahnya menenangkan. Dari tangga paling bawah menuju air terjun itu aku dapat menyesapi segarnya air sumber pegunungan graga tersebut dengan hanya melihatnya.

“Oi, ayo naik! Keburu siang, nanti pelanginya enggak keliatan!” Seru lelaki itu lagi yang ternyata telah menapak di tangga paling atas. Hei, bukannya tadi kami baru saja sampai?

Ternyata memang ada lengkungan spektrum melingkar tepat di jatuhnya sumber air. Mejikuhibiniu. Magis bercampur sains, “Gimana? Kamu suka?” Ucapnya tepat di telingaku. Aku hanya mengangguk. Kagum. Tak dapat berkata apa-apa.

Kemudian ia mengalungkan SLRnya di leherku dan berbisik, “Tolong fotoin, ya. Gantian, haha,” seraya menyelipkan selembar foto ke saku sweater. Aku hanya tersenyum. Aliran konveksi itu merembet lagi. Lebih cepat dari yang tadi.

Tanpa sepengetahuanku, ia telah berada di tengah-tengah danau. Celananya nampak basah meski telah tertekuk sampai ke lutut. Ia nampak siap berpose meski tahu akan basah kuyup. Buru-buru kupersiapkan diri memotretnya di tengah jembatan yang dibangun sebagai koneksi lereng ke lereng. Menempatkan diri di posisi yang tepat, lalu membidik.

CEKRIK.

Beberapa detik kemudian polaroid itu mengeluarkan kertas dan kudapati layar hitam masih di sana. Cepat-cepat kuambil lembaran foto tersebut seraya mengibaskannya tak sabaran. Kertas hitam itu mulai memudar. Membentuk gambaran indah air terjun tirta dengan pelangi membujur sempurna di bawahnya. Cantik.

Anehnya, aku tak mendapati sosok yang kufoto tadi.

Jantungku berdegup kencang. Tak menduga. Buru-buru kucari ia di sekeliling air terjun lalu, “Hey, cari aku?” Teriaknya dari puncak sumber air. Seketika bola mataku membesar. Mulutku menganga. Jantungku berhenti berdetak sesaat. Astaga, apa yang sedang kau lakukan?! Aku mencoba untuk berteriak memanggilnya. Berlari kecil ke sana kemari mencari bantuan. Namun kenapa tak ada suara yang keluar sama sekali? “Itu polaroid buat kamu. Jaga diri baik-baik, ya,” Serunya lagi dengan cahaya mentari yang menyilaukan dari balik punggungnya. Kemudian ia beringsut turun. Terjun.

Aku menjerit. Memekik tanpa suara lagi. Membulirkan deraian tangis tanpa henti. Mendapati hati kian tercabik kembali.

…Terakhir yang kuingat hanya gelap.

***

Kepalaku seperti terhempas dari tempat tinggi.

Aku mengerjapkan mata. Pening. Sayup-sayup kudengar gema tawa dari ruang tengah. Derap langkah kaki terburu-buru mengiringi. Blur dalam pandangan mulai menjelas. Dimana aku?

Satu-satunya pintu di ruangan kecil dengan satu ranjang ini berdecit. Menyembulkan seseorang kukenal dengan rambut basahnya yang nampak telah mandi. Sebentar, ini hanya perasaanku saja atau memang wajahnya menyiratkan kelegaan yang amat-sangat ketika melihatku mencoba duduk dari tidur? Kemudian perempuan itu masuk kamar. Meletakkan kotak berbungkus vintage di pelipir ranjang.

“Kebo, mandi sana! Abis itu kita tancap pulang! Ayo!” Serunya mengacaukan selimut seraya mengguncang tubuhku.

“Iya, ini juga usaha,” sahutku santai. Perempuan itu hanya memandangku sesaat, tersenyum sekilas lalu menghilang di balik pintu. Entahlah. Kukira ada yang aneh dengannya.

Melirik kotak di tepi, tak pelak rasa penasaran muncul dalam diri. Hati-hati kutarik kotak yang ternyata cukup berat itu mendekat dan membuka pita yang membungkusnya. Tutup kakaonya kuangkat lalu kudapati sesuatu yang buatku terperanjat; Polaroid dan lembaran fotoku serta… dia.

Jantungku berdegup kencang. Aliran konveksi itu kurasa lagi. Buru-buru kubuka pintu kamar dan menangkap orang-orang yang terburu membereskan barang dari rombongan turku. Semua perempuan. Namun pandangan mereka sontak mengarah padaku tepat ketika kutunjukkan batang hidung dari balik kayu.

…Jadi, apa semua itu masih mimpi?

—————————————————————————–

Sidoarjo, 24-03-2013, 23:30
(Rev) Sidoarjo, 07-04-2013, 08:00
Hanya mencoba mengkapturisasi supaya pengalaman ke Tirtasari bulan lalu
tetep keinget gimana susahnya :mrgreen:

Advertisements

15 thoughts on “Tersisa Misteri

  1. aku jadi kebawa suasana ka..
    iya, sampah memang mengganggu mata.. kenapa di tengah pemandangan indah mesti ada sampah? aku senang kakak perhatian dg hal spt itu ; hal yang mungkin orang lain nggak terlalu perhatian, tapi bgt penting 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s