Cemburu Merindu

Cemburu
Cemburu Merindu

Bilamana terakhir kali kulihat kau tersenyum padaku?
Bilamana terakhir kali kau sambut hangat teguranku?
Bilamana terakhir kali kau mencegatku hanya untuk mengajakku berbicara?
Bilamana terakhir kali situasi masih sama seperti dulu?

Ya, berubah.

Rasanya aneh menilik histori beberapa bulan terakhir saat kita masih bisa berperilaku seperti biasa layaknya remaja putra dan putri yang masih baru sama-sama mengenal. Kau dan aku yang menemukan hal baru. Kau dan aku yang tertawa lepas. Kau dan aku yang saling membantu. Kau dan aku yang masih ada dalam zona nyaman itu.

Namun kini, aku merindukan masa-masa itu.

Seperti melecut drastis dari ekspektasi. Ibarat dua orang yang tak lagi tahu satu sama lain. Bak orang asing. Terpojok lantaran keadaan. Tidak, aku bukannya ingin memilikimu. Tapi hati ini tak pelak menuntut lebih dari segala hal manis yang pernah kita lewati. Atau cukup kusebut manis untuk diriku sendiri?

Aku ingin hal itu terulang lagi, wahai kamu. Aku ingin bisa menyawakan hari-hari manis itu kembali. Aku ingin kamu juga turut merasakan hal-hal manis tersebut. Aku berharap jua ada kembang api yang berpetasan dalam dadamu saat mengalami peristiwa sederhana itu.Β Tapi apa yang bisa kuperbuat?

Tak ada yang salah dalam kasih terhadap seseorang yang terpilih tanpa syarat dari hati. Kenyataan hakiki yang bawaku berperilaku berbeda terhadap kamu. Mungkin aku terlalu penasaran akan apa yang terjadi di hidupmu atau bagaimana kamu yang dulu. Itu alami. Sesuatu tak sama yang pernah kulakukan terhadapmu, semua membumbung atas dasar ikatan yang masih tak teridentifikasi bagiku. Hanya kagum? Telah menyayangi? Atau, terlampau mencintai?

Ada waktu dimana aku sangat ingin menangkup dalam-dalam kasih yang bermekaran sesak ini. Dan ada waktu pula dimana aku ingin kamu mengetahuinya.

Terlepas bahwa itu akan menurunkan harga diriku sebagai wanita. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku mencoba untuk tak memedulikannya. Β Aku mencoba untuk mengabaikannya.Β Aku berusaha untuk memerbaikinya. Namun semua berbuah tak berguna. Bisakah kamu membantuku mengetahui apa nama rasa tatkala pilu mengunjungi kita di saat mengingat senyuman orang yang selama ini selalu kamu fikirkan?

Egoiskah tindak-tandukku? Benarkah cinta mampu melumpuhkan akal sehat? Atau, benarkah cinta hanyalah serangkum frase yang selalu bisa buatku terbang dan terkekang di saat yang sama?

Setidaknya, sekarang aku tahu apa yang aku mau. Memikirkanmu hanya mampu buatku candu. Menggertakkan genggam yang sebelumnya kupegang teguh. Kamu akan selalu terpatri dalam hati, namun saat kumerasa kamulah penghalangku untuk maju, haruskah aku membiarkanmu pergi seperti yang lalu? Haruskah aku melupakan kamu? Haruskah aku berhenti memikirkan kamu? Haruskah aku menghapus memoar-memoar indah itu?

Kamu tahu? Aku cemburu. Cemburu terhadap masa yang lalu. Saat kita masih bersama tanpa ragu.

 

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Sidoarjo, 18 Februari 2013
Untuk Venussio yang selalu menginspirasi saya untuk menulis πŸ™‚

Advertisements

26 thoughts on “Cemburu Merindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s