Motor Memorable

Motor memorable

Pandanganku mengabur.

Sialnya, kaca helm yang menyekap bagian depan wajahku kini penuh rintik air. Berembun lantaran hangatnya nafas terhembus seiring dengan kian buramnya seneri cakrawala abu. Jalan pintas umum antara sekolah dan rumahku terayapi mobil yang berjalan siput. Hari ini kuputar gas sepeda lebih lambat dari biasanya. Meski jam telah menunjukkan hampir petang, aku tak mau mengambil resiko dengan menjalankan kebiasaan ngebut di tengah genangan air yang mengeriak di sana-sini.

Mendadak, saku baju sekolahku bergetar. Mengalunkan melodi Owl City bertajuk Plant Life sayup-sayup. Dengan satu gerakan mengeringkan tangan, kuselipkan tangan di antara celah saku, menyentuh tombol accept dan berucap, “Assalamualaikum. Iya, ma. Ini lagi di jalan. Tunggu bentar.”

Klik. Telepon berakhir.

Sebutlah aku kurang ajar atau tidak tahu sopan-santun, namun bertelepon dengan akhir menggantung seperti itu sudah menjadi kebiasaan dalam keluargaku. Tidak tepat memang, menempatkan adegan telenovela berlebihan dalam kebiasaan. Tapi mama, papa dan aku seakan saling tahu dan merasa cukup dengan kondisi seperti itu. Aneh, bukan?

Oke, cukup masalah itu. Sekarang yang harus kulakukan hanyalah memutar stang sepeda pelan-pelan dengan harap hujan akan mereda seketika. Oh, ayolah hujan.. Mengertilah kondisiku sekarang! Tapi, sebentar.. Hey, apa yang–

TIN! TIN! TIN!

Fikiranku buyar. Dalam waktu sepersekian detik tepat menyebrangi lubang jalan yang terisi genangan keruh air hujan, klakson membahana milik trek di belakangku memekakkan telinga lagi ruang dalam benak. Alih-alih kupalingkan pandangan spion pada dasbor sepeda tepat di hadapan.

Gawat.

Ini darurat. Lampu HID, riting,  juga jarum penunjuk bensin, semua mati. Bahkan jarum penunjuk kecepatan berhenti tak berkutik pada angka yang bukan positif lagi negatif. Astaga, ada apa dengan sepeda motorku?

TIN! TIN! TIN!

Sekali lagi trek tersebut menyadarkanku. Mungkin karena ribuan tetes hujan masih menghujami bumi tampaknya membuat kejengkelan si supir tidak terlampiaskan dengan baik menggunakan grammar yang biasa tersebutkan. Tenang, kutekan lagi tombol gas motor matikku hati-hati. Hingga kuulang sampai beberapa kali, namun yang terjadi hanyalah ketenangan yang terbias cemas.

Motor, kamu kenapa?

***

Hujan masih merinaikan sisa tangisnya dalam kuantitas jarang. Kira-kira masih lima kilometer jauhnya harus kutempuh untuk dapat melihat wajah mak yang mungkin penuh amarah, cemas atau keterkejutan. Melihat apa yang telah kulakukan dengan transportasi yang kini tengah teronggok lemah di sampingku.. Jelasnya, wanita mulia yang telah melahirkan aku itu pasti akan menceramahiku dengan berbagai petuah pedas dari bibir tebalnya.

Aku terpojok.

Menulis, berimajinasi, memerhatikan, berhitung, banyak membaca.. Sungguh, segala kemampuan yang kumiliki sekarang tak berguna dengan matinya mesin motor yang tergolek tak berdaya di sampingku. Menepi kini tengah kujalani. Dengan segala yang kubawa, sepertinya hanya satu hal yang dapat kumanfaatkan demi memecahkan permasalahan kematian mendadak mesin motorku ini; Oh, atau dua.

Menelepon orang di rumah atau meminta tolong pada orang di sekitarku.

Di sisi kiriku berhenti kini tengah ada seorang lelaki seumuranku memperbaiki sepeda motor giginya dengan meniup-niup besi kecil; Bagian kecil dari motornya yang tak tampak terlalu jelas bentuknya dari balik dua lensaku yang kini turut terburamkan rinai hujan. Oke, jadi di sini aku memiliki seorang kawan tak dikenal yang nasibnya sama denganku. Tapi tunggu, aku masih harus berusaha menghubungi mama di rumah. Bukankah tak tahu diri jika tiba-tiba meminta pertolongan pada orang yang sama sekali belum kita kenal?

Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada di luar jangkauan.

Beberapa menit berlalu dalam semilir angin barat yang tersesap menelusuk pori-pori basahku. Belakangan, menyentuh dial-up ponsel yang layarnya basah berbuah percuma. Ugh, mengapa aku tak bisa berbuat apa-apa? Aku sungguh ingin merutuk dalam hati. Namun aku tak mau melakukannya. Aku tahu, Tuhan hanya bersama dengan orang-orang yang sabar. Sebentar lagi, pasti ada jalan.

Greng-greng-greng!

Hingga akhirnya kawan senasibku itu mampu membenarkan sepedanya sendiri. Ish, aku iri. Yang bisa kulakukan hanya menggerutu dalam hati. Haruskah kumeminta bantuannya? Setidaknya, dibandingkan dengan aku yang hanya bisa menjalankan sepeda ke jalan raya, lelaki di sebelahku tahu lebih banyak tentang permesinan. Maju-mundur, iya-tidak, ragu masih menghinggapi. Tapi apabila aku tidak mencoba untuk meminta pertolongannya, aku bisa terjebak di sini hingga bintang menyembul di langit malam.

Sekarang atau tidak selamanya.

“Mas, bisa bantu saya?”

***

Motorku berjalan. Bukan berjalan selayaknya gigi-gigi roda yang berputar mengaktifkan jaringan lain, tapi seperti layang bertuan yang menurut apa kata empunyanya mengarahkan kemana. Benar, lelaki yang setahun lebih tua di atasku itu kini tengah mendorong motorku berjalan dengan kaki dan motornya yang sebelumnya juga tak bisa beroperasi.

Kami bercakap-cakap sedikit. Ternyata ia menimba ilmu di sekolah kejurusan yang berada tepat di samping sekolahku. Lelaki ini nampak kalem dengan pembawaannya. Ia juga pendiam. Kebanyakan aku yang membuka pembicaraan.

Ia mengantar sampai rumahku. Meski sebelumnya telah berusaha memerbaiki sepedaku, nyatanya ia tak mampu hingga akhirnya menawarkan bantuan sorong motor. Oke, yang penting aku bisa pulang ke rumah. Tak dapat dipungkiri, lelaki memang memiliki segenggam tanggung jawab yang selalu ia emban tatkala siapapun perempuan tengah dalam kondisi butuh bantuan. Jadi hari ini, seorang bernama Heri telah menyelamatkan hariku.

“Terima kasih, mas!” Teriakku berseteru dengan hujan yang malah turun lebat menumpahkan tangisannya lagi. Niatku ingin menawarkannya bakso depan rumah harus terurungkan lantaran ia yang langsung melenggang pergi setelah mendorong sepedaku menepi depan pagar rumah.

Menilik kondisiku yang membawa sepeda tak bernyawa dari jalan raya dengan terantarkan seorang lelaki yang belum pernah kukenal sebelumnya, mama yang siap di teras rumah dengan telepon yang–baru–ia pegang mendadak berjalan ke arahku kalakian berseru, “Kamu nggak jajan lima bulan!”

Motor memorable, terima kasih telah menyadarkanku yang masih belum siap mengendarai motor sendiri.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~17-02-2012

Untuk Mas Heri, Mak dan yang terbijaksana di seluruh semesta, Allah SWT 🙂
Kritik dong siapapun yang sudah membaca! :mrgreen:

Advertisements

12 thoughts on “Motor Memorable

  1. beruntung sekali kakak.. ada yang bantu, aku harap semoga kejadian “motor mogok” tdk terjadi lg…
    aku malah masih belajar spd motor ka.. dan masih sgt pemula, tdk begitu bisa…

  2. anggaplah ini sebuah pengalaman berharga, dan saya yakin kalau adek gak terkena kejadian itu gak bisa nulis cerita seperti ini… hehehe,,
    bagus juga motor vespanya

    1. hohoho, bener banget kak! pengalaman ini berharga sekali buat saya 😀
      wkwk, itu motor vespa punya orang bule kak 😆
      anw, terima kasih sudah meninggalkan jejak perdananya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s