Pandangan Pertama Bertemu Kamu

Pandangan Pertama Bertemu Kamu
Pandangan Pertama Bertemu Kamu

Hai, kamu.

Ingat pertama kita bertemu? Iya, saat sebuah even anak muda terbesar menaungi kita di dalamnya. Menghubungkan aku sebagai salah satu peserta dan kamu menjadi sosok senior yang datang menjenguk juniornya ketika aku tengah bertempur. Aku ingat betul ketika itu kamu masih malu-malu untuk berbicara denganku–bahkan melihatku pun kau masih enggan. Kamu hanya mengampiri timku, diam dan membaca coretan tanganku dengan membolak-balik kertasnya tetap dengan kesunyian yang kamu bawa sejak awal.

Entah mengapa untuk kesekian kali, kamu menggelitik rasa keingintahuanku. Sungguh, aku sangat jengkel melihat katup bibirmu terkunci rapat ketika membolak-balik catatan kompetisiku meski nyatanya kamu berdiri lurus-lurus di hadapanku. Penasaran akhirnya mendorong keberanianku. Dengan masih malu-malu kuberanikan diri membahas hal-hal ringan denganmu.

“Em, mas yang di twitter, ya?”

“Oh, iya dek.”

Selesai. Ya, hanya itulah yang mampu kukatakan saat itu. Aku berusaha menatap matamu seraya mengulum senyum namun kenyataan membuatku kikuk dan canggung harus dihadapkan denganmu ketika itu.

Tak pernah terfikir olehku akan bertemu denganmu dengan cara seperti itu. Sebenarnya, awal kita saling mengetahui satu sama lain adalah lewat salah satu jejaring sosial paling populer saat ini. Masih berhubungan dengan perlombaan yang aku ikuti, ketika itu ketidaksengajaan membuatku tahu sosokmu. Lalu karena aku selalu penasaran dan senang memiliki teman baru, akhirnya kuputuskan untuk memulai pembicaraan awal denganmu.

Semua berjalan baik. Dalam media sosial dunia maya itu akhirnya kita tahu satu-sama lain meski harus kuakui aku sedikit terkejut menyangkut kamu yang nyatanya juga mengikutsertakan diri dalam himpunan kompetisi yang sama denganku. Aku pun mengaku senang mendapati banyak hal yang sama-sama kita sukai. Kamu pun nampak ramah terhadap banyak orang yang berinteraksi denganmu. Seolah ada hal tak terprediksi yang selalu menghampiri setiap kali mendapati hal-hal kecil pada profilmu itu.  Namun, ada perasaan mengganjal saat aku  dihadapkan denganmu dalam pandangan pertama bertemu kamu.

Entahlah. Aku sungguh tak habis fikir dengan kediam-diam-an-mu yang sangat akut itu. Kamu lelaki dan kukira kamu lebih aktif serta berenergi saat kita bertemu. Seolah ada yang salah. Kamu tahu? Batin dan fikiranku bergejolak saling terkontradiksi saat itu. Aku berusaha mati-matian menelisik kesamaan hal antara dunia nyata dan mayamu. Tapi sampai akhir perjumpaan, satu-satunya hal yang tersingkap dari dirimu adalah kehati-hatianmu dalam mengucapkan kata demi kata. Satu-satunya alasan mengapa kau bahkan enggan menyapaku lebih dulu meski kita nyatanya saling tahu.

Detik-detik dalam perjumpaan pertama kitapun menggulirkan sesuatu yang baru di hari-hariku selanjutnya. Baik dalam perasaan maupun pemikiranku. Jujur, aku harus mengakui bahwa hal mengganjal dalam pandangan pertama kita meningkatkan rasa ingintahuku. Pemikiranku juga berusaha mengikuti kata hati meski ia selalu bersikeras untuk ada dalam jalan rasional. Tapi aku lebih penasaran. Tak dapat kuhindari, aku hanya ingin tahu lebih banyak, banyak dan banyak tentang kamu.

Dampak yang paling tak bisa kulupakan saat kita pertama kali berjumpa adalah ketika kamu mencurahkan secuil perhatianmu padaku. Apalagi saat kamu menyemangatiku. Terlepas pada fakta bahwa banyak pembicaraan kita yang tak terselesaikan lantaran kecanggungan. Baik dalam dunia nyata dan maya, kamu akhirnya hadir, bicara dan ikut ambil andil dalam mendukung timku.

Maaf jika akhirnya aku harus pulang dengan tangan hampa. Maaf jika akhirnya aku hanya bertengger di peringkat limabelas dalam lomba tersebut. Kemenanganmu menginspirasi. Bila aku mendapat kesempatan menyertakan diri lagi, aku sungguh tak akan menyia-nyiakan hal tersebut demi tersampainya tujuan awalku untuk menang. Demi kamu.

Dalam tulisan ini, aku harus berterima kasih pada even yang menaungi kita. Even yang membuat kita bertemu. Even yang membuat kamu menyemangatiku. Even yang memekarkan perasaan terindah yang masih kujaga hingga saat ini. Even yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk membuat kita saling memandang untuk pertama kali.

Aku ingin terengkuh olehmu, mengenalmu serta mengetahui segala hal tentangmu. Pandangan pertama antara aku dan kamu membuatku merasakan hal itu. Bodoh mungkin mengharapkan sesuatu yang kita tahu akan memakan banyak waktu. Tapi perasaaku keukeuh menginginkannya. Aku butuh kamu.

Bagaimana dengan sekarang? Eventough I know you may not feel the same, it’s always be the same. I and my feeling. Endlessly.

With huge of love,

Me.

—————————————————————

Hanya perasaan hati yang tak kunjung tersampaikan.
Alhamdulillah menemukan cara menulis tentang si Venus tanpa harus nangis-nangis-meringis 😆
Nggak mengharapkan ada respon berarti dari tulisan saya di atas. Hanya memuaskan hati buat nulis dan
saya harap tidak ada pihak yang tersinggung membacanya 🙂
Diikut-sertakan dalam giveaway Kak Idah 😉 Diterima ya kaak meskipun telat mostingnya T.T the power of kepepet nih

give-away-langkah-catatankuPandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku

Advertisements

17 thoughts on “Pandangan Pertama Bertemu Kamu

  1. Ini yang didaftarkan pas kepepet itu kan, Ruri. hihihihi

    Berteimakasihlah pada event tersebut. HArusnya kamu ngasih penghargaan untuk panitia2 yang tergabung dalam event itu lho. wkwkwkk

    Kalau dia baca tulisan ini, bisa melayang tuh. KArena ada kata “Demi Kamu”. hihihih
    The Power Of kepepetnya nanti tak serahkan ke juri ya? 🙂

    Terimakasih sudah ikut meramaikan syukuran di Langkah Catatanku, Ruri.
    Salam Senyum. ^_*

    1. iya kak 😆 jadi maluuu
      mwahahah, bener banget kak. tanpa mereka nggak mungkin saya bisa jadi gini. hihii
      oke kakak!

      samasamaaa. semoga kakak ngadain GA lagi biar aku ikutin lagi biar aku sempet menang :mrgreen:

  2. Ruri.., kamu tinggal dimana?
    Kalau ndak jauh dari semarang, besok tanggal 9 Februari (malam minggu ini), ada diskusi, ngaji sastra etnik dan musikalisasi (puisi dan geguritan) di “Surau Kami” Jl.Tusam Raya No.26 Banyu Manik.

    Sekiranya bisa menghadiri silahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s