Kuatnya Tiang Itu Aku

SMAN 1 Bekasi - Kuatnya Tiang Itu Aku
SMAN 1 Bekasi – Kuatnya Tiang Itu Aku

SMAN 1 Bekasi. Senin, 08.35

Upacara telah usai. Lorong-lorong kelas yang tadinya terpenuhi kerumunan siswa berlalu-lalang kini melengang. Lapangan luas yang sebelumnya penuh oleh barisan manusia berseragam putih abu sekarang nampak sepi. Setidaknya bel tanda dimulainya pelajaran yang telah berbunyi sepuluh menit yang lalu benar-benar membuat sunyi sekolah menengah atas di kawasan Jawa Barat tersebut.

Nyatanya, tidak semua manusia sman 1 bekasi berada di kelas masing-masing. Ada dua sosok terkontradiksi yang kini berjalan santai membawa setumpuk buku dari salah satu ruang di pojok gedung. Sepertinya mereka memiliki izin tersendiri untuk ‘berkeliling’ sekolah di saat-saat seperti ini.

Saat melewati depan kelas XII di lantai atas, salah satu dari mereka yang mengenakan rok nampak melambatkan jalannya seraya menerawangkan pandangan ke atas langit. Menghirup udara pagi yang masih bersih seraya memerhatikan suasana sekolah tercintanya.

Tanah lapang tempatnya melaksanakan upacara tadi kini hanya menyisakan barisan pohon yang berderetan memanjang di sisi gedung. Bernafas bebas melalui pori-pori kloroplas mereka yang juga menyapukan hasil respirasinya pada tanah tempatnya berpijak, gedung yang berdiri kokoh di belakangnya serta tiang bendera yang berdiri tegak tepat di tengah lapangan. Bendera dengan kain kebanggan Indonesia yang berkibar gagah di bawah naungan cakrawala biru.

“Cepetan dikit kek jalannya,” omel sesosok jangkung yang nampak memimpin jalan. Sebenarnya, sosok dengan celana panjang abu-nya tersebut tak bisa disalahkan. Tumpukan buku yang ia bawa terlihat lebih tinggi kuantitasnya dibanding gadis di belakangnya.

Si gadis tak benar-benar menganggapi. Ia masih melemparkan pandangan menyapu pemandangan di bawah sembari menikmati terpaan angin yang meniup anakan rambut panjangnya. Mendadak, benak gadis berkacamata tersebut dipenuhi beragam pertanyaan tak terjawab yang masih ia cari jawabannya hingga sekarang.

Saat kedua manik hitamnya menyorot dedaunan yang bergoyang pelang mengikuti irama angin.. Darimana angin berasal? Apa ia mampir menelisik lentisel pohon tuk dapatkan seteguk asupan? Mengapa angin bisa mengitari kita? Bagaimana warna, bentuk dan bau angin yang sebenarnya?

Lalu beralih pada panca dengarnya. Ciutan burung gereja yang terbang melintas awan di atas mereka mengalun merdu. Bagaimana burung bersuara? Darimana bulu-bulunya terbentuk? Mengapa burung hanya bisa terbang di udara? Bagaimana perasaan burung terhadap kehidupannya sendiri?

Kemudian matanya menatap bawah. Ke ubin putih tempatnya berpijak sekarang. Menelusuri lantai bersih sepanjang koridor, ruang-ruangan luas tempat murid melakukan aktivitas, dinding sewarna daun pucat yang masih kokoh, hingga genteng sebrang gedung sembari tetap berfikir.. Mengapa ia bisa sangat kokoh? Apa ia tak lelah hanya berdiri di sini tanpa tahu dunia luar? Apa ia tak bosan menaungi beratus murid berbeda setiap tahunnya? Mengapa ia tak menuntut? Mengapa bangunan ini hanya diam dan menerima?

Lalu korneanya tergeser mengarah pada satu tiang tinggi menjulang yang tengah ia lewati. Tiang putih besi dengan tali yang terhubung pada ujung atas serta bagian bawah guna mengerek sehelai kain kebanggan Indonesia berkibar di atas sana. Bendera merah-putih yang masih tampak kuat menyambut teriknya mentari pagi.

“Rani! Gue tebak sekarang lu lagi terlarut dalam analisis nggak jelas, kan? Ayo cepet-cepet-cepet!” Secepat kilat tanpa menyadari lelaki di sampingnya sedang memergokinya berfikir, sekarang gadis berkulit sawo matang tersebut mau tak mau melangkah cepat dengan dorongan punggung dari lelaki yang terus mengomel di belakangnya.

“Fikri.. Pernah bayangin seberapa kuatnya bendera kita?” Tanya gadis yang disebut Rani tadi tanpa menanggapi dengan benar celotehan lelaki di balik tubuhnya.

“Hah? Maksud lu? Bendera nggak kuat-lah. Bendera kain. Mana kuat.” Celetuk lelaki yang dipanggil Fikri itu cepat tanpa benar-benar memerhatikan pertanyaan yang Rani lontarkan dengan tetap berjalan mundur tepat di balik punggung gadis itu.

“Fik, aku tahulah kalo bendera itu kain. Tapi meskipun gitu, merah-putih kuat! Tau nggak sih beratnya perjuangan bendera berkibar di atas sana?”

“Ran, itu cuma sebatas kain. Coba sekarang liat baju lu. Itu apa? Kain juga kan? Cuma benda lemes lain yang emang tugasnya nutup tubuh kita. Serupa tapi wujud dan fungsinya beda.”

“Beda fikri! Kain bendera itu dituntut mau untuk berkibar di ujung atas tiang sana. Menentang hujan, terik panas matahari bahkan mungkin nggak jarang dia iri sama burung-burung yang terbang bebas di sekitar dia. Perjuangannya itu lho.. Beda!”

“Apa gue harus balikin lu ke TK lagi ya?” Sahut lelaki yang disebut Fikri itu cepat dengan gumaman tak jelas oleh Rani yang meresponnya. Lelaki tersebut lalu beringsut menyejajarkan langkah dengan gadis tersebut, menghembuskan nafas besar dan berkata..  “Ran, bendera, tiang, sekolah, baju, semuanya benda mati. Mereka nggak bisa milih jalan hidup mereka gimana. Mereka nggak punya perasaan. Mereka diam, nggak bergerak—kecuali kalo kita kasih aksi, sih. Yang mereka tau cuma menjalankan tugas dari manusia. Mengemban seberapapun berat yang kita kasih. Udah. Itu, pengabdian mereka. Sampe rusak, sampe nggak kita pake lagi, sampe mati.”

Sejenak, perempuan di samping Fikri terdiam. Terpaku dan takjub dengan respon tak terduga dari lontaran mulut lelaki di sisinya. Sejak kapan seorang Fikri bisa sefilosofis ini?

Sadar akan perubahan sikap Rani, buru-buru Fikri menambahkan, “So, kalo lu tanya apa gue pernah ngebayangin seberapa kuatnya tuh tiang bendera.. Gue pernah. Gue tau banget. Gue malah ngalamin sendiri gimana susahnya being strong kaya gitu. Ya, mungkin… Tiang bendera bakal jadi motivasi gue deh sekarang.”

“Mmm? Motivasi? Emang.. Kamu udah being strong terhadap apa coba? Perasaan kamu santai-santai aja deh,” Sahut Rani penasaran.

“Nggak.”

“Jadi?”

Seolah membaca rasa ingintahu gadis di sampingnya itu mulai berlebih, Fikripun berseru cepat, “Ran, lu tau ini udah jam berapa? Kita masih harus turun terus jalan ngitarin lapangan buat ke gedung barat. Belum lagi kita anak baru, nggak tau ruangannya, masih harus tanya-tanya. Belum lagi—”

“Plis fik, nggak usah ngalihin pembicaraan deh. Serius, penasaran nih.” Potong Rani cepat dengan mimik serius seakan haknya akan tergerus.

Fikri lalu mulai menimbang-nimbang. “Lu yakin bakal siap dengerin? Well, buat gue sendiri alasan ini agak—mmm gimana gitu.” Ungkapnya hati-hati tanpa memandang wajah kawan bicaranya. Dari ekor matanya, ia tahu kini Rani tengah mengangguk seraya memerhatikannya sungguh-sungguh.

Tepat di depan mulut tangga, Fikri berhenti. Ia memandang Rani yang menunggu di samping kirinya kemudian lelaki itu berucap pelan, “Being strong terhadap nunggu. Nunggu gue supaya bisa jadi paling baik yang bakal pantas ngedampingin elu.” Seiring dengan bola mata Rani yang kian membesar dan keterkejutan yang nampak jelas dalam binar matanya, buru-buru Fikri menapaki tangga turun seraya berkata, “See? Gue udah yakin lu nggak bakal siap ndengerin itu.”

————————————————————————

Sidoarjo, 11-01-2013
diikutsertakan dalam giveaway kak bella 🙂
Cerita pertama yang rampung setelah vakum sama dunia berkhayal dalam cerita 😆
aneh bin mekso, kah? duh, ini ide nya sendiri juga keluarnya di saat-saat aneh sih 😆
kritik dan sarannya ditunggu kawan!

Advertisements

14 thoughts on “Kuatnya Tiang Itu Aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s