Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?

Sembunyi. Delapan huruf ini merupakan jalan keluar bagi kita yang mungkin tengah terjepit di suatu kondisi tegang. Banyak jenis sembunyi di dunia ini. Apakah itu sembunyi dari masalah, sembunyi dari realita, sembunyi karena tak rela dan yang paling mengenaskan adalah.. Sembunyi dari diri sendiri. Mengapa manusia terkadang melakukan hal tersebut? Banyak faktor. Kendati memang, ada kalanya di satu titik ketika kita benar-benar tidak tahu-menahu akan problematika di hadapan mata, jalan satu-satunya yang dapat kita lakukan hanyalah sembunyi dan berdiam diri.

Well kawan.. Kita tak bisa membohongi sendiri bahwa kita memang pernah melakukan suatu persembunyian. Mungkin jenis dari persembunyian kita berbeda-beda. Tapi satu hal yang menandai kesamaannya adalah diam. Ya, bersembunyi sama saja diam tanpa melakukan apa-apa terhadap masalah yang di hadapi. Bahkan tak jarang, sembunyi berujung dengan pelarian diri.

Memang ada suatu saat sembunyi itu akan berguna. Namun, setelah saya telisik dari hal-hal sederhana di kehidupan saya misalnya.. Pantaskah kita untuk bersembunyi? Pantaskah kita hanya berdiam diri? Pantaskah kita membiarkan orang mengutarakan pendapatnya yang–mungkin kita berfikir punya kita lebih baik? Benarkah kita hanya cukup menjadi pendengar, penyilah dan pengalah? Masih era-kah kita untuk bersembunyi?

Sejenak saya pun berfikir.. Memangnya salah ya, mengacungkan tangan untuk bertanya? Memangnya salah ya, maju ke depan untuk hanya sekedar berpendapat? Memangnya salah ya, berani mengutarakan keinginan? Memangnya benar ya, hanya bersembunyi dengan membiarkan orang lain dapat kesempatan untuk ‘bersinar’?

Kita telah memperoleh kemerdekaan. Dan kemerdekaan itulah yang membuat kita dapat merasakan kebebasan seperti ini. Kebebasan untuk mendapatkan hak namun tetap bersamaan dengan kewajiban yang memang tetap harus dijalankan.
Coba kita renungkan..
Bagaimana dulu para pejuang merebut kemerdekaan bagi kita? Bagaimana dulu pendapat mereka benar-benar mereka perjuangkan? Bagaimana dulu mereka bersikukuh menuntut kebebasan mengutarakan keinginan generasi mendatang?

Pernahkah terbesit di benak kita bagaimana susahnya?

Lalu, apa hanya dengan sembunyi, berdiam diri, mendengarkan serta menyilahkan orang lain bisa sekedar membalas perjuang para terdahulu kita? Apa hanya dengan membiarkan semua terjadi dengan hanya ‘ikut saja’ telah mampu memuaskan hati pejuang kita yang telah bersusah-payah merebut kebebasan? Apa ini arti kebebasan yang sesungguhnya? TIDAK.

Masih erakah kita bersembunyi - quotes
Masih erakah kita bersembunyi – quotes

Ya, robot tanpa inspirasi yang selalu menurut setiap diberi perintah. Robot yang pasrah akan keadaan. Robot empunya usaha nol. Robot yang selalu menyembunyikan perasaannya. Robot yang menjalani hidup amat datar-bahkan-bisa dibilang tak bahagia.

Itukah yang kamu mau? Itukah yang kita tujukan dalam hidup? Menjadi seorang robot yang tak hidup? Wahai para pemuda Indonesia?

Masih Erakah Kamu Bersembunyi? - Pemuda Quotes
Masih Erakah Kamu Bersembunyi? – Pemuda Quotes

Dear kawanku..

Mengapa saya membuat artikel seperti ini? Karena saya prihatin. Saya prihatin terhadap masa depan negara saya sendiri. Saya prihatin mengapa hanya segelintir manusia yang berani mengutarakan pendapatnya di depan umum. Saya prihatin mengapa pemuda yang nantinya akan menjadi orang-orang besar telah cukup puas hanya bersembunyi dan berdiam diri. Saya prihatin akan profil pemuda masa kini yang sukses dimabukkan kemajuan teknologi hingga lupa melupakan jati dirinya. Saya prihatin pada kawan yang hobi bersembunyi.

Kalau dipandang dari sisi psikologis, memang tak semua orang memiliki bakat dan kepintaran dalam berkata. Bahkan tak jarang didapati orang yang malu-malu berbicara di depan umum. Ini biasa, realita. Namun, apa berdiam diri dan bersembunyi merupakan jalan terbaik bagi mereka-mereka yang seperti itu? Atau mungkin, mereka telah mengalami ‘pemalasan dini’ hingga terlalu nyaman dalam posisi tersembunyinya, berdiam dirinya? Itukah cerminan pemuda masa kini?

Jujur, saya nggak habis fikir dengan banyak pemuda yang memutuskan hal seperti itu. Apa jadinya bangsa kita kelak kalau mengutarakan pendapat saja malu? Apa jadinya bangsa apabila kita telah terlalu nyaman dengan zona malas dengan selalu menggantungkan orang lain yang ada?

Satu yang pasti akan terjadi. Hancur. Secara perlahan.

Saya yakin, pemuda adalah biang kreativitas. Banyak hal yang dapat kita manfaatkan sebagai tempat berpendapat. Banyak hal yang dapat kita lakukan selain bersembunyi. Banyak hal yang dapat kita gunakan untuk menyalurkan ide. Sungguh banyak media yang tersedia bagi kita untuk mengutarakan apa yang kita inginkan, niatkan dan lakukan.

Tapi mengapa masih saja banyak pemuda yang memilih bersembunyi dan diam?

Takut.

Benar. Kita tak dapat mengelak,Β faktor terkuat yang menghalangi terealisasinya suatu keinginan adalah ketakutan. Tapi di sinilah sisi menantangnya. Di sini lah sisi pentingnya. Di sinilah kita dapat menilai bagaimana diri kita yang sesungguhnya. Di sinilah kita dapat mengevaluasi diri.

Kuncinya hanya berani.Β 

Kalian tahu? Ketakutan adalah pendorong kita untuk maju. Takut membuat kita berani. Dan berani merupakan langkah awal bagi kita untuk dapat keluar dari persembunyian. Berani untuk berbuat salah, berubah dan menjadi ‘beda’ hingga mendunia. Berani untuk show off dan menunjukkan bahwa kita bisa. Berani untuk sukses!

Jadi kawan.. Masih erakah kamu bersembunyi?

——————————————————————————————————–

Sidoarjo, 05-01-2012
Ditulis setelah hari ini dapet pelatihan diklat Jurnalistik. So cool!
Bermanfaat banget, nyatanya saya bisa ngasilin 700+ kata yang layak dibaca khalayak guna memberi manfaat πŸ˜€ *Terima Kasih Kakak Viva :3*sebenernya curhat karena mendapati banyak temen-temen saya yang malu ngacung buat jawab/maju ke depan-_-v

pict 1 made by me @ picmonkey.com & the other one was found on google along w/ edited @ picmonkey.com
Advertisements

14 thoughts on “Masih Era-kah Kamu Bersembunyi?

  1. setuju ka πŸ™‚ berani itu penting… gambarnya yang kedua, yang ada kata “jika kamu ingin tahu…” betul2 bagus. perhatikan pemudanya! ….
    jadi, pemuda2 spt kitalah yang ‘kan meneruskan perjuangan generasi sebelumnya, jg ikut2an saja.. agar kita lbh maju kedepannya! πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s