Hari ke-3: Gamang (Seuntai Puisi)

Hari ke-3: Gamang (Seuntai Puisi)
Hari ke-3: Gamang (Seuntai Puisi)

Bagaimana kita bisa jatuh hati?
Bagaimana kita tahu bahwa perasaan itu adalah cinta?
Bagaimana hati dapat menafsirkan lima huruf itu?
Bagaimana fikiran dapat terimpresi dari dua suku kata tersebut?

Yang kurasa hanyalah gejolak aneh dalam dada saat kubertemu dengan sesosok lelaki yang sebelumnya tak pernah terbayang olehku.
Yang kudapat hanyalah sengatan asing dalam hati kala kutemukan sisi lain dirinya yang terabadikan di balik layar monitorku.
Yang kusadar hanyalah terulasnya sesirat senyum geli ketika kumemikirkan sosok lelaki tersebut bahkan saat ia tak berada di dekatku.
Yang sangat kuyakini adalah kuatnya rasa ini. Kasih tanpa alasan yang tumbuh tanpa paksaan yang sampai sekarang tak bisa kutepiskan apalagi kulupakan… Terhadap sosok yang bahkan belum kukenal baik hingga saat ini. Sosok yang telah mutlak terpilih hati untuk bersemayam dalam sukma. Sosok yang mengubahku. Sosok yang mengajarkanku untuk dapat menerima kenyataan pahit lantaran cinta yang tak terbalas. Sosok..yang hanya mampu kucinta diam-diam.
Yang kutahu pasti adalah dia, bayangnya. Setiap jam, setiap menit, setiap detik Β selalu ada dalam benakku. Bukan hanya terlintas cepat bagai komet matahari, namun bertengger manis bak bulan bersinar di malam hari. Aku tak pernah menciptakannya atau meminta fatamorgana tersebut datang. Ia mendadak hadir dalam relung hati. Tanpa alasan. Tanpa paksaan. Selalu. Setiap waktu. Setiap hari.

Terkadang aku bingung.
Bagaimana bisa aku merasakan hal-hal aneh tersebut bahkan ketika aku belum benar-benar mengenalnya?
Bagaimana aku bisa yakin kuatnya perasaan ini bahkan ketika ia tak pernah melirik diri ini?
Bagaimana aku bisa dengan teguhnya menjaga perasaan sepihak yang kian memerihkan hati dari waktu ke waktu ini?

Jelasnya aku sungguh tak bisa menghalangi berkembangnya perasaan sederhana ini.
Aku malah menangkap banyak keinginan terpendam yang lagi-lagi terbentuk alami dalam hati.
Yang kuingin hanyalah untuk bisa lebih lama berada di sampingnya.
Untuk bisa mendengarkan segala keluh-kesahnya.
Untuk bisa membuatnya tertawa.
Untuk bisa selalu mengetahui keadaannya.
Untuk bisa menjadi satu-satunya wanita yang menghangatkan jemari-jemari besarnya.
Untuk bisa menjadi satu-satunya wanita yang ia beri sweaternya kala malam.
Untuk bisa menjadi wanita di balik kisah hidupnya.
Untuk bisa menjadi wanita nyata pemilik utuh hatinya.

Aku hanya wanita biasa. Yang bisa kulakukan hanyalah memendam rasa. Dan menunggu dia yang tak kunjung peka.

————————————————————————————–

Sidoarjo, 04-01-2013

Diikutsertakan dalamΒ #30HariBercerita

Masih ragu apa di atas ini puisi atau bukan. Hihihi. Bikinnya pas pertama kali niat mau balik nge-blog sih soalnya.

Sudah saya musikalisasi-kan, silahkan didengar dan saya tunggu kritik serta sarannya πŸ˜‰

Advertisements

16 thoughts on “Hari ke-3: Gamang (Seuntai Puisi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s