Kamu (Seuntai Puisi)

Kamu (Seuntai Puisi)
Kamu (Seuntai Puisi)

Kamu.

Makhluk Tuhan terindah yang pernah tertangkap korneaku.

Kamu ada di sekitarku. Kamu dan akupun tak luput terlibat pembicaraan. Aku senang membantumu yang dilanda kesusahan. Dan hal sederhana yang paling kusuka adalah saat melihatmu menyunggingkan senyum tak terprediksi itu. Cekungan pengrupa luapan kebahagiaanmu.

Namun kamu dan aku hanya terikat oleh rangkaian huruf pembentuk kata “teman.” Tak lebih dan tak kurang.
Kamu dan aku tak pernah bisa menjadi “kita.”
Kamu dan aku tak kan pernah berwujud satu.
Kamu dan aku berbeda.
Kamu mengrupaku bak kawan lama tapi aku menjelmakanmu bagai dewa.
Kamu cukup puas dengan hubungan yang seperti ini adanya tapi aku mengaharapkanmu lebih dalam kediam-diam-anku.
Kamu neptunus yang stagnan di sepanjang lintasan tapi aku pluto yang mencoba menarik perhatian dengan menghilang dari peredaran.
Kamu yang mencintainya tapi aku.. mencintaimu.

Benar, aku kembali menuliskan sesuatu tentangmu.

Jujur, mungkin ini sudah yang kesekian kalinya aku mengetikkan kata demi kata untukmu. Aneh ya? Harusnya aku jengah. Harusnya aku bisa memberhentikan perasaan yang terus-menerus membuncah tiap kumelihatmu. Harusnya aku lelah menantimu yang tak pernah memerhatikanku. Harusnya aku.. menyerah.

Namun aku tak kunjung bosan. Aku malah menikmatinya. Aku terlalu larut dalam perasaan. Bahkan belati yang harusnya meninggalkan luka seolah tak berasa dalam hati.

Akupun bertanya-tanya. Apa ini cinta sejati? Apa memang kau tercipta untukku? Apa cinta yang seperti ini patut dipertahankan? Cinta penuh perasaan kuat yang hanya tercipta dari satu pihak?

Kamu mungkin memang belum tahu setulus apa rasa ini. Kamu mungkin belum bisa merasa besarnya kasih ini. Dan kamu mungkin tak pernah tahu seberapa dalam luka yang kurasa sebelum kau menjadi aku. Sejujurnya.. kamu hanya belum menyadari.

Cinta ialah rapuh adanya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaganya. Kini, aku mencintaimu sendiri. Karena jatuh cinta diam-diam akan berakhir dalam kediam-diaman itu sendiri.

Dan keyakinanku-pun berkata cepat atau lambat, cinta sepihak ini pasti akan pergi.

Jangan pernah menyalahkanku saat cinta ini memudar. Jangan pernah memintaku kembali saat cinta ini telah pergi. Jangan pernah menyesal saat aku sudah hinggap mendampingi orang lain. Jangan pernah menantiku tuk berada kembali di sampingmu. Dan jangan pernah kau buang waktu menanti puisiku untukmu lagi.

Karena cinta yang tak memiliki, bukanlah cinta yang sejati.

———————————————————————————————————————————————–

Sidoarjo, 3-11-2012

agak bingung apa ini beneran puisi-__- hihi.

ini saya musikalisasikan di pojok kiri sidebar blog saya 😀

kritik-sarannya ditunggu yaah kawaan 😉

Advertisements

49 thoughts on “Kamu (Seuntai Puisi)

      1. Pas baca artikel ini sambil minum teh manis, dari kamar anak terdengar lagu ebiet dengan judul Kupu kupu kertas.

        Langsung ditulis, kalau gak nyambung,,,,, anggap saja nyambung. He,…he…he…

  1. yang ini pas banget sama yang aku rasain…–>
    “Kamu cukup puas dengan hubungan yang seperti ini adanya tapi aku mengaharapkanmu lebih dalam kediam-diam-anku. “

  2. waktu liat gambarnya malah kebayang lagu JKT48 i want youuu… 😛
    hmm semoga cinta menjadi jalan untuk memberi dan berbagi dengan yang disayangi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s