Cody Love Story – It’s More Than Love (15)

cody love story - its more than love (15) - cover
cody love story – its more than love (15) – cover
  • Nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii
  • Main cast : Cody Simpson, Billy Unger, Kylie Jenner, Alli Simpson
  • Title : Cody Simpson Love Story-It’s More Than Love
  • Rating : T
  • Genre : Romance, Action

*SPOILER : THIS GONNA BE A VERY LONG PART*

HAAAAI 😀 terhitung udah 2 bulan yah aku menelantarkan cls ini-__- alhamdulillah bangeet bisa ngatur waktu di antara segunung pr yg masih numpuk :’)) udah bosen kalik ya ndengerin aku maap melulu setiap posting? wehehe. iya deh. maap ya readers T.Tv yang penting tetep lanjut kan? ohyaa, rencananya ini bakal dari part terakhir nih. soalnya aku mau re-write dari part awal. mengapa begitu? karena.. karena aku pingin ada perbaikan di sana-sini-__- tau sendiri lah gimana part1 aku kan? *nelen ludah* di samping ituu, kalo semisal udah aku rewrite dan aku finish-in, rencananya(lagi) mau aku kirim ke penerbit gagas media atau gramedia. makanyaa, kayanya di part ini bener-bener aku pol in deh ceritanya 😆
atur musik yg sedihsedih ya kalo baca part ini 😀
kritik saran ditunggu yah berkenaan dengan part-semi-terakhir ini 😉

for everyone who follows and reads my story, enjoy♥

PART XV

“Welcome to.. Paradise” Sambut Cody sesaat setelah mengitari mobil dan berdiri tepat di hadapan bemper depan. Dilihatnya gadis yang tengah menutup pintu mobilnya ragu-ragu dengan sesungging senyum terbaik yang ia punya. Lelaki pirang itu yakin–sangat yakin kejutannya ini berhasil membuat speechless gadis bermanik hitam itu.

Di salah satu pantai bagian Selatan Fran Sisco, berdirilah sepasang pemuda-pemudi yang tengah terkesima dengan keelokan pemandangan di hadapannya. Hamparan pasir putih  nan bersih, bentangan air yang nampak berkilau diterpa sinar matahari, bulatan mentari yang terwujud sempurna di ambang garis horizon. Semua terlampau magis hingga membuat keduanya terhipnotis bersama akan lukisan Tuhan tersebut. Butuh beberapa detik bagi Lalak untuk menyahut kalimat Cody karena saking terpesonanya ia dengan semburat awan yang bermain-main dengan jingga di atas sana. “This.. Is this the beach? Beach on your video?” gumam gadis berambut hitam itu tak percaya. Cody hanya menyeringai lebar. Mengangguk mantap. “It was.. It was really wonderful scenery, Co. I-”

cody love story - its more than love (15) - the beach
cody love story – its more than love (15) – the beach

“I’ll say.” Tukas Cody lembut seraya mendekati Lalak dan meraih jemari mungilnya. Lalak yang masih terpana dengan langit menjingga sontak membeku. Detik itu juga, gadis tersebut kehilangan kata tuk melengkapi kalimatnya dan ia sungguh bisa merasakan jantungnya berhenti sesaat dan terpacu lebih cepat seketika. “C’mon, we’ll take a walk while talking about that script.” Ajak Cody yang tak sadar dengan perubahan sikap Lalak. Bahkan lelaki itu malah menautkan genggamannya lebih erat dan menuntun empunya tangan tersebut turun menyusuri bukit tempat mobil Cody terparkir. “That drama was quite.. Difficult, Lak. But i’m really sure you can do it perfectly.” Tambahnya lagi tanpa melihat wajah gadis yang ia ajak bicara. Kemudian ia sedikit berceloteh membahas drama yang akan mereka mainkan.

Lelaki itupun berhenti berceloteh. Tepat saat kaki-kakinya dan gadis di sampingnya dimanjakan oleh bersih nan lembutnya pasir putih yang terhampar luas. Dalam desiran air dan terpaan angin sore yang malu-malu mampir menyentuh kulit mereka, kedua pemuda-pemudi itu nampak sungguh menikmati bentangan elok di hadapannya itu. Pantai terpencil penuh daya magis yang selalu berhasil buat Cody terpukau setiap kali bertandang kesana.

Ditemani gemerisik daun dan suara ombak, gadis di samping Cody benar-benar dapat merasakan keterkejutan aneh yang bercampur-baur dalam hatinya. Rasa bahagia, ragu sekaligus terhenyak. Semua dimulai dari tautan jemari itu. Tautan yang hingga kini masih merapatkan celah kosong tanpa menyisakan ruang sekecil apapun. Tautan yang-mungkin-telah biasa Cody lakukan dengan banyak gadis di luar sana, yang-jujur membuat sekujur tubuh gadis berambut hitam itu kaku. Andai saja ia bisa mengabaikan harapan dari gamitan tangan ini… Pasti gadis itu lebih bisa mengontrol diri tanpa harus terlarut dalam imajinya sendiri. Namun tak bisa. Ia tahu jelas bahwa hatinya kini tengah berontak akan maksud dari perlakuan manis Cody ini.

“So, we start it now?” Pertanyaan Cody mendadak membuat Lalak sadar seketika. Dikumpulkannya akal normalnya tanpa embel-embel perasaan mencintanya pada lelaki yang tengah memandangnya. Kemudian ia berusaha tuk bersikap senormal mungkin dengan membaca naskah asal. Tapi ternyata, tanpa ia sadari helaian naskah yang dipegangnya sedari tadi mengkerut mengikuti cengkraman kuat jemarinya. Bukti bahwa ia dilanda rasa gugup yang amat besar. “Relax, Lak. Relax. I’m not going to eat you in this quiet place. Beside, it would not really bring a great effect if I do it.”

Sontak, genggaman itu meregang dan dengan sekuat tenaga—gadis itu bermaksud tuk membalas perlakuan Cody lewat kibasan telapak tangannya. Mengikuti naluri lelakinya, Cody seolah telah tahu apa yang akan terjadi. Buru-buru ia menghindar dengan berlari menyusuri garis pantai ke arah utara.

“You have to pay it, you have to pay it Cody Robert Simpson! Come here! Come here!!” Seru Lalak mengundang kekehan puas Cody yang masih gesit berlari mendahuluinya. Sore itu, hati kecil Lalak tak bisa mengelak bahwa ia rindu saat-saat ini. Saat-saat dimana ia bisa bertingkah-laku seperti anak kecil tanpa ada hal apapun yang membebani.

Lebih pentingnya lagi, ia sungguh menyadari bahwa rasa mecintanya pada lelaki itu telah melebihi dari perasaan apapun yang pernah ia rasa. Meskipun ia tahu konsekuensi yang akan didapatnya.

Cinta bukan pemaksaan. Tak jarang cinta berakhir penderitaan. Namun, merasakan warna-warni cinta tak ada salahnya, bukan?

—SKIP—

“Hel-”

“Billy, do you know where is Lalak now?”

“Lalak? Is it Lalak’s aunt?”

“Yes. Ohya, i’m sorry. Yeah, i’m her aunt. I just arrived from my work and met nobody’s home. Is she at your place?”

“No… Have you tried to call her mobile?”

“It was broken, Billy. God, i’m really worrying about her right now.”

“Right, I forget about it..”

“…Can you look for her?”

“Yes, of course. I’ll bring her back to you.”

“Thank you, son. She’s my importance. Sorry for disturbing your time.”

“Nope. She’s important to me too. I’ll call you later, Mrs. Nisa..”

—SKIP—

Lalak kini tengah berbaring di atas hamparan pasir putih. Tepat di hadapan matanya, terpampang beberapa helai kertas dengan baris-baris dialog yang sedang ia baca saksama. Wajahnya nampak rileks. Betapa tidak, sekarang gadis itu tengah dikelilingi oleh lukisan pemandangan  paling indah yang pernah ia lihat. Jingga di ujung senjanya terbenam matahari, corak awan sirus yang menawan hati, burung camar yang terbang melintasi, deburan ombak sebagai backsound kemagisan sore ini.. Kiranya tak ada sore yang lebih sempurna dari senja hari ini.

Satu hal yang membuat hal itu kian sempurna adalah seorang yang membawanya kesini. Seorang penuh kejutan yang selalu buatnya terpana. Satu-satunya orang yang menemaninya di tempat menakjubkan ini. Seorang yang sekarang tengah menikmati coretan tangan Tuhan di tempat duduknya yang berada tepat di sebelah atas tempat kepala Lalak terkulai.

Bersenda-gurau, membicarakan banyak hal, ditambah dengan bimbingan yang gadis itu dapat dari lelaki di sisinya.. Sungguh, kalau saja ada mesin pembeku waktu, tanpa berfikir ulang ia akan menggunakannya tuk menghentikan dan hidup di momen indah ini.

Semuanya nampak tak bercela hingga akhirnya Lalak menemukan sesuatu yang mendadak buatnya terkejut. Sesuatu yang baru ia sadari sekarang. Sesuatu yang ada di baris dialog terakhirnya. Sesuatu yang tak pernah terbayang dalam benaknya. Sesuatu yang benar-benar tak akan dilakukannya.. “Kissing scene? You.. with me? Are you sure? What the?” Seru Lalak tiba-tiba seraya mengalihkan naskah dialog dengan satu kibasan cepat.

Sebelum lelaki itu menangkap kegusaran pada diri Lalak, ia hanya bersikap santai dan menganggapnya sebuah lelucon sederhana tuk menggodanya. “I’m truly sure. What’s wrong? Isn’t that a must-scene in every drama?” Sahut Cody menanggapi. Sebuah jawaban yang mengundang tatapan nanar dari gadis yang terbaring di sampingnya. Beberapa detik berlalu dengan keheningan hingga akhirnya Cody tolehkan pandangan ke bawah tempat kedua bola mata hitam itu terbuka, tersenyum nakal seraya berkata.. “Are you nerveous to do it with me?”

Tepat di atas Lalak, terpancar binar kebahagian dari kedua manik Cody dengan kerlingan nakal pada sudut-sudut matanya. Sejenak, kedua pemuda-pemudi itu bak terpaku pada indahnya sorotan mata masing-masing, Cody dengan manik samuderanya dan Lalak dengan manik hitam legamnya. Bungkam beberapa saaat hingga akhirnya Lalak menyahut.. “Seriously, I will never do this, Cody. I. Will. Never.”

“Why?” Tanya Cody refleks merespon pernyataan gadis yang kini tengah mengangkat tubuhnya tuk duduk di sisi pemuda pirang itu.

Lalak terdiam. Ia hanya memandang naskahnya tepat di baris-baris terakhir dimana ia akan melakukan adegan romantis yang bahkan belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ada yang mengganjal. Bukan, ini memang salah. Jelas, ia akan menentang apabila adegan itu sungguh akan dilakukannya sekalipun dengan pemuda pujaannya.

Namun, apa benar menyatakan alasannya untuk tidak melakukan itu pada Cody? Pada lawan mainnya sendiri? Gadis berambut ikal itu berfikir sejenak. Lalu menundukkan wajahnya, menghembuskan nafas besar dan berkata lirih..“Cause– Cause you should keep your best part of youself for the one who deserves you.”

“Then I’ll be the one.” Sahut Cody cepat dengan sesirat keyakinan dalam nada suaranya. Jawaban yang sontak membuat pandangan Lalak teralihkan dari pemadangan indah di hadapannya pada lelaki pirang penuh kejutan di sampingnya. Demi Tuhan, ia bisa merasakan nadanya berdesir sangat cepat setelah sesaat berhenti tepat ketika lelaki pirang itu mengucapkan kalimat jawaban tadi.

Sebuah keharusan bagi Cody untuk menyahut seperti itu karena ia benar-benar telah berikrar dalam hati bahwa ia akan menjadi seseorang yang terbaik bagi gadis di sampingnya ini.

“I beg your pardon?” Tanya Lalak mencoba untuk meyakinkan diri sendiri apa ia tak salah dengar. Seketika, salah satu ruang hati tempatnya mecintai Cody melompat kegirangan. Mendengar jawaban paling romantis dan tak terprediksi itu benar-benar di luar dugaan.

Lelaki pirang itu hanya tersenyum samar. Pernyataan Lalak tadi tak ubahnya mengetuk pintu hati lelaki bermanik samudera tersebut. Sungguh, ia benar-benar tak pernah memiliki pemikiran seperti itu sebelum gadis berkulit kuning-langsat di sampingnya melontarkan rangkaian kata tadi. Difikirnya Lalak sama seperti gadis-gadis lain yang menunjukkan raut enggan pada wajah namun nyatanya sangat bernafsu dalam hati untuk melakukannya. Tepat detik ini, lelaki itu bahagia. Bahagia mendapati dirinya kembali jatuh cinta pada kepribadian gadis yang tengah dijaganya. “Anynomous was right.. That ‘the best part of loving someone was getting to falling in love over and all over again towards that special person.’ ” Batinnya sendiri.

“Hey, look at the sunset!” Seru Cody mengalihkan topik pembicaraan, tersadar mendapati bahwa gadis bermanik hitam di sampingnya masih tak percaya dengan apa yang telah ia lontarkan. Sejenak, air muka bimbang Lalak berubah. Tergantikan oleh ekspresi kekaguman akan sesuatu menakjubkan di hadapannya. Saat ketika bulatan matahari sempurna berada tepat di atas ambang garis horizon.

 “I promise. I really promise that I’ll be him.”

—SKIP—

“Steve?”

“Boss? What’s up?”

“I need your help.”

“Just tell me what’s the matter”

“I can’t tell you. We need to meet.”

“Wo-wo-wo. Is it really important thing?”

“It was. It really was. And i wanna plan and do this perfectly.”

“About what?”

“Killing someone on sec.”

—SKIP—

“Is she really involving your life?” Tanya Hailee sesampainya ia dan Billy di pelataran rumah perempuan muda itu. Pertanyaan yang ia lontarkan tuk mengakhiri kediam-diaman di antara mereka, selepasnya pemuda-yang hingga kini masih mengiangi benak Hailee-memutuskan sambungan telepon.

Tak ada jawaban berarti hingga akhirnya Billy menarik ganggang pintu mobil, beranjak keluar dari Bentley putih itu dan mulai berjalan pergi. Sadar bahwa Billy masih menganggapnya sebelah mata, buru-buru Hailee mengikuti pemuda itu keluar dari mobil dan mencegahnya melangkah lebih jauh lagi.

“Wait, Billy! Wait!” Serunya tepat saat berhasil menarik lengan kanan Billy hingga menyebabkan pemuda itu berhenti. Enggan, Billy membalik tubuhnya menghadap Hailee dengan seraut wajah dingin yang ia tunjukkan sedari tadi. “Great. Okay.. I.. Mmm, yeah.. Thanks for today.” Ucap perempuan muda itu gugup. Sungguh, sebelumnya Hailee tak pernah menyangka akan bertemu dengan lelaki yang pernah ia lukai ini. Ia tak pernah mengira akan kembali menyelam indahnya manik hazel Billy, memandang wajah rupawannya, berbicara dengannya dan bahkan.. Menangis dalam pelukannya.

Menanggapi tak ada respon berarti yang Billy lakukan, cepat-cepat Hailee menawarkan.. “You wanna come and having a tea?” Dengan binar penuh harap pada kedua bola mata hazelnya. Sejenak, Billy merasa de javu. Mendadak fikirannya terisi oleh kenangan masa lalu nya bersama perempuan berambut lurus di hadapannya.

Benar.. Dulu saat mereka masih bersama, meminum teh dengan membicarakan segala hal di taman rumah Hailee menjadi kebiasaan rutin mereka setiap weekend tiba.

“No. I have something to do. N-” Ucap Billy tegas menolak ajakan Hailee. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, mendadak Hailee bertanya..

“Is it about ‘her’ again?” Dengan mimik muka ramah yang sekejap berubah kecewa. Billy jelas mengerti bahwa kini mantan terindahnya tengah cemburu dengan gadis yang telah berhasil membawa warna baru dalam hidupnya setelah perempuan itu pergi. Pemuda itu tak menjawab. Pertanyaan yang tak perlu dijawab karena menurutnya Hailee sudah tahu jawabannya.

Mata mereka beradu hingga beberapa detik berlalu. Sampai akhirnya pemuda itu berkata, “Night,” seraya melepaskan sentuhan jemari Hailee dan beranjak pergi. Hailee berontak. Tak dapat dielakkan bahwa ia masih tak puas dengan interaksi singkatnya bersama Billy ini. Ia masih ingin menikmati detik-detik yang ia lalui bersama Billy sekalipun pemuda tersebut tak masih menganggapnya sebelah mata.

Dengan satu gerakan cepat, ia cengkram pergelangan tangan kanan Billy hingga membuatnya berhenti sekali lagi, sembari berseru.. “Billy, can we meet again?” Sebuah pertanyaan yang membuat Billy terhenyak sesaat. Tak dapat dipungkiri bahwa segala sesuatu tentang Hailee tak berubah. Senyumnya, mata hazelnya, caranya berbicara, caranya cemburu, perlakuan manisnya.. Semua masih sama. Hailee yang dulu ia sayangi masih seperti Hailee yang sekarang tengah dibencinya. Oh bukan, Billy tak bisa membencinya. Sekalipun dulu Hailee pernah mengkhianatinya.

Seperih apapun seorang paling berarti menyakiti kita, sekeras apapun berusaha tuk benci tak akan pernah bisa terlaksana. Karena sekecil apapun rasa sayang itu, selalu bisa berhasil meluruhkan sebesar apapun rasa benci itu.

Hening sesaat. Billy terlampau sibuk sendiri berfikir dalam kekakuan situasi ini. Hingga akhirnya ia menjawab.. “If there is a time,” dan berlalu pergi tanpa Hailee halangi lagi.

Sebuah jawaban yang sukses membuat senyum perempuan muda itu mengembang. “I’ll see you soon Billy.” Seru Hailee mengibaskan tangannya sebagai tanda perpisahan mereka. Perkataan sama yang selalu Hailee lontarkan saat ia dan Billy berpisah ketika mereka masih bersama dulu. Apa yang Billy fikirkan benar.. Hailee memang belum berubah. Ia masih sama dan tak menutup kemungkinan bahwa perempuan itu kini tengah menjalankan permainan bodoh yang sama seperti dulu. Dan Billy memantapkan hati untuk lebih berhati-hati dan menghindari sosok mantan terindahnya itu.

Hailee masih di depan rumahnya. Menunggu sosok pemuda itu hilang ditelan purnama dengan sebuncah perasaan senang yang selalu ia dapat bersama Billy sekalipun pemuda itu tak bermaksud memberi. “If there is a time.. we can meet again. Then I’ll make that time for us to meet again.”

—SKIP—

“No, it’s not like that.” Sekali lagi, alunan musik jazz pengiring tarian Lalak mendadak berhenti. Rangkaian kata itu terlontar kembali dari bibir lelaki pirang di hadapan Lalak yang kini tengah memerintahkannya mengulang gerakan waltz.

“What?” Protes gadis berambut hitam itu tak percaya mendengar komentar serupa yang kian terdengar menyebalkan dalam gendang telinganya. Refleks, ia hempaskan tubuhnya di atas hamparan pasir putih nan bersih yang sedari tadi menjadi alas tempat latihan mereka. Lalak mulai bosan. Setidaknya sudah sekitar setengah jam Lalak mencoba tuk menarikan serangkaian gerakan yang telah Cody tirukan sebelumnya. Gerakan waltz wanita yang nantinya akan ditarikan Lalak bersama pelatih tari di hadapannya. Yang mana semua berakhir dengan respon tak puas dari lelaki pirang itu.

Satu-satunya gadis di bibir pantai itupun nampak putus asa. Ia lemaskan kedua kakinya sembari menghembuskan nafas besar lalu berujar.. “I never can do this, Cody.. I give up. Just give this role to Ky–”

“Stop. You just haven’t understood and applied it.” Sahut Cody cepat memotong ucapan keputus-asa-an gadis bermanik hitam di hadapannya. Sahutan yang ia harapkan dapat menyadarkan dan membangkitkan semangat Lalak. Namun, ia salah. Gadis itu masih bergeming. Ia tetap nampak putus asa. Tak sanggup menerima kenyataan bahwa ia memang belum menguasai teknik tarian mereka.

Lalu Cody beringsut mendekatkan diri pada gadis yang nampak kusut itu. Ia ambil beberapa langkah lebar lalu duduk tepat di hadapan Lalak dengan kaki bersila. Detik itu juga lelaki itu merasa bersalah menangkap keputus-asa-an dalam kepenatan yang tersurat jelas pada raut wajah gadis di hadapannya. ‘Apa aku benar-benar payah mengajarinya?’ batinnya sendiri. Namun, lelaki itu tersadar bahwa hal penting yang harus ia lakukan sekarang bukanlah mengoreksi ketidak-pawai-annya dalam mengajari Lalak. Melainkan Ia harus benar-benar bisa meyakinkan Lalak bahwa gadis itu dapat melalui semua ini.

“Lak, look at me.” Perintah lelaki pirang itu pelan. Tapi gadis itu masih mematung. Bergeming menanggapi perintah Cody dengan menerawang cakrawala senja di hadapannya. “C’mon.” Ujar lelaki bermanik samudra itu seraya meremas hangat pundak gadis di hadapannya. Berharap dengan begitu, Lalak akan mau melakukan apa yang ia katakan.

Gadis bertubuh mungil itupun mengalah. Menuruti apa yang Cody ucapkan dengan menyilangkan kakinya, menatap manik indah lelaki di hadapannya, menghembuskan nafasnya yang terasa berat, kemudian berkata acuh.. “So?” Dan lelaki itupun terseyum samar.

Sejurus kemudian, ia majukan tubuhnya mendekat pada Lalak, menguncinya dalam fokus matanya, menggamit hangat buku-buku jemari gadis itu seraya berucap.. “There’s no impossibilities in this world, Lak. Don’t ever say you can not do something if you never worked for it maximally, Okay? In this case, you can not do anything optimally if it was not your wanted. Everything needs sincere. And you will do something sincerely when you are in love on something. So what you need to do is doing things you loved, or loving things you do. Then, work crazily and everything’s going to be perfect.” Dan Codypun mengakhiri penjelasannya dengan sesungging senyum keyakinan yang selalu Lalak suka. Seutas senyum yang lelaki itu harap dapat mengawali kebangkitan dari semangat gadis di hadapannya.

Seketika raut wajah Lalak-pun berubah. “I’m speechless.” Respon Lalak menanggapi saran Cody. Lelaki itupun terkekeh mendengarnya. Di samping kehabisan kata tuk merespon pelajaran moral yang Cody berikan, gadis berambut hitam itupun tak bisa mengelak bahwa dirinya tengah gugup diperlakukan sedemikian manisnya oleh seorang yang didambanya. Demi Tuhan ia bisa merasakan jantungnya yang berhenti sesaat tepat ketika hangatnya gamitan jemari Cody menjalar. Perlakuan manis yang Lalak harap memiliki makna tersirat selain memberikan pengajaran terhadapnya.

“C’mon we do the last dance.” Ajak lelaki pirang itu sembari beranjak berdiri dengan tetap menggenggam erat kesepuluh jemari Lalak. Gadis itu nampak lebih baik. Setidaknya kali ini, raut ke-putus-asa-annya memudar tergantikan oleh sesungging senyum tegar. Lelaki pirang itu tak tahu. Ia tak akan pernah tahu, bahwa hanya dengan menggenggam jemari lentik gadis itu berakibat pada terangsangnya seluruh urat syaraf Lalak tuk bekerja lebih bersemangat dari sebelumnya.

Meskipun telah disemangati, tak urung gadis di hadapan Cody masih nampak enggan untuk menari lagi. “I do not have any interest anymore to do this for this day, Co.”

Sadar bahwa Lalak memang lelah dan tak lagi memiliki mood yang bagus untuk menari, Cody kembali meyakinkan.. “I told you this is the last.” Dengan sesirat senyum penuh ketenangan.

“Why did you say it just now?” Ujar Lalak memrotes ucapan lelaki di hadapannya sembari mengusap roknya tuk membersihkan serpihan pasir yang tertinggal.

Manik samudra Cody memicing. Well, ia benar-benar berfikir bahwa gadis di hadapannya ini memang butuh istirahat. Buru-buru lelaki pirang itu menyahut, “I’ve told you a minute ago.” Kilahnya dengan kekehan kecilnya. Kini giliran kelopak mata Lalak yang memicing. Menimang apa-apa saja yang baru mereka kataka hingga benaknya sendiri terlupakan oleh kata-kata Cody tadi.

Belum sempat Lalak mengingat kapan Cody mengatakan hal tersebut, tak disangka.. Lelaki di hadapan gadis itu telah lebih dulu berlaga bak pangeran yang meminta putri berdansa bersamanya. Dengan satu lutut yang ditekuk, tangan kiri yang terselip di balik punggungnya seraya berkata…  “Mind to dance with me?” Dengan telapak tangan kanan yang menengadah tepat di hadapan Lalak.

Lagi, gadis itu kembali terkesima. Buru-buru ditutupnya sebuncah rasa tak percayanya itu dengan melontarkan serangkaian kata pertanyaan pada lelaki yang jemarinya kini bertaut erat dengannya.. “Dancing without music? Well, I think this dance will not be complete.”

Lelaki di hadapan Lalak tersenyum samar. Detik itu juga, lelaki pirang yang kini hanya berjarak lima cm di depannya balik bertanya.. “Why we need music to complete dance if everything that made us complete has already here? Waves sound.. Dusk..” dengan ritme pengucapan yang masih terdengar belum mencapai akhir. Cody menghembuskan nafas besar. Entah mengapa, wajahnya nampak memerah hingga menyebabkan kharisma dalam dirinya naik dari sudut pandang Lalak. Lirih, lelaki itu berucap, “And..” dengan kata terakhirnya yang terdengar menggantung. Sejenak, tak ada yang bicara. Kedua pemuda-pemudi itu bak terkunci pada manik masing-masing. Hingga beberapa detik deburan ombak menenangkan mengisi ruang kosong di antara mereka, akhirnya lelaki bermanik samudera di hadapan Lalak-pun menambahkan satu kata. Serangkaian huruf yang sebelumnya tak pernah ia duga akan meluncur dari seorang Cody. Satu kata yang diucapkannya dengan amat hati-hati, lirih, pelan dan menenangkan.. “..Us.”

Seakan tak percaya apa yang telah Cody katakan, dengan raut terkesimanya tanpa sadar Lalak mencetuskan kata, “Pardon?” pada lelaki di hadapannya. Demi Tuhan, ia sungguh dapat merasa pacuan jantungnya meningkat drastis tepat saat kata terakhir yang Cody ucapkan. ‘Tenanglah. Jangan terlalu banyak berharap. Mungkin dia hanya bercanda.’ Ujar batin gadis ikal itu membantah hatinya yang tengah senang kendati perlakuan Cody.

“Well, our last dance is called country dance and it was the easiest dance in the entire of world.” Sahut Cody cepat, tepat saat ia menarik pinggul gadis di hadapannya mendekat seraya menggamit jemari Lalak hangat. Lalak masih terdiam. Tercenung dan masih menimang akan kebenaran perkataan lelaki itu. Lelaki yang menyambung pertanyaannya dengan serangkaian kalimat pengalih topik sembari menghindarkan kontak matanya dengan manik gadis di hadapannya.

Mendengar pernyataan seperti itu, buru-buru Lalak menyahut.. “Hell. Dunno why, feels like my ear is having troublesome today.” Dengan detakan jantung yang kembali normal yang entah mengapa meninggalkan bekas panas dalam hatinya.

Apa ia kecewa? Ya. Wanita sungguh tak dapat mengelak untuk senang kendati memiliki harapan tatkala ada seorang lelaki yang menarik hatinya tiba-tiba meluncurkan kata manis yang membuat jantungnya berdetak abnomal.

“Should I call Mr. Smith again?” Goda lelaki itu sedikit terkekeh. ‘Tuan Smith? Siapa dia?’ tanya batin gadis itu lagi. Sebelum Lalak bertanya lebih lanjut siapa gerangan yang dibicarakan Cody, lelaki pirang di hadapannya buru-buru menyambung.. “Forget it. Well, I should tell you about the mechanism…”

“Go on.” Respon Lalak setelah mengangguk skeptis menghadapi perlakuan mentor muda di hadapannya.

Cody berdeham pelan. Kemudian ia mulai berkata.. “First role is.. Our eyes should lock..” Dengan sepasang manik berpancar senja yang menatap lurus kedua bola mata Lalak.  “….Second is our fingers should hold tightly..” Lanjutnya merapatkan pautan tangannya. “…the last is.. we have to really bring our soul at the rhtym around us.” Ucap lelaki itu sekali lagi dengan mulai memimpin gadis di hadapannya berdansa. Bergerak sesuai irama beriringkan alunan musik Tuhan. Menari dengan segenap hati bak dua remaja yang tengah dimabuk perasaan.

“See? You already can.” Komentar Cody menanggapi tarian terakhirnya  bersama gadis itu setelah beberapa menit berlalu dalam terlarutnya suasana mereka dalam dansa sederhana itu. Gadis itu mengulum senyum. Ia sungguh tak menyangka dapat melakukan tarian ini sedemikian baiknya. Ia tak habis fikir mengapa dirinya bisa dengan mudah mengikuti gerakan spontan lelaki di hadapannya. Yang dilakukannya hanyalah menari.. Berdansa dengan hati di tengah-tengah iringan musik alami.. Berdansa dengan perhatian penuh pada kedua bola mata samudra di hadapannya.

Ada yang lain dalam tatapan mata lelaki di hadapannya. Tatapan mata yang sedari tadi tak lepas menyorot lurus kedua manik Lalak dengan binar berbeda. Binar berlatar senja paling indah yang pernah dilihatnya. Binar penuh lentera yang tak pernah ia tangkap sebelumnya. Binar yang menyamankannya.. Binar yang dalam sekejap menghentikan detakan jantung meliarnya menjadi normal. Seberkas binar mata memesona yang tak kan pernah dilupakannya.

‘God. Can You just stop this moment for a while?’

“Honestly.. It was my dance in JHS prom.” Ungkap Lalak mengaku jujur dengan tetap menatap pantulan mentari dalam lingkar mata Cody.

Sejenak, air muka lelaki di hadapan Lalak berubah penasaran. Dengan sesungging senyum jahil, iapun bertanya… “And the guy is..?”

“I did it with my girlfriend….” Sahut Lalak yang sontak merubah raut wajah Cody. Seolah membaca fikiran lelaki pirang yang masih membagi hangatnya senja dalam tautan jemarinya, Lalak buru-buru menyambung.. “Haha. BUT, I’m not lesbian.” Dengan kekehan kecil khasnya. Detik itu juga, Cody menghembuskan nafas lega yang sedari tadi refleks ia tahan. Dengan seutas senyum lega bercampur tak percaya bak seseorang yang baru sadar terjebak dalam kejahilan. “Anyway, when will we do this at drama?”

Pemuda di hadapan Lalak tersenyum. Seuntai senyum misterius yang membuat gadis ikal itu kian penasaran dengan jawaban dari pertanyaannya. “Just, let it be a surprise.” Ujarnya menyahut dengan beriring hembusan nafas besar dari gadis di hadapannya.

“I have no idea about what you say..” Ucap Lalak menggelengkan kepala tak habis fikir dengan jawaban yang Cody berikan. “But, there’s still one thing I really wanna know is..” Ungkapnya lagi seraya mengalihkan pandangannya sesaat dari manik saudra di hadapannya. Satu kalimat penuh tanya yang sedari tadi menggantung rapuh di pangkal tenggorokannya, meminta untuk diluncurkan.. Ia dongakkan kepala menatap lelaki di hadapannya, dan hati-hati bertanya.. “What reason that made you bring me here?”

Detik itu juga, Cody kembali menaikkan sudut-sudut bibirnya. Memberikan Lalak seutas senyum penuh ketulusan yang tak pernah ia tangkap sebelumnya. “I’ve promised you, right?”

Gadis itu ingat. Lalak sungguh-sungguh tahu kapan pastinya ia meminta Cody untuk membawanya kesini. Detik-detik sebelum sosok hitam menggoreskan luka di riwayatnya  tiba. Namun yang masih belum bisa dipercayainya adalah.. Kenyataan bahwa lelaki di hadapannya telah menepati janjinya.. Masih memikirkannya.. Selalu memperhatikannya.. “I thought you were.. I thought you hate me.” Sahut Lalak tertunduk menyadari kesalahannya berprasangka buruk pada Cody.

“Tell me.. How can I hate someone who always on my mind?” Tanya Cody kembali yang sontak mebuat Lalak refleks mendongakkan kepalanya menatap lelaki di hadapannya. Seketika, Lalak tersenyum getir. Benih-benih cintanya sungguh bersemai ramai hingga rasa sesaknya sungguh terasa mengingat bahwa ini hanyalah rayaun kecil yang acap kali Cody lontarkan pada wanita-wanita lain.

Turn on the music!

Gadis itu melemas. Merenggangkan genggaman tangannya, mengalihkan pandangan dari manik samudra lelaki di hadapannya dan berhenti menari. Yang dapat ia rasakan hanya kelelahan. Kelelahan akan pertemuannya dengan harapan yang tak kan pernah kunjung datang. Ia jengah. Ia tak mau lagi berharap. Ia tak mau lagi jatuh dalam egoisnya cinta. Ia tak mau terlarut dalam perasaan bahagianya sesaat ini.

“Lak?” Ucap Cody refleks merespon perlakuan Lalak yang kini tengah berjalan perlahan meninggalkannya dengan seraut wajah yang tak pernah Cody lihat sebelumnya. Sejenak ia memutar otak, apa yang salah dengan gadis itu? Apa ada yang salah dengan dirinya?

Gadis berambut ikal itu bergeming mendengar Cody memanggilnya. Ia hanya termenung merasakan terpaan angin yang menggelitik wajah dan rambutnya seraya memandang hamparan langit senja dengan mataharinya yang kini hampir di telan horizon langit selatan.

“Lak?” Panggil lelaki itu lagi tepat saat sentuhan hangat dari jemari Cody menggamit jemarinya erat. Sebuah sentuhan yang memulai ingatan Lalak kembali menelisik masa lalu…

Saat pertama kalinya ia mengenal Cody di kelas.. Saat pertama kalinya Cody memboncengnya ke jalan pergi rumah Cody.. Saat pertama kalinya ia tatap mata samudra Cody secara dekat.. Saat pertama kalinya Cody curahkan perhatian manis itu padanya.. Saat Cody berusaha membuat dirinya menjadi simposnizer sejati.. Saat pertama kali Cody menggendongnya.. Saat-saat di panggung konsernya.. Saat Cody menghajar orang yang telah berbuat jahat padanya.. Saat Cody kembali dan memohon untuk mengulangi hubungan pertemanan mereka dari awal.. Saat Cody berhasil menyelamatkan masa depannya.. Saat Cody meninggalkannya di bawah langit malam November.. Saat Cody membawanya kemari.. Saat Cody selalu berhasil membuatnya tertawa, tersenyum bahkan tersedu..

Bahkan kesemuanya terlampau indah dan berarti untuk hanya diingat sambil-lalu. Demi Tuhan, Lalak sungguh-sungguh tak pernah melupakan detik-detik bahagianya bersama Cody meskipun ia tahu bahwa lelaki di hadapannya ini tak kan pernah bisa ia dekap dalam nyata.

“Can you tell me what are we now?” Tanya Lalak selirih semilir angin pantai yang menyejukkan menyelimuti suasananya. Untuk beberapa detik Cody terperangah. Ia bungkam, bingung untuk menjawab. Detik itu juga, gadis itu bergetar. Ketakutan itu akhirnya datang. Getir ini.. Getir ini adalah getir sama yang ia rasakan saat orangtuanya meninggal dulu. Getir yang amat ia benci.

Ingin rasanya pergi dan lari meninggalkan realita yang sebentar lagi akan terpapar nyata. Namun Lalak tak mau terperangkap lagi. Ia hanya ingin penjelasan dan pengakuan sederhana yang dapat ia jadikan sebagai tonggak untuk melangkah pergi. Ia hembuskan nafas besar, lalu mendongakkan kepala menatap Cody dan berucap.. “Can you tell me what’s the meaning of your words? Can you tell me what’s the meaning of everything that you’ve done to me? Can you tell me what’s the meaning of this?” Ujarnya parau mengangkat genggaman tangan yang Cody tautkan.

Tapi Cody kembali bungkam. Sorot mata tajam yang Lalak hujamkan padanya seolah tak ampuh tuk mengungkap semua alasan lelaki pirang itu. Yang ada malah, kini Lalak sungguh dapat merasa manik samudra itu kosong, hampa, tak di sini, tak memedulikannya.

Lelaki itu sungguh hebat. Setelah sebelumnya membuat hati gadis mungil itu bahagia tak terkira, dalam hitungan detik lelaki itu jua yang menorehkan nila pengrupa bilah perih penghancur hati. Apa yang ia takutkan menjadi nyata. Selama ini hanya dirinyalah yang mengharap lebih. Selama ini hanya dirinyalah yang berfikir bahwa Cody juga memiliki perasaan yang sama. Selama ini dirinya salah mengartikan semua hal yang telah Cody lakukan untuknya.

Gadis itu turut membungkam. Ia tersenyum getir seraya melepas tautan tangannya dengan Cody dan mengalihkan pandangan kembali pada senja memesona yang menurutnya sudah tak indah lagi dibanding sepuluh menit lalu. “Love never goes wrong. But love is selfish. Letting us know how amazing love eventough we know that it definitely be hurt. Love never told us. Love never stops it. Love never warns us. Love never—“ Detik itu juga, Lalak sungguh dapat merasa hatinya nyeri tak terkira. Nafasnya memberat. Tenggorokannya tercekat. Pandangannya memburam dan  satu bulir air mata menetes dari kelopak manik kirinya. Disusul dengan kristal-kristal lain yang terus mengalir menyusuri tulang pipi gadis di samping Cody itu.

Mungkin memang berat untuk seseorang dapat dengan mudah mecintai kembali seseorang yang telah mecintainya terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya. Cinta adalah satu hal yang sangat tidak bisa dipaksa. Cinta ialah tulus danya. Cinta harus datang dari hati. Dan Lalak sadar, cinta tulus untuknya tak bisa datang dari seorang Cody Robert Simpson. Selama ini, ia telah jatuh cinta sendiri. Dan kini.. Kini adalah waktu yang tepat baginya untuk melepaskan semuanya. Untuk mengungkap perasaannya. Demi dirinya sendiri.

Ia seka air matanya. Ia tata putus-putus nafasnya. Ia hirup udara sebanyak-banyaknya. Dan ia siap. “I love you, Cody. Thanks for all the memories you’ve given to me eventough you did not mean to give it.”  Ucapnya serak dengan binar mata penuh ketegaran dan seulas senyum haru yang sontak membuat Cody terkejut bukan main. Buru-buru gadis itu mendekat pada Cody dan memeluknya rapuh. Untuk kesekian kalinya, kristal-kristal perih perasaannya menetes. Gadis itu tak marah dengan kenyataan. Ia hanya terlalu lelah berharap dan terlalu kerap kecewa menerima semua ini.

Sejenak, ia pejamkan mata hanya untuk merasakan detik-detik terakhirnya berada pada dekapan pemuda pirang yang telah mematahkan asanya itu. Merasakan debaran jantungnya, terjalari oleh suhu hangat tubuhnya, menghirup aroma khas armaninya, sungguh gadis itu akan benar-benar merindukan momen-momen ini.

Tanpa menunggu Cody memeluk balik dirinya, pelan-pelan ia renggangkan pelukannya, berbalik dan beranjak pergi. Pergi dengan raut wajah kacau penuh putus asa. Lalak langkahkan kakinya satu langkah ke depan, tepat saat kristal-kristal air mata itu jatuh lagi. Namun, seseorang di belakangnya mendadak meraih dan menggenggam pergelangan tangan kanannnya. Erat dan kuat hingga membuat gadis itu berhenti bergerak.

Dalam hening semilir angin, gadis yang bergeming mendapati perlakuan Codypun mendengar lelaki itu membuka suara.. “Yes, love is selfish. But all that Love knows is just giving chance to us for do our best because Love teaches us the best feeling in this world.”

Beberapa detik berlalu dalam diam. Cody yang masih menautkan tangan pada gadis yang membelakanginyapun kian mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan itu. Memberi makna tersirat agar gadis itu tak pergi. Namun gadis itu seolah tak menangkap pesan dalam genggaman tangan itu. Ia mulai memberontak. Berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Cody yang kian kuat. “Let me go, Co. Just leave me like you used to everyday.” Ucap Lalak parau di sela-sela pemberontakan teguh yang ia lakukan.

Detik itu juga, air muka Cody berubah tak percaya. Apa ia memang selalu meninggalkannya seolah itu adalah kebiasaannya? Apa ia memang selalu mengecewakan Lalak hingga tak sadar bahwa gadis di hadapannya ini  tengah menahan perasaan besar yang kian menyesakkan? Apa ia selalu begitu?

Semua tak perlu ia pertanyakan lagi. Karena jawabannya telah jelas adanya. Gadis itu.. Gadis di hadapannya itu.. terluka olehnya. Terluka amat dalam hingga gadis itu tak mampu lagi untuk menutupinya.

Bagaimana bisa ia menutupinya lagi? Sementara selama ini gadis itu telah mati-matian membunuh setiap perasaan cintanya yang selalu mekar tak terkira. Bagaimana ia bisa membunuh perasaannya sendiri? Sementara selama ini lelaki itu selalu memberi harapan setiap kali datang dan pergi. Bagaimana bisa ia tak menghiraukan harapan manis dari lelaki di sisinya ini? Sementara perasaan tulus tak beralasan miliknya hanya teruntuk Cody seorang. Sementara kasih putihnya selalu memeluk lelaki itu dalam doa. Sementara gadis itu… Telah jatuh cinta padanya.

Tak terelakkan, kristal-kristal kepedihan gadis itu kembali menetes. Berderai amat deras hingga gadis itu kehabisan suara untuk berkata.. Ia sungguh meratapi nasibnya dalam cinta sepihak ini. Ia lelah dan ia tak kuat lagi untuk bertumpu pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba lelaki itu melepas cengkraman tangannya dan merengkuh gadis itu dari belakang dalam satu kilatan cepat. Lalakpun luruh.. Bukannya berusaha tuk menepis rengkuhan Cody, gadis itu seolah lepas dari kontrolnya dan malah mencengkram erat lengan-lengan kekar Cody yang mendekapnya hangat. Ia keluarkan semua rasa kecewanya dalam tangisan tanpa suaranya. Kristal-kristal keperihannyapun turut menderas menyentuh lengan Cody. Menyentuh lengan pemuda yang tengah didera kesalahan berlipat yang kini dapat dengan jelas merasakan getar dan getir pembungkus tubuh Lalak.

“I never meant to leave you, Lak. I’m sorry…” Bisik Cody di telinga Lalak. Bisikan yang malah memperbanyak produksi buah keperihan gadis itu saat ini. “..I’m sorry.” Bisik pemuda itu lagi. Lirih dan lebih lembut dari sebelumnya. “..I’m sorry.” Ucap pemuda di sisi Lalak itu untuk kesekian kalinya. Dan Lalakpun mulai tenang. Tetes air matanya mulai mereda. Entah mengapa mendengar permohonan maaf dari lelaki yang telah melukai hatinya membuat gadis itu mulai bisa mengontrol diri. Tangisan Lalak sedikit hilang, tapi sesenggukan tanpa suaranya masih tinggal. Merobek hati seorang lelaki yang masih mendekapnya karena tersadar bahwa manusia pengecut penggores luka di hati gadis itu adalah dirinya sendiri.

Setelah beberapa saat, akhirnya gadis itu sedikit melonggarkan cengkramannya pada lengan Cody. Kiranya, ia sampai pada titik jenuhnya dalam melemparkan semua kekesalan hatinya. Di luar perkiraan gadis itu, mendadak lelaki di belakangnya melepas rengkuhannya, melangkah maju dan mendekap gadis itu tepat di hadapannya. Memeluknya amat erat seolah menyampaikan makna tersirat agar gadis dalam dekapannya itu mengerti betapa tertamparnya ia dengan semua perlakuan yang baru saja terjadi.

Di samping tak mau jauh berharap lagi, kiranya otak gadis itu telah terlalu lelah untuk mengerti mengapa pemuda yang telah menusuk perih hatinya memeluk tubuhnya erat.  Ia hanya terdiam. Mengkulaikan kepalanya tepat di atas debaran jantung Cody. Menghabiskan sisa-sisa tangisnya dalam dekapan pemuda itu. Menumpukan Cody sebagai titik berdirinya tuk sementara waktu. “Everything that I’ve done just came from my heart. You should know that I only did those stuffs towards you. And I do not know why is always been you.”  Bisik Cody selirih angin senja yang menerpa anakan rambut gadis dalam rengkuhannya.

Diusapnya ubun Lalak seraya mengecupnya pelan. Perlakuan mengejutkan yang tak pelak membuat gadis itu mulai merasa tenang. Hati-hati ia peluk lelaki yang tengah mendekapnya dengan cengkraman bergetar yang kian erat dari detik ke detiknya. Pelan-pelan, Cody berucap lembut.. “I do not love you. I do not feel love anymore. It feel more than that. I love you more than love itself. It’s more than love, Lak..”

Mendadak jantungnya seolah mati rasa mendengar apa yang Cody ucapkan barusan. ‘Tuhan, apa aku tak salah dengar?’ berulang kali pertanyaan itu bergaung dalam benaknya. Refleks ia renggangkan cengkraman dari t-shirt belakang Cody dan menatap manik samudra pemuda itu lurus. Mencoba mencari keyakinan dalam raut wajah pemuda itu. Dan… Dan…

“C’mon, don’t cry anymore. Look, your face really turns into red.” Dan sebulir air mata haru-pun menyusuri lengkuk pipi kanan gadis itu. Lalak sungguh tak percaya. Ia sungguh tak pernah menyangka akan mendapati raut tulus penuh ketegasan dalam wajah pemuda yang sekarang tengah menyeka setetes air matanya itu. Ia kehabisan kata. Ia terlampau bahagia. “I’m here. I will never leave you. Don’t make me feel such like the biggest loser in this world again, Lak..” Gombal Cody yang mengundang kekehan kecil dan pukulan pelan dari gadis di hadapannya.

Gadis ikal itupun tersenyum. Perasaannya membuncah. Bahagia itu akhirnya tiba. Demi Tuhan, tak pernah sedetikpun pemikiran bahwa Cody akan membalas perasaannya terlintas dalam benaknya. Tak pernah.

Lelaki pirang itu turut tersenyum bahagia. Mendapati senyum menghiasi wajah asia milik gadis yang didambanya saja sukses membuat dirinya ikut merasakan kebahagiaan itu. Hingga kini ia masih merutuki diri. Mengapa tak sedari dulu saja dirinya mengaku jujur akan perasaannya?

Perlahan, lelaki itu menyingkirkan anakan rambut Lalak lalu menyelipkannya di telinga. Kemudian menangkup pipi kirinya, mendongakkanya dan mengusapnya hangat. Ia tatap dalam-dalam manik gadis yang tengah menyorotnya penuh di hadapannya. Gadis yang telah ia renggut kebahagiaannya. Gadis yang menyadarkannya akan banyak hal. Gadis ceria pembangkit semangatnya. Gadis mungil yang akan selalu ia lindungi. Gadis.. Yang ia cintai.

“I promise to be the one who deserves to get you. I swear. May I kiss you?” Tanyanya hati-hati dengan tatapan yang seolah tak mau beralih dari kedua bola mata gadis di hadapannya. Lalak kembali mengulum senyum. Wajahnya masih memerah selaras dengan warna hatinya kini.

Ia tak pernah tahu bahwa Cody ingin mengecupnya. Iapun tak pernah tahu, lelaki sepertinya memperlakukan gadis sedemikian manis dan sopannya. Sejenak, gadis itu berfikir.. Kemudian menjawab.. “If you really sure you won’t regret cause you have me,” dengan tatapan yang masih menyelam dalam samudra biru lelaki di hadapannya.

“How can I regret to have someone I love for the entire of my life? You are my destiny.” Kalimat lelaki itupun berakhir seiring dengan memejamnya manik-manik kedua insan itu. Pelan-pelan Cody gerakkan wajahnya dengan menundukkan kepalanya mendekat pada Lalak. Ia beri dorongan lembut pada kelima jemarinya yang masih menangkup pipi kiri Lalak hangat. Sesaat, ia bisa merasakan basah hidung Lalak jejak dari menangis tadi. Sejenak, ia kerjapkan kelopak matanya sedikit tuk mengetahui raut wajah apa yang akan gadis itu perlihatkan. Dan betapa terkejutnya ia mendapati bahwa kini gadis itupun tengah mengerjapkan kelopak matanya sedikit menatapnya. Lalu mereka menyunggingkan senyum tipis bersamaan seiring dengan memejamnya kedua-lopak mata masing-masing.

“But, I’m still feeling that I do no deserving be the one for you.” Bisik Lalak cepat dengan satu kecupan manis yang mendarat di pipi Cody. Seketika, mata Cody yang masih terpejam membuka. Mendapati gadis yang baru saja berada di hadapan wajahnya tak ada. Wajahnya kontan memerah. Sial, ia tertipu. Sekejap, lelaki itu sungguh merutuki sikap terburu-burunya ini.

Buru-buru ia balikkan badan mencari dimana gadis yang mengecup pipinya tadi. Detik itu juga, tersungging senyum bahagia pada raut wajah lelaki itu. Mendapati seorang yang ia cintai berlari menghindarinya dengan segenggam prinsip yang masih ia pegang teguh.

Dan Codypun kembali jatuh hati pada gadis nusantara itu.

Sejenak, ia sungguh dapat merasakan hatinya menghangat. Pilihannya sungguh tepat. Gadis itu.. Gadis yang berlari bahagia itu.. adalah sosok tepat penyempurna jiwanya kelak di masa depan.

“Catch me if you can, Cody Robert Simpson!” Teriak Lalak seraya kembali berlari menyusuri bibir pantai tuk mengantisipasi pembalasan Cody dari perlakuannya tadi.

Secepat kilat, lelaki itu mengejar Lalak dengan sebuncah letupan perasaan bahagia yang tak dapat ia tutupi. Ia pacu tenaganya sekuat mungkin tuk meraih posisi gadis itu berlari.

“Cody!!” Teriak Lalak mendapati pinggulnya terengkuh seraya di angkat pelan oleh lelaki yang baru saja ia kecup pipinya.

“Don’t blame me if I always be the one who catches everytime you fall.” Bisik Cody tepat saat ia menggelitik tubuh gadis setelah ia mengangkatnya. Dan gadis itupun tertawa lepas. Mengetahui semua gambaran buruk yang ia bayangkan sebelumnya terganti oleh kenyataan indah akan terbalasnya cinta sepihaknya. Mendadak, pantai sepi itu berubah ramai. Canda-tawa kedua insan itu mengisi kekosongan yang sedari tadi menyelimuti.

Di hadapan matahari terbenam dengan elok pancar sinarnya, di atas pasir putih bibir pantai dengan ombak kecil yang malu-malu mampir menyelimuti kaki, di antara semilir angin senja bulan November yang menari-nari meniupkan kekecewaan manusia hari ini.. Terdapat dua insan pemuda-pemudi yang baru saja menyadari perasaan masing-masing. Dua insan pemuda-pemudi yang baru merajut kejelasan cinta mereka. Dua insan pemuda-pemudi yang menghabiskan waktu sore mereka di pantai selatan San Fransisco. Dua insan pemuda-pemudi yang bersama sadar akan kekuatan cinta yang mereka miliki.

Gadis itupun percaya.. Kekuatan dari tulusnya cinta itu selalu ada mengitari kita selagi kita masih mau tuk percaya.

“Love.. A words that never have an ending for every single man in this entire world. Undescriptable.”

~END OF THIS CHAPTER~

Advertisements

14 thoughts on “Cody Love Story – It’s More Than Love (15)

    1. wuaa nungguin? terima kasih yaa sudah mau ngikutin ff abal pertamaku ini{} lanjutannya? masih belum tahu. tapi pasti bakal di re-write kok 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s