A Niall Horan Love Story – Tiada [Ramai Sequel] (2)

– nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii

– Main cast : Niall Horan, You as Rasya

– Title : A Niall Horan Love Story – Tiada (Ramai Sequel)

– Rating : T

– Genre : Romance, sad

– Disclaimer : hai.__. lama saya menghilang. ini saya ikutin ke hajatan pertamanya Kak Sulung dan kalian bisa baca sequel pertamanya di sini. di sequel ini ada hubungannya diit sih, tapi kalo kalian baca ini bakal nyambung kok. saya nggak sempat ngatur cover, dan lain halnya deh. astaghfir. bikin ini cuma satu kekuatannya ! the power of kepepet ! maaf kalo jelek T.T

HAPPY READING!

—–000—-

 

“Hi..” Seseorang menyapaku ringan. Ringan.. Seperti yang biasa lelaki pirang itu lakukan. Apa? Sebentar..

“N-” Saat kutengadahkan kepala menatapnya pun aku tak kuasa menyebut namanya. Di sisi kananku kini berdiri seorang lelaki pirang bermata bening mengenakan pakaian hangat dilapisi sweater.. Sweater krem yang dulu kuhadiahkan padanya. Ia.. nampak buruk. Sepasang bola mata biru beningnya pancarkan sendu. Raut wajahnya terlihat lelah dengan sedikit peluh di dahinya. Terakhir kuingat sekujur tangan kanannya dibebat penuh dengan perban namun sekarang hanya lengannya yang digips dan dibalut. Syukurlah, setidaknya ia jauh lebih baik dari yang dulu.

Tapi dengan melihatnya saja, buah terproduksinya kekecewaanku meningkat. Yang kutatap kini ialah seorang yang kucacati dan paling berarti dalam hidupku. Astaga, apa yang pantas didapatkan oleh seorang ‘penganiaya’ dari yang telah ia aniaya? Tuhan, aku sungguh berdosa..

“..So you already-”

“This should be over, Niall. I’m s-sorry.” Potongku parau seraya mengalihkan pandangan darinya. Buru-buru kubersihkan semua benda-bendaku yang terletak rapi berjejer di atas bangku. Seraya menghapus jejak air mata dan menahannya mati-matian agar tak ada yang jatuh lagi. Aku haru kuat. Ini harus berakhir. Ya, benar. Ini semua harus berakhir karena aku tak mau menyakitinya lagi dan..

“No.” Jawabannya seolah kian melemaskan urat-uratku. Astaga, sungguh.. Akupun berfikir seperti itu. Tapi.. Ini terlalu rumit. Aku melihatnya sekilas, lalu kembali menyibukkan diri dengan membereskan sisa benda di sampingku seraya berkata…

“It should be. I’m amnesia. And I didn’t remember even one single moment of ours. And will never be. It would be very useless. We should start our own life. You should live your life without me. Just..” Aku memutus akhir kalimatku tepat saat kutarik risleting tasku. Kini suaraku benar-benar mencerminkan seorang yang tengah sesenggukan menangis. Oh, Rasya.. Kau sungguh memalukan. Kemudian aku berdiri tegak menghadapnya dan dengan penuh kesungguhan aku berkata.. “Just… forget me.”

Sebuah kalimat dari bibirku yang menghujam jantungku dalam. Sebuah kata yang sampai sekarang masih sukar tuk kujalani. Sangat bertolak belakang saat pertama kali perasaan ini tumbuh. Sampai sekarang aku tak pernah menyangka perasaan ini dapat tumbuh sedemikian mudahnya bahkan tanpa kupinta sekalipun. Namun kini aku lebih tak menyangka lagi bahwa untuk menghapuskan kasih alami ini bukanlah sebuah persoalan mudah.. Karena nyatanya aku masih menginginkannya.

“How if I can’t?” Tolaknya dengan menatap lurus kedua manik hitamku.

“You should try and start it now.” Bantahku parau tanpa memandang manik beningnya. Ya Tuhan, jangan biarkan aku jatuh pada kedua bola mata indah itu.. Jangan..

Kemudian ia maju mendekatiku dengan hanya menyisakan satu langkah di antara kami lalu bertanya.. “Tell me.. How can I forget someone who gave me so much to remember?” Tepat saat ia menyelesaikan kalimatnya kuangkat wajah tertundukku menatapnya. Kini kutangkap segurat kerinduan yang tersurat jelas dalam raut wajah kecewanya. Bahkan hatiku seolah kian sedih mengetahui hilangnya binar kebahagiaan yang selalu terpancar kuat pada kedua bola matanya. Oh Nialler, andai kau tahu apa isi hatiku sebenarnya..

Tidak. Aku harus mulai menghetikan semua ini. Hubunganku dengan Niall harus berakhir hari ini. Kuharus menutup semua jalinan kasih ini demi terciptanya kedamaian di semua pihak. Harus. Kumulai membuka mulut tuk berkata, tapi belum satu kata utuh kuucapkaan, lelaki pirang dihadapanku berkata tegas..

”Not. I’m not running here just to give this passport and saying goodbye which means I can live without you then letting who owns my heart goes.” Jelasnya memotong kalimatku sembari memegang erat buku notes kecil bercover hijau lumut di tangan kirinya. Kemudian dengan sorot manik yang seolah tak kan terlepas dari kedua bola mataku ia melanjutkan.. “I can. I can live without you, but.. I just don’t want to.”

Lagi. Mengapa ia selalu meluncurkan kata-kata manis di saat seperti ini? Kata-kata yang selalu berhasil buat hatiku meleleh lantaran terkesimanya diriku dengan karismanya. Ya Tuhan, bantu aku menahan semua ini. Bantu aku mempertahankan pendirianku. Bantu aku.. “Can you give me my passport?” Tanyaku bersikap normal setelah beberapa saat kualihkan pandangan dari kedua bola matanya yang masih menyorotku dalam kebisuan kami.

Tepat saat kuucapkan rangkaian kata itu, lelaki pirang di hadapanku maju selangkah setelah menghembuskan nafas besar seolah beban berat tengah menderanya. Ia kunci seluruh perhatianku pada manik bening teduhnya serta sentuhan tangan kirinya yang menggamit jemari kananku erat. Sekejap dapat kurasa kehangatan nyaman menjalar dari jemariku. Kehangatan yang seolah mengusir semilir angin dingin Desember di sekitarku. De javu. Apa aku pernah merasakan ini sebelumnya? Jelasnya, aku benar-benar rindu kehangatan ini.

“Listen, please. I’m sorry. Is it too late? I-.. You are the one. You’re rare and I’m just still wondering why I can love you. But I love this feeling. I love that mistake. Loving you is the most beautiful mistakes I’ve ever had. Nobody else in my mind, but you. Yes, you’re truly the only one, Rasya. And I don’t.. I don’t care what have you done towards me. I don’t even care of how, who, what and why you are be like now. I just see you as someone who really mean in my life. I see you as Rasya. The only one Rasya I ever had… What thing are we waiting again?” Jelasya penuh kesungguhan dalam setiap kata demi kata yang diucapnya.

Aku membisu. Aku kehabisan kata. Aku sungguh bahagia mendengar segala alasannya menahanku tuk pergi. Niall, lagi-lagi kau sukses membungkamku dengan kata-kata manismu. Beruntungnya dulu kupernah memilikimu seutuhnya. Seketika kegamangan menghampiriku. Mendadak aku bingung memilih pilihan yang bagiku punya kesamaan tingkat kelebihan dan kekurangan. Dimana aku harus pulang ke Indonesia, meneruskan study dengan harapan dapat melupakannya atau aku tetap di sini.. Tetap mecintanya dengan segala bayang-bayang masa lalu dan halangan yang selalu menghampiri?

‘Emirates International airplanes destinate to New Delhi will take off at 09.45 a.m. passenger enter the 1st boarding room soon, please.’

“I’m waiting for it..” Ucapku ragu sesaat setelah pemberitahuan pesawatku diumumkan. Astaga, sudah berapa kebohongan yang kulakukan hari ini, Tuhan? “Can you give me my passport?” Pintaku lagi membuang muka darinya. Oh Niall, aku sungguh harus mengakhiri ini semua sekarang.

Tepat saat kutanya lagi passportku, sungguh dapat kurasa kehangatan itu lenyap bersamaan dengan meregangnya buku-buku jarinya.  Aku menunduk. Tak kuasa kutatap cakrawala langit dalam bola mata indahnya itu. Aku tak mau jatuh lagi. Aku tak mau…

“Rasya, love never goes wrong.” Ujarnya lirih seraya mengulur buku passportku di tangan kirinya. Ah, mengapa ia berkata hal itu lagi? Kumohon kuatkan pendirianku meninggalkan tanah Britain ini, Tuhan. Kumohon.

Dengan tangan bergetar, kusentuh notes kecil merah yang masih digenggamnya. Sungguh, aku merasa detik-detikku seolah berjalan lambat saat ini. Siapapun, tolong bantuk aku terlenyapkan dari sini sekarang juga… “Bye, Niall.”

Buru-buru kutarik koperku dan berlalu meninggalkannya. Astaga, aku baru menyadari bahwa sedari tadi kelima kemari kiriku meremas tali tas terlampau kuat hingga memproduksi peluh cukup banyak di telapakku. Apa aku gugup? Benar, dapat kurasakan desiran jantungku yang tak karuan pada setiap kalimat yang meluncur dari mulut lelaki pirang yang kini telah kupunggungi.

“..Rasya.” Ia memanggil namaku-lagi. Dengan kekecewaan yang kian terasa dalam ritme suaranya. Sial, aku berani bersumpah bahwa sekarang langkahku seakan memberat dengan terciptanya jarak yang terus menjauh antara aku dengannya. Oh, Rasya.. Kau sudah membulatkan tekadmu, bukan?

“Rasya!” Teriaknya lagi menghentikan langkahku. Tidak.. Apa yang kulakukan sekarang? Ohya.. Kiranya kini semua mata tertuju padaku meskipun sepasang bola mata dari beragam wajah multi-ras itu terang-terangan memperhatikanku. Ayo, Rasya. Jangan pedulikan mereka. Lanjutkan jalanmu.

Kutarik nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan langkah. Demi Tuhan, langkahku seolah menahan beban yang jauh lebih beart dari sebelumnya. Tepat saat kumulai berjalan lagi, kenangan-kenanganku bersamanya muncul kembali.. Telah kucoba menepiskannya mati-matian, namun nihil. Bingkai demi bingkai momen yang kunikmati bersamanya bagai putaran film manis yang kini penuhi fikiranku.

Saat kujatuh di antara keramaian Jalan Oxford.. Saat pertama kubuka mata mendapati dirinya tengah merawatku di ruangan hangatnya.. Saat sarapan bacon panggang, telur mata sapi, jamur, sosis dan kudapan lain dengan penuh kehangatan bersama nenek beserta dirinya. Saat ia mengantarkanku mengelilingi pusat perbelanjaan Jalan Oxford.. Saat ia tiba-tiba menghadiahkanku blazer dan jam tangan.. Saat ia menyanyikan Lego House di kapal ferry.. Saat ia menghangatkanku dari semilir angin musim gugur dengan pelukan pertamanya.. Saat  ia menyatakan perasaannya di depan London’s eyes.. Saat festival kembang api empat November itu.. Saat aku meninggalkannya hingga menyebabkan tragedi buruk itu terjadi.. Saat di rumah sakit, pencaci-makian itu, dan pada akhirnya.. Hari ini. Hari dimana aku akan meninggalkan Kota London dengan kegamangan yang masih menggelayut di hati. Hari dimana kutemukan surat paling romantis yang tertuju untukku. Hari dimana aku mengetahui semua pemikiran Niall yang tersembunyi.. Hari dimana ia mati-matian menahanku dengan semua keyakinannya..

Hari dimana tak ada lagi kebohongan di antara kami.

“So, Mrs. Ningrum? Have you got your-”

Aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku tak bisa berpura-pura. Aku tak bisa bersandiwara. Aku masih mencintainya. Aku masih menginginkannya. Aku tak mau meninggalkannya. Aku hanya ingin dia! Dirinya seorang!

Tak peduli mempedulikan sekitarku, kuberlari meninggalkan petugas bandara dengan meninggalkan barang-barangku lalu bergegas menerobos antrian dan menyapukan pandangan ke sisi luar bandara. Berharap menemukan sesosok lelaki pirang yang paling penting di hidupku. Itu dia! Dengan sweater krem dan gips di tangan kanannya, kudapat dengan mudah menemukan seorang yang kini sungguh kunanti keberadaannya di tengah keramaian pagi Bandara Stasted London.

Tanpa buang waktu, kupacu tenagaku dengan berlari kencang meraih posturnya yang melangkah mendekat jalan kendaraan umum. Di sini kudapat melihat tangan kirinya melakukan sesuatu dengan wajahnya. Apa ia menangis? Apa ia menyeka air matanya? Ya Tuhan, seberarti itukah diriku dalam hidupnya hingga ia bisa menangis karenaku? Oh, Niall.. Aku sungguh mecintaimu.

“Niall!” kuteriakkan namanya saat berada di bibir jalan sekeras mungkin hingga akhirnya sesosok tubuh yang kini capai pertengahan jalan umum itu menoleh. Kupercepat langkahku berlari ke arahnya seraya berteriak lagi.. “I love you!” Dan iapun tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya, bersamaan dengan memancarnya binar bahagia dalam kedua bola matanya. Di bawah puing-puing salju yang masih turun ragu dari langit, kulihat ekspresi terindah dari seorang yang sangat kuinginkan dalam hidup. Niall, apa kau seorang malaikat? Karena kini kau sungguh nampak sempurna di mataku.

Lalu aku pun memeluknya erat. Teramat erat hingga ia refleks mundur ke belakang karena terlampau kuatnya tenagaku berlari. Jujur, aku tak kuasa menahan segala kerinduanku padanya. Astaga, aku sungguh-sunggug merindunya.

“All I ever did was loving you, Rasya” Bisiknya lirih di telingaku. Kutengedahkan kepala melihatnya dan kembali mendapatkan sesungging senyum termanis yang pernah kulihat darinya. Tuhan, aku benar-benar bahagia. Hidupku melengkap sekarang. Kini ia milikku seorang.

TINTINTIN

“Watch out, you both, kids!”

BRAKBRAKBRAK

Hey, lelaki pirang. Kali ini kau benar. Tidak, mungkin kau selalu benar. Cinta tak pernah salah. Tak akan pernah. Love never goes wrong. Tak ada yang salah dalam mecintai seseorang. Itu adalah sebuah anugrah yang patut disyukuri karena cinta buat kita lebih berarti. Mecintaimu adalah candu. Mecintaimu adalah kelebihanku. Mecintaimu adalah kekuatanku. Mencintaimu adalah satu hal paling indah yang pernah kurasa selama ini.

Karena cinta.. Kita ada.

Karena cinta pula.. Kita tiada.

Advertisements

9 thoughts on “A Niall Horan Love Story – Tiada [Ramai Sequel] (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s