A Niall Horan Love Story – Tiada [Ramai Sequel] (1)

– nama author : Ruri Alifia Ramadhani –> @rurimadanii

– Main cast : Niall Horan, You as Rasya

– Title : A Niall Horan Love Story – Tiada (Ramai Sequel)

– Length : 2 shoots

– Rating : T

– Genre : Romance, sad

– Disclaimer : hai.__. lama saya menghilang. ini saya ikutin ke hajatan pertamanya Kak Sulung dan kalian bisa baca sequel pertamanya di sini. di sequel ini ada hubungannya diit sih, tapi kalo kalian baca ini bakal nyambung kok. saya nggak sempat ngatur cover, dan lain halnya deh. astaghfir. bikin ini cuma satu kekuatannya ! the power of kepepet ! maaf kalo jelek T.T

HAPPY READING!

—–000—-

‘You’re guilty! You’re cruel! You’re not human! You.. How can you do that to him? How if it was you who got that? How if…’

“We arrived, madam.”

Ucapan supir blackcab sontak mengejutkanku. Mendadak kukerjapkan mata yang sebelumnya terpejam memikirkan lamunan buruk yang berkecamuk seru dalam benakku. Oh, aku telah sampai?

Kulirik tanganku sekilas. Jam tangan Chanel dengan ukiran kayu pada tali jingga tuanya melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Kini, kudapati jarum jarum panjangnya berhimpitan tepat dengan jarum pendek yang mengarah ke angka sembilan. Tak terasa satu jam lagi aku akan lepas landas dari tanah Britain ini.

“That will be 15 pounds 20, madam.” Ucap supir itu lagi tepat saat kucari dompetku tuk mencari uang sebagai timbal jasanya. Selang beberapa detik, kusambut uluran tangannya dengan menyodorkan selembar uang dua puluh pondsterling.

“Take all all the rest back sir.”  Potongku cepat sebelum ia memberiku kembalian dari sisa pelayanannya yang mengantarku kemari. Berbeda dengan dulu saat pertama kali naik blackcab, kini aku sungguh tak peduli dengan berapa nominal yang tertera pada alat pengukur pembayaran yang terpampang di tengah dasbor taksi. Biarkan aku berbuat baik di hari terakhirku di sini.

Satu helaan nafas besar menjadi awalanku sebelum membuka pintu taksi. Dengan lemas, kutarik koper coklat yang terletak di sebelahku saat duduk tadi. Ayolah Rasya.. Tersenyumlah! Kau harus kuat!

“Thanks madam.” Teriak supir blackcab sesaat setelah kututup pintu taksi. Ia tersenyum lebar. Aku hanya menyunggingkan sesimpul cekungan tipis menanggapinya.

Gugur berganti dingin. Suhu kian rendah dengan butir-butir salju yang masih melayang ragu dari lembayung awan sirus. Kini Desember capai pertengahan bulannya. Kurang lebih satu minggu sebelum hari natal tiba. Tak perlu dikomando pemimpinpun seluruh penduduk kota turut bersiap menyambut hari besar umat kristiani tersebut. Mereka berbondong semangat dengan berusaha memeriahkan sesuatu milik masing-masing. Ya, semangat natal.

Itu semua nampak jelas saat aku masih duduk merenung di dalam blackcab yang tengah melaju. Jalanan kotaLondon nampak manis dengan berbagai dekorasi natal yang bervariasi. Sebagian kecil dari tujuh setengah juta pemukim di ibu kota Negara bagian England inipun nampak bahagia dengan berjalan santai di sisi trotoar. Seolah mereka tengah menunggu berkah yang luarbiasa besarnya. Realita yang sangat bertolak-belakang dengan kondisiku sekarang.

Di berbagai bangunan besar Kota London turut bergembira menyongsong datangnya hari kelahiran Yesus itu. Tak terkecuali Bandara Stasted London ini. Dari tempatku berdiri, kudapat melihat banyak petugas berseragam biru tengah menancapkan pohon cemara setinggi tubuhku ke pot hitam kecil di sekitar pintu-pintu bandara. Cemara dengan daun hijau jarum berbuku-buku yang meregang pada setiap ranting daunnya. Tak jauh dari tempat petugas-petugas itu berdiri, terletak kerdus berukuran sedang yang terbuka dengan juntaian pita emas keluar. Sepertinya itu tak hanya berisi pita, namun juga berbagai atribut natal lainnya.

Meskipun pekerjaannya terlihat sedikit susah, kudapat menangkap binar kebagiaan dalam raut wajah mereka. Benar, semua kemanisan yang kulihat pagi ini seolah mengejekku yang kini tengah dirundung keburukan suasana hati.

Bandara Stasted London. Sampai blackcabku berlalu-pun aku masih mematung berdiri di sini selama beberapa detik. Memikirkan sesuatu.. Sesuatu yang masih berat tuk kutinggalkan. Aku iri. Harusnya ku juga dapat merasakan segala kebahagiaan yang terpapar di hadapanku sekarang. Oh, Rasya.. Berhenti memikirkan itu. Ayo temui takdirmu sekarang.

Dengan langkah gontai kumulai berjalan menuju departure gate Bandara Stasted London. Suasana pagi ini ramai. Sekelompok remaja dengan pemandu perjalanan mereka, pramugari dan pilot yang berjalan terburu-buru,  keluarga kecil dengan troly yang mereka dorong, keluarga besar dengan berbagai kehangatan yang mereka bagi, dan orang-orang yang melangkah sendiri dengan koper di tangan kanan dan telefon genggam di tangan kiri. Kabar baik bagiku karena keramaian pagi ini masih dalam tingkat normal hingga aku masih sanggup tuk menghindar dari sesuatu yang selalu menghantuiku itu.

Langkah demi langkah, kulihat seorang yang sama melalui pantulan dinding kaca dari bangunan besar minimalis ini. Seorang dengan mimik muka paling berbeda di antara orang-orang di sekitarnya. Gelagatnya lemas, bibirnya datar, sorot maniknya kosong dan..

“Sorry.”

Astaga, keadaanku sungguh buruk. Untung saja seorang yang baru saja menabrak dan berucap maaf kepadaku tadi menyadarkanku dari pemandangan tak baik ini. Buru-buru kumeneruskan langkah dengan melemparkan pandangan ke arah lain.

10°C – 08.47 a.m – Stasted London International Airport

Kubaca lampu digital yang berjalan membentuk deretan huruf di atas tepat di atas pintu keberangkatan. Sepuluh derajat, ya? Pantas saja banyak calon penumpang dengan jaket tipisnya nampak terburu memasuki bandara. Kiranya di dalam lebih hangat ketimbang di sini. Dengan dress putih selututku, jegging hitam ketat sebagai bawahanku, dilapisi blazer coklat muda selutut sukses menghangatkan tubuhku apalagi ditambah bulu-bulu sebagai kerahnya. Sebagai penghias kaki, tadi pagi kulangsung menjatuhkan pilihan pada sepasang boots coklat kayu favoritku yang baru saja kubeli bulan lalu.

Jujur, entah mengapa setiap kali mengenakan blazer ini aku merasa nyaman dan hangat. Apa karena seseorang yang dulu memberikannya padaku merupakan seorang yang berarti bagiku hingga sekarang? Oh, hebat sekali Rasya.. Kau mengingatnya lagi. Ayolah, ini hanya sebuah blazer.

Lalu manikku pun kembali meloncatkan pandangan tak menentu. Kini sorot mata hitamku teralihkan pada seorang anak laki-laki yang berjalan mendahuluiku bersama dengan seorang gadis di sampingnya. Aku mencoba memperhatikannya. Ia seorang pirang dengan tangan kanannya yang digamit gadis belia itu sedangkan jemarinya yang lain memegang erat mobil mainan seraya mengibaskan dan berucap “Bruuuum.. Bruuuum!” Mobilnya.. Mobil mainannya.. Rakitan lego, bukan? Lego..

‘You’re guilty! You’re cruel! You’re not human! You..’

Ya tuhan.. Mengapa teriakan-teriakan itu kembali mendengung memenuhi isi otakku? Mengapa hanya dengan melihat lego itu dapat mengingatkanku pada masa suram itu? Mengapa ia tak terenyahkan juga dari fikiranku? Bukankah aku telah berjanji untuk tak memedulikannya lagi? Apa artinya ini? Apa aku masih belum bisa melepaskannya?

Sebentar.. Apa? Tidak. Aku tak boleh memikirkan hal ini lebih jauh lagi. Cepat-cepat kutepis pemikiran itu dan bergegas menuju pintu keberangkatan dengan melalui gerbang pemeriksa keamanan dan seorang petugas bandara yang mengecek dokumen-dokumenku.

“Madam?” Tanya pria berseragam biru di hadapanku tegas. Fikiranku kosong kembali. Lagi-lagi seseorang menyadarkan diriku dari lamunan tak menentuku itu. Sebentar, apa yang dia tanyakan tadi?

“Pardon?”

“Could I take a look of your passport?” Pintanya tegas dengan sepasang bola mata yang berubah status dari tegas menjadi mawas.

“Pasport? I put it with other documents, sir.” Sanggahku dengan balik menatap yakin dirinya. Aku memang yakin telah meletakkan pasportku bersamaan dengan dokumen penting lainnya.

“But, there is no passport here.” Bantahnya seraya menggelengkan kepala dan menyerahkan kembali tumpukan buku tipis seukuran notes kecil padaku. Apa ia tak salah lihat? Pasportku pasti tergabung di sana. Buru-buru kubuka dokumenku satu-persatu. KTP Indonesia, visa pelajar, tiket pesawat dan beberapa kertas penting lainnya hingga ke carik terakhir. Hey, dimana passporku?

“What? I’m sure I put it here.” Ujarku yakin padanya. Aku kembali mengulang pencarianku mulai dari carik pertama. Membolak-balik semua kertas hingga helaian terakhir. Tapi nihil, tidak ada buku tipis seukuran notes lumut yang bertuliskan ‘PASSPOR’ di sana.  Apa ini? Mengapa ini mendadak terjadi? Aku mulai panik. Namun aku mencoba bersikap tenang. Dengan gerakan cepat kucari telefon genggamku dan mulai mengobrak-abrik isi tasku.

“You can back if you show me a passport. Let the other come in, please..” Rangkaian kalimat perintah dari pria berpakaian rapi di hadapanku seolah menyadarkanku kembali dimana aku berpijak. Sontak kutolehkan kepala dan mendapati banyak orang mengantri di balik punggungku. Astaga..

“Sorry.” Ujarku menyunggingkan senyum menahan malu. Koper kutarik lalu aku bergegas mencari tempat duduk sembari menunggu sahutan telepon dari seorang yang menurutku tahu dimana letak passporku. Semoga saja ia tahu. Tidak, ia harus tahu. Harus. Karena kalau tidak, aku bisa.. Astaga, aku benar-benar panik sekarang. Bagaimana kalau passporku betul-betul hilang karena jatuh di jalan lalu dipungut seseorang kemudian ia menggunakan identitasku tuk menyamar dan menjadi orang jahat? C’mon, it’s London, everybody! There is no impossible thing here!

“Rasya? Have you arrived-” Akhirnya selang setengah menit, suara ceria Tania mengakhiri tuts sambungan yang sebelumnya seakan berjalan lambat setiap detiknya. Ini tak biasa. Tak biasa Tania mengangakt telefonnya secepat ini. Syukurlah. Namun kelegaan masih belum mengunjungi seluk hatiku.

“Tania! Do you know my passport? Oh crap.. How can I go home if there’s no passport? I can be deporting! I can’t home! I can’t-”

“Rasya! Stop talking! Cooling your brain first.. Cooling it.. Calm down..” Potong Tania setengah berteriak menghentikan kepanikanku. Seketika aku terdiam. Buru-buru kuatur nafas seraya mengikuti semua tuturnya

“Okay.. Okay. I’m calm now..” Ucapku sesaat setelah beberapa detik terdiam menenangkan diri. Tenang? Ya Tuhan, fikiranku malah masih kemana-mana memikirkan hal ini. Aku belum tenang. Belum sampai passpor itu kutemukan.

Kuubah setting telefon menjadi loudspeaker, kuletakkan IPhone tepat di sisi kosong sebelahku kemudian Tania kembali berkicau.. “Great.. Now, try to take a look at your bag.. And put all of your things on benches you’re sitting now.” Perintahnya tegas

Aku mengikuti semua perintahnya dengan urut. Kuambil benda-benda yang ada di tas lalu meletakkannya berjejer rapi di sisi bangku. “Ehem. Okay, I found parfume, comb, tissue, wallet, glasess, candy and…” Sebentar, apa ini?

“And..?” Seketika uratku melemas, bola mataku membesar seiring dengan kian bergetarnya tanganku mendapati.. “..Rasya, you already found it?” Mendapati secarik amplop krem kecil bertuliskan..

‘Teruntuk : Rasya. Gadis impian yang telah kucari selama ini.’

Ini dari siapa? Entah mengapa membaca rangkaian kata yang diseni apik di bagian depan amplop membuat benakku terisi penuh oleh seorang lelaki pirang itu. Lelaki pirang bermata biru bening yang masih mengiangi fikiranku sampai kini. Lelaki pirang dari Irladia yang kutinggalkan dengan segala kegamangan yang ada.. “..Rasya?”

Tawanya.. Senyumnya.. Candanya.. Suaranya.. Berbagai ekspresinya silih berganti menggelayuti ingatanku dengan segala rasa kerinduan dan kekecewaan yang kian dapat kurasa. Ya Tuhan.. Aku tak dapat mengelak bahwa.. Aku masih menginginkannya.

Hati-hati, kubuka sisi amplop dengan perasaan campur aduk yang belum bisa keterjemahkan maknanya. Aku sangat berharap surat ini mengebarkan sesuatu yang penting. Aku sangat berharap surat ini dapat mengembalikan situasi menjadi sedia kala. Astaga.. Dapat kurasakan jantungku berdetak tak karuan seiring dengan kian dekatnya aku pada isi dari surat ini.

Mulutku mengaga tak percaya, syaraf-syarafku kian melemas dari sebelumnya, nyeri di hatiku semakin dapat kurasa. Tepat saat lipatan kertas berwarna putih kubuka, aku sungguh dapat merasakan sayatan tajam di berbagai sisi hati yang kian buatku perih tuk membaca kata demi katanya.

Dear Rasya.

Hai. Jadi kau berhasil menemukan surat ini? Ya, surat ini kutulis sendiri dengan menghabiskan setumpuk kertas yang lain. Ini jadi kertas ke-20 ku, mungkin. Tapi kuberharap ini kertas terakhir. Kertas terakhir yang kutulis untukmu tapi menjadi kertas pertama yang kaubaca dariku.

Menulis dalam bahasa Indonesia, sedikit membuatku aneh Rasya. Maaf jika ada kata yang salah dan kata-kata yang sama yang kuulang di surat ini. Aku masih belajar. Dan ya, aku menulis ini sehari sebelum kita pergi ke London’s eye untuk melihat festival kembang api. Dan aku berharap kau menikmati setiap detiknya saat kita bersama di destival itu. Kau penyuka kembang api, bukan?

Kau tahu? Aku menebak kini kau tengah kesulitan mencari sesuatu dari dalam tasmu. Mungkin memang iya karena jika kau tak sedang memuntahkan seluruh isi tasmu, kau tak akan menemukan surat ini. Jadi langsung saja..

Jadi tolong maafkan aku. Maaf. Maaf. Maaf.

Aku tahu kau menderita amnesia saat pertama kali menolongmu di tengah kepadatan jalan Oxford. Aku tahu kau seorang yang phobia ramai dan akan menjadi makhluk paling rapuh sedunia saat sesuatu itu mendera. Aku tahu lego house merupakan lagu favoritmu sepanjang waktu. Aku tahu kau sangat ingin menikmati pemandangan kotaLondon dari Ferry yang berlayar di jalur sungai Thames. Aku tahu kau penyuka warna-warna lembut. Aku tahu kau seorang murid pintar dari Indonesia yang kini tengah menamatkan semester terakhir di Universitas Cambridge… Dan banyak hal lain yang kuketahui tentangmu.

Yang paling penting dari semua ini, ialah..

Aku tahu kau Rasya bahkan sebelum kau tahu bahwa aku mengetahuinya.

Pasti kau terheran-heran mengapa bisa begini. Dan tentunya kau pasti merasa kecewa karena kubohongi. Tapi bagaimana apabila kita memang bertemu sebelum keramaian Jalan Oxford mempertemukan kita? Bagaimana apabila kita sudah saling mengenal sebelumnya? Bagaimana apabila aku sempat terlibat di masa lalumu? Bagaimana.. Apabila akulah orang yang menyebabkanmu menjadi penderita amnesia?

Maaf. Maaf. Maaf. Sekali lagi aku meminta maaf. Aku tahu semua ini sangatlah rumit bagimu. Tapi aku tak bermaksud menyakiti ataupun sengaja melakukan itu padamu. Tak akan pernah.

Aku selalu menyesali keputusanku meninggalkanmu yang dulu masih dalam ICU rumah sakit dengan berbagai pipa mengerikan yang terpaksa menjejali tubuhmu. Aku selalu menyesali keputusanku meninggalkanmu hanya karena takut bertemu keluargamu. Aku selalu menyesali keputusanku mengajakmu makan malam. Aku selalu menyesali mengapa dulu kaitan di tasku dapat mempertemukan kita. Aku menyesali semuanya, Rasya.

Segalanya adalah kesalahanku. Tapi dari semua itu, ada satu kesalahan paling indah yang pernah kulakukan. Satu yang tak akan pernah kusesali. Yaitu mencintaimu. Mencintaimu adalah benar, meskipun aku berada di situasi dan kondisi yang salah karena cinta tak akan pernah salah. Karena cinta adalah suatu anugrah. Karena cinta membuat kita lebih berarti. Karena cinta.. kita ada.

Sampai kapanpun, aku tak akan pernah bisa melupakan perasaan indah itu, Rasya.

Apapun yang terjadi nantinya, aku bersumpah.. Ketika kau baca surat ini, satu hal yang pasti.. Aku tak akan pernah berniat meninggalkanmu lagi.

I don’t want to run again. I don’t want to ruin this chance anymore. I’m gonna getting my first chance back because I know you hate about second chance. I swear. Keep my promise, Rasya. Cause you are my first. My heart. My soul. My only one. And always be.

-Love-

Niall James Horan

Sesaat setelah nama pengirim surat itu kubaca.. Aku benar-benar tak bisa menahan seluruh perasaaan yang bergumul di hati. Perasaan yang mati-matian kulupa sedari tragedi itu. Perasaan yang kini benar-benar mencapai puncak kekecewaanku. Seketika rasa bersalah menyergap hatiku seiring dengan ke-tak-berdayaan diri ini.

Untuk apa aku mengenakan blazer pemberiannya, jam tangan darinya, boots pilihannya jikalau ku-tak mencintainya? Setiap hal tentang dirinya pun masih silih berganti memenuhi ruang hati. Tuhan.. Aku masih menginginkannya. Sangat. Sangat menginginkannya hingga batinku teramat perih mengetahui bahwa letupan perasaanku ini tak akan pernah terbalas-lagi. Aku benci hidup ini. Aku benci tuk melepaskan sesuatu yang bisa kudapat saat dulu aku masih punya kesempatan. Aku benci terlambatnya kesadaran ini.

Genangan tetes keperihanku turun menyusuri lengkuk pipi kiri. Disusul dengan air mata lain yang makin menderas. Ya Tuhan.. Mengapa hidup kian melilitku dengan kerumitan duniawi ini? Mengapa Kau baru memberiku kesempatan mengetahui semua ini sekarang? Mengapa dulu Kau tak melarangku meninggalkannya? Mengapa dulu.. Ah, sial! Aku sungguh tak berdaya. Aku sungguh bodoh. Aku sungguh tak berguna. Aku sungguh menyesal. Aku sungguh..

~END OF THIS CHAPTER~

Advertisements

9 thoughts on “A Niall Horan Love Story – Tiada [Ramai Sequel] (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s