#15HariNgeblogFF2 – 9th – Genggaman Tangan

#15HariNgeblogFF2 - Genggaman Tangan
#15HariNgeblogFF2 – Genggaman Tangan

“Masih kuat?” Tanya masku selepas kami menuruni dua-ratus anak tangga tuk mencapai Air Terjun Tawangmangu. Tak terelakkan, sebagian besar tenagaku terkucur habis bermain siapa-yang-cepat-duluan-sampai dengan menuruni beratus anak tangga di tempat ini. Tapi pemandangan di hadapanku..Astaga, indah sekali. Nafasku yang sebelumnya memburu tiba-tiba melancar melihat pesona alam di hadapanku yang magisnya sanggup mendamaikan hati ini.

Air terjun setinggi delapan puluh meter itu luar biasa. Aku baru pertama kali melihat sumber mata air setinggi ini. Batu-batu besar yang tertata artistik di bagian bawahnya melengkapi keindahan ini. Tumbuh-tumbuhan di sisi-sisi air tersebut nampak segar. Udara di kawasan ini-pun terasa sejuk. Benar-benar tempat yang tepat untukku me-charge-diri kembali.

“Sit? Nggak usah sampe speechless gitu dong, ngomong aja kalau capek. Pake ngeles sambil liat air pula. Pancene!” Ujar abangku setengah berteriak seraya mengacaukan rambutku. Akh, dia merusak momen imaji damaiku barusan. Mengapa ia tak ikut menikmati pemandangan ini saja?

“Aduh, aku nggak capek! Air terjunnya emang bagus! Lihat deh, tinggi banget! Pasti airnya adem di situ..” Sahutku membela diri sambil berjinjit-jinjit menunjuk ke arah sumber air dengan antusiasnya layaknya anak kecil yang mendapat mainan baru.

Wes-wes, ancene arek kutho, lihat gini kayak orang ndeso! Haha.” Ejeknya lalu meninggalkanku yang masih terpaku.

“Biarin! Yang penting nggak gaptek kayak kamu!” Ucapku melawan ejekannya dengan menyejajarkan langkahku serta memukul lengannya dengan tinju andalanku.

“Duh, sakit! Nggak berubah, yo rasane tinjumu. Masih sama kayak dulu.”

“Kangen ya soalnya baru ketemu aku?” Godaku padanya..

“Yaiyalah, adekku satu-satunya. Ayok.” Ajak abangku dengan mengulurkan tangannya tuk membantu menaiki batu-batu yang tertata alami di bawah air terjun. Aku perlu berfikir ulang untuk menyambut telapaknya yang menengadah ke atas itu. Apalah artinya kumenghindar darinya selama setahun ini kalau ternyata hanya dengan bersentuhan tangan dengannya dapat membangkitkan kenangan itu lagi? “Nunggu apa lagi sih.” Protesnya tak sabar tepat saat menarik lenganku mendekat padanya.

DEG!

Apa kubilang? Sekali aku bersntuhan dengannya, degupan jantungku sesaat berhenti lalu dengan cepatnya berubah meliar. Sudahlah, memang sia-sia usahaku untuk mengenyahkan perasaan tulusku pada masku ini.

Masih dengan menarik lenganku-ia tuntun jalanku menuju ke dekat cucuran derasnya air yang tersumber dari atas sana. Kuharap ia tak melakukan hal yang lebih jauh lagi karena aku tak mau ia mendengar buruan detakan jantungku yang tercipta karenanya.

“Gimana Jakarta?” Tanyanya membuka bahan obrolan setelah kami menyamankan tempat duduk. Aneh. Suasana canggung sekejap menghampiri. Entah mengapa akupun ikut kehilangan topik pembicaraan yang tepat untuk diperbincangkan. Hmm, ini selalu terjadi apabila aku merasa gugup karena sesuatu.

Mungkin aku gugup karena akhirnya menghadapi perasaan ini lagi? Ya, mungkin.

“Rame.. Nggak sedamai di sini..” Jawabku sembari menghembuskan nafas besar menghirup kesegaran alami pagi ini. “Kakak sendiri, gimana?”

“Aku..? Aku aja nggak tahu gimana aku. Ya, berasa masih ada sesuatu yang ilang.”

“Hilang?”

“Sesuatu yang hilang, itu kamu, Sita.” Ucapnya lirih menggenggam tanganku hangat.

DEG!

Tepat saat ia mengalihkan pandangannya lurus menatap manikku, lagi-lagi aku bisa merasakan jantungku yang berhenti berdetak sesaat. Kenapa ini bertambah buruk? Perkataannya saja kini dapat membuat jantungku meng-abnormalkan dirinya lebih aktif dari sebelumnya. Apalagi di saat nanti?

Ini sudah sangat jelas. Aku masih menginginkan dirinya. Aku masih menginginkan sesuatu yang seharusnya tak boleh kuinginkan itu.

Selekasnya ia menyelesaikan kalimat itu, yang kulakukan hanyalah menatapnya tanpa berkata apa-apa. Aku mencoba berusaha memberitahunya tanpa harus lewat untaian kata yang kuucap. Jujur, aku masih tak sanggup mengakui kenyataan ini.

Cukup lama kami terdiam. Cukup lama kami bertukar pandang. Cukup lama jemari kami tertaut erat. Cukup lama pula suara arus penghantam sungai kecil menyelimuti seuasana kami. Dengan percikkan air beningnya yang tak sengaja terkena wajah kami.

“Maaf. Nggak seharusnya kita begini.” Potongnya mendadak dengan melepaskan paksa genggaman tangannya dan beranjak pergi meninggalkanku. Membuat sesuatu di hatiku seakan pecah menjadi puing-puing kecil keperihan.

“Tapi gimana kalau ternyata aku juga merasakan sesuatu yang sama kayak kakak?” Teriakku menghentikkan langkahnya.

“Itu artinya kita harus sama-sama membuang rasa yang nggak pernah boleh ada-itu.” Ucapnya tanpa melihatku.

Hebat, seorang yang kudamba sukses membuatku terbang tinggi dan jatuh di saat yang bersamaan. Aku sungguh tak menyangka. Perasaan sakit karena menahan perasaan itu seolah kian bertambah mendapati kenyataan bahwa sesuatu itu harus kutahan selamanya.

Jika ini yang benar-benar kau inginkan, akan kucoba tuk menyanggupinya, Mas.. Kau akan benar-benar kurindukan. Genggaman tanganmu akan kurindukan. Aku akan merindukan segala sesuatu tentangmu. Batinku terisak sendiri-masih-terduduk di sini.

~END~

words count : 700

Utang saya tinggal 2 ! tapi kayanya bakal nambah lagi soalnya baru tahu ada lomba yang bener-bener menarik hati saya buat ikut :mrgreen:

Jadi, gimana menurut kalian yang satu ini? saran dan kritiknya silahkan dicantumkan dalam box komentar lalu kirim pake TIKI ke rumah saya *eh.

Advertisements

28 thoughts on “#15HariNgeblogFF2 – 9th – Genggaman Tangan

  1. Cerpen yang jujur, Cinta bisa terjadi ke siapa saja, bahkan ke soaudara kandung pun. Cerita tabu yang sangat mungkin terjadi di kehidupan nyata. Bagus, bikin kaget juga.
    Semangat!!!
    Ada lomba, maupun tidak, terus nulis… sebisanya. Nanti kalo sudah tiba saatnya, pasti tujuan itu datang sendiri.
    🙂

      1. bukan soalnya hadiahnya…
        tapi soal plot dan karakternya tuuuh…menurut saia bikin geregaataaan…:D

        ** tetep semangaat **

  2. karena gue kenal banget tempat itu gue mau komentar, hehe
    coba deh gambarin diskripsikan tempat itu, biar orang bisa bayangin seindah apa sih tempat itu, entah jalan turun anak tangga yang begitu banyak menyulitkan bahkan takut kepleset karena licinnya bebatuan, di kelilingin besi besi kropos sepanjang jalan yang malah memperindah pemandangan. itu aja sih biar orang kalo ga tau tempatnya tapi masi bisa membayangkan.
    eist maaf ya gue cerewet. ceritanya bagus lho bahkan semua tulisan disini

    1. yah kak, ini jadi spam ternyata. maaf balesnya lama.__.v

      iya kak, bener jugaaak :O berarti harus benerbener detail gitu yah ? oke deh! ceritacerita aku bakal kuperbaikin! terima kasih sarannya kak :mrgreen:
      kalo kakak nggak cerewet, saya nggak maju ntar kak 😀 v

  3. kenapa,, kenapaaa..???
    lebih baik kau dorong saja aku dari atas air terjun tawangmangu daripada kau jatuhkan aku seperti ini. hehee

    bagus lho, ri.. cuma endingnya masih agak rancu. itu dia nangisnya dimana, ya?? apa masih dekat si mas-nya>>

    1. kenapaa ?
      karena aku masih ingin melihatmu di setiap hariku. tak dapat cintamu, cukuplah aku mengawasimu diamdiam *aduh nggak nyambung 😆 *

      terima kasih kaak 😀 nggaak.__. masnya udah ninggalin dia. hikshiks.. iyah kak ternyata masih rancu ps saya baca ulang 😆

  4. sudah lama saya pengen buat cerpen, namun apadaya imajinasi saya ngga sampe… hehe
    saluut buat cerpennya… D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s