#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai

#15HariNgeblogFF2 - Ramai
#15HariNgeblogFF2 – Ramai

Jalan Malioboro. Sekitar setengah jam aku berdiri di pinggir trotoar. Sudah tiga-puluh menit kumenunggu abangku di sini. Tadi pagi ia berjanji padaku tuk menjemputku selepas kuliah. Tapi sekarang, ia bahkan me-reject panggilanku yang-sepertinya sudah berpuluh jumlahnya. Abangku.. Teganya kau membiarkan adikmu sendiri menunggu di sini? Terpanggang pijarnya mentari yang kini memaksimalkan sinarnya?

Aku kembali menekan tuts-tuts telefon genggamku. Ini telefon ke-25-ku pada abangku itu. Tombol call kupencet. Buru-buru kuangkat ponselku mendekat telinga. Tepat saat ponsel tertempel, aku merasa tas berkait menabrak punggungku dan..

“Hey!”

Aku tertarik mengikuti jalan seseorang. Astaga, ada apa ini? Apa sweater tipis rajutaku tercantol pada tasnya? Oke, satu-satunya jalan adalah..berteriak. Sebentar, coba lihat orang-orang di sekitar kami! Yang menatapku dengan tatapan aneh mereka..Ah, memalukan!

” Eeh, mbak-mas! Tolong berhenti!” Teriakku padanya. Lalu si penarikku berhenti dan memutar tubuhnya tuk mencari-tahu suara apa yang baru saja ia dengar. Tapi jelasnya, setelah ia menghadap ke belakang, susah-payah tubuhku mengikuti  gerakannya hingga dia tak dapat melihatku. Merasa tak ada apapun yang memanggilya, ia putar tubuhnya cepat dan berjalan menyebrang zebra cross.

Sial! Kenapa ia tak tanya saja dengan pedagang seitar kami? Aku mencoba kembali berteriak, tapi sepertinya gagal lagi. Karena sayup-sayup kudengar suaranya bersahut dengan orang di sebrang. Ngh, ia sedang bertelefon.

Tunggu, rupanya si penarikku lelaki! Dan..bukan warga Indonesia. Aku bisa mendengar aksen Inggris-Irlandianya kentalnya dalam caranya bercakap. Jadi aku harus meneriakinya dengan Bahasa Inggris, begitu? Tapi sebentar..Apa ia berjalan ke sebrang jalan yang ramai akan pedagang di sana? Bodoh! Memang iya! Oh Irlandia boy, ayo sadarlah! Aku di belakangmu! Argh, kau harus tahu bahwa aku sangat mengindari keramaian itu! Ayo..sadarlah!

Namun aku terlambat.. Tepat saat aku akan berteriak lagi, lelaki di belakangku kini telah menyeret tubuhku ke dalam hiruk-pikuk orang di sisi jalan Malioboro ini.

“Excuse me, sir! Can you stop your steps? Stop, please!” Teriakku padanya. Tapi nihil, ia masih sibuk bertelefon-ria. Buruknya lagi, suaraku tertelan keramaian di sekitar kami. Suara pedagang menjajakan barangnya, pembeli yang berusaha menawar, senda-gurau pemuda yang berseliweran, bahkan suara musik dari salah satu toko CD-bajakan ikut meramaikan kepadatan ini. Semuanya seolah bercampur-baur menjadi suara bersahut yang tak bisa gendang telingaku tahan.

Aku mencoba berteriak lagi, tapi tiba-tiba teriakanku terputus dan berakir dengan batuk. Tidak, ini pertanda..sesuatu itu kambuh. Phobiaku kambuh lagi.

Padanganku mengabur, dadaku sesak, nafasku berat, aku tak dapat mengeluarkan satu-pun kata lagi dari mulutku.

Ah, mengapa lelaki di belakangku ini mempercepat jalannya? Mengapa lautan manusia ini seakan mendesakku dalam keramaiannya? Ramai. Benar-benar ramai. Astaga, aku sudah tak kuat..Keramaian ini membunuhku.. Lalu aku..Ambruk.

Sesaat sebelum tubuhku terkulai lemas, aku bisa merasakan seseorang mendekapku erat dari belakang. Lalu selebihnya gelap..

“…Oh gosh! Sorry! I didn’t notice you! Oh My-.. Girl, hello? Are you alright?” Aku mengerjapkan mata. Sayup-sayup kudengar seseorang dengan suara Irlandia-khasnya bergaung dalam gendang telingaku. “Finally, you awoke! Thanks God..” Dalam pandangangku yang masih mengabur, kudapati seorang lelaki bule berucap kalimat itu tepat di sampingku. Astaga, aku dimana sekarang?

“Akh..”

Kemudian lelaki di sampingku berceloteh lagi seraya membantuku membenarkan tempat duduk. Kepalaku masih terasa pening. Pandanganku-pun belum jelas maksimal. Tapi aku tahu bahwa kini aku berada di atas delman yang berjalan menyusuri tempat yang familiar bagiku.

“Mbak, mpun sadar? Alhamdulillah gusti, mbak’e ora kenapa-napa..” Ujar pak kusir melirikku sekilas. Tepat saat bule itu menyodorkanku sebotol air mineral padaku.

“Ohyeah, feeling better?” Tanya lelaki bule itu saat melihat wajah membaikku. Jadi.. Dia yang menarikku tadi? Pirang. Rambutnya pirang. Matanya.. Ya Tuhan bola matanya sangat memesona! Biru, sebiru samudra.

“Yeah, thanks.” Ucapku menyunginggkan senyum tipis.

“Great, mm, sorry for that-”

“It’s okay.” Potongku cepat.

“So, you’re having phobia-?”

“About crowded, Yep.” Jawabku yang mengundang tawanya. Tawanya, astaga.. Amat manis! Dan perbincangan kami berlanjut. Aneh. Aku baru saja bertemu dengannya tapi kami malah mengobrolkan banyak hal tanpa canggung sedikitpun. Ngomong-ngomong, namanya Niall. Ia termasuk teman bicara yang asyik-menurutku.

“So, do you have time for dinner tonight? Just consider this as my forgiving.” Tawarnya gugup saat kami turun dari delman. Aku tak percaya. Dia bilang apa? Dinner? Tanpa berfikir ulang aku pun berkata..

“Absoloutely!” Jawabku membuat senyumnya merekah. Senyumnya.. Ah, aku tak sabar melihat senyum itu lagi malam nanti. Benar kata orang, hal yang kita takutkan tak selalu membawa dampak buruk bagi kita. Phobiaku membawa lelaki itu padaku.

Dear, Ramai.. Terima kasih.

~END~

words count : 700

meksa nggak sih endingnya? ah nggak tahu deh. yang penting ngesubmit dulu! ohyeaah, ini niall love story. salah satu personil 1D juga. Hayo, siapa yang belum tahu?

ini niih(aduh, maaf ceritanya maksa banget-__-) :

keliatan nggak mata birunya ? :3 #fangirling

Yaudaaah, komen-kritiknya ditunggu kawan kalau kalian sudah menyempatkan baca FF saya ini♥

Advertisements

17 thoughts on “#15HariNgeblogFF2 – 8th – Ramai

    1. terima kasih sudah mampir kak 😀
      makasih juga pujiannya :mrgreen:
      eciyeeh, tulisan aku bisa membuat orang mengenang balik sesuatu di settingku ! alhamdulillah :mrgreen:
      kenangannya dibikin cerita aja lho kak 😀

      1. masama 🙂
        alhamdulullah yah sesuatu gitu 😛
        nah ini dia saya gak pinter buat crita seperti diblognya padahal pingin juga buat gitu.. tapi blum bisa nulis2 gitu jadi baca-baca dulu ya diblognya ruri 😀

      2. iyah kak, sesuatu beeet :3
        okeeh dweeeh, tapi kalo kakak nggak memulai nulis ntar kapan bisanya ? 😛 ubekubek aja kak, aku malah seneng kok 😆

  1. Hahahahhaa. Sama kaya di atas. Aku juga tadi sempet mbayangin, ada cewek di geret, di keramaian, di ketawain orang se-Malioboro deh. Wkwkwkwkwkkw
    Unik… Bagus-bagus… Lanjutkan lagi rur!!
    Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s